Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Kesalahpahaman



Idul Fitri nanti ada yang mau bersilaturahmi sama kamu, sekalian membicarakan lamaran untukmu," kata Nesa.


"Apa, Bu?" Laila terkejut. Kemudian ia membatin, 'Aku gak nyangka secepat itu Rama mengabari orang tuaku' Laila tersenyum bahagia.


"Kaget, tapi senyum-senyum gitu, itu artinya kamu seneng," kata Nesa.


"Apaan sih, Bun." Laila mengukir senyumnya.


"Gak mau tanya nih, siapa dia?"


"Emang siapa?"


"Namanya, Ra --"


"Laila tau, Bun. Laila mau dilamar dia. Dia sudah bilang sama Laila." Potong Laila saking senangnya.


"Kamu tau? Kalian sudah kenal?" tanya Nesa.


"Sudah, Bun," kata Laila.


"Syukurlah, Bunda tak perlu repot memberitahumu," kata Nesa.


"Baiklah bunda akan hubungi ayahmu. Kamu istirahatlah, sayang," kata Nesa lagi.


Laila pun menganggukan kepalanya.


Nesa pergi menghubungi sang suami.


"Sayang, ternyata Laila sudah tau dia akan dilamar Radit, mereka juga ternyata saling kenal dan sudah membicarakan hal ini."


"Benarkah? Syukurlah. Dengan Laila menikah dengan Radit, keuangan perusahaan kita bisa stabil lagi ya, sayang."


"Aamiin," Jawab Nesa.


"Cepat kasih tau Ira!" kata sang suami.


"Selama ini, Laila kan sama Ira sayang, mungkin saja Ira sudah tau juga," kata Nesa.


benar saja saat bi Ira diberitahu, saking senangnya ia melakukan hal yang sama seperti Laila, memotong pembicaraan Nesa yang belum selesai.


"Ya, saya sudah tau," kata bi Ira saat ditelepon Nesa.


"Wah, Ramadhan ternyata cektan juga ya, orang tua Laila sudah tau saja, kapan dia menghubungi kakak ku? ya sudahlah yang penting sekarang Laila bahagia," gumam bi Ira setelah menutup sambungan telepon dari Nesa.


Sepulang tarawih Rama mendapatkan chat dari Laila.


_Aku senang sekali kedua orang tuaku sudah tau kamu akan melamarku di hari Idul Fitri nanti. Mereka bahagia sekali. Aku gak sabar ingin segera bertemu denganmu_


Rama mengerutkan kening saat membacanya. 'Orang tuanya sudah tau? Apa Laila yang memberitahunya' pikir Rama.


Rama pun membalas chat-nya.


_Syukurlah, jika mereka bahagia, aku pun ikut bahagia. Seperti kamu yang gak sabar ingin bertemu aku pun begitu_


Chat mereka pun diakriri dengan emoji berbentuk hati berwarna merah.


Keduanya tersenyum bahagia.


"Cieu yang lagi seneng, pasti dapet chat dari Laila," Kata ibu yang melihat Rama tersenyum sendiri.


"Iya, Bu. Laila bilang orang tuanya sudah tau kalau kita akan melamar Laila di hari Idul Fitri Nanti, sepertinya Laila yang memberitahu," jelas Rama.


"Benarkah?"


"Iya, Bu," kata Rama dengan bahagia.


"Akan tetapi, kita tetap harus menghubungi mereka, Ram. Kita harus bicara baik-baik pada mereka," kata ibu.


"Baiklah, Bu. Besok pagi Rama hubungi mereka. Sekarang sudah malam," kata Rama.


Malam semakin larut, suara jangkrik bersahutan memecah sunyinya malam, mendayu bagai irama lagu yang indah mengantarkan Rama menyelami alam mimpinya.


Seperti biasa setelah selesai makan sahur, Rama membaca Al'Qur'an, hingga menjelang shalat subuh.


Pagi-pagi sekali Rama berinisiatif untuk menghubungi orang tua Laila sebelum mereka berangkat bekerja. Lagi-lagi kesalah pahaman terjadi, saat itu ternyta Nesa sedang sibuk bersiap-siap. Saat handphone-nya berdering dia tengah berada dikamar mandi.


Laila yang kebetulan datang ke kamar sang bunda, melihat ponselnya yang berdering.


"Bunda, ponsel bunda berdering," kata Laila.


"Siapa yang mengubungi bunda? Coba kamu lihat!" kata Nesa.


"Nomor tidak dikenal, Bun," kata Laila setelah melihat layar ponselnya.


"Tolong kamu angkat, sayang! Siapa tau penting," kata Nesa.


"Iya, Bu."


"Assalamualaikum," sapa Laila pada sang penelepon.


"Laila!" kata Rama yang megenali suara Laila.


"Rama!" kata Laila yang juga mengenali suara Rama.


"Bukannya, ini nomor ponsel ibumu," kata Rama.


