Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Kotak Makanan



Rama hanya terdiam, mendengar ucapan Nur.


"Tuh, Nur bilang apa? Kamu hanya perlu belajar mencintainya. Ibu juga dulu tidak mencintai ayah Hendra, ketulusannya membuat ibu terus belajar mencintainya, da sampai akhirnya ibu bisa mencintainya." Ibu mengungkap pengalaman yang pernah dia alami.


"Mengubur cinta memang sulit, obatnya hanya tambatan hati baru, dan orang itu harus ikhlas juga tulus, dan ibu rasa Nur tepat untuk menjadi tambatan hatimu," lanjut bu Fauziah berujar.


Nur semakin tersipu malu. Ia berharap Rama mau membuka hati untuk dirinya.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. Kamu akan kecewa kedua kalinya olehku. Jujur meski Laila memang adikku, tapi aku masih sulit melepasnya," jelas Rama pada Nur.


"Rama! Apa kamu akan melawan takdirmu?" tanya ibu sedikit menekan suaranya.


"Tentu tidak, Bu. Untuk saat ini Rama tidak bisa menjalin hubungan dengan Nur, maafkan Rama. Rama tidak mau nantinya Rama kembali mengecewakan Nur, karena Laila masih hidup di hati Rama," jelas Rama lalu kembali ke kamarnya begitu saja.


"Rama!" panghil ibu seraya berdiri hendak mengejarnya.


Nur menarik tangan ibu.


"Tidak perlu diapaksakan, Bu," ujar Nur.


"Maafkan Rama, ya Nur," kata ibu.


"Tidak apa-apa, Bu," kata Nur.


"Akan tetapi, ibu seneng denger kamu masih mencintai Rama, ibu dukung kamu, sayang," ucap ibu seraya mengusap lembut kepala Nur.


"Terimakasih, Bu. Kalau begitu Nur pamit dulu ya, Bu," kata Nur.


Setelah kepergian Nur, ibu teringat pada Rama. 'Apa tebakanku tadi benar, jangan-jangan Rama sudah punya tambatan hati di kampusnya' batin ibu.


Di dalam kamar Rama tampak mengeluarkan Arloji pemberian Laila yang ia simpan di lacinya. Rama menatap dan mengusapnya lembut penuh cinta. Air mata menetes begitu saja. "Jujur aku tidak rela, dia menjadi adikku, andai aku bisa meminta agar Allah mengubah takdirku, aku tak mau berpisah darinya, aku sangat mencintainya," Isak Rama, lalu mengecup lembut jam tangan itu.


Di ruangan lain, Laila pun tampak memperhatikan kaki indahnya yang menggunakan sandal pemberian Rama. Sandal jepit penuh kenangan yang selalu ia jaga bersih agar bisa selalu ia peluk.


"Ya Allah, maafkan aku telah berpeluk bersama Rama, dengan dalih sebagai muhrim aku menghalalkan pelukanku. Namun, hati ini sungguh mencurahkan rasa cintaku padanya, aku tak sanggup kehilangan dia, ubahlah takdirku jika mungkin, karena aku tak mau terpisah darinya," gumam Laila seraya menitikan air mata.


"Andai keajaiban memberi kita kesempatan untuk menjadi pasangan sehidup semati, akan kutunggu hadirnya keajaiban untuk bersatu bersamamu," gumam Laila dan Rama di tempat yang berbeda.


***


"Bibi, Laila pamit ke kampus, ya. Assalamualaikum." Laila mengecup punggung tangan bi Ira dengan penuh semangat, terpancar rona bahagia di wajahnya yang cantik.


"Waalaikum salam. Hati-hati Laila, jangan Terburu-buru!" Nasihat bi Ira saat melihat Laila tergesa-gesa saat berangkat, dengan membawa dua kotak makanan yang ia siapkan.


Belum sempat bi Ira bertanya untuk siapa kotak makanan itu, Laila sudah jauh keluar karena jalannya yang begitu cepat dan terburu-buru.


Bi Ira pun menggelengkan kepalanya dengan mengukir senyum di wajahnya.


"Ada apa dengan Laila? Sejak pulang kuliah kemarin dia terlihat begitu bahagia. Apa Radit sudah bisa mengambil hatinya? Semoga saja," harap bi Ira.


Laila berjalan dengan bahagia.


"Hai, Dit. Assalamualaikum." Laila langsung masuk ke mobil Radit.


"Waalaikum salam. Waaw ... kamu terlihat berbeda," ucap Radit setelah Laila duduk disebelahnya.


"Benarkah?" tanya Laila dengan tersenyum.


"Tentu saja, benar, wajahmu begitu berseri," jawab Radit dengan membalas senyum Laila.


"Semua berkat kamu," ungkap Laila.


