Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Malam Pertama



Semua orang berkumpul di aula pernikahan, menyaksikan pernikahan Radit dan Nur. Terkecuali Laila dan Rama yang tengah sibuk menyambut para tamu undangan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Raditya Amarta bin Toni Amarta Gunawan dengan anak saya yang bernama Nurul Aqila binti Hadi Setiawan dengan mas kawin berupa emas dua puluh gram dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nurul Aqila binti Hadi Setiawan dengan mas kawin yang tersebut tunai,"


"Bagaimana, sah?" tanya penghulu.


"SAH!" ucap para saksi.


Meski pernikahan ini tanpa cinta Radit bertekat membinanya dengan sungguh sngguh, hinga bisa menghadirkan cinta yang akan membawa rumah tagganya pada sakinah mawaddah warahmah, meski Radit tau Nur seperti apa. Perjuangannya untuk membimbing Nur cukup berat. Radit berharap dia bisa menjalankan kewajibannya sebagi imam yang baik bagi Nur.


***


Alam telah berubah warna, matahari tenggelam, rembulan pun memancarkan sinarnya, ribuan bintang tersenyum memandang dua insan yang tengah bahagia di malam pertamanya. Laila dan Rama tak berhenti mengukir senyum di wajah mereka, pancarkan sinar cintanya yang tertunda begitu lama. Di teras kamar di bawah sinar rembulan yang indah, Rama tak ingin melepaskan pelukannya pada sang istri, begitu pun Laila yang dengan rela dirinya dimanjakan oleh kehangatan dekapan sang suami.


"Sayang, aku tak pernah menyangkan bisa memelukmu seperti ini, mencurahkan seluruh cintaku padamu, yang hampir saja membuatku gila karena akan kehilanganmu." Rama mengecup punggung Laila yang tengah dipeluknya dari belakang.


Laila memajamkan matanya sejenak, merasakan sesuatu yang berbeda yang baru pertama kali ia rasakan, ia menerima indahnya kecupan sang suami, merelakan apapun yang akan di perbuat sang suami padanya malam ini.


"Kali ini panggilan sayangmu begitu luar biasa, hatiku semakin melambung tinggi hingga ke surga. Kamu benar, aku tidak pernah bisa membayangkan jika sampai aku kehilanganmu, jauh darimu adalah penderitaan bagiku. Aku bersyukur, akhirnya takdir mempersatukan kita." Laila membalikan badannya menghadap Rama.


Tatapan lembut dan indah saling memberi kenyamanan, tidak ada keraguan diantara keduanya, senyum lebar dari keduanya melengakapi kebahgiaan mereka, keduanya saling usap lembut pipi menerka, hingga keduanya saling menyentuh bibir, keinginan lebih membuat Rama mengecup kilat bibir Laila, yang di terima indah oleh Laila.


Setelahnya Laila langsung berlari ke kamar karena malu, pipinya yang indah semakin memerah, jantungnya semakin berdegup kencang. ia duduk di tepi Ranjang dengan memegang dadanya, merasakan detak jantung yang semakin berdebar hebat.


Rama mengikuti istrinya masuk kedalam, mengunci pintu rapa-rapat dan tersenyum lucu, milihat tingkah istrinya yang semakin gusar saat di dekatinya.


Rama duduk di samping Laila dan meraih tangan Laila yang terasa dingin berkeringat.


Laila sendiri terkejut saat Rama meraih tangannya. Ia semakn salah tingkah.


"Hey, kamu kenapa, sayang?" tanya Rama dengan lembut.


"A-aku, a-aku gugup sekali!" jawab Laila.


Rama kembali tersenyum lucu.


"Jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksakan kehendakku. Tenangkanlah dirimu! Tanganmu dingin sekali seperti aku ini penjahat yang akan menerkammu saja," goda rama untuk mencairkan suasana hati Laila yang tegang.


"Apaan Sih, Kamu memang penjahat. Kamu sudah mencuri hatiku, hingga setiap aku di dekatmu, aku selalu tak bisa berbuat apa-apa."


"Ha-ha-ha ... tidak, tidak, aku tidak mau cintaku membuatmu tak bisa berbuat apa-apa. Aku igin kamu tunjukan seluruh cintamu padaku, seperti saat kamu memelukku di kampus waktu itu, rasanya indah sekali." Rama mengingat saat pertama kali Laila menarik tangannya dan spontan memeluknya.


"Apa!?" Laila semakin merasa malu mengingat kejadian itu, dia yang pertama kali memeluk Rama dengan spontan saking tak ingin dirinya kehilangan Rama. Ia menundukan kepala menyembunyikan rasa malunya.


Rama mengangkat dagu Laila memandangnya dengan penuh cinta. "Apa aku harus pergi, agar kamu memelukku lagi?" goda Rama, yang membuat Laila spontan memeluknya lagi.


"Tidak, jangan pergi dariku, aku sangat mencintaimu." Laila memeluk Rama dengan erat. Rama pun membalas pelukannya dengan erat.


"Laila, Laila. Aku juga sangat mencintaimu." Rama mengurai pelukan dan mengecup kening Laila.