"Iya, ibu sedang di kamar mandi, apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Laila.


"Aku ingin membicarakan tentang kita, pada ibumu," kata Rama.


"Sayang, siapa?" tanya Nesa yang keluar dari kamar mandi.


"Calon menantu, ibu?" kata Laila.


'Radit' batin Nesa lalu mengambil ponselnya dari Laila.


"Hallo, Asalamu'alaikum," sapa Nesa dengan Ramah.


"Waalaikum salam," kata Rama pun ramah.


"Maaf, Bu. Saya mengganggu waktunya, saya ingin membicarakan tentang saya dan Laila. Meski hanya lewat sambungan telepon," kata Rama dengan sopan.


"Tidak apa-apa, Nak. Bunda senang sekali bisa ngobrol langsung sama kamu," kata Nesa yang masih mengira itu Radit, dan memang Nesa belum pernah ngobrol juga dengan Radit.


Perjodohan Radit dan Laila memang dilakukan mendadak oleh ayah Laila bersama sahabatnya.


Radit adalah pria yang baik, dia lebih fokus pada kuliahnya, tanpa memikirkan perempuan terlebih dahulu. Namun, orang tuanya yang khawatir tiba-tiba berinisiatif menjodohkannya dengan putra sahabatnya, yaitu ayahnya Laila. Ayah Radit yang tau sahabatnya sedang berada di luar negri pun merencanakan pertunangan lewat telepon.


Momet hari Raya adalah moment dimana mereka tidak mungkin menyibukan diri dengan bisnis mereka, dan pastinya mereka bisa saling bertemu di hari raya Idul Fitri, untuk itu mereka memilih waktu pertunangan di hari raya Idul Fitri.


"Begini, Bu. Saya mau bicara langsung pada ibu, mengenai rencana saya melamar Laila. Mohon maaf saya tidak datang langsung bicara pada ibu, tanpa mengurangi rasa hormat saya, karena saya tahu saat ini ibu juga sedang sibuk mengurus perusahaan ibu, dan ayah Laila juga masih berada di luar negri,"


"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Ibu juga memang belum punya waktu yang tenang untuk membicarakan ini, jadi, tak masalah kita bicara di telepon pun. Yang penting hari Raya kita bisa ketemu, ibu sudah tau semuanya, ibu tunggu kedatanganmu ya," kata Nesa.


"Baiklah Bu, terimakasih pengertiannya," kata Rama.


"Sama-sama, maaf ya sayang, bunda tidak bisa lama-lama, bunda harus berangkat ke kantor dulu," kata Nesa.


"Tidak apa-apa, Bu. Rama mengerti. Sekali lagi, maaf sudah mengganggu. Assalamu'alaikum," kata Rama.


"Tidak apa-apa, Nak. Waalaikum salam," kata Nesa.


Mereka pun mengakhiri panggilannya.


"Laila, sayang. Calon suami mu ini sangat manis, ibu suka padanya," kata Nesa.


Laila sangat bahagia mendengar sang bunda sangat menyukai Rama.


Hari demi hari telah berlalu, hari Idul Fitri pun esok tiba, malam ini takbir menggema di mana-mana, kini tiba waktunya hari raya Idul Fitri, takbir menggema dimana-mana.


Laila tidak sabar menanti hari esok tiba, semua keluarga pun terlihat begitu bahagia, selain menyambut Idul Fitri, merka pun akan menyambut pertunangan Laila.


Begitu juga Rama di sana menanti hari esok dengan sangat bahagia. Bu Fauziah tengah menyiapkan semua.


"Ram, ibu hanya punya gelang ini untukmu melamar Laila. Acaranya begitu mendadak, lagian uang kita sudah ibu pake waktu acara melamar Nur. Semoga saja Laila tidak kecewa, kita pun hanya datang berdua."


"Ibu simpan saja gelang Ibu ini, Rama punya sesuatu," kata Rama.


Ibu terkejut luar biasa saat Rama mengeluarkan set perhiasan indah di lemarinya.


"Rama! Apa ini?"


"Ini hasil tabungan Rama, sengaja Rama simpan untuk calaon istri pilihan Rama," kata Rama dengan bahagia.


"Itu artinya kamu sudah menyimpan ini lama, dan saat ibu melamar Nur, ini sudah ada," kata ibu tak percaya.


"Iya, Bu. Rama minta maaf, Nur bukan pilihan hati Rama. Rama hanya ingin memberikan ini pada Laila."


"Tidak apa-apa, Ram. Ibu bangga padamu, sekarang ibu merasa lega."


"Masalah kita datang berdua saja, Rama rasa Laila dan keluarganya tak masalah. Nanti, Rama menikah kita undang semua tetangga kita," kata Rama dengan tersenyum.


bersambung ...


apa yang akan terjadi pada Laila dan Rama selanjutnya?


tetep disini ya readers❤❤❤


jangan lupa like, komen, dan favorit, juga ratenya ya❤❤❤


terimakasih.