Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Laila Kecewa



Seketika Laila melirik bi Ira, air mata yang ia tahan pun menetes begitu saja.


Bi Ira merasa iba, ia menghapus air mata Laila, dan langsung mendekapnya penuh kasih sayang.


"Katakanlah apa yang terjadi?" tanya bi Ira lagi.


"Bu Fauziah mau Rama menikah dengan Nur. Itu artinya Laila kehilangan harapan, Bi," ucap Laila dengan terisak.


"Kanapa kehilangan harapan. Rama belum tentu mau bukan?"


"Rama mengiyakannya, Bi. Itu yang membuat hati Laila sakit," jelas Laila.


"Jadi, Rama menyanggupinya." Bi Ira ikut kecewa mendengarnya.


Laila mengangguk lemas.


Namun, bi Ira tidak mau keponakannya berputus asa.


"Laila, jodoh itu ditangan Allah. Meskipun bu Fauziah menginginkan Nur jadi menantunya. Rama menyanggupinya. Itu tidak menjamin sama dengan ketentuan Allah. Selama Akad belum dilapalkan, jangan berputus asa, kesempatanmu masih terbuka lebar." Bi Ira mencoba memenangkan Laila.


"Benarkah, Bi? Tapi, Laila tidak tau perasaan Rama sama Laila seperti apa? Laila sendiri terlalu cepat jatuh cinta pada Rama. Sedangkan Rama, belum tentu jatuh cinta pada Laila," Laila terlihat putus asa kembali.


"Bibi rasa Rama juga cinta sama, Laila. Bibi perhatikan Rama sering diam-diam memperhatikan Laila, sama seperti Laila yang sering memperhatikan Rama diam-diam. Dia juga baik, dan perhatian," ucap bibi dengan tersenyum.


Laila pun kembali tersenyum mendengarnya.


"Akan tetapi, Rama juga baik sama Nur Bi, bahkan mereka kemarin buka bersama dirumahnya. Jujur Laila cemburu, Bi. Menurut bibi, apa Rama juga cinta sama Nur?"


Bibi tertawa kecil.


"Bibi rasa Rama tidak seperti itu, sayang. Rama mencintai salah satu dari kalian, dan yang tau jawabannya hanya Rama sendiri," jelas bi Ira.


Laila menunduk lesu.


"Dengar sayang, ini bulan suci Ramadan. Berdoalah pada Allah, bulan suci penuh hikmah, tidak ada doa yang tidak dikabul. Jangan putus asa. Mintalah pada-NYA agar Rama jadi jodohmu."


Seketika Laila menangis. "Bibi, benar. Laila harus berdoa. Laila masih punya kesempatan. terimakasih, Bi." Laila memeluk erat sang bibi.


Bi Ira bahagia, melihat Laila yang kemabali bersemangat. Bi Ira pun berdoa di dalam hatinya agar cinta keponakannya tidak bertepuk sebelah tangan, dan mereka berjodoh.


****


Sore ini Nur datang bersama Pak Hadi kerumah Rama untuk berbuka puasa bersama.


Laila yang tengah memasak di rumah bi Ira nampak gusar, ingin pergi kerumah Rama seperti biasanya membantu bu Fauziah berjualan. Namun, Laila tidak mungkin mengabaikan bi Ira yang tengah membutuhkan bantuannya.


Laila pun berdoa agar kaki bi Ira segera di beri kesembuhan.


Di Rumah Rama, Nur terus mengambil hati bu Fauziah, ia pun membantu ibu berjualan seperti yang dilakukan Laila.


Ibu tampak memberi celah pada Rama dan Nur agar merka berduaan, dengan sengaja ibu masuk kedalam, mengajak pak Hadi yang tengah duduk di kursi luar.


"Pak Hadi, anak kita kelihatan cocok, ya," ucap ibu saat memperhatikan Rama dan Nur yang tengah bercanda di sela-sela kesibukannya.


Pak Hadi tersenyum.


"Iya, mereka kompak sekali ya, Bu," jawab pak Hadi.


"Bagaimana, kalau kita jodohkan mereka?" kata ibu.


"Jodohkan!?" Pak Hadi terkejut.


"Iya."


"Bu Fauziah yakin, mau jodohin Rama sama Nur?" tanya pak Hadi.


"Iya, saya yakin sekali. Lagian, mereka sudah akrab sejak kecil, mereka pasti sudah tau kebiasaan mereka masing-masing," jelas bu Fauziah.


"Wah, Nur pasti senang mendengarnya," jelas pak Hadi.


"Oh, ya. Jadi, kita sepakat," kata ibu.


"Baikalah, Bu. Nur pasti bahagia, saya lihat dia jatuh cinta sama Rama," jelas pak Hadi.


"Wah, kalau begitu kebetulan sekali ya, Pak." Ibu bahagia mendengarnya.


