
Bak disambar petir, Jantung Fauziah seolah enggan memompa darah, ia jatuh tersungkur lemas kedasar lantai, buliran bening mengalir begitu saja di pelupuk matanya. Ia terpaku tak bisa berkata apa-apa.
Alih-alih merasa iba kedua orang tua Aditama malah tersenyum menyeringai, mengejek Fauziah yang lemah.
Aditama merangkul Fauziah. Namun, Fauziah menepisnya dengan kasar. "Apa semua ini, Mas?" tanya Fauziah dengan deraian air mata di pipinya.
"A-aku, aku tidak punya pilihan lain, sayang," jawab Aditama dengan gugup.
"Apa yang kamu harapkan dariku?" tanya Fauziah dengan berat.
"Terimalah pernikahan keduaku ini, agar kita bisa hidup bersama dan bahagia di rumah ini, dengan harta yang berlimpah," ucap Aditama penuh harap.
Deg!
Seketika Fauziah menatap sang suami penuh kecewa. Tidak percaya Aditama bisa mengatakan ini. Fauziah meghela napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia berdiri dengan berani menghadapi ketidak Adilan yang di berikan kepadanya. Dirinya disudutkan dengan kedua pilihan yang menyakitkan, tak ada bedanya.
Hal yang paling membuat Fauziah hancur adalah saat melihat lembaran surat cerai itu telah ditandatangani oleh Aditama, itu artinya Aditama siap kehilangan dirinya jika tidak mau menerima pernikahan. Wanita manapun jelas akan sangat kecewa.
Tanpa pikir panjang Fauziah menandatangani surat cerai yang ada di hadapannya. Sontak membuat Aditama membulatkan matanya seketika.
"Sayang, Apa yang kamu lakukan?" tanya Aditama penuh kecemasan.
"Aku dan janin yang ada di rahimku tidak bisa dipermainkan bagai barang taruhan, kamu pertaruhkan kebahagiaan kami diatas keinginanmu yang ingin hidup bergelimang harta, kamu pikir gelimangan harta akan membuat kami bahagia dengan hidup diantara orang ketiga. Kamu salah besar, Mas!" tegas Fauziah.
"Sayang! Kita butuh banyak uang untuk calon bayi kita, kamu tau 'kan aku gak bisa dapat pekerjaan yang layak, sekarang saja kita sudah menderita, bagaimana dengan nasib anak kita nanti?"
Fauziah tersenyum getir, ia tidak habis pikir sang suami memiliki pemikiran seperti itu. Ia tidak menyangka dirinya di bawa kerumah ini hanya untuk memenuhi kesepakatan antara anak dan orang tuanya.
"Jika kamu masih ingin hidup dengan hartamu ini silahkan, Mas! Aku tidak bisa. Jujur aku sangat kecewa padamu!" ucap Fauziah penuh penekanan.
"Bagus, cepat pergi dari sini! Kalian sudah bukan suami istri lagi," sambung Lusi ibu Aditama mengusir Fauziah.
"Ya, itu benar, pergilah!" Anwar ayah Aditama ikut menimpali.
Fauziah tak ingin berlama-lama ada disana, ia tahu kedua mertuanya tidak pernah menginginkan kehadirannya. Ia melangkah dengan cepat keluar dari kediaman Aditama. Membawa serta luka yang teramat dalam, yang akan terukir sampai kapanpun.
"Sayang!" Aditama berusaha mengejar Fauziah. Namun, kedua tangannya dipegang erat oleh para penjaga sang ayah.
"Kamu lihat itu, Aditama! Perempuan yang kamu cintai, dengan mudah menandatangani surat perpisahan ini tanpa pikir panjang. Itu yang kamu namakan cinta," ucap Lusi dengan senyum sinisnya.
Aditama mengelengkan kepala ia shock dengan keputusan yang diambil Fauziah. Ia pikir Fauziah tidak mungkin melapasnya, ternyata dia salah. Kini Aditama tidak bisa berbuat apa-apa.
Plas back of.
Rama tidak menyangka penderitaan sang ibu begitu berat. Ia ikut menagis saat sang ibu menceritakan kenyataan pahit yang di deritanya.
