
Laila segera menghubungi pak hasan untuk mengantarnya ke toko jam tangan. Sesampainya di sana Laila memilih satu jam tangan mewah untuk Rama. Kotak indah berbungkus kertas kado berwarna merah dengan pita putih di atasnya menambah indah kado yang akan diberikannya kepada Rama.
Begitu ada kesempatan Laila langsung memberikan kado itu pada Rama. Rama begitu bahagia, ia menerimanya dengan senang hati.
Tampaknya dua perempuan yang mencintainya memiliki pikiran yang sama, keduanya memberikan kado jam tangan yang indah. Rama sempat bingung harus memakai yang mana terlebih dahulu. Walau bagaimanapun Nur juga seorang perempuan, yang harus dihargai.
Namun, pada akhirnya Rama memilih keinginan hati, memakai jam tangan indah pemberian Laila, bukan karena jam tangannya yang terlihat lebih mewah, tapi memang hatinya yang sudah tak bisa terlepas dari Laila.
Suatu ketika Nur berpapasan dengan Rama, di situpun berpapasan dengan Laila. Nur terkejut melihat jam tangan yang melingkar di tangan Rama itu bukan pemberiannya, sejenak dia berpikir mungkinkah itu pemberian bu Fauziah. Namun, saat Nur bertanya pada Rama. Lirikan mata Rama pada Laila menjelaskan bahwa jam itu pemberian darinya. Laila yang tersipu malu membuat Nur geram, api cemburu menyeruak keseluruh tubuhnya.
'Awas kamu Laila, besok kamu tidak akan berani lagi menampakan wajahmu di hadapan Rama' batin Nur.
Ibu yang melihat hal itu menghampiri mereka, seketika ia marah pada Rama. Ibu mengambil Jam tangan pemberian Laila dengan paksa dari Rama, berniat mengembalikannya pada Laila.
Laila terkejut saat melihat mata bu Fauziah menatapnya dengan tajam. Rasa tak nyaman menyeruak dalam hati. Hal yang tak pernah Laila bayangkan, melihat bu Fauziah penuh amarah padanya.
"Ibu yakin, kamu perempuan yang baik, Laila. Tolong jauhi Rama! Biarkan dia bahagia bersama Nur!" ucap bu Fauziah penuh penekanan.
Laila hanya terdiam, dia shock melihat ibu seperti ini.
"Maaf, Laila! Ibu tidak bermaksud menyakitimu," lanjut ibu dengan meraih tangan Laila dan menyimpan jam tangan itu di telapak tangannya.
Seketika Laila meneteskan air mata, ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Denyut jantung seakan terhenti mendapat perlakuan seperti ini dari bu Fauziah.
Nur merasa puas dengan apa yang dilakukan bu Fauziah pada Laila. Ia merasa mendapat dukungan lebih dari calon ibu mertua.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan?" Rama tak menyangka ibunya bisa berbuat setega ini.
Bu Fauziah tak menjawab, ia hanya melirik Rama dengan kesal. "Cepat pulang, Rama. Ibu mau bicara denganmu!" ucap bu Fauzih lalu melangkah pergi begitu saja.
Nur tersenyum menyeringai, ia pun meninggalkan tempat itu dengan perasan bahagia.
Sedangkan Rama menatap iba Laila, yang masih terpaku shock dengan perlakuan ibunya.
"Laila, tolong maafkan ibu? Dia tidak bermaksud menyakitimu." Rama ingin sekali mengusap air mata Laila, tangannya perlahan mendekati pipi Laila walau ragu-ragu
Namun, Laila langsung lari kerumahnya dengan membawa luka.
"Laila!" panggil Rama dengan perasaan yang hancur.
Laila tak memghiraukan.
Rama terlihat prustasi, ia mengepalkan tangannya menahan kekesalan.
Dengan segera Rama melangkah cepat menuju rumahnya, sang ibu tampak telah menunggu di ruang tamu.
Rama duduk di samping sang ibu, ia menarik napas panjang dan membuang perlahan, ia berusaha meredakan kekesalannya pada sang ibu, sebelum bicara dengannya.
"Ibu! Apa yang ibu lakukan? Kenapa ibu bicara buruk pada Laila? Kenapa juga harus mengembalikan pemberiannya?" tanya Rama tanpa meninggikan suaranya. Ia tertunduk lesu dengan kecewa.
Ibu tampak meneteskan air mata.
"Kenapa kamu tidak mengindahkan perkataan ibu, Ram? Jika kamu mengindahkan perkataan ibu mungkin ini tidak akan terjadi."
"Rama sudah berusaha, Bu. Akan tetapi, hati ini menolaknya, Rama tidak bisa mengendlikan hati Rama yang selalu ingin dekat dengan Laila."
