Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Ulah Ferdi



"Yang bener lo, gue juga pernah lihat dikamar mandi. Ikh amit-amit, wajahnya aja lugu tapi kelakuannya ...." timpal salah seorang lagi dengan mengelengkan kepanya.


"Lo, tau gak? Hari ini Dokter Laila bohongin suaminya. Dia bilang mau ada oprasi sampai malam gantiin dokter lain, padahal dia mau kerumah Dokter Ferdi. Ngapain coba dirumah dua-duan, pasti mau ehem, diruangannya aja mereka berani, apa lagi dirumah yang sepi mereka bisa bebas melakukan apapun," timpal salah satu suster.


"Yang bener! Lo tau dari mana?" sahut salah satunya lagi.


"Gue gak sengaja denger percakapan Dokter Ferdi dan Dokter Laila," jawabnya.


"Ih gila, parah banget, mereka nekat ya. Padahal mereka baru kenal, bagaimana kalau dia bunting anak Dokter Ferdi, kasihankan suaminya pikir itu anaknya. Sayang sekali gue gak tau suaminya yang mana, kalo saja tau gue bakalan kasih tau suaminya. Lagian perempuan kaya Laila hanya bisa merusak nama baik perempuan Lain," cetus suster itu kemudian.


"Udah Ah, yuk, kita lanjut, jangan ngomongin dia mulu bikin sebel," timpal suster satu lagi, mengakhiri percakan, dan mereka melanjutkan langkahnya.


Rama yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka tampak sudah mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam menahan amarah. Ia terdiam shock mendengarkan percakapan dua suster itu, yang tak tau jika suami Laila ada disana.


"Benarkah istriku seperti itu? Jadi dari tadi dia di rumah Ferdi, sementara aku menunggunya di sini, dan setelah itu dia pergi kerumah orang tuanya untuk mengadukan diriku," gumam Rama dengan geram.


Kekesalan kini meliputi diri Rama, segala pikiran buruk tentang sang istri pun kini menggelayuti pikirannya. Dengan penuh emosi Rama melajukan motornya meninggalkan tempat itu, membawa serta kekesalannya. 'Laila. Apa aku tidak salah dengar? Benarkah kamu melakukan itu padaku?' Batin Rama terus di penuhi tanda tanya.


Selepas kepergian Rama dua suster itu menghampiri sang propokator yang menyuruh mereka melakuan itu di depan Rama.


Ferdi tersenyum penuh kemenangan, melihat amarah Rama yang besar. Dia yakin kehancuran rumah tangga Laila akan segera dimulai.


"Ini bayaran kalian. Ingat! Jangan sampai ada yang tu hal ini," ucap Ferdi.


"Tenang bos, asal uang tutup mulutnya sesuai, kita jamin rahasia ini aman," jawab salah seorang wanita.


"Oke!" Ferdi pun langsung pergi meninggalkan mereka tanpa banyak basa basi lagi.


Sementara Rama yang melajukan motor dalam keadaan emosi hampir saja mengalami kecelakaan. Ia pun memutuskan untuk menepikan motornya terlebih dahulu, dan mencoba menenangkan pikirannya.


Tak Lama Fauziah menelpon, menanyakan keberadaannya. Sang ibu tampak merasakan kontak batin, dia khawatir dan tak tenang memikirkan putranya.


"Kamu baik-baik saja, Ram? Tiba-tiba ibu khawatir padamu." Terdengar suara Fauziah di ujung telepon.


Rama memahami perasaan sang ibu dan tak ingin semakin membuatnya khawatir, dengan menceritakan yang sebenarnya. Akhirnya Rama memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya dulu pada sang ibu.


"Rama baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Rama.


"Syukurlah! Cepat pulang! Laila sudah selesai oprasinya?" tanya Fauziah yang belum mengetahui apa-apa.


"Baiklah, Ram. Yang penting kalian baik-baik saja, ibu lega sekarang. Assalamualaikum." Fauziah mengakhiri sambungan teleponnya.


"Waalaikum salam," jawab Rama dengan lesu.


Rama menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, wajah yang sudah nampak pucat karena kelelahan diusapnya dengan kasar. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Aditama mencoba meredam emosi dan melupakan sejenak perkataan para perawat itu, demi keselamatannya di perjalanan.


Tak lama Rama sampai dirumah Aditama, dengan perlahan dan sopan ia membunyikan bel rumah ayahnya itu. Aditama dan Nesa yang sudah menanti kedatangannya segera menghampiri membukakan pintu.


Melihat wajah putranya yang lusuh laki-laki yang berstatus ayahnya ini langsung melabuhkan pelukan hangatnya pada sang putra. Ia mengerti betul dengan masalah yang tengah di hadapi putranya itu. Tanpa berbasa-basi Aditama mengajak Rama ke ruangan kerjanya, dan menyuruh Nesa mengambil air minum untuk Rama.


Rama mengedarkan pandangannya mencari sang istri, ingin sekali dia menanyakan kebenaran atas semua yang sudah dia dengar.


"Laila ada dikamarnya," tutur Aditama yang memperhatikan gerak gerik Rama.


"Rama ingin bicara dengannya dulu ayah, apa boleh?" tanya Rama dengan lesu.


"Sebenarnya Ayah ingin bicara denganmu, tapi ya sudah pergilah temui istrimu, setelah itu kita harus bicara," ucap Aditama.


"Terima kasih ayah." Rama langsung berjalan dengan langkah yang cepat menuju kamar Laila di lantai atas, karena tergesa-gesa Rama tersandung anak tangga dan hampir terjatuh.


"Hati-hati, Ram!" Teriak Aditama dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja," ucap Rama lalu melanjutkan langkahnya.


Nesa yang datang membawa air minum, mengerutkan keningnya tat kala melihat sang suami yang menatap penuh khawatir ke arah sang putra.


"Kenapa kamu biarkan dia menemui Laila dulu? Bagaimana jika mereka bertengkar?" Nesa merasakan kecemasan.


"Aku tak bisa memaksanya bicara, sementara pikiran putraku sedang bersama Laila. Biarkan mereka meluapkan semua yang ada di benak mereka setelah itu kita luruskan semua.


"Ayo, kita harus tau apa yang terjadi pada mereka!" Nesa menarik tangan Aditama untuk mengikuti Rama ke kamar putrinya.


"Kita tunggu di sini saja," ucap Aditama.


Nesa menghela napas menuruti perkataan sang suami, ia jatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan penuh kecemasan, ia tak ingin terjadi sesuatu pada kedua anaknya itu. Ia berharap semua tetap baik baik saja.


bersambung ....