
Rasa enggan menyelimuti hati Rama, terasa berat untuk memulai hari. Tak ada penyemangat yang lebih baik dari pada senyum Laila.
Hari ini Rama memeriksa tabungannya yang sudah cukup untuk membelikan sang ibu mesin cuci. Harusnya ini menjadi hari yang bahagia buat Rama, membelikan mesin cuci adalah cita-citanya untuk sang ibu.
Rama yang membutuhkan semangat senyum dari Laila pun memiliki alasan untuk menemuinya.
Saat Rama mengetuk pintu Rumah bu Ira dan mengucapkan salam, Vitamin terhebatnya muncul membuka pintu dengan senyuman indah merekah di bibirnya. Seketika semangat Rama membara kembali, netranya tak bisa teralihkan dari wajah cantik mulus Laila. Sepertinya rindu itu memang begitu berat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Laila yang merasa ditatap terus oleh Rama menunduk dengan malu. Namun, jujur hatinya tengah bahagia luar biasa. Entah angin apa yang membuat Rama datang menemuinya.
Bi Ira yang menyaksikannya membiarkan mereka menikmati moment indah itu. Meski tanpa saling mengutarakan isi hati masing-masing, tidak diragukan lagi keduanya saling jatuh cinta, pikir bi Ira.
"Ra-rama! Ada apa, ya?" tanya Laila dengan gugup.
"Eu ... aku mau minta tolong, bisa?" kata Rama dengan ragu-ragu.
"Eu ... silahkan masuk dulu, biar enak ngobrolnya," kata Laila.
"Terimakasih!" ucap Rama, lalu masuk dan duduk di kursi.
"Bagaimana, Laila?" tanya Rama lagi.
"Bagaimana apanya, ya? Aku belum tau apa yang bisa aku bantu," ucap Laila.
"Oh, iya, Maaf," kata Rama
"Bisa antar aku ke toko elektronik?" Rama langsung mengutarakan maksudnya.
"Mengantarmu? Aku!?" Laila terkejut.
"Iya. Kamu, antar aku," ucap Rama sedikit malu.
"Kenapa aku? Kamu 'kan bisa minta antar --"
"Laila, antar saja," potong bi Ira.
"Bibi!" Laila tersentak.
"Rama 'kan minta tolongkan, tolonglah!" kata bi Ira.
"Bibi! Tapi, bagaimana jika Nur, cemburu," ucap Laila merasa tidak enak.
Deg!
"Kamu tidak perlu khawatir, Nur tidak akan cemburu. Dia tau kalau aku ...."
"Kalau aku, apa?" Laila penasaran.
"Eu ... ma--maksudnya, ka-kalau kita ber-teman." Rama terlihat gugup.
Ada rasa kecewa dihati laila saat mendengar Rama mengatakan itu. Namun Laila tak pernah putus harapan. 'Hari ini aku hanya dianggap teman, semoga nanti akulah teman hidupmu selamanya' batin Laila.
'Aku bukan tipe cowok pemalu, tapi, kenapa tiba-tiba lidah ini susah sekali berucap di hadapan Laila' batin Rama.
"Maaf Rama, aku tidak bisa mengantarmu. Kamu sudah bertunangan dengan Nur, aku khawatir terjadi fitnah. Lebih baik kamu meminta antar padanya," saran Laila.
Deg!
Rama kecewa, Laila tidak mau mengantarnya. Namun, Rama mengerti dengan pemikiran Laila. Hari ini sudah cukup bisa melihat senyum Laila, meski harapannya untuk bisa jalan berdua dengan Laila tidak terpenuhi.
Rama pun pamit pulang. Sebelum pamit ia melihat kaki Laila yg indah memakai sandalnya. Rama tersenyum senang. Namum, Laila merasa malu.
"Maaf, aku ...." Laila bingung mencari alasan kenapa dia masih menggunakan sandal Rama.
"Kenapa minta, maaf?" tanya Rama yang melihat Laila salah tingkah.
"Waktu itu, aku mau mengembalikannya, tapi ...." Laila mencari alasan kembali, tidak mungkin dia mengatakan apa yang terkadi hari itu.
"Tidak perlu dikembalikan, biar sandal itu mewakiliku menemanimu disini." Rama tiba-tiba mengatakan hal tak terduga.
Deg!
Seketika jantung Laila berdegup kencang. Ia tersenyum bahagia.
"Mari!" ucap rama sambil terus menatap senyum Laila.
"Mari!"
Setelah rama berlalu. Laila pun menutup Pintu.
Deg! Deg! Deg!
Bi ira tersenyum.
"Kamu mengerti apa maksud Rama?" tanya bi Ira.
Laila hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Sandalnya sudah sah jadi milikmu, halal kamu pake, bukan minjem lagi. Sebentar lagi Pemiliknyalah yang akan halal untukmu, Aamiin," ucap bi ira dengan tersenyum bahagia.
"Aamiin." Dengan senyum dan menunduk malu-malu Laila mengucapnya.
Namun, tiba-tiba senyumnya menghilang mengingat Rama sudah bertunangan dengan Nur.