Keduanya saling tatap dengan lembut. "Terimakasih atas anugrah terindah yang Engkau beri padaku Ya Rob. Bidadari surgaku kini berada disampingku, semoga aku tidak akan pernah mengecewakannya, semoga aku bisa selalu memberinya kebahagiaan, semoga aku selalu mampu mengukir senyum indah di wajahnya. Aku manusia biasa yang tak luput dari dosa, sebelum aku merajut benang pertama dalam rumah tangga kita, aku ingin kamu memahamiku, jika aku imammu yang lemah, yang tak bisa apa-apa tanpa dirimu, bantulah aku merajut rumah tangga kita dengan selalu menghadirkan kepercayaan padaku, kepercayaanmu padaku adalah kekuatan terhebat untukku agar mampu meraih sakinah mawaddah warahmah, dalam rumah tangga kita," tutur Rama dengan lembut.


Senyum indah terpancar kembali dari keduanya. Rama mengusap lembut bibir indah Laila yang semakin mengodanya.


"Apa aku bisa mendapatkan hakku malam ini?" bisik Rama di telinga Laila.


Laila mengangguk malu-malu. Ia pasrahkan dirinya malam ini pada sang suami yang tengah mengharapkan haknya. "Sudah kewajibanku melayanimu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku."


Tanpa menunggu lama lagi, Rama mengecup indah bibir ranum Laila, melepaskan hasrat yang semakin membara. Laila yang pasrah pun menikmati setiap kecupan lembut sang suami, yang berakhir di penyatuan inti malam ini. Keduanya tersenyum bahagia setelah saling merengkuh kenikmatan bersama. Senyum indah merekah tak lepas dari wajah keduanya.


***


Diruangan lain Radit dan Nur justru dalam mode dingin mereka masing masing.


Nur yang takut Radit menyentuhnya berbaring membelakangi Radit.


"Apa kamu tidak takut berdosa, tidur membalakangiku?" tanya Radit dengan lembut.


"Jika kamu tak ingin aku berdosa, maka ikhlaskan aku membelakangimu, karna aku tidak mau kamu menyentuhku," ucap Nur dengan datar.


"Baiklah, walau bagaimanpun sekarang kamu istriku, dirimu adalah tanggung jawabku, aku ridha kamu tidur membelakangiku, tapi, kamu pun telah berdosa dalam lain hal. Tidak maunya kamu disentuh oleh suamimu adalah dosa besar bagimu," tutur Radit masih lembut.


Nur membalikan badan menghadap Radit.


"Radit, kamu lupa sebelum nikah aku bilang apa. Jadi, jangan berharap malam ini kita akan seperti pengantin baru lainnya." Nur mengingatkan Radit pada ucapannya tadi.


"Ya, aku tau itu. Aku mematuhi ucapanmu saat itu. Tapi, sekarang aku adalah suamimu, kamu harus mematuhi ucapanku," kata Radit dengan mengangkat kedua alisnya.


Nur mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Kamu mau macam-macam padaku?" tanya Nur mulai ketakutan.


Radit tersenyum dan mengucap wajah takut Nur. "Kamu tidak usah khawatir. aku tidak akan pernah menyentuhmu sampai kamu yang menyerahkannya padaku. Lagian jika kamu hamil aku tidak boleh menggaulimu sampai kamu melahirkan, karena benih di perutmu tidak boleh dicampur dengan benihku." Radit mencoba menenangkan Nur.


"Semoga aku tidak hamil, agar aku bisa segera bercerai denganmu," ucap Nur tanpa ragu.


Radit hanya tersenyum menanggapi ucapan Nur.


"Tidurlah, sudah malam. Semoga mimpi indah dan Allah selalu mengampuni dosamu. Aamiin." Radit memejamkan matanya.


"Radit, menghadap kesana! Jangan menghadap kesini," Kata Nur dengan cemas.


"Aku tidak mau berdosa dengan tidur saling membelakangi," ucap Radit pelan, tanpa membuka matanya.


"Ikh, dasar menyebalkan, bilang saja kalau mau memandang tubuhku. bisa-bisanya aku terjebak sama kamu Radit. Rama dan Laila pasti saat ini sedang bermesraan, aku benci padanya," gumam Nur lalu berbaring.


"Jangan memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah bersuami, terlebih kamu ucapkan itu di hadapan suamimu, tidak takutkah kamu dengan murka-NYA. Aku yakin kamu perempuan yang baik dan mengerti syariat, ayahmu selalu mengajarimu kebaikan. Aku yakin kamu memiliki sisi baik yang dimiliki ayahmu," tutur Radit yang belum tertidur.


Nur hanya menghela napasnya denga kesal, tanpa mengucapkan kata lagi, karena dia pikir Radit akan menimpalinya lagi. 'Terserah kamu si paling bijaksana' batin Nur dengan kesal. Ia pun memejamkan matanya, mencoba menyelami alam mimpi.


Bersambung ....


Kira-kira Nur bisa berubah gak ya, bersama Radit yang penuh pengertian, dan sabar?


Ikuti terus kisahnya, dan jangan lupa dukungannya. Terimaksih untuk kalian yang selalu setia membaca karyaku, jangan lupa pollow akun author ya. ❤❤❤