
Tak lama dokter datang memeriksa kondisi Laila, dan memberinya resep obat.
Bi Ira bergegas menebus obat di apotek, saat disana bi Ira tak sengaja bertemu dengan Radit.
Radit yang di beritahu bi Ira tampak cemas dan segera menemuinya, sekalian mengantar bi Ira pulang. Tidak di sangka, semakin lama Laila semakin tak berhenti berguman, hanya nama Rama yang terus di panggilnya. Diantara iba dan cemburu, Radit meneteskan air mata, tak kuasa melihat perempuan yang ia cinta seperti ini.
"Laila, bangun! Laila!" Radit berusaha membangunkan Laila, dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Namun, itu percuma.
Sudah hampir setengah hari, tak ada perubahan pada Laila meski telah di beri obat.
Semua orang tampak semakin cemas di buatnya. Hingga menjelang malam Laila pun masih saja bergumam.
Radit tak ingin pulang sebelum melihat Laila pulih, ia sangat cemas dengan keadaan calon istrinya.
"Radit, lebih baik kamu pulang!" kata Nesa yang melihat Radit tampak lusuh dan lelah, ia pun tak makan seharian meski sudah di tawari Nesa.
"Tante, Laila baik-baik saja 'kan? Radit gak mau pulang sebelum Laila bangun, izinkan Radit menginap disini, Radit ingin menemani Laila," kata Radit dengan cemas.
Melihat bi Ira datang membawa air kompres buat Laila, Radit segera mengambilnya dan menawarkan diri, agar dia yang mengompres Laila. Dengan penuh cinta dan kasih sayang Radit mengompres kening Laila.
Radit yang begitu mencintai Laila tak bisa tenang melihat perempuannya seperti ini, ia bahakan kehilangan selera makan saking cemasnya memikirkan Laila.
Nesa semakin dibuat dilema, melihat Radit yang begitu perhatian pada Laila. Nesa melihat cinta yang begitu besar dimata Radit untuk Laila.
Ya, Laila sangat beruntung, memiliki dua pria yang sangat mencintaianya. Namun, cinta tetap tak bisa di paksakan, ketika hati sudah memilih siapa yang akan menjadi pelabuhan cintanya. Cinta sebesar apa pun yang ia terima dari orang lain takan begitu saja mengubah pilihannya.
"Makanlah, Nak Radit! Laila sudah sakit, jangan biarkan dirimu juga sakit," kata Nesa seraya memberikan sepiring nasi untuk Radit.
"Radit belum lapar, Tante," jawab Radit seraya terus mengompres kening Laila. Radit tak membiarkan kain yang menempel di kening Laila mengering, dengan telaten dia terus mengganti dan membasahi kain tersebut.
Saat Radit mengambil kain itu di kening Laila hendak di basahi kembali, tiba-tiba Laila menarik tangannya dan menggenggamnya dengan erat, dalam ketidak sadarannya.
"Tetap disini, Rama. Jangan tingggalkan aku, aku tak mau berpisah denganmu," guman Laila.
Radit terkejut. Seketika buliran bening menetes begitu saja. radit pun termenung kecewa. 'Sekalipun aku yang tengah di sisimu, terus saja kamu menyebut namanya, sesulit itukah Laila' Radit membatin sedih.
Nesa yang juga terkejut, merasa kasihan pada Radit, sejak dari pagi gumaman yang di dengarnya hanyalah nama Rama. Nesa sangat memahami kekecewaan Radit, meski Radit mencoba untuk menutupinya.
Nesa menyimpan piring yang sedari tadi di pegangnya. diusapnya punggung Radit untuk menguatkan hatinya.
"Kamu tau. Laila belum sepenuhnya bisa melupakan Rama. Ibu harap, kamu bisa memaafkan, Laila," ucap Nesa dengan lembut.
Radit hanya menganggukan kepalanya perlahan seraya mengusap air matanya.
"Radit tidak berhak menghakimi Laila , Tante. Berkali-kali Laila meminta Radit melepaskannya, karena Laila tak mau mengecewakan Radit dengan perasaannya yang masih terpaut pada Rama. Namun, Radit sendiri yang memilih bertahan karena Radit sangat mencintai Laila. Radit harus siap menerima resiko ini, Tante. Maafkan Radit, Radit terkesan memaksakan cinta terhadap, Laila." Radit berusaha menahan sesak di hadapan Nesa.