***
"Yang ini, Pak." tunjuk Rama pada sebuah mesin cuci yang ia pilih untuk sang ibu, yang sesuai dengan uang tabungan yang ia miliki.
"Baik, Pak. Akan saya antar segera," ucap penjaga toko itu.
Selang satu jam. Sang ibu yang tengah duduk santai di teras rumah menunggu kedatangan Rama, dia di kagetkan dengan kedatangan mobil box pengantar barang. Diturunkannya mesin Cuci oleh sang supir, terpat dihadapannya. Ibu sungguh kaget luar biasa.
"Maaf, Pak! Saya tidak membeli mesin cuci. Sepertinya Anda salah kirim," ucap ibu yang masih kaget.
"Akan tetapi, alamat yang diberikan disini, Bu. Atas nama Ramadhan," ucap supir itu.
"Apa? Ramadhan! Iya, itu nama anak saya," ucap ibu dengan sumeringah, "Jadi, anak saya yang membelinya?" lanjut ibu bertanya.
"Iya, Bu," kata sopir itu.
"Wahh ... terima kasih, Pak," ucap ibu kemudian.
"Sama-sama, Bu." Sopir itu pun pamit dan langsung pergi meninggalkan rumah bu Fauziah.
Tak lama Rama datang dengan motor bebeknya.
"Ram, apa ini?" tanya ibu dengan berkaca-kaca.
Rama tersenyum saat turun dari motornya. Lalu ia menghampiri sang ibu.
Di pegangnya kedua tangan sang ibu dan di ciumnya. "Selamat hari ibu, terimakasih sudah melahirkan Rama kedunia ini. Terimakasih sudah merawat Rama dengan penuh kasih sayang, hingga Rama menjadi seperti sekarang ini, terimakasih atas semua pengorbanan ibu untuk Rama. Tolong maafkan segala kesalahan Rama selama ini! Rama tidak pernah ingin menyakiti hati ibu, maafkan jika Rama belum mampu menjadi anak yang seperti ibu harapkan." Tak terasa air mata menetes begitu saja.
"Rama!" Ibu terharu dan memeluk Rama dengan linangan air mata di pipinya.
"Harusnya, ibu yang berterimakasih padamu, Ram. Kamu, punya uang dari mana, untuk beli mesin cuci ini. Terus, ini juga bukan hari ibu, Ram," kata ibu dengan menyeka air matanya.
"Jadi, ibu lupa, jika hari ini, tepat di tanggal ini, ibu melahirkan seorang putra tampan yang menjadi rebutan para hawa," ucap Rama dengan candanya.
Ibu tertawa di sela tangis harunya.
"Itulah yang ibu heran, seharusnya ibu yang mengucapkan selamat ulang tahun, bukan kamu yang mengucapkan hari ibu." Ibu mengusap kembali air matanya yang tak henti mengalir.
"Bagi Rama ini adalah hari ibu, dimana hari itu kehormatan diberikan kepada perempuan yang rela berjuang antara hidup dan mati demi menyandang status ibu," ucap Rama dengan penuh kasih sayang, ia tersenyum lalu memeluk sang ibu.
Ibu pun segera memberikan kado yang sudah ia siapkan untuk sang putra.
Empat pasang bola mata tampak memperhatikan dengan tangis haru mereka di tempat yang berbeda.
Laila mengusap air mata harunya di balik jendela, ia semakin bangga jatuh cinta pada Rama. Meski harapan untuk bersatu dengannya sangat kecil. "Jadi, Rama meminta antar ke toko elekronik, untuk membelikan bu Fauziah mesin cuci. Masya Alloh, di hari ulang tahunnya, bukan meminta sesuatu pada sang ibu, malah memberi sesuatu pada sang ibu," gumam Laila dengan tersenyum bangga.
Sedangkan Nur, yang memang bertujuan pergi ke rumah Rama karena diberi tahu ibu untuk memberi kejuta pada Rama, di hari ulang tahunnya. Malah dikejutkan dengan bakti Rama pada sang ibu, yang semakin membuatnya bangga dan cinta pada Rama.
Nur segera melanjutkan langkahnya yang terhenti karena moment haru tadi.
"Assalamu'alaikum," ucap Nur setelah sampai di depan Rumah.
"Waalaikum salam," jawab ibu dan Rama berbarengan.
"Selamat ulang tahun, Ram." Nur langsung memberikan kado kecil indah yang telah dibungkus kertas kado berwarna biru, dengan pita yang melingkar indah diatasnya.
"Terimakasih, Nur. Seharusnya tidak perlu repot-repot," kata Rama.
"Ya, enggak repot dong sayang, 'kan buat calon suami. Iya 'kan Nur," sambung ibu.
Nur menunduk malu saat ibu mengatakan hal itu, pipinya pun seketika memerah.
Sementara Rama tampak memaksakan senyumnya.
Bersambung ....
jangan lupa readerku tercinta, sehabis membaca tekan like, favorit, komen dan ratenya ya. Terimakasih like mu memberi kebahagiaan buat author, menambah semangat untuk menulis.❤❤❤