Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Permohonan Pak Hadi



Pak Hadi duduk lemas di samping putrinya, ia tak menyangka putrinya masih punya pemikiran seperti itu. Lagi-lagi karena cintanya pada Rama dia bertindak bodoh, bahkan membahayakan keselamatannya sendiri. 'Cinta macam apa ini, Nur' batin pak Hadi berkecamuk pedih.


"Jika sudah seperti ini, bapak sendiri bingung. Kenapa kamu selalu gegabah dalam bertindak Nur? Bapak tidak pernah mengajarkanmu memaksakan kehendak pada orang lain. Jika Rama tidak mencintaimu, belajarlah mengikhlaskannya, kenapa kamu terus saja mencari cara untuk mendapatkan perhatiannya? Cinta itu tidak bisa dipaksakan Nur," ucap Pak Hadi dengan kecewa.


"Nur, cinta Rama, dan hanya mau menikah dengan Rama. Nur tidak akan pernah menikah jika tidak dengan Rama. Cuman Rama yang Nur cintai sejak dulu hingga sekarang. Nur tidak akan pernah berpaling sekalipun orang itu lebih segalanya dari Rama," tutur Nur dengan tatapan kosongnya.


Pak Hadi berdiri dengan prustasi. Ia melangkah pergi keluar meninggalkan Nur sendirian di kamarnya.


"Kalian dengar, apa yang dikatakan Nur? Anak itu masih saja gegabah, tak pernah berpikir jernih, hanya memikirkan egonya," ucap Pak Hadi pada Rama dan bu Fauziah yang masih ada disana.


"Kami turut bersimpati pak Hadi, saya tidak menyangka Nur bisa berpikir seperti itu," ucap bu Fauziah


"Saya mohon maaf pak Hadi, semua ini terjadi karena saya, saya tidak pernah bisa membalas cinta Nur, jujur saya sedih melihat kondisi Nur seperti ini," ucap Rama dengan penuh simpati.


"Bolehkah bapak minta tolong padamu Rama?" tanya pak Hadi penuh harap.


"Tentu saja, Pak. Jika saya bisa saya akan membantu, Bapak," jawab Rama.


"Entah siapa yang mau menikahi Nur setelah semua ini terjadi, bapak sendiri tidak tau apa yang akan terjadi pada Nur selanjutnya. Nur sangat keras kepala, dia tetap saja ingin menikah denganmu, maukah kamu menikahi putri bapak yang sudah tak suci ini!" Pak Hadi bersujud memohon pada Rama.


Deg!


"Astagfirullah haladzim!" Selain Rama terkejut karena permintaan pak Hadi, Rama pun terkejut dengan pak Hadi yang bersujud memohon padanya.


"Bangunlah pak! Bapak tidak perlu seperti ini," ucap Rama seraya membangunkan pak Hadi dari sujudnya.


"Tidak, Rama, tidak. Bapak sungguh membutuhkan pertolonganmu saat ini, bapak tidak mau kondisi anak Bapak terpuruk nantinya." Pak Hadi menangis histeris, mencoba mempertahankan posisi sujudnya.


"Jangan pernah bersujud selain pada Allah, saya hanya manusia biasa, tak sepantasnya bapak bersujud seperti itu pada saya," ucap Rama merasa tak enak.


"Bapak tidak tau lagi harus bagaimana? Bapak benar-benar tidak bisa berpikir, Bapak mohon padamu Rama. Bapak janji tidak akan pernah menuntut apapun padamu," ucap pak Hadi dengan putus asa.


Rama tampak bingung, kondisi pak Hadi kali ini benar-benar terpuruk. Rama tak mungkin menolak atau pun menerima permohonannya.


"Bangunah dulu, Pak! Kita bicarakan ini baik-baik. Bangunlah, Pak!" pinta Rama


Pak Hadi pun bangkit dari sujudnya dan duduk di atas kursi dengan keadaan yang lemah, memikirkan nasib putrinya.


"Bu Fauziah, maafkan permintaan konyol saya terhadap putramu, saya tau putri saya tidak pantas untuk putramu. Sejujurnya saya malu mengatakan ini pada kalian, tapi demi putri saya, saya rela mengesampingkan rasa malu ini. Apapun keputusan kalian akan saya terima, saya hanya ingin berusaha demi putri saya," ucap Pak Hadi.


"Sepenuhnya keputusan saya serahkan pada Rama, Pak. Tidak ada yang mengharapkan kondisi seperti Nur saat ini, semua ini sudah takdir Yang Maha Kuasa," ucap bu Fauziah.


"Bagaimana Rama?" Tanya pak Hadi.


