
Tak lama terdengar deru mesin motor Rama di halaman rumah bu Ira. Ibu pun segera memeriksanya keluar. Terlihat Laila sedang turun dari motor Rama. Namun, pemandangan yang tidak ingin ibu saksikan terjadi di hadapannya, seorang anak kecil yang tengah berlarian menabrak Laila hingga terhuyung ke arah Rama. Membuat keduanya berhadapan dan saling pandang dalam jarak yang dekat. Keduanya menikmati tatapan indah itu begitu lama tak ingin melepaskannya begitu saja.
Ibu yang khawatir segera memakai sandal, dan berjalan menghampiri mereka.
"Ehem." Deheman ibu berhasil memutus jarak pandang mereka.
"I--ibu," ucap Rama dengan gugup.
Sementara Laila langsung menundukan pandangannya merasa malu oleh ibu.
"Kalian sudah beli sandalnya?" tanya ibu dengan lembut, dan berusaha menahan kekesalannya pada Rama.
"Sudah, Bu," kata Laila.
"Terimakasih, sudah mengijinkan Rama mengantar Laila," lanjut Laila dengan sopan.
"Iya, Laila, sama-sama. Akan tetapi, ibu minta maaf ya Laila, ibu butuh Rama sebentar, buat benerin keran air yang rusak, karena kalau engagak di benerin sekarang airnya terus mengalir," ucap ibu.
"Oh iya, Bu. Maaf, tadi kami terlalu lama," kata Laila dengan sopan.
"Tidak apa-apa Laila. Ibu masuk dulu ya. Ayo Ram!" ajak ibu.
Rama dan ibu pun meninggalkan Laila. Rama langsung pergi menuju kamar mandi untuk memperbaiki keran yang rusak. Namun, Rama langsung terkejut saat melihat keran kamar mandi yang baik-baik saja tanpa ada kerusakan sedikit pun.
Kini Rama mengerti maksud ibu. Rama tak habis pikir kenapa ibu berbohong. Rama mencoba bicara baik-baik pada ibu yang tengah duduk santai di ruang tamu.
"Tidak ada keran air yang rusak. Kenapa ibu berbohong?" tanya Rama dengan pelan.
"Yang perlu di perbaiki bukan keran air. Akan tetapi hatimu Rama, jangan sampai cintamu pada Laila terus mengalir," ucap ibu dengan berkaca-kaca.
Rama mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu duduk di samping sang ibu seraya memegang kedua tangannya.
"Ibu tidak perlu berbohong untuk memisahkan Rama dan Laila. Apa ibu lupa, kalau ibu sedang berpuasa?" kata Rama sambil menatap sang ibu dengan lembut.
"Astagfirullah haladzim." Ibu beristigfar menitikan air mata.
Ibu langsung memeluk sang putra dengan segenap ke khawatirannya. Cinta dan kasih sayangnya yang begitu besar membuat ibu khilap.
"Maafkan ibu, Ram. Ibu hanya takut kamu ...." Ibu menghentikan ucapannya karena ragu.
Rama memahami perasaan sang ibu. Rama pun memeluknya dengan erat.
***
Sore ini ibu meminta Rama untuk pergi tadarus bersama remaja mesjid, setelahnya ibu menyuruh Rama buka bersama di rumah Nur demi menghindari Laila. Ibu memberikan jingjingan berisi makanan yang sudah ia persiapkan lengkap dengan tiga jus mangga untuk dibawa kerumah Nur.
Rama tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun menuruti kemauan sang ibu.
"Rama tadarus di mesjid, Bu?" tanya Laila yang tidak mendapati Rama di rumahnya.
"Iya, Laila. Rama juga sekalian mau buka bersama Nur, katanya. Ibu seneng deh mereka semakin dekat. Semoga saja mereka berjodoh." Dengan sengaja ibu mengatakan hal itu, untuk membuat Laila tidak berharap lagi pada Rama.
Laila tertegun. Wajahnya terlihat menahan sedih di hadapan ibu. Senyum yang terasa berat ia tampakan untuk menutupi kekecewaannya.
Saat berada di rumah Nur Rama tidak bisa berhenti memikirkan Laila.
Pikirannya kini terus terbayang senyuman Laila, mengingat canda tawa bersamanya saat di pasar tadi. Ekpresi wajah terkejut Laila saat melihat sepatu boot di tangannya tampak Lucu dimata Rama, membuat Rama seketika tersenyum dalam lamunannya.
Nur dan pak Hadi tanpak heran melihat Rama yang tersenyum sendiri, dan tidak seakrab biasanya yang lebih banyak bicara dan hangat sama mereka.
Raga Rama memang berada di dekat Nur, tapi jiwanya selalu berada di sisi Laila.
