Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Pertunangan Laila dan Radit



***


Hari pertunangan pun tiba, dengan berat hati Laila harus menerima pertunangan ini. Dengan ini Laila berharap bisa melupakan Rama yang dipikirnya adalah sang kaka.


Radit terkejut dengan kening yang mengerut, saat akan menyematkan cincin di jari manis Laila.


"Dimana cincinku kemarin?" tanya Radit.


"Maaf, saya membuangnya." Laila berkata jujur.


Deg!


Radit kecewa raut wajahnya berubah seketika. Namun, ia coba mengerti dan berusaha mengendalikan kekecewaannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengecewakanmu," ucap Laila dengan rasa bersalah.


"Terimakasih atas ke jujuranmu, jika kamu tidak ingin melanjutkan pertunangan ini masih ada waktu," ucap Radit dengan lembut.


"Tidak, aku ingin melanjutkan pertunangan ini, nanti akan kucari cincinnya," ucap Laila.


Radit tersenyum lega.


"Tidak perlu kamu cari cincin itu, tapi, jika suatu saat kamu ingin melepas cincin ini, berikan padaku, jangan kamu buang lagi," tutur Radit dengan tersenyum.


Laila pun mencoba mengukir senyuman meski berat.


Dengan bahagia Radit menyematkan cincin di jari manis Laila. Meski Radit hanya melihat Laila di Foto saja Radit langsung jatuh cinta padanya.


Saat semua menikmati hidangan yang di sajikan Laila dan Radit berbincang. Laila penasaran bagaimana Radit mengenal Rama.


"Radit, boleh aku tau dimana kamu mngenal Rama?" tanya Laila.


"Rama teman kuliahku, dia laki-laki yang baik, cerdas dan jujur," ujar Radit.


Laila menunduk mengingat perasaannya terhadap Rama. Matanya sedikit berkaca-kaca menahan duka.


"Kamu mengenalnya dengan baik?" tanya Laila lagi.


"Tentu saja. Kami sangat dekat di kampus," kata Radit.


"Kamu sangat mencintainya?" Radit balik bertanya pada Laila.


Deg!


Ada perasaan tak nyaman saat Laila ingin mengatakannya pada Radit, karena hal itu sudah pasti akan menyakiti perasaannya. Namun, Laila tak ingin menyimpan kebohongan.


"Ya, aku sangat mencintainya, kenyataan pahit ini sangat menyiksaku. Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi padaku," jawab Laila dengan menitikan air mata.


"Maafkan aku, aku membuatmu bersedih. Jika kamu mencintai Rama, kenapa kamu menerima lamaranku waktu itu?" tanya Radit.


"Maafkan aku, aku menerima lamaran pertamamu karena salah paham, aku pikir kamu Rama. Tanpa memastikan terlebih dahulu aku menyetujuinya, karena Rama pun berjanji akan datang di hari raya Idul Fitri untuk melamarku.Untuk lamaran sekarang, aku harus mengikhlaskan kenyataan pahit jika dia adalah kakakku, untuk mengikhlaskan semua itu aku membutuhkanmu. Maaf aku tidak bermaksud menjadikanmu pelarianku. Jika kamu keberatan kamu boleh membatalkan lamaran ini," ucap Laila merasa tidak enak.


"Tida, tidak, aku tidak keberata. Aku memahamimu. Aku janji, aku akan mencintaimu lebih baik dari Rama," kata Radit tanpa ada rasa kecewa. Ia terus mengukir senyum indahnya dihadapan Laila.


Seketika Laila menatap Radit, tak menduga Radit akan mengatakan hal itu tanpa rasa kecewa padanya, padahal dirinya telah mengungkapkan perasaannya terhadap pria lain. Mungkinkah Radit menahan rasa kecewanya demi terlihat baik-baik saja dihadapan Laila.


"Akan tetapi, apakah sudah dipastikan jika Rama benar saudaramu, bagaimana jika tuduhan ayahmu itu benar?"


"Aku sudah memastikannya. Bu Fauziah orang baik, dia lari meninggalkan ayah karena kecewa pada ayah yang akan menikah lagi, tetapi ayah hanya salah paham padanya," jelas Laila.


"Baiklah kalau begitu, akan kulakukan apa pun untukmu, agar bisa melupakan Rama, dan jatuh cinta padaku," ucap Radit dengan memegang tangan Laila.


Laila langsung melepaskan tangannya dari Radit. "Maaf, kita belum muhrim!"


"Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf aku terlalu bahagia, ini pertama kalinya aku jatuh cinta," jujur Radit.


Deg!


Pertunangan telah selesai dilangsungkan. Keinginan Aditama untuk segera menikahkan Laila dan Radit tidak disetujui oleh pihak keluarga Radit, karena mereka ingin Radit menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.


tidak ingin terkesan memaksa Aditama pun terpaksa menyetujui keinginan calon besannya itu.


