
"Aku mohon Bu Laila. Kami saling mencintai. Bu Laila harus terima jika cinta suami Bu Laila sudah terbagi," ucap Wilona menunjukan keseriusan.
"Apa yang kamu katakan!" bentak Laila tak percaya.
"Cincin ini bukti keseriusannya. Dia berjanji akan menikahiku dalam waktu dekat ini. Semalam kami sudah melakukan penyatuan cinta kami, percayalah padaku kami bahkan sering melakukan itu di kantor," bohong Wilona.
"Wilona!" Laila mengangkat tangannya tak tahan ingin menampar wanita di hadapannya ini. Namun Dokter Ferdi menghampiri dan mencegahnya.
Dada Laila semakin terasa sesak, air mata mengalir membanjiri pipinya.
"Dokter Laila, kendalikan emosimu, jangan kamu kotori tanganmu dengan menampar perempuan tidak tau malu ini. Bisa saja wanita ini berbohong," ucap Dokter Ferdi.
"Tidak. Saya tidak berbohong. Saya punya buktinya," ucap Wilona. Dengan segera dia mengeluarkan foto-foto di tasnya. Editan yang sempurna, saat Rama menggendongnya tengah pingsan ia buat dirinya melingkarkan tangan di leher Rama dengan mesra, hingga saat Rama menidurkan dirinya di atas ranjang dan mengukungnya dengan mesra, ketika Rama ingin mengambil handphone di saku belakang Wilona ia buat seolah Rama tengah membuka celana yang di kenakannya, bahkan kejadian di motor saat seseorang menyerempetnya membuat dia melingkarkan tangannya dengan indah dan mencium punggung Rama dengan mesra hingga meninggalkan bekas lipstik di kemejanya. Hal itu bahkan yang sempat Laila pertanyakan tadi pagi.
"Ini foto-foto kebersamaan kami, kamu bisa lihat betapa bahagianya kami saat bersama. Dan malam tadi adalah malam yang luar biasa buat kami, karena bisa menghabiskan waktu semalaman melakukan penyatuan. Jadi tolong jangan pisahkan kami, saya sudah melepas kesucian saya pada Pak Rama, saya tidak akan melepaskannya begitu saja," ungkap Wilona tanpa malu.
Laila yang mendengar semua penuturan Wilona seraya melihat foto-foto mesra mereka tiba-tiba merasa gelap, shock yang di rasakannya membuat Laila tak bisa berkata apa pun lagi, foto-foto berhamburan begitu saja dan Laila tak sadarkan diri.
Ferdi mengacungkan jempol pada Wilona dan segera membawa Laila ke mobilnya. Selang satu jam Laila membuka matanya, ia melihat sekeliling ruangan yang tak di kenalnya.
"Dimana saya?" tanya Laila seraya menggisik matanya.
"Ini di rumah saya Dokter Laila," ucap Dokter Ferdi.
"Apa? Bukannya kita harus kembali ke rumah sakit?" tanya Laila.
"Iya dokter, seharusnya begitu, tapi dokter pingsan di jalan, karena perempuan itu," ucap Dokter Ferdi.
"Ayo kita kerumah sakit, kita ada oprasi," ucap Laila tanpa mau mengingat masalah tadi.
"Tidak perlu dokter. Saya sudah minta Dokter Amelia menggantikan kita. Kondisimu sedang lemah tidak mungkin melakukan oprasi," ucap Dokter Ferdi.
"Akan tetapi, aku baik-baik saja," ucap Laila.
"Saya tau ini tidak mudah dokter, tenangkanlah dirimu dulu, setelah tenang dokter bisa cerita pada saya, saya bisa jadi teman yang baik buat dokter," ucap Dokter Ferdi.
"Oh ya panggil saya Ferdi, dan boleh saya memanggilmu Laila?" tanya Ferdi.
Laila menganggukan kepalanya pelan.
"Berbaringlah dulu, saya buatkan teh hangat buatmu," ucap Ferdi kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sepeninggal Ferdi Laila termenung kembali mengingat semua perkataan wanita itu, ia tak percaya suaminya bisa melakukan ini, air mata kembali membashi pipinya.
'Benarkah semua yang terjadi ini, apakah aku sedang bermimpi. Tidak mungkin suamiku seperti itu' batin Laila.
Tak lama Ferdi datang menyadarkan lamunan Laila. "Laila, kenapa kamu masih menangis? Jangan kamu pikirkan perempuan tadi," ucap Ferdi.
Laila menyeka air matanya. "Dokter Ferdi--"
"Ferdi. Panggil Ferdi, bukankah sudah kubilang tadi." Ferdi memeotong ucapan Laila.
"Baiklah Ferdi," ucap Laila.
"Nah gitu dong, lebih terdengar akrab," ucap Ferdi, "Ini, minumlah tehnya mungpung masih hangat," lanjutnya.
"Terimakasih," ucap Laila.
Ferdi menganggukan kepalanya. "Oh ya, perempuan tadi sekretaris suamimu?" tanyanya.
"Iya." Laila menganggukan kepalanya.
