
Untuk yang sebelumnya sempat membaca bab 12 sebelum revisi, mungkin ada yang bingung dengan kelanjutan di bab 13. Silahkan baca pengumuman di bab 10 ya biar gak gagal paham. Terimakasih🙏
selamat membaca❤
Laila terkejut saat membuka pintu rumah, bibinya telah datang bersama marbut dan para remaja mesjid.
Melihat wajah Laila yang sembab, dengan mata yang membengkak membuat bi Ira menjadi sedih. Seketika ia memeluk sang keponakan.
"Apa yang terjadi padamu, Laila?" ucap bi Ira dengan khawatir.
Bi Ira membimbing Laila duduk bersamanya, ia merangkul dan mengelus pundak Laila dengan lembut.
"Silahkan, duduk!" Bi Ira mempersilahkan marbut dan yang lainnya untuk duduk.
Rama terenyuh sedih melihat gadis yang ia cinta begitu terpuruk.
"Tidak mungkin, Pak. Keponahkan saya tidak mungkin melakukan hal itu," jelas bi Ira saat mendengar apa yang dikatakan marbut itu.
"Maaf, Bu. Semua bukti ada di dalam tas Laila. Dengan berat hati, untuk sementara ini, Laila tidak diperbolehkan ke mesjid, agar warga tidak resah."
"Tega, ya, Pak. Bapak tau betul seperti apa keluarga Laila. Untuk apa Laila mencuri uang sebesar itu di mesjid. Uang jajan Laila lebih dari itu, bahkan dia sering menyumbangkan sisa uang jajannya ke mesjid, untuk apa dia melakukan ini!" tegas Bi Ira.
"Bisa saja Laila klepto, Bu," sambung Nur memanaskan keadaan.
"Astagfirullah haladzim, Nur! Ini Fitnah!" kata bi Ira.
"Iya benar, jangan-jangan dia klepto," sahut yang lainnya.
Laila semakin menangis tersedu. Ia tak bisa berkata apapun, karena pada kenyataannya uang itu ada di tasnya, meski entah bagaimana caranya. Semua orang yang melihatnya jelas akan menuduhnya.
"Nur! Hati-hati kalau bicara! Laila tidak seperti itu!" Bela Rama yang tak tega melihat Laila terpuruk.
Pembelaan Rama ini memberi kekuatan pada Laila, yang yakin jika Rama tidak mempercayai ini. Laila menatap Rama penuh harap. Rama pun memejamkan matanya, memberi isyarat jika dirinya percaya pada Laila.
Laila berusaha tersenyum disela tangisnya. Ia tak sangka Rama percaya padanya. Baginya yang terpenting adalah Kepercayaan Rama.
Sementara bagi Nur justru pembelaan Rama terhadap Laila ini adalah sebuah kekecewaan.
Bu Fauziah yang tadi ikut menyusul, tidak berani masuk kedalam, ia hanya mendengarkan semua itu di luar.
"Kamu yakin, Laila tidak bersalah, Ram?" tanya ibu setelah berada di rumah.
"Rama yakin, Bu. Laila gadis yang baik," jelas Rama tanpa ragu.
"Seburuk apa pun Laila, akan tetap baik di matamu, Ram, karena kamu sudah dibutakan oleh cinta," ucap ibu.
"Jadi, Ibu percaya, Laila melakukan ini. Ibu sendiri yang melarang Rama jatuh cinta pada Laila, hanya karena perbedaan status sosial. Jadi, sekarang ibu percaya. Gadis yang serba berkecukupan itu melakukan hal ini," jelas Rama dengan mengerutkan keningnya.
Ibu terdiam sejenak.
"Ibu tidak tahu Ram, sebenarnya ibu kasihan pada Laila. Akan tetapi, bisa saja Laila beneran klepto," pikir ibu.
"Astagfirullah, Bu. Akhir-akhir ini ibu sering berpikiran buruk. Rama tidak suka ini, Bu," ucap Rama dengan memijat keningnya yang sedikit sakit.
Rama membuang napasnya dengan kasar.
"Bu, orang berpenyakit klepto itu tidak hanya akan mencuri uang, hal sekecil apa pun yang ia sukai maka akan diambilnya. Apakah selama Laila ada dirumah ini, ibu pernah kehilangan seauatu?"
Ibu menggelengkan kepalanya.
***
Saat semua telah pergi dari rumahnya Laila terlihat lebih tenang. Hanya raut wajah Rama yang ia bayangkan, yang sanggup memberi kekuatan dan mampu mengukir senyum di bibirnya.
Bi Ira ikut senang, melihat sang keponakan yang tengah tersenyum saat berbaring di atas tempat tidurnya.
"Apa yang kamu bayangkan, Laila? Bisa beritahu bibi hal apa yang bisa membuat keponakan bibi ini tersenyum dalam kondisinya yang terpuruk?" tanya bi Ira dengan tersenyum.
