
Di ruang tunggu rumah sakit, Rama menyaksikan sesuatu yang mengejutkan hatinya. Laila tampak bersandar di bahu Radit dengan keadaan yang lemah. Tampaknya keadaan pak Adi semakin kritis.
"Ayah!" isak Laila dengan histeris.
Radit terus menenagkannya, dengan mengusap kepala Laila.
Persasaan sedih dan cemburu bercampur di benaknya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Rama pun tak sanggup melihat keakraban Radit dan Laila yang semakin dekat. Ia memilih langsung menuju ruang dokter yang merawat pak Aditama tanpa menemui mereka.
"Permisi dokter, saya ingin mendonorkan darah untuk Pak Aditama," ucap Rama tanpa basa-basi.
"Anda ingin mendonorkan darah? Mari, ikut saya!" kata dokter.
Ditengah-tengah keputus asaan keluarga yang sudah tak memiliki harapan lagi untuk hidup Aditama. Nesa mengajak semua kemushola untuk berdoa. Cukup lama mereka di sana hingga tidak tahu kehadiran Rama yang sedang mengalirkan darahnya untuk sang ayah yang selama ini tidak pernah membersamainya.
Tetesan air mata mengalir di pipi Rama saat melihat sang ayah terkulai lemas tak berdaya. Meski tak pernah merasakan kasih sayangnya ikatan batin ayah dan anaknya akan tetap ada.
"Jangan kecewakan aku, berjuang dan bagkitlah! Lihatlah orang-orang disekelilingmu, mereka tak ingin kehilanganmu." Rama mengusap air mata yang berhasil melintas dipipinya.
Tak lama semua selesai. Rama meninggalkan ruangan sang ayah membawa harapan besar. Berharap darah yang ia berikan bisa memberi kehidupan baru bagi sang ayah.
Nesa dan yang lainnya baru kembali dari mushola. Melihat dokter yang keluar dari ruangan Aditama, Nesa segera menghampiri dan menanyakan kondisi terakhir suaminya.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Nesa dengan khawatir.
"Bersyukurlah pada Allah, pak Adi sudah melewati masa kritisnya," kata dokter.
"Alhamdulillah!" Semua serempak mengucap syukur.
"Akan tetapi, bagai mana bisa, Dokter? bukankah masih butuh satu labu lagi?" tanya Nesa heran.
"Ya, baru saja seorang pemuda mendonorkan darahnya untuk pak Aditama," tutur dokter.
Semua orang saling pandang bergantian.
"Rama! Rama kah itu dokter?" tanya Laila degan antusias.
"Saya lupa siapa namanya. Mungkin dia belum jauh dari sini," ucap dokter.
Mendengar itu Laila langsung berhambur mencarinya. pandangannya ia edarkan kesetiap lorong rumah sakit. Radit mengikuti Laila mencari Rama.
Nesa dan bi Ira saling berpeluk merasa lega.
Tak lama di ujung lorong Lila berhasil menemukan sosok Rama.
"Kak Rama!" teriak Laila berhasil menghentikan langkah Rama.
Laila langsung berhambur memeluknya dari belakang.
"Kaka, kenapa tidak menemuiku dulu, aku merindukanmu!" Laila menumpahkan tangisnya.
"Maaf, aku terburu-buru, semoga ayahmu lekas sembuh," kata Rama tanpa membalikan badannya.
Laila melapas pelukannya dan memposisikan diri didepan Rama.
"Ayah kita, bukan hanya ayahku," ucap Laila.
Rama berusaha mengukir senyumnya.
"Aku harus segera pergi Laila, tidak bisa lama-lama di sini," kata Rama.
"Kenapa aku merasa kamu menghindariku," ungkap Laila.
Deg!
"Tidak Laila, aku benar-benar harus pulang," bohongnya.
Tak ada yang lebih baik dari menghindar untuk membuang rasa cemburunya.
"Tidakkah kak Rama ingin melilhat ayah siuman dulu," ucap Laila.
"Aku rasa tidak perlu, dia juga tidak akan suka jika aku ada disini. lebih baik aku pergi Laila," ucap Rama.
"Jangan!" cegah laila yang spontan memeluk Rama kembali. "Jangan! Disinilah dulu bersamaku, aku ingin menumpahkan segala gundahku padamu," isak Laila.
Rama mengusap lembut kepala Laila.
"Aku tau itu. Aku bahagia kakak datang tepat waktu, tapi ada hal yang membuatku sakit, kenyataan yang sudah Allah buktikan padaku saat ini. Kamu benar-benar kakaku, kamu memiliki darah yang sama dengan ayahku," isak Laila.