"Maksudmu?" Laila mengerutkan keningnya.
"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja saya ingat ayah saya yang tergoda sama sekretarisnya," ucap Ferdi dengan menundukan kepalanya.
"Jadi, ayahmu selingkuh dengan sekretarisnya?" tanya Laila penasaran.
"Iya, bahkan sampai mereka melakukan penyatuan, dan akhirnya ibuku mundur," ucap Ferdi.
Lagi-lagi sesak menyeruak di dada Laila, tiba-tiba buliran bening itu menetes kembali. Kecemasan terlihat jelas di wajah Laila.
"Maaf Laila, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tidak semua laki-laki seperti itu, bisa saja perempuan tadi mengarang cerita, aku mohon maafkan aku." Ferdi terlihat khawatir pada Laila yang lembali terlihat cemas.
"Saya rasa perempuan itu tidak mengarang cerita, semalam suami saya memang tak pulang karena menginap di rumahnya, tapi saya tidak tau apa yang sesunghuhnya terjadi pada mereka tadi malam. Ada bekas lipstik di keja suamiku, dan kamu lihat tadi saat suamiku memegang jarinya menyematkan cincin itu." Laila terisak histeris.
"Bagaimana bisa suamiku seperti ini, aku sungguh tidak percaya, tapi apa yang kulihat tadi sunghuh sulit kumengerti. Suamiku laki-laki yang baik, apa mungkin dia mau melakukan penyatuan tanpa menikah, dia selalu menjaga dirinya, kenapa dia berubah secepat itu,m? Apa semua karena jabatannya sekarang, tapi aku sungguh tak bisa percaya ini semua, dia baik, dia baik!" Laila menekan ucapannya dengan histeris.
Ferdi menunjukan rasa ibanya, dia memcoba meraih kepala Laila dan menyandarkan di bahunya. Namun Laila langsung tersadar dan menghindar dari Ferdi.
"Kenapa Laila, aku sekarang sudah menjadi temanmu, bahu ini siap menampung semua keluh kesahmu, tumpahkanlah semua tangismu di bahuku," ucap Ferdi.
"Maaf, saya tidak terbiasa berteman dekat dengan laki-laki, apa lagi sampai berani menyandarkan diri di bahunya," ucap Laila seraya menundukan pandangannya.
"Maaf Laila saya tidak tahu itu," ucap Ferdi penuh pengertian.
'Besok-besok kamu akan terbiasa dengan bahu ini Laila, karena suamimu akan terus sibuk bersama sekretarisnya' batin Ferdi tersenyum senang.
"Saya harus segera pulang, saya harus segera menyelesaikan masah ini dengan suami saya. Oh ya, foto-foto tadi ... apa di bawa lagi olehnya?" tanya Laila seraya turun dari ranjang.
"Sepertinya begitu, tadi fotonya berhamburan di jalan karena kamu pingsan, aku tidak memungutnya karena khawatir padamu," ucap Ferdi.
"Kalau begitu aku tak punya bukti apa pun," ucap Laila dengan menyesal.
"Laila, istirahatlah dulu disini, tenangkan pikiranmu sebelum bicara pada suamimu," pinta Ferdi.
"Aku sudah cukup tenang. Terima kasih kamu sudah menolongku," ucap Laila.
"Sama-sama," ucap Ferdi.
Dengan langkah yang lemah Laila berjalan keluar dari kamar itu, entah apa yang terjadi padanya lagi-lagi dunia terlihat gelap Laila pun tak sadarkan diri kembali.
Ferdi menggendongnya ke atas tempat tidur, mengelus pipi lembut Laila dengan tersenyum.
"Ehem, jangan sampai kamu bener-bener jatuh cinta padanya," ucap seseorang yang datang ke kamarnya.
"Ibu, tapi dia bener-bener cantik, Bu," puji Ferdi.
"Ingat tujuan kita, jangan sampai kamu mengecewakan Ibu. Wilona sudah berhasil menciptakan permasalahan dalam rumah tangga mereka, sekarang giliranmu maju lebih dalam, kalau perlu tiduri saja perempuan ini mungpung dia pingsan," ucap sang ibu.
"Waw, apa Wilona juga bener-bener tidur dengan laki-laki itu, Bu?" tanya Ferdi.
"Ferdi. Wilona anak Ibu, manamungkin Ibu biarkan dia ternoda," ucap sang ibu.
"Apa aku bukan anak Ibu, sampai harus menyerahkan bujangku padanya," ucap Ferdi.
"Dasar bo*doh, laki-laki itu takan berbekas seperti perempun yang meninggalkan jejak di rahimnya," ucap sang ibu.
"Ibu, yakin. Ini kesempatan emas buatku. Kalau begitu akan kulakukan apa mau Ibu, tapi tidak sekarang rasanya akan hambar bila berusaha sendiri, minimal buat dia mabuk," ucap Ferdi.
"Terserah padamu, yang penting keluarga Aditama harus hancur. Dia telah menghancurkan hidup Ibu. Rasakanlah kehancuran putra putrinya. Hahahaha...." Ucap perempuan itu.