Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Mencoba Merelakan



"Ayah!" Laila terkejut melihat Aditama berdiri dengan kaki yang sudah kembali normal. Ia berhambur ke pelukan sang ayah seperti biasanya, saat dia masih mengira Aditama adalah ayahnya. Tak ada kecanggungan dari Laila maupun Aditama, kasih sayang yang sudah terbentuk sejak Laila kecil tidak membuat jarak meski Laila sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Ayah, sudah sembuh?" tanya Laila dengan bahagia.


Aditama mengangguk dan menyambut pelukan putrinya dengan hangat.


"Alhamdulilah aku senang sekali," ungkap Laila.


'Syukurlah Ayah sudah sembuh' batin Rama.


'Alhamdulilah Adi, aku ikut bahagia atas kesembuhanmu' batin Fauziah.


Berbeda dengan Laila. Rama justrtu merasa canggung, dia hanya menganggukan kepalanya dengan ragu, menyambut kedatangan sang ayah. Rama bingung harus bersikap seperti apa pada ayahnya, karena dia sendiri tidak tau apa ayahnya menerima dia atau tidak.


Mengerti akan apa yang dirasakan Rama, Aditama mendekatinya dan memeluknya dengan penuh cinta. Meskin ragu-ragu Rama membalas pelukan sang ayah. Buliran bening mengiringi moment haru ayah dan anak itu, yang tak pernah saling berpeluk sebelumnya.


"Anakku! Kau anakku." Aditama semakin mengeratkan pelukannya, di iringi tangisan yang semakin pecah.


Rama tak berkata apa pun, perlahan ia pun mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


Laila dan Fauziah ikut tenggelam kedalam moment haru ini.


Fauziah tak pernah membayangkan, Rama akan bertemu dengan ayahnya dan saling berpeluk seperti ini. Ingin sekali ia ikut masuk dalam moment itu, memeluk mereka dalam sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Namun, semua itu hanya angan-angan belaka yang tak mungkin bisa kembali.


Nesa yang sudah berdiri di depan pintu terisak sedih menyaksikan semua ini. Ia membayangkan kebahagiaan yang mungkin akan suaminya rasakan. jika Aditama Fauziah, dan Rama masih bersatu dalam satu keluarga utuh.


"Bunda!" Laila yang melihat Nesa berhambur kepelukannya.


"Apa kabar, sayang?" tanya Nesa.


"Baik, Bun," jawab Laila.


"Tolong maafkan ayahmu ini. Ayah sudah melakukan kesalahan besar, ayah sudah menyakitimu dan ibumu. Tolong maafkan ayahmu ini," ucap Aditama seraya mengurai pelukan. Ia menatap putranya penuh kerinduan.


"A-a-ayah. Apa aku boleh memanggilmu ayah?" Mulut Rama bergetar mengatakannya.


Aditama menganggukan kepalanya perlahan.


"Ayah! Panggil aku ayah!" pinta Aditama pada Rama seraya memeluknya kembali.


Dengan bahagia Rama pun kembali memeluk sang ayah, kini pelukannya penuh keyakinan.


Fauziah nampak tersenyum lepas, semua beban kesalah pahaman yang selama ini dideritanya kini tlah usai. Pandangannya ia alihkan pada Nesa yang sedari tadi masih berdiri diambang pintu.


"Bu, Nesa. Mari masuk!" ajak Fauzih.


Aditama dan Rama saling mengurai pelukan.


Rama mendekati Nesa dan menciun punggung tangannya.


Bu Fauziah dan Nesa saling berpelukan.


Aditama melirik Fauziah. Rasa bersalah yang selama bertahun-tahun tenggelam oleh ego kini menyeruak dalam dada. Rasa hati ingin mengucap maaf dengan memeluknya. Namun, semua itu tidak mungkin ia lakukan. Ia berlutut tanpa malu di hadapan istri dan anak-anaknya, mengakui semua kesalahan terhadap Fauziah. keegoisannya dan semua kesalah pahaman yang timbul selama ini akibat dari keteledorannya mengambil keputusan. Ia meminta maaf pada Fauziah.


"Jangan lakukan ini!" cegah Fauziah dengan tangan yang ragu akan memegang bahu Aditama.


Sungguh Fauziah tak enak oleh Nesa melihat apa yang dilakukan Aditama.


"Bu Nesa. Tolong bangkitkan suamimu. Tidak perlu seperti ini." Fauziah tak berani menyentuh Aditama hanya untuk mebangkitkannya.


"Kenapa Fauziah? Apa kamu begitu membenciku, hingga tak mau menerima permintaan maafku," tutur Aditama dengan lemah.


"Tidak Adi, tidak begitu. Semua sudah berlalu. Aku sudah melupakannya. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan Rama. Bangunlah!" pinta Fauziah.


"Tidak. Katakanlah padaku, jika kamu memaafkanku! Aku tak mau hidup dalam bayang-bayang kesalahanku padamu."


