
Semua orang yang berada di sana terkejut dengan apa yang dilakukan Nur. Laila langsung menariknya dan menampar keras Nur.
"Awww," pekiknya kesakitan.
"Beraninya, Nur." Laila menghunuskan tatapan tajamnya dengan penuh amarah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Laila dengan kesal.
"Apa-apaan ini, Nur." Pak Hadi sangat kecewa pada putrinya.
Radit hanya diam, begitu pun Fauziah yang kekesalannya sudah terwakilkan oleh Laila.
Nur tak menjawab. Dia hanya menatap Radit dengan lekat. Dengan dada yang semakin sesak dan deraian air mata di pipinya.
Radit menundukkan wajahnya, berusaha memahami maksud Nur. Tiba-tiba Nur berlari memeluk Radit, ia mencoba menyelami rasa, mencari sebuah jawaban dari kesedihan yang ia rasa saat ini.
Tidak seperti biasanya jantung Nur bergetar habat saat dirinya memeluk Radit, rupanya rasa sakit yang menderanya semalam adalah kesedihannya yang akan berpisah dengan Radit. Berbeda dengan saat tadi dirinya memeluk Rama getaran hebat yang pernah hinggap di hatinya telah sirna, tak sedikit pun dia merasakan getaran itu lagi.
Ia mencoba mengungkap rasa yang masih ia ragukan itu. "Ra-Radit, Aku, Aku tidak ingin berpisah denganmu," ucap Nur dengan bibir yang bergetar dan gelengan kecil di kepalanya.
Seketika Radit terhenyak mendengar ucapan Nur, ia membulatkan matanya tak percaya. Rona berseri seketika hadir di wajah Radit. Begitu juga dengan Pak Hadi. Sementara, Laila, Rama dan Fauziah tidak memahami apa yang sedang terjadi.
"Kamu tidak mau berpisah denganku?" tanya Radit untuk meyakinkan.
Nur menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin?" tanya Radit kembali.
Nur menganggukan kepalanya.
Radit langsung memeluk Nur dengan penuh kebahagiaan, Nur membalas pelukannya dengan erat, tangis haru menghiasi keduanya. Pak Hadi tersenyum penuh kemenangan, ia mengacungkan jempolnya melihat Radit, dan dibalas dengan kedipan mata.
"Katakan pada kami! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fauzih penasaran.
Radit dan Nur mengurai pelukan, dan mengulas senyum pada keluarga Rama.
"Tolong maafkan aku." Nur melihat Rama Laila dan Fauziah satu persatu dengan tangan bersedekap di dada.
"Laila, aku tidak bermaksud mengambil Rama darimu. Aku hanya ingin meyakinkan perasaanku, apakah rasaku pada Rama masih ada atau tidak. Aku akan berpisah dengan Radit karena kupikir aku masih mencintai Rama. Sesungguhnya Radit pria yang baik, aku tidak boleh menerima cinta Radit tanpa membalas cintanya, tapi nyatanya kedatangan surat pengadilan itu begitu menyakitkan hatiku. Kurasa sekarang aku telah jatuh cinta pada suamiku," ucap Nur dengan berderai air mata.
Laila hanya diam tak menjawabnya, jujur dia masih merasa kesal pada Nur, tak adakah cara lain selain dengan memeluk Rama dihadapannya. Tampaknya Laila masih merasa cemburu.
"Rama, tolong maafkan aku," ucap Nur.
"Tidak apa-apa Nur. Aku senang, sekarang kamu bisa menemukan laki-laki yang tepat buatmu. Semoga selalu bahagia bersama Radit," ucap Rama dengan mengukir senyum.
Fauziah pun ikut tersenyum bahagia. "Alhamdulilah, Nur. Semoga kamu dan Radit selalu bahagia," ucap Fauziah.
Nur melihat Laila kembali, dia berharap Laila bisa memafkannya. Namun, Laila menundukan kepalanya tak ingin melihat Nur. Kekesalan masih terlihat jelas di wajahnya.
Nur mengerti, kekecewaan Laila padanya, sudah banyak kesalahan yang dia perbuat pada Laila. Mungkin Laila butuh waktu untuk itu semua. Nur yakin suatu saat nanti Laila akan memaafkannya.
Akhirnya Nur dan Radit tidak jadi berpisah, mulai hari ini mereka merajut cinta suci bersama dalam rumah tangganya, saling membuka hati dan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terlihat Rona bahagia di wajah keduanya.
Pak Hadi sang ayah merasa lega, akhirnya perjuangan Radit tidak sia-sia. Dia berharap Nur menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah membuka hati untuk Radit.
Sepenjang perjalanan menuju rumah sakit Laila lebih banyak diam, dia kesal pada Rama yang percaya begitu saja pada Nur. Laila masih berpikir semua itu hanya siasat Nur, mungkin saja esok dia akan melakukan hal yang sama dengan alasan lain.
"Sayang, kenapa itu wajah di tekuk terus?" tanya Rama yang melihat wajah cemberut sang istri lewat spion motor bebeknya.
Pelukan Laila di pinggang sang suami pun tak terasa hangat seperti biasanya. Rama mengusap lembut tangan wanitanya dengan penuh cinta. Dia diam menunggu jawaban, yang tak juga dilontarkan dari mulut sang istri.
Tiba-tiba Laila melepaskan tangan yang melingkar di pinggang sang suami dan mencubit tangan kanannya.
"Awww!" keluh Rama, ia spontan melepas tangan kiri dari stang motor untuk mengusap cubitan sang istri.