"Aku mencintaimu, Kak. aku mencintaimu, aku tidak mau kamu menjadi kakakku, aku tidak sanggup jauh darimu. Aku ingin terus memelukmu, aku hanya ingin kamu untuk hidupku, aku tak mau yang lain. Aku tidak mau. Cinta ini hanya untukmu." Laila semakin menagis tersedu.
Rama tak kuasa dengan apa yang Laila ungkapkan, sungguh dirinya pun menginginkkan hal yang sama. Mereka kembali saling berpeluk melepas Rasa.
Radit hanya bisa menyaksikan pemandangan haru ini kembali. ditahannya sesak yang menyeruak dalam dada. Betapa Laila mencintai Rama, sedikitpun Laila tak menaruh hati padanya.
"Laila, sampai detik ini rasaku pun padamu tak pernah berubah, semakin kita sering betemu, rasa itu semakin besar. Jadi, untuk saat ini, lebih baik kita tidak bertemu dulu. ini tidak benar," kata Rama saat memeluk Laila.
"Dugaanku benar, kakak mencoba menghindariku," ucap Laila.
"Hanya itu satu-satunya cara agar rasa kita tak semakin besar," kata Rama.
"Aku tidak mau," kata Laila.
"Kamu harus mengerti Laila."
"Jadi, kamu ingin jauh dariku! Kamu ingin meninggalkanku! Aku tidak bisa," kata Laila sedih.
"Lama-lama pasti bisa Laila, percayalah. kamu punya Radit yang begitu mencintaimu, bukalah hatimu untuknya, hilangkanlah aku dipikiranmu. aku akan menemuimu setelah rasa ini berubah menjadi cinta seorang kakak pada adiknya. Tolong jangan temui aku lagi!" pinta Rama pada Laila.
Laila semakin terisak sedih, ia terus menagis tersedu, dan mengeratkan pelukannya.
Rama mencoba melepas pelukannya. Namun, Laila tak mau melapasnya.
"Sudah Laila!" Lirih Rama.
"Jangan Lakukan ini!" Laila menggelengkan kepalanya.
Setelah Rama berhasil melepas pelukan Laila,
untuk pertama kalinya Rama mengecup kening Laila, sebelum melangkah pergi meninggalkannya.
"Kak Rama!" panggil Laila histeris.
Radit mencoba menghampiri Laila. Kedatangan Radit membuat Laila terkejut.
"Ra-Radit! Kamu! Tolong maafkan aku Radit, kamu pasti melihatku memeluk Rama lagi, tolong maafkan aku!" isak Laila dengan rasa bersalah.
Radit hanya bisa mengukir senyum agar Laila tidak khwatirkan kepercayaannya.
"Radit, lebih baik kamu ambil kembali cincin ini." Laila melepas cincin tunangannya dan di letakan di telapak tangan Radit dengan terisak.
"Tolong maafkan aku, sepertinya aku tidak akan bisa melupakan Rama. Aku akan terus menyakiti perasaanmu, aku tidak bisa melakukan ini padamu Radit, ambillah kembali cincin ini." Laila semakin terisak.
Radit tampak menghela napas panjang.
"Laila, mau sampai kapan kamu seperti ini. Mau berapa laki-laki pun kamu tolak, tidak akan bisa merubah takdir ikatan darah. Apa kamu akan menangisi ini seumur hidupmu? Hidup terus berjalan Laila, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita, kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas," tutur Radit dengan menatap Laila penuh kelembutan.
"Aku mencintaimu, dan akan setia menunggumu melepas rasa terhadap kakakmu, kamu pantas bahagia Laila," ucap Radit seraya menyematkan kembali cincinnya di jari Laila.
"Akan tetapi, selama ini aku terus mengecewakanmu, Radit," ucap Laila sendu.
"Ya, aku kecewa dan cemburu melihat mu begitu mencintai Rama, tapi harapanku lebih besar dari pada kekecewaanku ini, dan aku masih terus berharap kamu membalas cinta ini," ucap Radit seraya mengukir senyuman.
"Genggamlah tangan ini, dan melangkahlah bersamaku kedepan," kata Radit dengan menggenggam tangan Laila.
Kali ini Laila menerima genggaman tangan Radit, dan berusaha mengukir senyum meski berat.
"Terimakasih selalu memahamiku, aku tidak tau harus berbuat apa padamu," ucap Laila.
"Kamu menerima genggaman tanganku saja, aku sudah bahagia, Laila. Ini cukup memberiku kekuatan untuk mempertahankanmu," ucap Radit dengan bahagia.
Bersambung ...
Akankah setelah ini Laila jatuh cinta pada Radit?
saksikan terus kelanjutannya reader❤❤❤
Jangan lupa tekan Like, Favorite, dan kawan kawannya🤗 terimakasih❤❤❤