
"Iya, silahkan Bu Mira, apa yang ingin Ibu bicarakan tentang Laila dan Radit," Kata Nesa.
"Biar Pak Toni saja yang menjelaskan semuanya," ujar Mira.
"Begini, Bu Nesa, sebelumnya saya minta maaf, karena dulu pihak kami ingin menunda pernikahan Radit dan Laila, dikarena kami ingin Radit menyelesaikan dulu kuliahnya. Sekarang kami kemari berniat mempercepat pernikahan mereka," ucap pak Toni.
"Apa!?" Laila terkejut dan spontan berdiri dari duduknya.
"Laila duduklah!" pinta Nesa.
"Maaf, Bu," ucap Laila dengan lemah.
Wajah Radit terlihat menegang ia khawatir Laila tidak menyetujuinya.
Sekejap Laila dan Radit saling lirik.
"Maaf, Pak, Bu, tapi kenapa ya kalian berubah pikiran seperti ini, jujur saya senang medengarnya, tapi semua keputusan ada pada Laila dan ayahnya Laila, dan beliau sekarang tidak bisa mengungkapkan apa pun tentang persetujuannya," ucap Nesa.
" Begini Bu, saya khawatir terjadi Fitnah buat anak kita, sekarang 'kan meraka jadi sering bertemu, jadi saya pikir lebih baik segera dinikahkan. Kalau pak Adi saya rasa tidak akan keberatan, karena beliau sendiri yang dulu ingin pernikahan diadakan segera, tinggal bagaimana kamu Laila?" Pak Toni melirik Laila.
Laila tampak tertunduk dan diam tak menjawab pertanyaan pak Toni.
Nesa pun berpikir, ya dulu Aditama memang ingin pernikahan dilangsungkan segera, mungkin saja saat ini dia akan senang jika mendengarnya. Namun, Nesa melihat Laila yang tampaknya masih terlilhat ragu mengambil keputusan. Nesa tau betul jika putrinya ini mencintai Rama dan belum bisa melepas rasanya.
Ingin sekali mengutarakan semua yang ia sembunyikan dari Laila. Namun, Nesa tak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan Aditama.
"Bagaimana Laila?" tanya pak Toni yang masih menunnggu jawaban Laila.
"Sa-saya, saya bingung Om, Tante, Radit, saya tidak tau harus mengambil keputusan apa. Saya minta maaf, permisi," ungkap Laila dengan cemas. Lalu pergi berlari ke kamarnya.
"Laila!" Nesa terkejut melihat putrinya yang pergi begitu saja dari sana.
"Tolong maafkan putri saya, sepertinya dia shock," bela Nesa.
Radit terlihat lemas mendengar jawaban Laila seperti itu. ' Sudah kuduga, Laila. Kamu tidak mungkin menyetujui ini, sampai kapan aku harus menunggu? Jika harus menunggu sampai rasamu lepas dari Rama, maka sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menikah denganmu' batin Radit.
"Tante, boleh saya bicara pada Laila sebentar." Radit meminta izin menghampiri Laila.
"Iya, Nak," Kata Nesa.
Radit yang sudah mendapat izin dari Nesa pun, bangkit dari duduknya dan menghampiri Laila di kamarnya, baru saja Radit akan mengetuk pintu Radit mendengarkan percakapan LAila brsama bI Ira.
Laila yang lebih lepas mengutarakan semua isi hatinya pada bi Ira, memeluk sang bibi dengan deraian air mata di pipinya.
"Bibi, apa yang harus Laila lakukan? Kenapa tiba-tiba mereka ingin mempercepat pernikahan? Laila takut sekali mengecewakan semua. Laila ingin menikah dengan Radit setelah Laila bisa melupakan Rama. Meskipun Rama kakak Laila, tapi LAila belum berhasil mengubur cinta ini bi. Laila tidak mau menyakiti Radit menikah tanpa mencintainya, Laila ingin rasa ini utuh untuknya. Laila tidak mau jika Laila menikah dengan Radit tapi hati Laila masih memikirkan orang lain," ungkap Laila dengan deraian air mata di pipinya.
Radit meneteskan Air mata mendengarnya. Radit memahami Laila yang sebenarnya tak ingin mengecewakan Radit. Namun, kini egonya mengalahkan segalanya. 'Kali ini aku ingin egois Laila, aku sangat mencintaimu, aku terlalu khawatir jika suatu saat kamu tau kebenarannya, kamu akan kembali pada Rama' batin Radit.
"Tenangkan dirimu, sayang," ucap bi Ira dengan mengusap lembut kepala Laila.
