
"Aku ingin bicara padamu," jawab Laila
"Bicara? Bicaralah!" kata Rama.
"Eu ... eu ...." Rupanya Laila merasa ragu.
"Eu, apa, Laila?" tanya Rama.
'Apakah aku harus benar-benar mengutarakannya?" Laila membatin.
"Laila!" panggil Rama membuyarkan lamunan Laila.
"Eu ... tidak jadi," kata Laila spontan.
Rama mengerutkan keningnya.
"Tidak jadi? Kenapa tidak jadi?"
"Tidak apa-apa," jawabnya Lalu melangkah hendak meninghalkan Rama.
Baru lima langkah Laila menghentikan langkahnya. Ia membatin kembali, 'Tidak, jika tidak sekarang kapan lagi, besok aku akan pergi' batinnya.
"Kenapa berhenti?" Rama menghampiri Laila.
Laila tak menjawab, ia menundukan pandangan, dan memainkan jemarinya. Ia mencoba mengumpukan keberaniannya.
Rama memperhatikan sikap Laila yang terlihat cemas.
"Laila!" panggilnya.
Deg!
Laila memejamkan matanya. Dadanya naik turun, ia mencoba mengendalikan kegugupan.
"Ma-maukah ... maukah?" Laila menghentikan ucapannya ia semakin gugup, ini pertama kalinya ia jatuh cinta, haruskah ia pula yang mengatakan cinta terlebih dahulu.
"Maukah? Maukah apa?" Rama mengerutkan keningnya, menunggu Laila melanjutkan ucapannya.
"M-maukah kamu pulang bareng bersamaku," celetuk Laila yang langsung melangkah pergi.
Rama tersenyum lucu melihat Laila.
"Ngajak bareng kok langsung pergi sih. Maukah kamu merajut cinta yang suci bersamaku?" Spontan Rama mengutarakan isi hatinya.
Langkah Laila terhenti. Seketika jantung berdebar hebat. Mata membulat sempurna tak percaya, spontan tangannya menutupi mulutnya yang terbuka.
"Apa!?" Laila membalikan badannya. Wajahnya kini memerah sempurna.
Rama melangkah menghampirinya.
"Maukah kamu merajut cinta yang suci beramaku." Rama mengulanginya dengan menatap wajah Laila yang tertunduk malu.
"A-apa kamu melamarku?" tanya Laila dengan manahan rasa di dada yang ingin segera melambung tinggi di udara.
"Ya, aku melamarmu," kata Rama.
"kamu tidak bercanda?"
"Lihatlah! Apa wajahku telihat bercanda? Untuk perasaanku aku tidak akan bercanda."
Meski begitu Laila tak mampu melihat wajah Rama. Laila semakin tersipu. 'Akhirnya hati ini mendapatkan pemiliknya, terima kasih ya Allah, akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan' batin Laila.
"Bagaimana. Aku menunggu jawabanmu?"
Deg!
Laila menganggukan kepalanya perlahan.
Rama pun tersenyum bahagia.
"Hari yang fitri, aku akan bersilaturahmi kerumahmu, melamarmu dihadapan orang tuamu."
"Benarkah?" Jantung laila semakin berdegup kencang. Bahagia luar biasa.
"Terimakasih, Ya Allah," ucap Laila lalu berlari.
"Heey kenapa lari?"
"Aku malu."
Rama tersenyum kembali.
Namun, tiba-tiba Laila berhenti berlari, mengingat besok dirinya akan kembali ke kota.
Rama menghampiri Laila. "Kenapa berhenti? Masih menungguku?"
"Besok aku akan kembali kekota," kata Laila.
"Besok!" Rama terkejut.
"Iya."
"Bukankah tiga hari lagi?"
"Ibuku sudah tiba di Indonesia. Aku tunggu lamaranmu," ucap Laila dengan tersenyum, lalu pergi.
"Untung saja aku sudah mengutarakan isi hatiku," gumam Rama dengan tersenyum.
Rama menceritakan semua pada ibu. Ibu bahagia melihat Rama bahagia, wajahnya jauh lebih ceria dari biasanya.
Begitupun Laila yang menceritakan semua pada bi Ira. Bi Ira bahagia luar biasa. Akhirnya sang keponakan mendapatkan cintanya.
****
Pak Hasan di suruh Nesa menjemput Laila, lagi-lagi ia tidak bisa menjemput Laila, masalahnya tak juga selesai, tampaknya masalah perusahaan mulai merembet pada keuangan.
Laila berpamitan pada bi Ira, tak lupa Rama dan ibu pun mengantar kepergian terakhir Laila pulang kerumahnya.
"Hati-hati di jalan, ya Laila sayang, sampai ketemu idul Fitri," kata bi Ira dengan tersenyum melirik Laila dan Rama bergantian.
Laila tampak tersipu malu.
Rama tersenyum bahagia.
"Laila, tolong maafkan semua sikap ibu yang tidak berkenan di hatimu, sayang," kata bu Fauziah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu, tidak perlu minta maaf, tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Laila.
"Aamiin," ucap Laila diikuti yang lainnya.
Laila tersipu kembali. Ia melirik Rama yang ada di sebelah bu Fauziah.
