
"Kamu!?" Nur terkejut.
Radit menganggukan kepalanya dan kembali mengucap salam. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Nur dan pak Hadi serempak.
"Dia temanmu, Nak?" tanya pak Hadi.
"Dia temennya Rama dan Laila, Pak. Kebetulan tadi sempet ketemu," jawab Nur.
"Oh, mari Nak, silahkan masuk!" kata pak Hadi dengan ramah.
"Terima kasih, Pak," kata Radit, dengan menganggukan kepalanya dan melangkah masuk kedalam.
Radit berjalan perlahan masuk kedalam rumah, diperhatikannya rumah sederhana yang ditinggali Nur dan pak Hadi, yang jauh dari kemewahan. Sungguh dia merasa diri beruntung hidup dalam keluarga yang berkecukupan, rumah sederhana teman-teman Radit yang pernah di kunjunginya justru membuatnya bersyukur dan tidak pernah menjadi sombong. Dalam hal itu Radit memang beruntung dan mampu berpikir dewasa.
Namun, soal cinta Radit kurang beruntung, dan memlilih untuk egois.
Saat ini Radit justru iri terhadap Rama yang sederhana tapi begitu dicintai Laila. Kenyataan yang baru ia ketahui tentang Rama dan Laila, membuat Radit takut kehilangan Laila dan nekat menemui Nur, untuk membuat kesepakatan.
"Silahkan duduk!" kata pak Hadi mempersilahkan Radit.
"Ada keperluan apa ya, datang kemari?" tanya Nur.
"Iya, Nak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pak Hadi.
"Eu, begini, Pak. Saya ingin bicara dengan Nur sebentar, bila bapak ijinkan, saya ingin mengajaknya keluar, tidak lama kok, Pak. Saya pastikan Nur kembali dengan selamat tanpa kurang sedikitpun," Radit meminta izin pada pak Hadi.
"Jadi, kamu mau bicara dengan Nur. Bapak suka keberanianmu, Nak. Anak Laki-laki jika ingin membawa anak gadis orang pergi keluar memang harus minta ijin terlebih dahulu pada orang tuanya. Siapa namamu, Nak?" Tanya pak Hadi.
"Nama saya Radit, Pak," jawab Radit.
"Baiklah, Nak Radit. jangan pulang lewat jam sembilan. bapak percayakan anak bapak padamu," ucap pak Hadi dengan lembut.
Pak Hadi berpikir jika Radit menyukai Nur, ia tersenyum bahagia menyimpan harapan. Dengan adanya pria lain, bisa mengalihkan perasaan Nur dari Rama, yang tak pernah menaruh hati pada putrinya.
Radit membawa Nur ketempat makan mewah, yang tak pernah Nur datangi selama ini. Selama di perjalanan tadi tak banyak hal yang mereka bicarakan selain perkenalan diri mereka. Nur pun tau jika Radit adalah tunangan Laila. Sebelum mereka berbincang mereka menyantap hidangan lezat yang sudah Radit pesan. Setelah selesai menyantap hidangan Radit pun langsung bicara pada inti tujuannya.
"Begini Nur, saya tak tau banyak tentang kamu dan Rama, tapi saya bisa melihat dengan jelas jika kamu sangat mencintai Rama. Saya ingin kamu tidak pernah melepaskan Rama. Kalau bisa, secepat mungkin kamu buat Rama mau menikah denganmu," ucap Radit.
Nur terkejut dengan apa yang di ucapkan Radit.
"Apa maksudmu, aku memang mencintai Rama, tanpa kamu suruh aku tidak akan pernah melepasnya begitu saja. Akan tetapi Rama tidak pernah mencintaiku, tidak mudah mendapatkan hatinya apa lagi memintanya menikahiku. Aku akan terus memperjuangkan cintaku tapi butuh waktu lama untuk itu, karena Rama masih belum bisa melepas rasanya terhadap Laila. Aku bahkan sudah bicara pada Rama, tapi Rama masih saja menolakku," jelas Nur dengan kecewa.
"Lakukan apa pun agar Rama mau membuka hatinya untukmu, dan segera menikahimu. jangan sampai Rama kembali pada Laila," ungkap Radit.
"Apa!?" Nur terkejut.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin Rama kembali pada Laila, mereka memiliki ikatan darah," ucap Nur heran.
"TIdak. Mereka tidak memiliki ikatan darah. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui itu," jelas Radit.
"Apa? Bagimana kamu tau itu?" Nur terkejut mendengar penuturan Radit.
"Aku tak sengaja mendengar tante Nesa bergumam, jika mereka bukan muhrim. Itu artinya mereka tidak memiliki ikatan darah," jelas Radit.