Deg!
"Apa!?" pekik Rama dengan kaget.
"Besok ibu akan bicara sama pak Hadi."
"Bu, Rama belum siap menikahi Nur sekarang. Rama masih mencintai Laila, menikahi Nur sekarang hanya akan semakin menyakiti perasaannya, Bu," jelas Rama.
"Hanya itu cara menjauhkanmu dari, Laila," kata ibu.
Rama frustasi, ia berdiri hendak meninggalkan ibu, tak ingin memperdebatkan hal ini lagi yang hanya akan membuatnya semakin berdosa melawan sang ibu. Sebelum melangkah Rama berkata, "Apa ini, sifat asli ibu?" tanya Rama penuh kekecewaan, lalu melangkah dengan lemah memasuki kamarnya.
Deg!
Pertanyaan itu lebih terdengar sebagai ungkapan yang berhasil menusuk hati sang ibu. Namun, membuatnya menyadari jika dirinya telah egois memaksakan kehendak pada putranya.
Di dalam kamar sang ibu mengeluarkan sebuah foto. 'Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberitahukan Rama yang sebenarnya, alasan kenapa aku selalu melarangnya berhubungan dengan perempuan kaya. Mungkin dengan ini Rama bisa menjauhi Laila' batin bu Fauziah.
Dengan perlahan ibu membuka pintu kamar Rama, dilihatnya Rama tengah termenung di depan jendela. Ibu menghampiri dan memegang pundaknya, lalu menunjukan foto itu pada Rama.
Rama menoleh dan mengambil foto itu. Di foto itu sang ibu tengah bergelayut manja pada pundak seorang laki-laki yang bukan ayahnya yang ia kenal selama ini.
Rama terkejut, ia heran kenapa sang ibu tiba-tiba menujukan foto ini.
"Siapa dia, Bu? Kenapa ibu terlihat mesra dengannya?" tanya Rama dengan mengerutkan keningnya.
"Dia ayahmu," jawab ibu dengan menahan tangisnya.
"A-ayah!" ucap Rama tak percaya, "Apa maksud Ibu?" tanyanya penasaran.
Ibu menatap sang putra dengan rasa bersalah yang teramat dalam, karena telah menyembunyikan kenyataan yang seharusnya ia ketahui sejak dulu.
"Dia ayahmu Aditama Pramudita, dia alasan kenapa ibu memintamu menjauhi wanita kaya. Dia suami ibu sebelum ibu menikah dengan ayahmu Hendra. Hendra adalah laki-laki yang baik yang rela mengorbankan apapun demi ibu, dan menyayangimu dengan tulus seperti anaknya sendiri, sedangkan Aditama dia adalah laki-laki pengecut yang lebih memilih harta kekayaannya dibandingkan ibu dan dirimu." Tetesan air mata kembali membasahi pipi sang ibu, tatkala ia mengingat kejadian dua puluh empat tahun silam.
Flasback.
Aditama Pramudita dia adalah ayah kandung Rama. Pernikahan Fauziah dengan Aditama tidak berlangung lama, karena kedua orang tua Aditama yang tidak merestui.
Aditama yang sangat mencintai Fauziah nekat menikahinya secara diam-diam, berharap setelah itu mendapatkan restu kedua orang tuanya. Namun, pada kenyataannya kedua orang tua Aditama malah semakin murka dan mengusir keduanya dari rumah.
Selang dua bulan, Fauziah hamil. Dengan kehamilannya tentu kebutuhan semakin bertambah, sedangkan Aditama belum juga mendapatkan pekerjaan yang layak, karena semua aksesnya dipersulit sang ayah. Aditama yang terbiasa dengan kemewahan tidak tahan hidup dalam kesengsaraan, ia memohon maaf pada kedua orang tuanya agar diizinkan kembali kerumahnya.
Bu Fauziah yang menunggunya pulang tampak gelisah. Kegelisahannya hilang saat Aditama datang membawa kabar gembira, bahwa mereka diterima di rumahnya kembali.
Mereka pun kembali kerumah itu dengan sangat bahagia. Satu bulan berada disana Fauziah dikejutkan dengan acara resepsi besar-besaran yang digelar dikediaman
rumah Aditama. Dipikir Fauziah kedua orang tua Aditama hendak merayakan resepsi pernikahannya dengan Aditama. Namun, kenyataan pahit mendera Fauziah saat itu, Aditama hendak dinikahkan kembali dengan perempuan lain.
Fauziah yang shock langsung meminta penjelasan, tapi kedua orang tuanya malah memberikan penawaran yang mengejutkan.
"Mau terima Aditama menikah lagi, atau mau bercerai." Selembar kertas gugatan cerai dilayangkan dihadapan Fauziah.
bersambung ...