Semua tersenyum bahagia, melihat Aditama dan Fauziah saling memaafkan.


Entah apa yang tengah Nesa pikirkan saat melihat satu keluarga yang telah lama terpisah karena kesalah pahama ini kembali saling memaafkan.


"Akhirnya kesalah pahaman ini selesai, kalian bisa saling memaafkan. Aku bagaia sekali. Jika kalian ingin bersatu kembali, aku rela," Isak Nesa tanpa di duga.


Deg!


Semua orang terkejut mendengar ucapan Nesa.


"Nesa!" Spontan Aditama memanggil dalam keterkejutannya.


Nesa melirik Aditama.


"Aku sudah cukup bahagia bersamamu. Kamu sudah mengangkat derajatku, hingga tak ada orang memandang hina diriku. Aku tahu kamu sangat mencintai Bu Fauziah. Kamu berhak bahagia bersamanya." Nesa mencoba menguatkan hatinya, dadanya bergetar mencoba berbesar hati untuk merelakan sang suami bersama perempuan yang dia cintai.


"Bu Nesa, ini tidak benar." Fauziah menyela Nesa.


Nesa mengalihkan pandangannya.


"Tidak Bu Fauziah. Apa yang terjadi adalah sebuah kesalah pahaman. Ibu berhak mendapatkan kembali keutuhan rumah tangga Ibu," tutur Nesa dengan berat.


"Hentikan ini Nesa! Apa yang kamu ucapkan. Kita kesini untuk Rama dan Laila. Tidak ada hal lain!" tegas Aditama.


"Maafkan aku, Mas. Akan tetapi, aku memiliki tujuan lain. Kali ini biarkan aku yang berkorban, demi kebahagiaan Mas, bersama cinta, Mas." Nesa terus berusaha menguatkan hatinya.


"Apa kamu pikir selama ini aku tidak mencintaimu? Apa artinya kita hidup bersama selama ini? Nesa! Dulu aku memang mencintai Fauziah, tapi sekarang aku mencintaimu, meski aku tidak pernah mengatakan itu, tapi aku sangat mencintaimu." Aditama memeluk Nesa dengan segenap cintanya.


Nesa berusaha memberontak. "Akan tetapi--"


Aditama menghentikan ucapan Nesa dengan menyimpan jari telunjuk di bibirnya.


"Seiring berjalannya waktu, kamulah yang terus mengisi hidupku. Maafkan aku yang tak pernah menyatakan cinta padamu, tapi percayalah, aku sangat mencintaimu sakarang dan selamanya. Aku dan Fauziah hanyalah masalalu." Aditama mencoba meyakinkan Nesa.


Nesa melirik Fauziah merasa tak enak hati.


Fauziah tersenyum lebar padanya. "Aditama benar. Kisah kami hanya ada dimasa lalu, kami sudah berakhir. Kami sudah menemukan cinta baru, seiring berjalannya waktu. Kamu benar, Aditama tak seperti yang kupikirkan, dia bertanggung jawab dan setia padamu. Jangan pernah berkorban untuk hal yang tidak diperlukan, karena itu akan sia-sia," tutur Fauziah lembut.


"Bu Fauziah, Mas, apa kalian benar-benar sudah tidak memiliki rasa? Atau kalian hanya merasa tak enak padaku. Aku memang istri Mas Adi, tapi aku tau, semua itu hanya karena--"


"Karena aku sangat mencintaimu." Aditama memotong ucapan Nesa. Diraihnya tangan Nesa dengan genggaman yang sangat erat.


"Jangan buat aku berdosa kedua kalinya, dengan meninggalkan istri sebaik dirimu. Aku tau dulu aku memang tak mencintaimu, tapi apa kamu tidak merasakan cinta yang tumbuh diantara kita selama dua puluh tahun ini? Ayolah Nesa, apa kamu tidak mencintaiku?"


"Mas!" Nesa terenyuh sedih, matanya berkaca-kaca.


"A-ku." Nesa berucap ragu seraya melirik Fauziah, karena merasa tak enak hati.


Fauziah memganggukan kepalanya seraya tersenyum hangat. Nesa merasa lega melihat respon Fauziah yang sehangat itu. Ia segera memeluk Aditama dan tak menunda mengungkap rasa. "Aku mencintaimu, Adi. Aku mencintaimu," ucap Nesa seraya mempererat pelukannya.


Semua tersenyum lega, pancaran wajah yang bersinar mewakili ungkapan kebahagiaan mereka.


Setelah lama menyaksikan suami istri itu berpeluk erat, Laila maju mendekati mereka.


"Apa ini Bunda, Ayah?" Laila melirik mereka bergantian.


"Bertahun-tahun menikah kalian baru saling mengungkap rasa?" Laila mengerutkan keningnya serara menggelengkan kepalanya.


"Ha-ha-ha." Sontak semua tertawa mendengar ucapan Laila.


Bersambung.....