
"Tolong kancingkan kembali pakaianmu, Wini!" titah Rama dengan tegas, dan masih membuang muka dari Wini.
"Pak, tapi saya gak bisa bekerja kalau begini. Bapak lihat baju saya tampak seperti pakaian yang baru dicuci, basah sekali, Pak," ungkap Wini seraya terus mebuka kancing bajunya.
"Itu karena kamu tidak terbiasa, Wini. Setelah terbiasa pasti kamu nyaman," ucap Rama.
Wini tak menghiraukan ucapan Rama dan terus mengibaskan berkas yang ada di tangannya memberi kesegaran pada tubuhnya.
Rama yang cukup lama memalingkan wajahnya dari Wini, berpikir Wini sudah mengancingkan bajunya, dan kembali menghadapkan Wajahnya pada Wini.
"Wini!" Bentak Rama saat melihat Wini sudah membuka semua kancing bajunya dan hanya memakai teng top.
"Maaf, Pak!" Wini yang kaget dengan bentakan Rama, segera kembali ke mejanya dan mengancingkan pakaiannya cepat kilat.
"Berani kamu menggodaku!" ucap Rama penuh penekanan.
"Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud menggoda Bapak. Saya sudah terbiasa menggunakan pakaian mini, jadi saya tidak tahan dengan pakaian tertutup seperti ini, Pak." Wini menunduk malu.
Wini adalah sekertaris baru pak Adi. Dia memang selalu berpakaian mini, tapi Wini tidak pernah menggoda pak Aditama, karena pak Adi sendiri jarang ada dikantor cabang ini. Dia lebih fokus di perusahaan pusatnya. Entahlah dengan Sandi kepercayaan pak Adi yang selalu menangani perusahaan ini bersama Wini.
Aditama sudah terbiasa dengan kehidupan kantor dan bertemu permpuan-perempuan seksi, berbeda dengan Rama yang tak terbiasa berhadapan dengan perempuan seperti itu. Banyak perempuan cantik dikampusnya yang dia abaikan karena pakaian yang tidak menutup aurat.
Rama menghubungi Aditama, membicarakan keluhannya pada sang ayah. Rama meminta izin ingin mengganti sekertarisnya.
Aditama tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Rama.
"Rama. Rama. Ayah mengerti ini pertama kali kamu terjun di dunia perusahaan. Dengar perusahaan itu sudah menjadi milikmu seutuhnya, sekalipun kamu ingin mengganti semua karyawanmu itu sudah hakmu tidak perlu meminta izin padaku. Nanti ayah bantu rekomendasi sekertaris baru yang kompeten untukmu. Tentunya berpakaian sopan dan menutup auratnya," ucap Pak Adi.
"Terimakasih, Ayah. Besok pagi sebelum ke kantor, ayah kirim saja beberapa calon sekertarisnya kerumah, biar Laila yang seleksi mereka," ucap Rama.
"Laila! Kenapa harus Laila yang memilih." Dibalik telepon Aditama mengerutkan keningnya.
"Perempuan itu biasanya lebih peka. Aku juga tak ingin sekertaris pilihanku nanti membuatnya cemburu, karena aku akan sering bersamanya, dibanding istriku," tutur Rama.
"Hahaha... Ayah suka ini. Pertahankan keharmonisan kalian, dan jangan pernah merusak kepercayaannya." Nasihat Aditama.
Laila menikmati hari pertama ia bekerja dirumah sakit. Sebuah kecelakaan yang terjadi di jalanan ibu kota, membawa pasien patah tulang yang harus melakukan oprasi.
Dokter Ferdi sedang melakukan oprasi pada pasien lain. Tak ada yang menangani pasien kecelakaan ini, yang benar-benar butuh penanganan segera. Ada dua dokter bedah lainnya di rumah sakit ini, mereka sama-sama tengah menangani pasien. Terpaksa Laila yang harus turun menanganinya. Laila tampak gugup, ini pertama kalinya dia harus menyelamatkan nyawa seseorang. Laila tampak menunduk dan berdo'a agar oprasi pertamanya di beri kelancaran. Dalam perjalanan menuju ruang oprasi Laila sempatkan menelpon sang suami dengan sangat singkat.
"Assalamu'alaikum, sayang. Aku akan melakukan oprasi pertamaku. Do'akan aku agar berhasil." Tanpa menunggu jawaban Rama Laila langsung menutup kembali teleponnya.
Rama mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum. "Semoga berhasil, sayang. Do'aku selalu menyertaimu," gumam Rama dengan tersenyum.
Laila mendapat tepuk tangan saat kelur dari ruang oprasi, pasalnya perawat yang menemani Laila mengabari pada dokter Lain jika Laila berhasil dalam oprasinya. Mereka acungkan jempol pada keberanian Laila.