Rama menghela napas panjang, kemudian membuangnya perlahan, tak ingin memberi jawaban yang memberatkannya, tak ingin pula mengecewakan pak Hadi.


"Begini, Pak. Rama tidak bisa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Rama tidak ingin mengecewakan Bapak, tapi jujur Rama juga tak ingin memaksakan perasaan Rama. Tanpa maksud menolak keadaan Nur saat ini, Rama meminta waktu pada bapak untuk melakukan shalat istikharoh terlebih dahulu,' tutur Rama dengan lembut.


"Kamu benar, Rama. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Bapak memahami keadaanmu. Bapak sendiri tidak akan memaksa kamu, bapak sadar keadaan ini." Pak Hadi mencoba menenangkan diri.


"Bapak tidak perlu khawatir, semua kejadian akan ada hikmahnya, dan semua manusia sudah ada jodohnya, jika pun saya tidak menikah dengan Nur, yakinlah akan ada yang bisa menerima Nur apa adanya yang jauh lebih baik dari pada saya," ucap Rama.


"Ya, Rama, seharusnya Bapak yakin itu, tapi melihat kondisi Nur saat ini, hati seorang ayah begitu terluka, ingin Rasanya bapak egois dan memberikan pa yang dia inginkan saat ini, yaitu dirimu Rama. Tolong maafkan Bapak, Rama," Ucap pak Hadi dengan menyesal.


'Terimakasih, Rama. Kamu memang laki-lali yang baik, pantas putri saya tergila-gila padamu, semoga Allahsellu memberimu kebahagiaan. Aamiin."


'Aamiin," jawab Rama dan Bu Fauzaih yang hanya mendengarkan sedari tadi.


"Kalau begitu kami pamit, Pak. Secepatnya saya akan memberi keputusan," ucap Rama dengan mengukir senyuman.


"Baiklah. Terimakasih, Rama, Bu Fauziah," kata pak Hadi.


"Sama-sama, Pak. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," Jawab pak Hadi.


Setelah kepergian Rama dan bu Fauziah, pak Hadi mengecek kembali keadaan Nur. Nur tampak duduk memeluk lutut di sebelah pintu kamarnya, sepertinya Nur mendengar semua percakapan pak Hadi dan Rama.


"Nur, kenapa kamu disini? Ayo, bangunlah! Istirahatlah di tempat tidur," ujar pak Hadi.


Pak Hadi membingbing Nur keatas tempat tidur. Seharusnya Nur bahagia saat bapaknya memohon pada Rama. Namun, kebahagiaan itu rupanya sudah sulit ia tampakkan di wajahnya. Meski Rama masih menjadi harapan dan cintanya, Namun rasa malu yang ia dapatkan saat ini membuatnya tak berani menampakan diri di hadapan Rama lagi.


"Kenapa bapak memohon seperti itu pada Rama? Tidak seharusnya bapak seperti itu, Nur semakin merassa hina, hingga bapaknya harus mengemis cinta untuk putrinya. Seharusnya bapak sadar, semua ini salah Bapak, andai bapak dulu tidak memutuskan pertunangan Nur dan Rama, ini semua tidak akan pernah terjadi," ucap Nur masih terus menatap kosong.


"Saat ini bukan waktunya mencari kesalahan, yang jelas kali ini bapak benar-benar kecewa sama perbuatanmu, Nur!" Pak Hadi pergi meninggalkan Nur sendiri.


***


Di rumah Laila. Radit dan kedua orang tuanya tampak sedang menjenguk pak Aditama. mereka turut prihatin dengan apa yang menimpa Aditama.


"Bu Nesa, saya ingin bicara dengan ibu! Kata Mira ibu Radit.


'Bicara apa ya, Bu?" tanya Nesa.


"Lebih baik kita bicara di bawah saja supaya tidak mengganggu Pak Adi,' Kata Mira.


"Baiklah, Mari!" ucap Nesa lalu bangkit, dan melangkah meninggalkan kamar Aditama.


Laila dan Radit mengikiti mereka, begitu pun dengan Toni.


"Silahkan duduk!" ucap Nesa, dan mereka semua pun duduk.


"Begini, Bu. Ini mengenai hubungan Radit dan Laila," ucap Mira membuka percakapan.


Deg!


Laila terkejut.


'kenapa tiba-tiba mereka ingin membicarakan hubunganku dengan Radit?' Laila bertnya dalam hati.


Bersambung ....


Terimakasih atas kesetiaannya membaca karya Author yang jauh dari kata sempurna, jangan lupa tinggalin jejak setelah membaca, tetaplah jadi reader kesayangan Author.❤❤❤❤


Sehat selalu dan tetap semangat menjalankan ibadah puasa yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Love You All ❤❤❤