Rama segera mengusap air mata di pipi sang ibu, dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Sekarang Rama mengerti, kenapa ibu melarang Rama jatuh cinta pada Laila, tapi, Rama sendiri tidak tau apa Rama bisa menjauhi Laila. Semakin Rama ingin menjauhinya semakin hati ini ingin dekat dengannya. Setiap kali Rama menjauhinya, Rama akan sangat merindukannya," jelas Rama dengan sedih.
"Maafkan ibu, Ram. Ibu melibatkan kisah cintamu, pada pengalaman ibu, yang sebenarnya belum tentu itu terjadi padamu, entah kenapa ibu begitu khawatir," ucap ibu dengan deraian air mata di pipinya.
***
"Bibi!" Laila terkejut dan menyeka air matanya.
"Bibi sudah menelpon bundamu, tiga hari lagi dia akan kembali ke Indonesia. Dia akan menjemputmu, lupakan Rama! Bibi tak tega melihatmu seperti ini," jelas bi Ira lalu duduk disampingnya.
"Apa, bi?!" Laila terkejut skembali.
"Bibi sedih mengetahui bu Fauziah memperlakukanmu seperti itu, kamu ini perempuan yang baik, Laila," ucap bi Ira dengan mengusap lembut kepala Laila.
"Bibi, bu Fauziah hanya sedang emosi, nanti juga dia baik lagi sama, Laila. Wajarlah bu Fauziah seperti itu, melihat calon menantunya kecewa, Rama memakai jam tangan pemberianku," jelas Laila.
Bi Ira mengerutkan keningnya.
"Jujur, Laila seneng, bi, Rama memakai jam ini. Dia jadi tambah tampan," Laila tersenyum mengingat Rama. "Kembalikan sandalnya, bi. Laila mau peluk lagi!" pintanya.
"Tidak, Laila. Bibi mau mengembalikannya. Yang membuatmu bahagia itu Rama, bukan sandal ini. Akan bibi buat Rama tegas mengambil keputusan!" tegas bi Ira lalu bangkit dan berjalan menuju Rumah Rama.
Laila mencoba mengejar bi Ira. Namun, saat hendak memakai sandalnya ia ingat dengan perkataan bu Fauziah, yang menyuruhnya menjauhi Rama. Ia pun mengurungkan niatnya.
Sesampainya di Rumah bu Fauziah, bi Ira langsung mengembalikan sandal itu tanpa basa-basi. Rama dan ibu terkejut saat tiba-tiba bi Ira menyerahkan sandal itu pada Rama, "Ini, sandalmu Rama, terimakasih sudah meminjamkannya pada, Laila," ucap bi Ira. "Bu Fauziah terimakasih untuk kebaikan ibu pada Laila selama ini. Tolong maafkan Laila, bila ada salah pada Ibu," lanjut Bi Ira mencoba bicara dengan sopan.
"Akan tetapi, Bu. Rama sudah memberikannya pada Laila," jelas Rama.
"Sandal itu tidak cukup untuk menemani Laila. Yang Laila butuhkan adalah kamu, Rama. Entah Bu Fauziah menahami atau tidak bahwa kalian saling jatuh cinta. Atau mencoba menutup mata," Celetuk bi Ira dengan melirik bu Fauziah.
Seketika Bu Fauziah gugup. "Ma-maksud bu Ira?"
"Saya yakin ibu mengerti maksud saya," jelas bi Ira.
"Rama, Laila akan kembali ke kota tiga hari lagi, saya harap kamu tidak salah mengambil keputusan. Permisi," bi Ira langsung pergi meninggalkan rumah itu.
Deg!
"A-apa? Tiga hari lagi," gumam Rama dengan khawatir.
Rama terlihat gelisah, ia mondar mandir di hadapan sang ibu dan langsung mengunci diri dikamar
Ibu pun gelisah melihat Rama seperti itu.
***
"Cepat! Lakukan perintahku!" kata Nur pada dua orang pria sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.
"Baik, kamu tidak perlu khawatir," kata salah satu pria itu, lalu pergi dari sana.
Nur tertawa bahagia, membayangkan kehancuran Laila.
"Maaf Laila. Tampaknya, rekayasaku tentang pencurian kotak amal itu tidak berhasil mempengaruhimu. Aku yakin, setelah rencanaku kali ini, kamu tidak akan berani lagi menampakan dirimu dihadapan Rama," gumam Nur sambil tersenyum sinis.