
"Nur!" panggil pak Hadi, yang menghampiri.
"Bapak! Ayo kita pulang Pak! Nur tidak mau nikah sama penghianat ini," kata Nur.
"Penghianat!?" tanya pak Hadi heran.
"Iya, dia penghianat. Tak seharusnya dia membiarkan Rama dan Laila bersatu. Seharusnya dia pertahankan Laila donk. Dasar cowok plin plan, gak punya pendirian," umpat Nur.
Radit menghela napas mendengar umpatan Nur.
"Nur! Jaga bicaramu! Radit pemuda yang baik, dia rela berkorban melepas cintanya demi kebahagian Laial. Seharusnya kamu merelakan Rama demi kebahagiaannya, karena Rama dan Laila masih saling mencintai," ujar pak Hadi.
"Kenapa bapak malah bela Radit? Nur putri bapak," kata Nur.
"Karena kamu salah Nur. Seharusnya kamu bersyukur Radit mau menikahimu, bukan mengumpatnya," ucap Pak Hadi.
"Tidak, apa-apa pak. Saya mengerti perasasannya. Jujur, hati ini sangat sakit melepas Laila untuk Rama. Meski kalian bisa melihat ketegaranku di luar, dalamnya hati ini begitu rapuh, hati ini tengah menjerit merasakan sakit, demi melihatnya bahagia. Nur berani mengekpresikan kekecewaannya, sementara aku hanya bisa memendamnya. Biarkan saja Nur mengambil keputusannya," ujar Radit dengan lembut.
Pak Hadi menghela napas panjang. "Jujur bapak sudah mengharapakan Nak Radit menjadi menantu bapak, sejak kedatangan Nak Radit kerumah waktu pertama kali. Bapak berharap Nur bisa melupakan Rama dengan kehadiran Nak Radit. Sayang sekali bapak pun harus kehilangan harapan itu," ujar pak Hadi.
"Wah, saya terharu banget ni, Pak. Terimakasih, atas kepercayaan Bapak. Tapi, keputusan tetap Nur yang pegang," kata Radit, kemudian melirik Nur.
Nur tetap menampakan wajah muramnya, tak mau mengikuti keinginan kedua laki-laki di hadapannya. Dia tetap bersi kukuh dengan keinginanmya. Tanpa menjawab Nur pergi begitu saja.
"Tidak akan kubiarkan mereka bahagia, lihat saja Laila! Beraninya kamu bahagia di atas penderitaanku. Kamu punya segalanya harta bahkan cinta dua orang pria yang tulus. seharusnya kamu memilih Radit yang setara denganmu segalanya, kenapa kamu malah mengambil Rama yang sudah kucintaai sejak kecil," Gerutu Nur saat melangkah pergi keluar gedung.
Diluar gedung terlihat, seorang wanita tengah menangis sesenggukan, ia memukuli perutnya sendiri. "Kenapa kamu tidak mati?" gumam perempuan itu histeris. Perempuan itu menangis, lalu tiba-tiba berlari kearah jalan dan menabrakan dirinya ke mobil yang tengah melaju kencang.
"Bruk!
Terjadi sebuah tragedi naas hingga permpuan itu meningga dunia. seseorang yang mengenalnya mengatakan jika perempuan itu hamil di luar nikah, dan kekasihnya tak mau bertanggung jawab.
Nur merasa ngeri, ia memengan perut sambil meringgis miris. 'Bagaimana jika aku hamil? Siapa yang akan bertanggung jawab. Oh tidak, aku harus menikah dengan Radit, aku tak mau hidupku berakhir tragis seperti permpuan itu' Batin Nur.
Nur membalikan badan, berbalik arah kembali kedalam gedung. Namun saat ia berlari, ia melihat pak penghulu yang hendak pergi meninggalkan gedung. Pak penghulu hendak membuka mobilnya. Dengan perasaan khawatit Nur segera berlari menghampiri penghulu itu.
"Pak, Tunggu!" Nur menghentika penghulu itu.
"Ada apa ya, saya sedang terburu-buru," jawab penghulu itu.
"Bukankah ada satu pernikahan lagi, Pak? Kenapa bapak pergi?" Tanya Nur.
"Tidak, Pak. Pernikahan tidak dibatalkan. saya mempelai wanitamya. Maaf saya terlambat. Bisa bapak kembali ke Aula!" Pinta Nur.
"Gara-gara kamu terlambat saya sudah membuat janji lain. Jadi saya tidak bisa kembali ke Aula, kamu cari penghulu Lain saja," ucap penghulu itu.
"Tidak mugkin, Pak. Aku mohon! Nanti aku kasih tips deh pak. Plesae," ujar Nur.
Sebenernya sih aku terburu-buru, tapi ya sudahlah. ayo!" Pak penghulu pun ikut bersama Nur kembali ke Aula.
Radit tampak sedang pamit pada Pak Hadi setelah berbincang.
Tiba-tiba Nur datang memanggilnya. "Radit! Aku mau menikah denganmu," ucap Nur.
Tak terlihat ekpresi wajah terkejut atau heran di wajah Radit, ia tampak tenang. " Kamu yakin?" tanya Radit.
Nur mengnggukan kepalanya.
"Oke! Ayo!" tanpa ragu Radit mengucapnya.
"Akan tetapi, ada maslah," Kata Nur.
Radit mengerutkan keningnya. Dengan segera Nur membisikan sesuatu di telinga Radit. Radit hanya tersenyum enteng.
"Tenang saja pak Pengghulu, biyayanya dua kali lipat saya bayar," ucap Radit.
Tiba-tiba Nur tersenyum bahagia. "Terimakasih," kata Nur.
Radit hanya tersenyum. "Kukira kamu gak bisa ngucapin terima kasih," bisik Radit di tellinga Nur.
Nur yang tersingung menginjak kaki Radit begitu saja.
"Aww!" pekik Radit kesakitan.
"Dengar, Ya. Selama kita menikah aku gak mau kamu sentuh. Kalau aku tidak hamil, kita akan bercerai kembali. Ingat aku cuma mencintai Rama! Jika kamu ingin kebahagiaan Laila, maka aku ingin kehancurannya. Kamu benar, apa yang terjadi padaku gara-gara berita darimu, jadi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi, minimal sampai terbukti apa aku hamil atau tidak," tutur Nur.
"Oke, terserah kamu," Jawab Radit tenang.
'Tetapi aku laki-laki yang berprinsip, tidak akan mempermainkan pernikahan. Kita lihat nanti apa kita akan berpisah' Batin Radit.
bersambung....