"Nanti setelah Rama lulus, kita rencanakan pernikahan mereka ya, Pak," ucap Ibu.


"Tentu," jawab Pak Hadi dengan gembiar


Nur melompat kegirangan saat pak Hadi menyampaikan rencana perjodohan itu di rumah. Ia memeluk bapaknya dengan erat, dan tak henti mengucapkan terimakasih.


Hadi.


Dengan penuh semangat Nur pun bersiap-siap pergi tarawih, ia ingin segera bertemu Rama kembali, meski baru saja mereka bertemu.


Berbeda dengan Nur. Rama tersentak kaget, dan kecewa pada sang ibu, memutuskan perjodohan tanpa seijinya. Namun, itu tidak membuat Rama tersudut emosi. Ia mengatur napas perlahan, agar bisa bicara baik-baik pada sang ibu.


"Rama tidak mau dijodohkan sama Nur, Bu!" tolaknya dengan lembut


"Ingat janjimu pada ibu, Ram," kata ibu.


"Ibu terus mengingatkan Rama akan janji Rama, untuk tidak jatuh cinta pada Laila. Pada kenyataannya cinta itu sudah hadir sebelum ibu memaksa Rama untuk berjanji," ucap Rama dengan lembut.


Ibu melirik Rama.


"Rama akan menjauhi Laila, tapi bukan berarti Rama mau di jodohkan dengan Nur, Bu," jelas Rama.


"Hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa jauh dari Laila, jika Laila perempuan yang baik, dia juga akan menjauh darimu setelah tau kamu akan dijodohkan dengan Nur," jelas ibu.


"Ini bukan ibu yang Rama kenal. Ibu Rama tidak egois seperti ini, tidak pernah memaksakan kehendaknya pada orang lain. Rama kecewa sama ibu." Rama melangkah pergi meninggalkan sang ibu dengan kecewa, ia langsung pergi kemesjid untuk tarawih.


Ibu terkulai lemas, ia duduk di atas tempat tidur. "Maafkan ibu, Ram," gumamnya dengan menitikan air mata.


***


Pada Malam yang ke lima, Allah SWT memberikan pahala bagi yang tarawih sebagaimana pahalanya orang yang Sholat di Masjidil Harom, Masjid Madinah/Nabawi dan Masjidil Aqsho.


Rama, Nur, dan Laila berpapasan.


"Hai Laila!" sapa Nur dengan ramah.


"Hai, Nur. Apa kabar?"


"Alhamdulilah, aku baik. Bahkan sangat baik," kata Nur sambil melirik Rama penuh arti.


Rama hanya tersenyum.


Pemandangan ini, membuat Laila tidak nyaman.


"Bagaimana kabarmu?" tanya balik Nur.


"Alhamdulilah saya juga baik, Nur," jawab Laila.


"Oh ya, saya gak bisa lama-lama, saya duluan ya. kasihan bibi sendiri. Mari!" Laila langsung melangkah membalikan badannya.


"Tunggu, Laila! Bagaimana keadaan bibimu?" tanya Rama menghentikan langkah Laila.


Laila membalikan badan.


"Alhamdulilah bibi, sudah membaik," kata Laila dengan tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang," kata Rama pun dengan tersenyum.


Senyum Laila terlalu indah, hingga membuat Rama tak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat senyum manis itu. Begitu pun dengan Laila yang merasakan hal yang sama. Keduanya terus saling lempar senyum menikmati keindahan yang mereka rasakan, tak sadar Nur ada bersama mereka.


Nur terlihat kesal.


"Ram, aku mau membicarakan tentang perjodohan kita," sela Nur dengan sengaja, ingin Laila tau jika sebentar lagi Rama akan menjadi miliknya. Sehingga Laila menjauhi Rama.


Deg!


"Perjodohan!" Laila terkejut luar biasa. Seketika matanya berkaca-kaca, napasnya berubah tidak beraturan, menahan sesak di dada yang teramat berat. Laila berusaha menahan ari matanya agar tidak terjatuh.


"Iya. Orang tua kami sudah merencanakan perjodohan kami," ucap Nur lalu menggandeng tangan Rama.


Laila tersentak melihatnya.


"Lepaskan Nur!" keluh Rama.


"Maaf, Ram." Nur langsung melepaskannya.


"Se--selamat, buat kalian," ucap Laila dengan berat dan gugup. "Saya duluan. Permisi." Laila langsung membalikan badannya tak kuasa, dan melangkah dengan cepat. Tetesan air mata tak dapat dia bendung lagi mengiringi setiap langkahnya.


"Tunggu, Laila!" Rama mencoba memghentikan Laila.


"Ram, aku mau bicara," cegah Nur dengan menahan tangan Rama.


bersambung ...


jangan lupa like, fav, komen, dan ratenya❤❤❤