Sulit sekali melangkahkan kaki meninggalkan Rama, sesulit mengalihkan pandangannya.
Bi Ira dan bu Fauziah yang sudah saling memaafkan, mengerti keinginan kedua insan itu. Mereka pun memberi kesempatan pada Rama dan Laila untuk bicara berdua.
"Kamu hati-hati di jalan. Bilang sama pak Hasan, jangan ngebut-ngebut! Jagain calon intriku baik-baik," kata Rama penuh perhatian.
Membuat hati Laila melambung tinggi.
Laila mengukir senyum terindahnya, mendengar kata 'Calon Isrti' dari mulut Rama. Rasanya ingin sekali terbang sampai ke awan.
"Kenapa tidak bilang sendiri ke pak Hasan?"
"Karena aku lebih suka mengatakannya padamu," kata Rama.
"Kamu harus janji padaku," kata Laila.
"Janji apa?"
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku," kata Laila.
"Kamu begitu takut ditinggalkan olehku?"
"Sangat, sangat takut sekali. Sebelum rasa ini tersampaikan padamu, kamu telah bersama yang lain, itu rasanya sangat menyakitkan," kata Laila.
"Perlu kamu tahu, meski ragaku pernah bersama yang lain. Jiwaku selalu bersamamu."
"Janji, tidak akan pernah meninggalkanku?"
"Insya Allah. Semoga Allah selalu menjaga cinta kita, hingga kita tidak akan pernah terpisahkan," kata Rama.
"Aamiin," jawab Laila dengan tersenyum.
"Boleh aku meminta sesuatu?" kata Rama.
"Apa?"
"Kembalikan jam tanganku,"
Laila ternyum mengerti.
"Aku akan mengembalikan jam tanganmu, tapi, ada syaratnya," kata Laila.
"Apa?"
"Kembalikan juga sandalku," pintanya.
Sontak keduanya tertawa bahagia.
Bu Ira dan bu Fauziah yang mengintip ikut mentertawakan mereka.
Setelah berpamitan dan mengembalikan apa yang mereka minta tadi, akhirnya Laila pun pergi. Meninggalkan kampung yang mengukir kenangan indah baginya, menemukan cinta sejatinya.
"Bawa aku kembali kesini, sebagai istrimu!" teriak Laila saat mobil mulai melaju.
"Tunggulah aku disana! Jangan kemana-mana sebelum aku menjemputmu," balas Rama.
Keduanya saling melambaikan tangan. Senyum tak henti terukir sampai mobil Laila hilang dari pandangan Rama.
Rama melupakan sesuatu yang penting. Meski lima hari lagi Idul Fitri tiba dan mereka akan berjumpa. Namun, menunggu lima hari bagi mereka bagai lima abad lamanya.
"Bi Ira, saya boleh minta nomor telepon, Laila?" kata Rama.
"Rama! Satu bulan ini kemana aja, kenapa baru meminta nomor telepon sekarang?" tanya bi Ira kemudian tertawa
Rama hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sekalian, sama nomor orang tua Laila."
"Tentu saja," ucap bi Ira dengan tersenyum.
Setelah dua jam perjalanan Laila pun sampai dirumah mewahnya. Kembali menempati kamar indah nan megah bak kamar permaisuri. Namun, ke indahan ini tak seberapa di banding indahnya kamar kecil rumah bi Ira yang bisa langsung terarah menatap pangerannya disana.
Tiba-tiba pesan masuk di whattaap-nya, dari nomor tak dikenal. Laila segera membaca pesan itu.
_Assalamualaikum permaisuri hatiku, sudah sampai rumahkah? Aku merindukanmu._
'Rama, apakah ini dia?' batinnya.
_Waalaikum salam, Rama ini kamu?"_
_Syukurlah, permaisuriku mengingat pangerannya._
Jadi ini dia. Laila melompat bahagia. Ia segera membalas chatnya kembali.
_Bagaimana bisa aku melupakanmu, kamu yang selalu mengganggu pikiranku._
_Syukurlah. Sekarang kamu istirahat. Maafkan aku sudah mengganggu pikiranmu._
_Kenapa meminta maaf untuk hal yang menyenangkan, jangankan pikiranku kamu ganggu, hidupku rela kamu ganggu selamanya, karena gangguanmu adalah gangguan terindah dalam hidupku._
Keduanya pun tersenyum di tempat yang berbeda.
Tak lama Nesa datang.
"Laila sayang, maafin bunda, ya. Bunda gak bisa jemput kamu," ucap Nesa sambil memeluk Laila. "Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu? Siapa yang mencoba melecehkanmu? Bilang sama bunda, sayang? Kenapa kamu diam saja?" cerocos Nesa dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana Laila mau ngomong, Bun. Bunda nyerocos terus," kata Laila dengan mengukir senyum.
"Maaf, sayang. Bunda khawatir sama kamu," kata Nesa dengan mengusap kepala Laila.
"Bunda gak usah khawatir, Laila baik-baik saja kok, ada yang nyelamatin, Laila," kata Laila.
"Iya, sayang. Bi Ira sudah menceritakannya. Bunda juga punya kabar gembira buat kamu."
"Kabar apa, Bun?"
bersambung ....
jangan lupa like komennya, dan favoritin juga ya❤❤❤