"Tante paham, Nak Radit. Mememang terkadang cinta tak mengenal logika. Seperti kamu yang mencintai Laila dan Laila yang mencintai Rama. Akan tetapi Ibu bangga padamu, kamu begitu sabar menghadapi Laila, kelak kamu pasti bisa menemukan kebahagiaan," ucap Nesa yang kemudian duduk di sisi lain ranjang.
"Boleh Tante tanya sesuatu padamu?" tanya Nesa dengan lembut.
Nesa tampak berpikir, ia khawatir apa yang akan dia tanyakan malah semakin membuat Radit kecewa. Namun, ia pun tak ingin putrinya terus menderita seperti ini.
"Katakanlah, Tante! Tidak perlu sungkan," ucap Radit yang melihat Nesa ragu menanyakan sesuatu padanya.
"Jika saja pernikahan in tidak terjadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nesa dengan cemas.
Deg!
Radit yang terkejut, spontan menoleh kearah Nesa.
"Ma-maksud, Tante, Laila 'kan sedang sakit, bisa saja dia ingin menunda pernikahan, apa kamu tidak keberatan." Nesa yang merasa tidak enak oleh Radit mencoba mengalihkan maksudnya.
Sementara Radit yang tau Laila dan Rama tidak memiliki ikatan darah mengerti maksud Nesa sebenarnya. Ya, Radit berpikir Nesa memang ingin membatalkan pernikahannya dengan Laila demi kebahagiaan putrinya. Ibu mana yang sanggup melihat putrinya menderita seperti ini, siapapun akan teriris pedih.
"Jika Laila ingin menunda, Radit akan menunggu, Tante. Tante tidak perlu khawatir," jawab Radit dengan sopan.
Nesa mengangguk kaku, mengerti dengan kesetiaan Radit pada putrinya. Sulit sekali berterus terang, dengan cara yang baik. Menjaga perasaan itu memang tidak mudah, akan ada yang harus tersiksa di antaranya.
Nesa terus di buat gelisah mengambil keputusan yang sullit.
Nesa pun meninggalkan Radit dan pergi menemui Aditama di kamarnya.
Nesa menutup pintu perlahan, dan memecah tangisnya dikamar. "Ya Allah, dilema ini membuatku tak berdaya, aku tidak tau harus berbuat apa. Aku tak bisa melihat putriku menderita seperti ini. Kenapa Radit begitu mencintai putriku, aku tak tega mengecewakannya. Seharusnya Laila bahagia bersama Radit, tapi hatinya terus terpaut pada Rama," Gumam Nesa dengan terisak.
Aditama yang mendengar itu pun meneteskan air mata. Aditama tau Nesa dilema lantaran takut salah mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan keiginannya. Selama ini Nesa selalu menuruti kemauan Aditama, tak pernah berani membantahnya.
Keadaan Aditama yang seperti sekarang ini membuat Nesa membatin sendiri. Biasanya Nesa akan langsung mengutarkan keinginannya pada Aditama meski sering sekali beda jalan dengan Aditama. Walau pada akhirnya keputusan Aditamalah yang di ambil, tapi setidaknya ada jawaban dan pertanggung jawaban suaminya. tidak seperti sekarang yang terasa memikul beban sendiri. Ia pun takut keputusannya akan mengecewakan sang suami.
Demam Laila tak juga turun. Mereka membawanya kerumah sakit. Siapa sangka disana mereka bertemu Rama yang juga tengah terkulai lemah sama seperti Laila.
Ranjang mereka tepat bersebelahan. Nesa dibuat semakin pedih lagi, saat mendengar gumaman yang sama dari mulut Rama, yang terus memanggil nama Laila.
Nesa tersungkur lemah dan menangis histeris sejadi-jadinya. Radit berusaha membangunkan Nesa, tak tega melihatnya. Hati Radit tiba-tiba terketuk melihat ketidak berdayaan seorang ibu yang teramat besar. Begitu juga dengan melihat Cinta Rama dan Laila yang begitu luar biasa.
Dengan hati yang luka, Radit pergi begitu saja entah kemana, ia bergegas dan melajukan kendaraannya dengan cepat. Sepanjang jalan Radit berusaha menguatkan dirinya, menahan sesak yang semakin menyeruak di dadanya, tentu saja hatinya berkecamuk pedih.
bersambung....
kira-kira Radit pergi kemana ya reader?
❤❤❤
Terimakasih sudah setia membaca cerita sederhana Author, terimakasih juga atas dukungannya selama ini. dukungan kalian adalah hal yang berharga bagi Author.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Mohon maaf lahir dan batin 🙏
❤❤❤