"Kamu itu ngerti kenapa aku marah sama Nur, tapi gak ngerti kenapa aku marah sama kamu," ucap Laila masih dengan wajah yang cemberut.
"Ampun sayang, aku benar-benar tidak mengerti," ucap Rama.
"Aku marah sama kamu, karena dengan mudahnya kamu memaafkan Nur, aku tidak yakin dia berubah, bisa saja itu alasan dia. Besok-besok dia akan punya alasan lain agar bisa meluk kamu lagi." Laila memilih menyimpan tangan di perutnya dibanding di pinggang sang suami.
Rama malah tersenyum lucu melihat tingkah sang istri yang tengah cemburu.
"Sayang, yakin gak mau pegangan ke pinggang nih, aku mau ngebut loh," ucap Rama.
Laila hanya diam.
"Kenapa aku memafkan Nur? Itu karena aku lebih memilih berprasangka baik, dari pada berprasangka buruk. Dari pada menduga-duga apa yang akan diperbuatnya nanti, lebih baik kita mendo'akannya, itu akan lebih membuat hati kita tenang," ucap Rama seraya fokus melaju.
"Kita tidak pernah tau, Allah memberi hidayah pada seseorang dengan cara apa? Ya, semoga saja Nur benar-benar menyadari kesalahannya dan berubah. Jujur aku melihat kesunghuh-sungguhan di mata Nur, saat dia meminta maaf tadi," lanjut Rama menjelaskan.
Tiba-tiba Laila menundukkan kepalanya memikirkan semua ucapan Rama. Berpikir jika yang diucapkan suaminya ada benarnya.
"Masih, gak mau meluk nih, tadi aja dipeluk orang marah, giliran disuruh meluk enggak mau," sindir Rama.
"Iih, apaan sih," ucap Laila terdengar manja seraya melingkarkan kembali tangannya di pinggang sang suami.
Rama tersenyum bahagia. "Gitu dong, sayang," ucap Rama dengan mengusap kembali tangan yang melingkar indah di perutnya.
"Aku tidak mau ada yang mengganggu rumah tangga kita. Semoga saja Nur benar-benar jatuh cinta pada Radit, dan berhenti mengganggumu," ucap Laila seraya menyandarkan kepanga di punggung Rama.
"Aamiin," ucap Rama.
Sesampainya di rumah sakit, seperti biasa Laila tak lupa mengecup punggung tangan sang suami sebelum melangkah masuk kedalam. Rama melambaikan tangannya setelah mengecup pucuk kening sang istri dan melajukan motornya kembali.
Setelah motor Rama tak terlihat, Laila pun melangkah masuk ke dalam, Ferdi yang sudah mengetahui kedatangan Laila dengan sengaja menabrakan dirinya, hingga membut Laila hampir terhuyung kedepan, ala adegan film india Ferdi langsung menarik Laila hingga tubuh mereka menempel. Adegan tatap-tapan pun terjadi diantara mereka, Laila segera menundukan pandangan ketika menyadari itu, sedangkan Ferdi terus menatap Laila dengan lekat.
'Cantik, mulus, dan menggoda, ibu tidak salah memberiku sasaran yang empuk' batin Ferdi tersenyum senang.
Laila berusaha menjauhkan dirinya. Namun Ferdi yang masih dalam lamunannya enggan melepas Laila.
"Dokter Ferdi, tolong lepaskan saya," ucap Laila menyadarkan lamunannya.
"Eu, Sorry Dokter Laila, saya tadi terburu-buru, jadi tak sengaja menabrak Dokter." Bohong Ferdi seraya merapihkan dirinya.
"Tidak apa-apa, Dok," ucap Laila yang juga merapikan pakaiannya. "Permisi," lanjut Laila pamit, tanpa mau berbasa basi lagi dengan Dokter Ferdi.
Ferdi mengangguk dengan mengulas senyumnya, membiarkan Laila pergi.
Sementara di kantornya Rama tengah fokus bekerja bersama Wilona. Wilona tidak membuat ulah sama sekali, dia bersikap baik dan sopan, dia bekerja dengan sangat telaten, menunjukan tak cuma sikapnya yang berkualitas. Namun, pekerjaannya pun bisa diandalkan. Membuat Rama menyukai hasil kerjanya.
Hari demi hari terus berjalan, tak terasa tiga bulan telah berlalu. Rama dan Wilona tampak akrab sebagai rekan kerja. Perusahaan baru yang akan dirintis Rama pun mulai didirikan.
Rama telah membeli sebuah lahan luas, di sana dia mendirikan perusahaan baru yang dia rintis dari nol, dalam jangka tiga bulan pengerjaannya sudah seratus persen dan sudah bisa di tempati, perusahaan yang dia dirikan memang tidak sebesar perusahaan yang diberikan sang ayah padanya, tapi Rama yakin perlahan perusahaannya akan berkembang.
Rama semakin sibuk dengan perusahaan barunya, dia terkadang pulang larut malam untuk menyiapkan segalanya. Ya mendirikan perusahaan baru tidaklah mudah dia bahkan merintis dari awal tanpa mengaitkan dengan peusahaan yang di berikan Aditama padanya.
Rama selalu di temani Wilona sang sekretaris, terkadang sampai larut hanya berdua saja. Suatu ketika Wilona mendadak pingsan karena kecapean. Rama terkejut melihat Wilona tergeletak begitu saja di hadapannya.
bmBersambung ....