Aditama dan Nesa pun kembali keluar negri, menyelesaikan urusan mereka yang tertunda. Bi Ira diminta Aditama menjual rumahnya disana dan tinggal bersamanya agar bisa menjaga Laila. Meski tujuan utamanya adalah menjauhkan Laila dari Rama, karena jika bi Ira masih tinggal disana ada kemungkinan Laila dan Rama akan bertemu kembali saat Laila di titipkan pada bi Ira.


Bi ira tak bisa menolak, terlebih sang kakak berjanji akan membelikan rumah baru baginya, yang dekat dengan tempat tinggalnya.


Hari demi hari telah berlalu, pagi ini Laila hendak berangkat kuliah, Radit menjemputnya hendak mengantar Laila.


Radit sudah menunggu di depan gerbang, ia tak sabar menunggu kemunculan Laila di balik pintu. ia pun membunyikan klakson memberi kode keberadaannya pada Laila.


"Radit sudah menjemputmu, Laila, cepatlah!" kata bi Ira.


"Kenapa Laila harus berangkat sama Radit sih, Bi? Laila bisa berangkat sama pak Hasan," kata Laila dengan lesu.


"Laila! Apa salahnya? Dia calon suamimu," kata bi Ira.


"Andai itu Rama, Laila tidak akan seberat ini," kata Laila.


"Radit juga pemuda yang baik, bibi yakin dia bisa membuatmu melupakan Rama. Jangan kamu ingat-ingat Rama lagi!" kata bi Ira.


"Laila tidak mengingat-ingat Rama, Bi, tapi memang Rama yang selalu ada diingatan Laila," tutur Laila.


"Laila mau bertemu Rama, Bi. Walau bagaimana pun Rama kakak Laila, kita tidak boleh memutuskan silaturahmi," kata Laila.


"Kamu benar sayang, tapi untuk sekarang ini, lebih baik tidak dulu, karna rasa yang ada dihatimu belum berubah menjadi rasa saudara, bibi khawatir kamu malah terluka saat bertemu Rama atau bahkan cintamu semakin kuat. Lagian bu Fauziah tidak akan mengijinkan Rama bertemu denganmu, dia sangat kecewa padamu, sayang," jelas bi Ira.


Laila termenung memikirkan semua perkataan bi Ira, memang benar apa yang dikatakan bi Ira, bu Fauzaih pasti tidak akan mengijinkannya bertemu Rama. Namun kemudian, Ia tersenyum penuh arti dan langsung berpamitan pada sang bibi.


"Bibi benar, aku memang harus pergi bersama, Radit. Assalamualaikum, Bi, Laila berangkat dulu." Laila yang tadi lesu berubah menjadi semangat, dengan pemikiran yang ada dibenaknya saat ini.


Setelah mencium punggung tangan bi Ira Laila pun segera beranjak dari sana degaan binar mata yang ceria. Jelas saja membuat bi Ira heran dan mengerutkan keningnya.


"Hai Radit, maaf menunggu lama," kata Laila yang membungkukan badannya melihat Radit yang ada di dalam mobil.


"Tidak apa-apa masuklah!" pinta Radit.


Laila pun masuk dan duduk di samping Radit, tentu saja membuat Radit sangat bahagia. Laila adalah perempuan pertama yang menaiki mobilnya. Dengan bangga Radit melajukan mobilnya bersama sang tunangan yang merupakan cinta pertamanya.


"Eu ... kampusku 'kan lebih jauh dari kampusmu, bolah saya mampir ke kampusmu terlebih dahulu?" tanya Laila.


"Tentu saja boleh, tapi kampusku tak se elit kampusmu," kata Radit, yang memeng lebih memilih kampus sederhana, baginya menimba ilmu dimanapun sama saja, yang terpenting adalah keseriusannya dalam mempelajari ilmu itu sendiri, dan orang tuanya pun tidak mempermaslahkan itu.


"Tidak apa-apa. Aku kesana bukan untuk menilai kampusmu, tapi aku ingin bertemu Rama," jujur Laila.


Deg!


Radit terkejut, tergores sedikit kekecewaan di hati Radit, meski tau Laila dan Rama adik kakak, hatinya tetap merasa cemburu. Wajahnya terlihat menjadi murung.


"Maaf aku tidak bermaksud melukai perasaanmu, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu, aku ingin bertemu dengannya hanya ingin menjalin silaturahmi antara kakak dan adik, meski rasa ini masih belum bisa menerimanya," ucap Laila.


"Tidak apa-apa, kejujuran yang menyakitkan lebih baik dari pada kebohongan, aku memahamimu," ucap Radit berbesar hati.


"Itu benar, terimaksih sudah memahamiku," kata Laila.


Radit berusaha mengukir senyumnya walau berat.


'Aku harus memahami derita Laila, tidak mudah lepas begitu saja dari Rama. Cintaku tidak boleh membuatnya terkekang tapi harus membuatnya nyaman' batin Radit.


bersambung ....


jangan lupa like, komen ya, beri Author semangat❤❤❤