"Ram!" Nur memanggilnya saat dirasa Rama semakin tenggelam dalam Lamunannya.
Sontak Rama pun terkejut.
"Iya. Ma-- maaf!" Kata Rama.
"Ayoo, apa yang kamu bayangkan, sampe senyum-senyum sendiri gitu, pasti bayangin cewek ya," tebak Nur dengan candanya.
"Apaan, Nur. Enggak. Keinget hal lucu aja tadi. Maaf ya, aku malah melamun disini," kata Rama sambil melihat Nur dan pak Hadi bergantian.
"Tidak apa-apa Rama. Sepertinya Rama sedang jatuh cinta. Bapak pengalaman dalam hal ini, dulu bapak juga sering melamun kayak kamu saat membayangkan ibunya Nur," tutur pak Hadi.
Rama tertawa.
Nur yang mendengar perkataan bapaknya mulai kegeeran, pikirnya Rama tengah membayangkan dirinya.
"Wah, asyiknya yang lagi jatuh cinta," goda Nur, dengan harapan Rama mengatakan jika dia jatuh cinta pada dirinya.
Sementara Rama tersenyum dengan sangat indah menyadari dirinya yang memang tengah jatuh cinta pada Laila.
'Laila, ya, aku jatuh cinta padanya' batin Rama.
Di rumah bu Fauzih pun tengah terjadi hal yang sama pada Laila. Laila seperti kehilangan gairah tanpa ada Rama di rumah itu. Laila yang tengah melamun tidak menyadri tangannya teriris saat memotong buah.
"Laila!" panggil ibu yang langsung meraih tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya ibu dengan khawatir.
"Ma--maf, Bu. Laila ...." Laila ragu mengucapkan apa yang ada dipikirannya.
Ibu segera mengambil pelester dan membalut tangan Laila dengan cepat.
"Apa yang kamu pikirkan?" Ibu mengulangi pertanyaannya.
Laila terliat gugup.
"Laila, lagi kepikiran ayah sama bunda Laila, Bu. Laila kangen sama mereka," elaknya.
Ibu tertegun. Mengingat orang tua Laila yang memang berada jauh di luar negeri. Semoga saja apa yang dikatakannya benar, bukan karena memikirkan Rama. Pikirnya.
"Sabar Laila. Semoga mereka segera kembali ya." Ibu berharap kedua orang tuanya segera kembali dan membawa Laila pergi dari sini.
***
Sepulang tarawih Rama terus melayani Nur berbincang sambil menunggu Laila keluar dari mesjid.
Nur sangat bahagia. Dipikirnya Rama sengaja menyempatkan waktu mengobrol bersamanya.
"Besok, gantian aku yang buka bersama dirumahmu, ya," kata Nur dengan senyum bahagia.
"Boleh," jawab Rama asal sambil celingukan kedalam mesjid.
Hampir semua jamaah sudah keluar. Namun, Laila tak kunjung lewat. Rama heran, ia pun kembali melihat ke arah mesjid, ternyata jamaah perempuan sudah terlihat kosong.
'Apa Laila tidak tarawih' batin Rama.
Rama segera menyudahi perbincangan dengan Nur, berjalan cepat menuju rumahnya. Rama bertanya pada sang ibu, yang sudah sampai terlebih dulu ke rumah.
"Apa ibu tau? Kenapa Laila tidak tarawih?" tanya Rama.
Ibu menatap Rama tajam.
"Kenapa nanyaiin Laila? Jangan lupa untuk menjauh darinya. Mau dia tarawih, mau enggak, jangan jadi urusanmu," ucap ibu.
Deg ....
Seketika Rama pun terdiam.
"Ibu, kalau Laila sakit gimana?" pikir Rama.
"Kamu tau 'kan kalau Laila tadi disini bantu ibu. Jadi, tidak mungkin Laila sakit. Mungkin saja dia lagi malas kemesjid," jelas ibu.
Rama tertegun. Ia masih penasaran kenapa Laila tidak kemesjid.
"Kita baru mengenal Laila beberapa hari, kita belum tau sipat aslinya seperti apa, mungkin saja memang dia pemalas, apalagi dia dari keturunan orang berada yang biasa bermanja-manja. Beda sama Nur yang kita tau dia seperti apa sedari kecil," jelas ibu.
"Akan tetapi, Rama jatuh cinta sama Laila, Bu," celetuk Rama membuat ibu terkejut.
Seketika ibu membalikan badannya. "Apa?!"
"Iya. Rama cinta sama, Laila," jelasnya.
"Baru tadi pagi ibu bilang padamu? Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya!" kata ibu dengan meninggikan suaranya.
bersambung ....
kangan lupa like. fav, koment, dan rate-nya.❤❤❤