
Rama mengucap salam dengan semangat saat memasuki rumahnya sepulang kulliah. Terpancar raut wajah yang gembira. Tak lupa sang ibu menjawab salam Rama. Sang ibu ikut bahagia melihat perubahan Rama berbeda dari biasanya, yang biasanya terlihat murung setelah kejadian pertunangan itu tidak berlangsung sesuai harapannya.
Dibalik kebahagiaan sang ibu, ada pertanyaan di benaknya, rasa ingin tahunya begitu besar.
Sang ibu pun melepskan rasa penasarannya.
"Apa yang membuat anak ibu berbeda hari ini, ya?" tanyanya dengan melirik Rama.
"Beda. Apa ada yang beda dari Rama? tanya balik rama sambil melihat seluruh penampilannya.
"Bukan penamapilanmu, tapi disini." Ibu meletakan kedua tangannya di pipi Rama, seraya mencubit kecil pipi putra kesayangannya itu.
"Aw ... sakit dong Bu, kenapa pake dicubit segala sih?" keluh Rama.
"Ibu senang melihat wajahmu saat ini. Ibu menemukan Rama Ibu yang dulu. Katakan! Apa yang membuatmu bahagia seperti ini, Ram?"
"Ibu ini sok tau, Rama biasa aja perasaan, gak ada yang aneh," jawab Rama.
"Kamu gak bisa bohong sama Ibu Rama, Ibu ini tau benar wajah anak Ibu seperti apa kalau lagi seneng, lagi galau, lagi jatuh cinta, lagi pengen dimanja, pokoknya Ibu tau semua ekpresi wajahmu," ujar ibu.
"Jangan-jangan Ibu ini paranolmal, bisa tau semua tentang anaknya. Coba ibu tebak Rama kenapa?" ucap Rama dengan melingkarkan tangan di pinggang sang ibu.
"Emmm, kalau sudah peluk-peluk ibu begini sih, tanda-tanda kamu lagi jatuh cinta," tebak sang ibu.
"Jatuh cinta!" Rama tersenyum. Namun, tiba-tiba ia termenung mengingat Laila yang tadi berpeluk erat bersamanya di kampus. Ternyata kejadian itu melambungkan dirinya tinggi keranah asmara kembali. 'Astagfiirullah haladzim. Kenapa Laila membayangiku? Ya Allah maafkan aku yang telah berpelukan bersama Laila dengan dalih saudara. Namun, rasa ini masih cinta' Rama membatin.
"Hey, kenapa diam?' tanya ibu sambil melepaskan tangan Rama dari pingggangnya.
Tiba-tiba wajah Rama terlihat gugup.
"E--enggak, Bu, Rama kekamar dulu, ya," kata Rama dengan sedikit gugup.
"Kok gugup sih, Ram. Tebakan ibu benar, ya."
"Apaan sih, Bu." Rama langsung melangkah meninggalkan sang ibu sendiri di ruang tamu.
"Jangan lupa, nanti kenalin sama Ibu," celoteh ibu.
Rama tidak menghiraukan perkataan sang ibu, perlahan ia menutup pintu kamarnya, disimpannya tas gendong yang sudah membebani punggugnya sejak pergi kuliah, di atas meja.
Ia duduk dengan gusar di atas tempat tidur, memikirkan semua perkataan sang ibu, dan mengingat kejadian di kampus bersama Laila.
"Ibu begitu kuat menebak hatikku, sebegitu besar insting-nya, ibu tidak salah, jika aku sedang jatuh cinta, tapi rasa ini masih sama, bu, perempuan yang mengubah wajah muram anakmu ini masihlah Laila. dialah yang membuat Ramamu ini terlihat bahagia hari ini," gumam Rama dengan mengusap wajah kasar.
'Ya Allah, lindungilah rasa ini dari kesalahan, jika memang engkau takdirkan kami untuk tidak berjodoh buanglah rasaku terhadap Laila, biarkan cinta ini mengalir sebagai cinta kakak pada adiknya'
Berselang satu jam seseorang mengetuk pintu rumah bu Fauziah.
"Nur!" seru ibu saat membuka pintu.
"Assalamualaikum. Apa kabar, bu?" sapa Nur dengan sopan.
"Waalikum salam, Nur. Alhamdulilah ibu sehat," jawab bu Fauziah.
"Mari masuk!" ajak ibu.
Nur mengangguk dan melangkah masuk kedalam rumah, matanya beredar keseluruh ruangan rumah bu Fauziah.
"Tidak ada yang berubah ya bu, setelah lama Nur tidak main kesini," ucap Nur.
"Iya nur, semuanya masih sama, gak ada yang ibu rubah," kata bu Fauziah.