"Aku! Apa yang sudah kulakukan untukmu?" tanya Radit dengan mengerutkan keningnya. Lalu melajukan mobilnya.


"Karena kamu sangat baik padaku," jawab Laila.


"Benarkah? Eemmm, biasanya kalau cewek muji cowoknya itu pasti ada maunya," tebak Radit.


Laila tertawa mendengar tebakan Radit.


"Kamu benar, aku memang ada maunya," jelas Laila.


"Tuh kan, pasti ada maunya."


Laila tertawa kembali.


"Tapi bener, kenyataannya kamu sangat baik," ujar Laila.


"Ini, untukmu." Laila memberikan satu kotak makanan untuk Radit.


"Wah, Buatku?"


Laila mengangguk, dengan tersenyum.


"Terimakasih, Laila. Aku seneng banget nih, dapet makanan dari calon istri," ucap Radit dengan gembira.


Laila menunduk malu mendengar kata calon istri di mulut Radit, dengan memainkan satu kotak makanan lagi di tangannya. Rona wajahnya berubah sedikit tak nyaman.


Radit tau, Laila merasa tak nyaman, tapi dia harus berjuang untuk cintanya, mengungkapkan rasa dan keinginannya itu penting agar Laila memahami dirinya.


"Itu kotak makananmu?" tanya Radit saat melihat satu kotak lagi di tangan Laila.


"Eu, ini ...." Laila tampak ragu mengatakannya.


"Bolehkah aku mengantar makanan ini dulu pada Rama," ucap Laila kemudian


Radit mengerutkan keningnya, terlihat tampak berpikir dengan menggerak-gerakan bibir manyunnya. "Boleh gak ya?" Radit melirik Laila


Laila menunduk cemas menunggu jawaban Radit.


"Buatmu, pasti boleh," bisik Radit di telinga Laila.


Seketika Laila mengangkat kepalanya, dan tersenyum bahagia.


"Terimakasih dit, terimakasih, aku senang sekali," ucap Laila dengan bahagia.


'Ini alasan kebahagiaanmu Laila, setiap pertemuanmu dan Rama selalu menghadirkan senyum di wajahmu, bagaimana bisa aku melarangmu bertemu dengannya. Ingin sekali aku cepat menikahimu, Laila' batin Radit.


"Aku sebantar aja kok, cuman nganterin makanan ini aja, buat Kak--Rama," ucapnya sedikit ragu.


"Baiklah, tapi ada syaratnya," kata Radit.


"Apa syaratnya?" tanya Laila


"Nanti siang, kita makan bareng," pinta Radit.


"Makan bareng?"


"Ya. Makan bareng. Aku mau kita makan berdua. Gimana?"


"Baiklah," ujar Laila denagn mengukir senyum.


"Oke. Terimakasih bidadariku," ucap Radit membuat Laila tersipu, dan mengukir senyum kakunya.


Seketika suasana menjadi hening.


Radit fokus menyetir, sementara Laila membatin.


'Kenapa ya? Ungkapan Radit, tidak membuatku senang, andai Rama yang mengatakan itu, mungkin hati ini sudah melambung tinggi. Dulu baru disapa Rama saja, hati ini berbunga-bunga, apa lagi jika dia mengatakanku bidadarinya, jantung ini pasti tak berhenti berdebar. Akan tetapi, aku tidak boleh menolak keinginan Radit, dia selalu mengikuti keinginanku, dia sudah baik padaku'


"Laila!" panggil Radit yang sudah selesai memarkirkan Mobilnya.


Sepertinya Laila terlarut dalam lamunannya, tiga kali Radit memanggil, Laila tak juga menoleh.


Dengan ragu-ragu Radit menyentuh bahu Laila perlahan, dan berhasil menyadarkan Laila dari lamunannya.


"Eu--iya, ada apa, Ram?" Laila terkejut dan salah memanggil nama.


"Rama!" ulang Radit.


Seketika Laila menjadi gugup.


"Ma--maaf!" ucap Laila merasa tak enak.


Radit terlihat kecewa. Namun, lagi-lagi ia mencoba memahami, Laila.


'Entah sampai kapan aku harus memahamimu, Laila. Apakah kamu bisa memahami perasaanku. Meski Rama adalah kakakmu, jujur hati ini merasa kecewa jika kamu lebih memikirkannya dari pada aku, entah kapan aku bisa menaklukan hatimu, jika kamu terus menemui Rama. Akan tetapi, aku tak mampu menolak keinginanmu karena Rama yang selalu bisa membuatmu terlihat bahagia' batin Radit.


Bersambung ....


Semangatnya mana reader😘 ? yuk, kasih otor semangat dengan tekan Like, komen dan masukin favorite ya, juga rate. terimakasih❤❤❤