"Apa pun itu, kamu harus tetap menikah dengan Radit, cepat atau lambat. Bibi rasa tak ada salahnya jika pernikahan kalian dipercepat, justru itu akan memudahkanmu melupakan cintamu. Bibi yakin, Radit akan mencintaimu tanpa batas, dan dia akan lebih mudah mengekpresikan cintanya padamu jika sudah halal. Bibi yakin kamu akan bisa mengubur cintamu pada Rama," ucap bi Ira.
"Bibi benar, akan kucurahkan seluruh cintaku padamu tanpa batas, hingga kamu bisa melupakan rasamu terhadap kakakmu, aku sangat mencintiamu, Laila. Pernikahan ini tidak akan memberi kita jarak lagi, aku akan selalu menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku," ungkap Radit yang langsung masuk membuaka pintu.
Laila dan bi Ira terkejut melirik kearah Radit, dengan segera Laila menyeka air matanya.
"Maaf, pintunya sedikit terbuka, aku tak sengaja mendengar percakan bibi dan Laila." Radit meminta maaf.
"TIdak apa-apa, Nak Radit. Masuklah!" kata bi Ira.
"Tidak perlu minta maaf Laila, aku tau benar jika kamu tidak ingin mengecewakanku. Percayakanlah dirimu padaku, akan kuberi seluruh kebahagiaan di dunia ini untukmu, takan kubiarkan air matamu menetes kembali membasahi pipi. Mari, genggam tanganku dan menikahlah denganku." Radit berlutut seraya mengulurkan tangannya pada Laila.
Bi ira tersenyum melihat peerlakuan Radit yang romantis pada Laila. Bi Ira pun mengangu memberi kode pada Laila agar menyambut uluran tangan Radit.
Meski ragu Laila berusaha tersenyum dan menerima uluran tangan Radit. kemudian Laila menganggukan kepalanya.
Seketika wajah Radit berubah bahagia, melihat anggukan Laila.
"Apa itu artinya, kamu setuju segera menikah denganku? tanya Radit dengan bahagia.
Laila menganggukan kembali kepalanya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terimaksih." Radit berdiri dengan bahagia dan hendak memeluk Laila.
"Ehhh! Belum halal," cegah bi Ira.
"Maaf, Bi. Spontan," ucap Radit.
"Ha-ha-ha." ketiganya pun tertawa bersama.
"Terimakasih, Laila. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu tersenyum," kata Radit seraya meraih tangan Laila dan mengecupnya.
"Terimakasih juga, sudah memahamiku, semoga aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Laila.
Keduanya saling lempar senyum.
"Sudah jangan kelamaan pegangan tangannya, belum muhrim," ucap bi Ira dengan tersenyum.
Keduanya pun segera melepaskan tangan mereka. Radit menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu sama bi Ira.
Sementara Laila tampak sedikit tertegun. 'Bahkan tanganku telah di genggam oleh Radit, tapi, kenapa hati in tak juga bergetar saat bersamanya. Ya Allah jika Radit jodohku hadirkanlah cinta di hatiku untuknya, sungguh aku tak mau mengecewakannya, dan tak mau kelak jadi istri durhaka yang memikirkan pria lain dalam kehidupan rumah tangganya' batin Laila.
Radit segera keluar dari kamar Laila, dengan cepat ia berjalan menuruni anak tangga, tak sabar ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada kedua oranag tuanya dan juga tante Nesa.
"Ma, Pa, Tante. Laila sudah setuju," ungkap Radit dengan bahagia.
"Benarkah?" tanya Mira sang mama mencoba meyakinkan kembali.
"Benar, Ma. Radit memluk Mira dengan bahagia.
"Syukurlah," kata Toni.
Namun, Nesa tampak kurang bahagia, ia berusaha mengukir senyum untuk menutupi ketidak senangannya itu.
"Bu, Nesa, kita tanya pak ustad untuk menentukan tanggal baiknya, Ya," ucap Pak Toni dengan bahagia.
Nesa menganggukan kepalanya.
Laila da bi Ira tampak memperhatikan tingkah Radit yang tengah bahagia.
"Lihat itu, Laila! Radit sangat bahagia, semoga kamu bahagia bersamanya, sayang," ucap bi ira seraya mengusap kepala Laila.
Laila mengannguk dan tersenyum. "Terimakasih, Bi. Aamiin," ucap Laila.
Bersambung ...
Terima kasih sudah setia membaca karyaku, jangan lupa dukungannya, karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author. Terimak kasih.🙏❤❤❤❤