
Perlahan Laila menjelaskan apa yang terjadi padanya waktu sang ibu memberitahu berita lamaran dari Radit yang dikiranya dari Rama, bahkan bi Ira pun mengira hal yang sama saking senangnya. Hingga kejadian di hari raya Idul Fitri itu terjadi.
Rama menatap Laila mencari kejujuran dimatanya, ia mendapati buliran bening yang terus mengalir di mata Laila.
Tanpa sadar Rama mengusap buliran bening itu di pipi Laila, dengan lembut dan penuh cinta.
Laila membiarkannya begitu saja, ia menikmati setiap sentuhan lembut tangan Rama di pipinya.
Entah rasa apa yang sedang mereka tumpahkan, cinta seorang sodara ataukah cinta seorang kekasih?
Khawatir tenggelam begitu dalam, Rama pun bangkit, setelah menyadari perbuatannya.
Ia bermaksud meninggalkan Laila dirasa cukup setelah mendengar semuanya.
Tersadar Rama berhenti mengelus pipinya dan hendak beranjak. Laila pun bangkit dan memberanikan diri menarik Rama, dan langsung memeluknya begitu saja dengan eratnya, seolah belum puas dengan sentuhan Rama di pipinya.
Deg!
Rama terkejut luar biasa.
Radit yang khawatir Rama tidak mempercayai setiap perkataan Laila bermaksud menghampiri untuk jadi penengah.
Namun, Radit malah mendapatkan pemandangan mengejutkan yang membuat dadanya sesak seketika.
"Laila! Lepaskan! Apa-apan kamu, kita bukan ...." keluh Rama terhenti begitu menyadari apa yang akan dia ucapkan berbeda dengan kenyataannya.
"Muhrim. Kita muhrim Rama, izinkan aku melepas rasa yang tak sempat tersampaiakan ini, aku ingin memelukmu sebagai milikku. sekarang ragamu adalah miliku, kapan pun aku bisa memelukmu, meski tidak dengan hatimu. Aku mohon balaslah pelukanku ini Ka-Kak," ucap Laila tersenggal berat, berderai lah kemabali air mata di pipi.
"Ka-kak!" bagi segelintir orang kata itu adalah hal yang lumrah biasa saja, tak ada yang aneh. Namun, bagi Rama kata itu terasa menusuk jiwa. Bagaimana tidak, kata itu keluar dari mulut seoarang wanita yang menjadi impian hidupnya selama ini, yang selama ini ia harap terucap panggilan sayang dari mulutnya.
Bukankah Rama pun merasakan hal yang sama, betapa ingin dirinya memeluk Laila sebagai miliknya, memeluknya dan mendekapnya dengan cinta. Meski terlihat ragu, perlahan Rama pun menautkan tangannya ditubuh Laila, mereka saling peluk dengan erat dalam pelukan cinta berbalut saudara, campur aduk rasa yang mereka rasakan, tak bisa menggambarkan arti dari pelukan mereka.
Radit yang awalnya cemburu pun meneteskan air mata harunya, tak bisa membayangkan apa yang tengah mereka rasakan saat ini, dalam pelukan cinta berbalut saudara itu. Meski terbersit sedikit rasa kecewa, Namun, Radit harus memahami keadaan meraka.
Setelah cukup lama Rama pun mengurai pelukan.
"Sudah Laila, hentikan, ini salah," ucap Rama dengan sendu.
"Salah! Apanya yang salah? bukankah kita bersaudara? Tidak ada yang melarang kita berpelukan, Rama?" kata Laila.
"Rasaku Laila. Rasaku ini yang salah, jantungku masih berdegup kencang saat memelukmu, rasaku masih sama,
aku belum bisa melepas rasa ini, Laila. Akupun bisa merasakan debaran jantungmu itu. Jangan kamu pungkiri, meski mulutmu memanggilku Kakak, tapi, hatimu--"
"Hatiku memanggilmu cinta. Ya, kamu benar. Apa yang kuluapkan adalah cintaku padamu cinta seorang kekasih pada kekasihnya, tapi tolong jangan pernah menjauh dariku! Kita bisa berjuang membuang rasa ini bersama, aku butuh kehadiranmu dalam hidupku Rama," ucap Laila penuh harap.
"Jangan lupa Laila, ada hati yang harus kamu jaga. Aku yakin meski Radit memahami kita, sedikitnya ada luka yang mengores di hatinya jika melihat kita seperti ini," ucap Rama.
"Tidak, aku yakin tidak. Radit tau kita tidak mungkin melawan takdir, aku yakin Radit tidak akan kecwa, aku adikmu dan kamu adalah kakakku, aku mohon jangan hindari aku!" Harap Laila.