"Aku tidak mungkin salah dengar, tante Nesa mengucapkannya dengan sangat jelas."
"Akan tetapi, bagaimana bisa?"
"Itu yang belum kuketahui, sepertinya Laila bukan anak kandung pak Adi. Yang jelas sekarang kamu jangan sia-siakan waktu sebelum mereka mengetahui semua ini," kata Radit.
"Kalau begitu kita harus membuat rencana," kata Nur.
"Aku tidak mau membuat rencana denganmu. Aku kemari hanya untuk memberi tahumu, seperti kamu yang tak mau kehilangan Rama, aku pun tidak mau kehilagan Laila. Jadi bergeraklah dengan cepat! Aku juga akan membujuk kedua orang tuaku agar mempercepat pernikahanku dengan Laila," ungkap Radit.
"Akan tetapi, kamu harus mau membantuku jika aku butuh bantuanmu," ucap Nur.
"Aku tidak janji. Karena aku tidak tau benar seperti apa dirimu, dan apa yang akan kamu lakukan, tapi jika kamu berhasil membuat Rama mau menikah denganmu, aku sendiri yang akan menanggung biyaya pernikahanmu," ucap Radit.
"Benarkah?" tanya Nur.
Radit menganggukan kapalanya.
"Aku ingin pernikahan mewah, kamu mau membiyayainya?" tanya Nur.
"Tentu saja, asal dengan cepat kamu menikah dengan Rama," ucap Radit.
"Baiklah, terimakasih sudah memberitahuku. Lebih baik sekarang kita pulang, sudah malam," Ajak Nur seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah, mari kita pulang," sahut Radit.
Tepat di jam sembilan Radit sampai mengantarakan Nur kerumahnya. Pak Hadi senang Radit memegang ucapannya, membawa putrinya pulang tepat waktu. Pak Hadi mulai menaruh harapan pada Radit.
Setelah Radit pamit pak Hadi tiba-tiba mengusap lembut kepala Nur, dan berkata, "Semoga Radit bisa mengambil hatimu, dan membuatmu melupakan Rama," ucap pak Hadi tiba-tiba.
Nur seketika mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum dalam hati. 'Rupanya bapak pikir Radit kesini karena suka sama Nur. Bapak tidak tau aja, Radit kesini justru mendukung Nur untuk semakin deket sama Rama, tapi ya sudahlah terserah bapak mau pikir apa, yang penting sekarang aku harus memikirkan cara buat Rama mau nikah sama aku' batin Nur.
***
Siang ini pak Adi mulai di terapi oleh ahli. Nesa berharap sang suami segera sembuh, mengingat dirinya yang tak selalu bisa memahami keinginannya.
"Saya bingung bagaimana saya berkomunikasi dengan suami saya, saya yakin banyak yang ingin suami saya katakan dan inginkan, tapi saya tidak bisa memahaminya," tutur Nesa pada terapis itu.
"Untuk saat ini lebih baik ibu ajak bicara suami ibu dengan memberikan jawaban sebagi bertanyaan, dia akan menggerakkan matanya kekanan dan ke kiri jika tidak mau atau tidak setuju, dan dia akan mengedipkan matanya jika dia mau atau setuju," kata terapis itu.
"Contohnya jika ibu menawari dua jenis minuman yang berbeda, misalkan jus dan kopi pada suami ibu, jangan tanya mau minum apa? Tapi, tanya kamu mau jus? Tunggu jawaban darinya, mengedip atau menggerakannya ke kanan dan kekiri, jika jawabannya tidak mau berarti dia menginginkan minuman satunya," jelas terapis itu. ( maaf ini hanya pemikiran Author, sebelumnya Author tidak pernah merawat orang strokeš disini terapisnya Authorš¤)
Tiba-tiba Nesa teringat saat Aditama meronta ketika dirinya membicarakan Rama, spontan Nesa bertanya apakan dia ingin bertemu dengan Rama, dan pak Adi mengedipkan matanya.
Suatu kebetulan yang harusnya sudah di pahami Nesa sejak awal, karna saat itu spontan dia mengerti keinginan suaminya yang ingin bertemu Rama
Sayang sekali Nesa tidak memahami rontaan sang suami saat dirinya bertemu Rama, entah apa yang di inginkannya, hingga dia meronta hebat dan terjatuh dari ranjangnya.
'Mungkinkah saat itu mas Adi ingin memeluk Rama' batin Nesa.
bersambung .....
jangan lupa like dan yang lainnya ya readersā¤ā¤ā¤