"E--Ibu tidak keberatankan jika Nur kembali main kerumah ibu, Nur harap ibu sudah melupakan kejadian itu," kata Nur penuh harap.
"Tentu saja Nur. Ibu dan Rama sudah melupakan semua itu, sejak hari raya Idul Fitri kita bebaskan semua kesalahan dan khilaf. kamu tidak perlu khawatir." Ibu mengusap lembut kepala Nur.
"Terimakasih, Bu. Ibu dan Rama memang berhati mulia," puji Nur.
"Tidak, Nur, ibu sama saja sama kamu, sering khilaf dan salah," ujar ibu.
Di dalam kamar, Rama mendengarkan perbincangan Ibu dan Nur, sempat terpikir dalam benak Rama untuk menjadikan Nur pelipur laranya, untuk bisa mengubur cintanya pada Laila.
Rama menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, kemudian menghampiri Nur.
"Hai Nur, Apa kabar?" tanya Rama yang muncul dari kamarnya.
"Rama!" Nur terperanjat senang melihat kedatangan Rama.
"Alhamdulilah, baik, Ram. Kamu apa kabar?" tanya balik Nur.
"Ya, seperti yang kamu lihat, aku dalam keadaan baik," jawab Rama.
"Lama tak main kesini, kamu kemana saja?" tanya Rama dengan ramah.
Keramahan Rama dan bu Fauziah menjadi angin segar buat Nur.
"Aku malu untuk datang kesini, setelah apa yang aku lakukan pada Laila, aku tidak punya keberanian untuk menampakan diri dihadapan ibu dan kamu. Aku sangat menyesal," ucap Nur penuh penyesalan.
"Syukurlah Nur jika kamu menyesali perbuatanmu. Orang yang menyadari kesalahannya jauh lebih baik, dari pada orang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain,"
ucap Rama.
"Eu, Laila apa kabar?' tanya Nur.
"Jangan tanya Laila pada kami, kami sudah tidak berhubungan lagi dengannya." Ibu menyela pembicaraan Rama dan Nur.
"Eu, bukannnya Rama dan Laila bersaudara? Maaf, bapak yang cerita," ucap Nur.
"Iya, mereka memang bersaudara, tapi kami memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengannya. Itu juga akan memudahkan Rama mengubur cintanya, apa lagi jika ada yang mengisi hati Rama kembali," ucap ibu dengan melirik Nur dan Rama bergantian seolah menginginkan mereka bersama.
Rama dan Nur saling mengukir senyum dengan kaku.
'Sepertinya ibu sedang membuka harapan untukku' batin Nur.
"Oh, ya. Maksud kedatanganku kesini, aku mau mengembalikan cincin kamu, Ram. Aku sudah tidak berhak menyimpan ini, walau sebenarnya aku masih ingin menyimpannya, karena sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu," ungkap Nur dengan berani.
"Masya Allah, Nur. Ibu tidak menyangka cintamu pada Rama begitu besar. Sebaiknya cincin itu kamu simpan saja tidak perlu di kembalikan, iya 'kan, Ram?" tutur ibu.
Rama hanya tersenyum.
"Oh,ya, sekarang kalian 'kan sama-sama singgel, apa salahnya jika kalian mencoba menjalin hubungan kembali," ujar ibu.
Deg!
Rama terkejut mendengar ucapan sang ibu.
begitupun dengan Nur. Sejenak keterkejutan mereka membuat Nur dan Rama saling lempar pandangan. Rama merasa tak enak hati pada Nur, sementara Nur merasa sangat bahagia, rona wajahnya berubah memerah seketika.
"Kenapa ibu bicara seperti itu, ini tidak adil buat, Nur," ucap Rama.
"Aku mau kok, mencoba menjalin hubungan kembali denganmu, Ram," sela Nur dengan cepat.
"Nur!" seru Rama tak percaya.
"Aku sudah bilang, sampai kapan pun aku akan mencintaimu," ungkap Nur.
"Tidak Nur, ini tidak adil bagimu, aku tidak mau menjadikanmu pelarianku," ucap Rama.
"Aku bahkan rela meski dijadikan pelarian olehmu," ucap Nur kemudian.
"Akan tetapi Nur, aku--"
"Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa mencintaiku dengan tulus. Meski sekarang aku hanya pelarianmu, pasti suatu saat nanti aku akan jadi tambatan hatimu," potong Nur dengan yakin.
bersamabung ....
Mau gak ya Rama jalani hubungan sama Nur? Mana sempet kepikiran begitu juga lagi🤧
Ikuti terus kelanjutannya ya kakak, jangan lupa like, dan komen, juga favorit dan rate-nya ya. Terimakasih❤❤❤