Rama mengelus lembut kepala Laila. "Baiklah adikku, temui aku disini jika kamu mau, tapi ingat jangan sampai orang tua kita tau, karena mereka tidak akan setuju," kata Rama.
"Baiklah, terima kasih," ucap Laila.
"Sama-sama. Aku ada kelas, aku harus Pergi. Assalamualaikum," kata Rama.
"Waalaikum salam."
"Eu ... tunggu Rama! Tolong buka blokiran no handphone-ku!" Laila seditik berteriak, karena Rama sudah jauh beberapa langkah darinya.
Rama menengok dan tersenyum. Serta mengangkat tangannya memberi kode oke.
Laila mengangguk perlahan, dengan senyuman kebahagiaan, ia lega telah menjelaskan semua pada Rama, dan mendapatkan kembali kepercayaannya.
Seolah berat melepas kepergian Rama, Laila terus menatap punggung Rama hingga keramaian menenggelamkannya.
"Ra-Radit!" Laila sedikit terkejut.
"Sudah, selesai?" tanya Radit, dengan pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi pada Laila dan Rama tadi.
"Sudah. Terimakasih, sudah mengijinkan aku bertemu Rama," kata Laila.
"Tentu saja, bukankah dia kakakmu," ucap Radit dengan berusaha mengukir senyumnya.
Laila mengangguk perlahan.
"Aku yakin, kamu menyaksikan apa yang terjadi pada kami tadi. Aku mohon! Maafkan aku, aku tidak bisa mengendalikan rasa saat harus melepas cintanya. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji," ujar Laila.
"Tidak perlu berjanji padaku, karena itu sangat berat, aku tidak ingin memberatkanmu, karena aku tau tak mudah mengubur cinta yang hadir dalam hatimu. Aku hanya meminta satu hal padamu, belajarlah mencintaiku! Itu cukup bagiku," ucap Radit penuh harap.
Meski sedikit ragu, Laila mengangguk perlahan, dan berusaha mengukir senyuman untuk Radit.
'Semoga aku tidak mengecewakanmu, Radit' Laila membatin.
"Kamu jadi ke kampusmu, atau masih betah disini?" tanya Radit dengan mengerakkan kepalanya.
Lalila tersenyum kembali, "Iya, Jadi," jawabnya singkat.
"Mari!" Radit mempersilahkan Laila jalan terlebih dahulu.
Dalam perjalanan menuju kampus Laila, terlihat binar kebahagiaan di wajah Laila, berbeda dengan pertama tadi saat menuju kampusnya.
"Aku senang, kamu terlihat bahagia," kata Radit.
"Benarkah?"
"Ya, aku tidak menyangka, sinar cinta Ramadhan begitu besar di hatimu. Semoga suatau saat sinar cintaku bisa menggantikannya," ucap Radit penuh harap.
Laila tersipu malu, meski ragu ia mencoba mengamini, demi menjaga perasaan Radit.
***
"Bapak, Benarkah Rama tak jadi melamar Laila? Karena mereka bersaudara?" Nur yang baru mengetahui ini bertanya pada pak Hadi.
"Iya Nur, bapak dengar dari bu Fauziah jika mereka bersaudara," ucap pak Hadi.
"Itu artinya Nur punya kesempatan untuk dekat lagi dengan Rama," ungkap Nur dengan bahagia.
"Tidak, Nur. Bapak malu dengan perbutanmu. Jangan lagi kamu mendekati Rama," kata pak Hadi.
"Kenapa bapak masih melarang Nur dekati Rama? Lagian yang Nur sakiti dulu itu Laila bukan Rama," aku Nur.
"Bapak tau itu. Akan tetapi sekarang Laila malah adik Rama, tetap saja bapak malu," ujar pak Hadi.
"Nur kan sudah janji sama bapak, semua itu tidak akan Nur ulangi lagi. Manusia itu bisa khilaf pak, tapi mereka juga bisa taubat bukan? Allah saja masih memberiku kesempatan kenapa bapak tidak?"
"Terserah kamulah Nur, yang pasti bapak tidak mau kamu kecewakan lagi," ujar pak Hadi.
"Tenang pak, Nur janji, kali ini Nur bermain sehat. Besok Nur mau kerumah Rama. Nur punya rencana," ucap Nur.
"Renana apa?" Pak Hadi terkejut.
"Rencana buat deketin Ramalah Pak, jangan kaget gitu!" ucap Nur.
bersambung ....
jangan lupa Like ya readers❤❤❤