
Seketika Nesa menangis histeris. "Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah."
BI Ira sang adik tidak bisa mendonorkan darahnya, karena dia memiliki penyakit tertentu. Bi Ira tampak prustasi. 'Maafkan aku kakak, adikmu ini tak berguna disaat kamu membutuhkanku' batinnya berkecamuk pedih.
"Aku saja, Dokter. Aku anaknya, darahku pasti sama dengannya," ucap Laila yang baru saja tiba, dan sempat mendengar penuturan dokter.
"La-Laila!" Nesa terkejut, pasalnya tak mungkin golongan darah Laila sama dengan Aditama.
Nesa pun segera berpikir bagaimana caranaya agar tidak dilakukan pemeriksaan terhadap Laila, karena mungkin dia akan tau kenyataannya.
'Apa yang harus aku katakan pada Aditama jika Laila tau yang sebenarnya' batin Nesa merasa khawatir.
"Laila sedang demam, Dokter. Apa boleh melakukan donor darah?" tanya Radit tiba-tiba.
Pertanyaan Radit seolah penerang buat Nesa.
"Apa? Laila, kamu demam, sayang." Nesa terkejut, lalu menghampiri dan memeluk Laila.
"Badanmu panas sekali, sayang," ucap Nesa saat menyentuh kening sang putri.
"Sebaiknya kamu diobati dulu, tidak boleh mendonor saat sakit, setelah kamu minum obat pun harus tunggu dua hari, dan itu tidak mungkin, kita hanya punya waktu satu malam," tutur dokter.
"Kami akan segera mencari donornya, Dokter." Diantara kebingungannya Nesa merasa lega, karena Laila tak jadi donor darah.
"Boleh saya tau, golongan darah pak Adi apa tante?" tanya Radit.
"O, sayang. Apa golongan darahmu, O?" tanya balik Nesa.
"Oh, sayang sekali bukan tante," kata Radit dengan sangat menyesal.
"Tidak apa-apa, sanyang. Tolong bawa Laila ke ruang dokter biar dia diperiksa dokter!" pinta Nesa.
Dengan segera Radit membawa Laila keruang dokter untuk memeriksa keadaannya.
Nesa dan bi Ira gelisah, mereka mondar-mandir di depan pintu kamar Aditama. Memikirkan bagaimana caranya mencari donor darah dalam waktu semalam.
Tiba-tiba mereka mengingat seseorang.
"Rama!" Seru keduanya berbarengan.
"Iya, Rama," kata Nesa dengan antusias.
Bi Ira mengangguk bahagia.
"Akan tetapi, bagaimana caranya membuat Rama kemari, bu Fauziah belum tentu mengijinkan," kata bi Ira merasa khawatir.
"Dia harus mengijinkan, Aditama adalah ayah Rama, dia tidak boleh melakukan itu!" ucap Nesa menegaskan.
"Bu Fauziah begitu membenci Aditama, aku Rasa sulit untuk membujuknya," kata bi Ira.
"Kalau begitu biar aku yang datang padanya, aku yakin dia akan mengijinkannya," kata Nesa dengan yakin.
"Kamu jaga disini, Ira," pinta Nesa, "Suruh Laila meminum obatnya setelah diperiksa, aku harus menemui bu Fauziah sekarang juga." Nesa langsung pergi menuju parkiran.
Nesa segera melajukan mobilnya dengan sangat prustasi. "Bertahan, Mas. Jangan menyerah," Isak Nesa saat menyetir. Ia tak mau kehilangan suami yang selama ini menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan.
"Bu Fauziah harus memahami ini," gumamnya.
Nesa semakin mempercepat lajunya, ia tak punya banyak waktu untuk menunggu. Dia rela melakukan apa pun demi keselamatan Aditama. Walau bagaimanapun ia selamat dari kehancuran berkat semangat dan dukungan Aditama.
Saat sang kekasih tidak mengakui benihnya, hingga dirinya diusir dari rumahnya dan tidak diakui anak oleh kedua orang tuanya, saat itulah Aditama yang meyakinkannya untuk bertahan hidup hinga saat ini.
ketukan pintu tergesa-gesa Nesa cukup mengganggu istirahat bu Fauziah dan Rama, baru saja mereka hendak merebahkan dirinya. Nesa mengetuk pintu dengan terburu-buru.
Saat bu Fauziah membuka pintu Nesa langsung bersimpuh, menopang kaki dengan lutut, dan menyimpan kedua tangannya di dada.
"Wa-waalaikum salam. Kamu?!" bu Fauziah terkejut melihat keadaan Nesa dengan posisi berlutut padanya.