"Rama!" Tanpa pikir panjang Laila langsung mengutarakannya pada sang bibi.
"Iya, Bi. Laila tidak menyangka, Rama membela Laila dari pada Nur. Itu cukup membuat Laila bahagia, Bi."
"Syukurlah. Bibi yakin, Rama pandai membedakan mana yang benar dan yang salah. Dia tidak akan keliru," jelas bi Ira.
Laila tersenyum kembali.
"Ya sudah kita tarawih berjamaah di rumah saja ya, sayang. Mungpung hari ini bibi ada dirumah," kata bi Ira.
Laila menganggukan kepalanya.
***
"Ram, ngobrol dulu sebentar, yuk!" ajak Nur sepulang tarawih.
"Mau ngobrol apa, Nur?" jawab Rama dengan sedikit menekuk wajahnya.
Melihat Rama yang menekuk wajahnya, Nur merasa tidak nyaman.
"Kamu, marah ya, karena perjodohan ini tetap dilangsungkan. Aku sudah bicara sama bapak kalau kamu mencintai, Laila. Aku juga tidak mau memaksamu untuk jatuh cinta padaku. Akan tetapi, bapak tetap bersi kukuh menjodohkan kita. Bapak bilang, cinta akan datang seiring berjalannya waktu," bohong Nur.
Rama menghela napas dan membuangnya perlahan.
"Kita lihat saja nanti, Nur! Apakah aku bisa jatuh cinta padamu atau tidak?" jelas Rama.
"Jadi, kamu mau berusaha mencintaiku, Ram? tanya Nur dengan bahagia.
"Bukan aku, tapi kamu yang harus berusaha, karena aku tidak akan pernah mengubah hatiku untuk Laila. Maafkan aku, Nur, harus mengatakan ini!" ucap Rama dengan pelan. Namun, terdengar tegas.
Nur tampak kesal mendegarnya.
***
"Baiklah, Ram. Aku tidak akan menyerah membuatmu jatuh cinta padaku, dan membuatmu membenci Laila. Ini baru permulaan. Setelah ini, Lailamu akan kubuat lebih dipermalukan," gumam Nur di kamarnya dan terdengar oleh pak Hadi.
"Jadi, ini perbuatanmu, Nur." Pak Hadi mencoba menyimpulkan perkataan Nur.
"Ba-bapak!" ucap Nur dengan kaget.
"Bapak tidak menyangka ini, Nur. Anak kebanggaan bapak telah berbuat curang," ucap pak Hadi dengan kecewa.
"A-apa maksud bapak? Nur tidak melakukan apa pun, Pak. Percayalah!" ucap Nur masih gugup.
"Bapak tau betul kamu mencintai Rama, tapi, bapak tidak mau kamu mengambil langkah yang salah. Jika yang terjadi pada Laila terbukti kesalahanmu, bapak sendiri yang akan membatalkan perjodohanmu dengan Rama!" ucap pak Hadi dengan tegas.
"Apa yang bapak katakan? Nur bener-bener tidak melakukan apapun pada Laila. Nur janji, Nur akan mendapatkan cinta Rama dengan cara yang baik, Pak," ucapnya dengan ketakutan.
Pak Hadi pergi begitu saja meninggalkan Nur dengan kecewa, entah kenapa ia yakin semua ini perbuatan purtinya Nur. Cintanya terhadap Rama sudah melupakan dia akan didikan sang bapak.
***
Sejak kejadian itu, Laila tak henti mendapatkan cemooh dari orang-orang. Namun, Laila berusaha menghadapinya dengan tenang. Laila tidak peduli lagi orang berkata apa setelah mendapat kepercayaan dari Rama.
Hari demi hari telah berlalu, Laila lebih sering menyendiri dirumah. Ia lebih fokus mengerjakan tugas kuliahnya, ia pun sudah tidak pernah lagi berbuka bersama di rumah Rama. Berbuka sendiri saat ini adalah yang terbaik.
Meski jarang keluar rumah, Laila masih bisa mencuri pandang terhadap Rama saat berada dihalaman rumah, memandangnya dibalik tirai sudah cukup membuat Laila bahagia. Sandal Rama yang belum jadi dikembalikan ia cuci bersih, dan digunakannya di rumah, baginya barasa di temani Rama.
Namun, bagi Rama, meski bersebelahan terasa begitu jauh, karena Laila yang jarang keluar rumah. Rama sudah tidak bisa menahan rindu ingin melihat senyuman indah Laila.
Kesempatan ini cukup dimanfaatkan Nur dengan baik. Setiap hari dia terus datang kerumah Rama membantu ibu, sebagai calon menantu yang baik, Nur bahkan selalu menawarkan diri untuk memijat kaki ibu.
Namun, apa pun yang dilakukan Nur, itu tidak mampu meluluhkan hati Rama yang sudah terpaut pada cintanya Laila.
bersambung ....
Jangan lupa tekan Like, fav, komen dan ratenya ya, biar Author makin semangat❤❤❤