Rama yang ada di belakang sang ibu pun tak kalah terkejutnya.
"Ibu! Bangunlah!" pinta Rama, dan langsung membimbingnya untuk berdiri.
"Tidak Rama. Biarkan saya seperti ini," ucap Nesa seraya menitikan air matanya.
"Tidak Bu, bangkitlah!" Rama membimbing Nesa bangkit.
"Ada keperluan apa Nonya datang kemari?" tanya ibu terlihat tak suka.
"Aditama. Dia kritis," isak Nesa dengan tersedu.
Deg!
"Apa? Pak Adi kritis?!" Rama terkejut.
Bu Fauziah tak kalah terkejutnya. Namun, ia mencoba menutupi hal itu, tak ingin terlihat peduli oleh Nesa.
"Apa urusannya denganku, aku sudah tak punya urusan dengannya!" ucap bu Fauziah menekan suaranya.
"Aku tau itu. Akan tetapi, Rama memiliki hubungan darah dengannya, Adi membutuhkan donor dari Rama, aku mohon bantulah suamiku! Apapun yang Bu Fauziah minta akan aku berikan," ucap Nesa penuh harap.
"Apa saya gak salah denger? Dia butuh donor dari Rama, sejak kapan dia mengakui Rama anaknya? Bukankah Rama ini anak Hendra?" sindir bu Fauziah.
"Akan tetapi, ibu tau betul jika Rama anaknya Aditama, saya yakin itu," ucap Nesa penuh keyakinan.
"Saya mohon, Bu! Apapun yang ibu minta akan saya berikan, saya mohon!" lanjutnya Nesa memohon.
Bu Fauziah tersenyum getir.
"Ayo, Rama. Masuklah!" Bu Fauziah segera menarik Rama masuk kedalam, tak ingin melayani Nesa. Ia menutup pintu tanpa mempedulikan Nesa yang masih berdiri disana.
"Bu Fauziah, aku mohon! Selamatkan nyawa suamiku!" Nesa terus memohon dan mengetuk pintu rumah itu.
Namun, bu Fauziah yang teramat kecewa pada Aditama tak mempedulikan itu.
Nesa pulang dengan kecewa, membawa harapan yang semu.
'Tidak kusangka bu Fauziah begitu keras, tidak mau menolong suamiku. Begitu besar rasa kecewamu, hingga hilang rasa kemanusiaanmu untuk suamiku' Batin Nesa berkecamuk pedih.
Di dalam kamar bu Fauziah menumpahkan air mata, perasaannya campur aduk. Rasa kecewa yang masih ada terus mengusik jiwanya. Terbersit rasa kasihan, tapi, egonya tak bisa ia kalahkan. Kenangan demi kenangan bermunculan saat bu Fauziah melihat foto kenangannya bersama Aditama yang selalu ia simpan rapih di laci meja.
"Dimana saat anakmu membutuhkanmu, Mas. Apa kamu ada untuknya? Kamu tidak tau seperti apa perjalanan hidupnya, dia berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya, dengan mudahnya kamu sekarang meminta pertolongannya," gumam bu Fauziah kesal.
Tiba -tiba teringat satu kenangan manis yang tak bisa bu Fauziah lupakan, bahkan sangat ia rinduka. Aditama memang telah melakukan kesalaham, bukan berarti dia tidak memiliki kebaikan. Nuraninya kini mulai tergugah.
Ia menyeka air matanya, dan menemui Rama di kamarnya. Namun, bu Fauziah terkejut saat mendapati kamar Rama yang kosong.
"Rama! Dimana kamu? Rama," panggil bu Fauziah.
Dilihatnya selembar kertas di atas meja, yang di tindih dengan gelas. Bu Fauziah mengambil dan membacanya.
_Ibu, Rama mohon zin mendonorkan darah untuk pak Adi, walau bagaimanapun dia ayah Rama. Rama tidak mau jadi anak durhaka dengan membiarkan pak Adi dalam ketidak berdayaan.Setidaknya, sekali dalam seumur hidup Rama berbakti padanya, entah dia akan terima atau tidak._
Ba Fauziah terenyuh sedih. isak tangis haru kembali menyapa dirinya.
"Kamu memang anak yang baik, Ram. Ibu tidak bisa mencegahmu jika itu sudah keinginanmu, semoga kelak ayahmu mengakui dirimu, Ram," gumam bu Fauziah di sela tangisnya.
bersambung .....
jangan lupa Like, komen, dan kawan kawannya ya readers tercintaku. terimakasih sudah setia membaca karyaku❤❤❤ Love you all.