Laila terharu, air berwarna bening itu tiba-tiba melintas di pipinya tanpa permisi. Segera ia menyekanya dan berterimakasih pada semua teman-temannya.
"Terimakasih, jujur tadi aku sangat gugup dan berharap Dokter lain datang menemaniku," ucap Laila penuh haru.
"Sepertinya kamu memang dokter pilihan, makanya langsung bisa tugas disini. Wow Dokter Laila. Congratulation." Dokter Ferdi memberinya tepuk tangan Lagi di susul oleh yang lainnya.
"Cukup. Aku tidak pantas terus menerus mendapatkan tepuk tangan seperti ini. Ini adalah keberuntunganku. Kalian semua lebih hebat dariku," ucap Laila dengan merendah.
Hari semakin sore, Rama menjemput Laila di parkiran. Meski telah menjabat CEO di perusahaannya. Rama masih saja senang menggunakan motor bebeknya. Tanpa malu Laila naik dibelakang setelah mencium punggung tangan Rama. Ferdinan memperhatikan dengan seksama, dia tahu persis siapa dua orang dihadapannya ini, sementara dokter lain terkejut melihat Laila yang dibonceng Rama dengan motor bututnya. Ferdinan tampak menghubungi seseorang lewat sambungan selulernya.
"Bagus. Jangan pernah lepaskan dia. Aku tunggu kabar bagus lainnya darimu." Terdengar suara seorang perempuan di balik sambungan telepon, mengakhiri pembicaraan mereka.
"Sayang, bagaimana oprasimu tadi? Kamu tidak menghubungiku lagi setelahnya. Aku terkejut mendengarmu mau melakukan oprasi di awal kerjamu?" tanya Rama sambil melajukan motornya meninggalkan parkiran.
"Sungguh hal yang sangat menegangkan. Disaat semua dokter sedang melakukan oprasi, tiba-tiba pasieun kecelakaan datang. Jantungku benar-benar berdegup kencang saat ditunjuk harus mengatasi keadaan darurat, tapi Alhamdulilah, semua berjalan lancar," ucap Laila dengan lega.
"Syukurlah. Aku percaya kamu pasti bisa. Aku yakin besok rasa gugupmu sudah hilang," ucap Rama.
"Dibalik keberhasilanku, pasti ada do'a suamiku," ucap Laila seraya melingkarkan tangannya di pinggang Rama dengan mesra.
Rama hanya tersenyum, sabil mengusap tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya.
"Kamu sendiri gimana? Apa Wini sudah memakai pakaian tertutup?" tanya Laila.
"Sudah," jawab Rama.
"Baguslah. Aku lega," ucap Laila.
"Kamu tidak tau apa yang terjadi di kantor tadi," ucap Rama.
"Apa yang terjadi?" tanya Laila penasaran seraya melepaskan tangan yang ia lingkarkan di pinggang sang suami.
Laila terkejut, dan mecubit pinggang Rama saat mendengar apa yang Rama ceritakan. Rama mengeluh kesakitan. Namun, Laila tak peduli dengan keluhan suaminya.
"Kamu tidak macam-macam 'kan sama dia?" tanya Laila dengan memanyunkan bibirnya, meski Rama tak bisa melihatnya.
"Tidak, sayang. Ngapai juga aku cerita sama kamu kalau aku macam-macam," ucap Rama Lalu membenahi spion motor agar bisa melihat wajah sang istri.
"Bisa ajakan, karena aku ngak lihat." Laila bicara dengan kesal.
"Katanya percaya, tapi kayak gini," sindir Rama, kemuadian meraih tangan Laila dan dilingkarkannya kembali di pinggang.
Laila terdiam. "Benerankan kamu gak macam-macam sama dia?"
"Bener dong, sayang. Lagian besok aku langsung ganti dia dengan sekertaris baru kok," ucap Rama menenangkan sang istri.
"Jadi, dia dipecat." Laila terkejut seraya melirik wajah sang suami.
"Tidak. Dia aku pindah, walau bagaimana pun dia karyawan yang kompeten. Sesuai janjiku padamu, kamu yang akan memilih sekertaris baru untukku." Rama mengukir senyum seraya melirik Laila lewat kaca spion.
"Beneran aku yang pilih?" Wajah Laila terlihat bahagia.
"Iya. Besok calon-calon sekertaris itu akan datang kerumah, karena aku tau tak mungkin kamu yang ke kantor. Kamu baru masuk kerja dirumah sakit, Jadi kamu harus disiplin," tutur Rama.
"Kamu pengertian banget sih, aku jadi makin gemes sama kamu." Laila mengeratkan pelukannya, membuat Rama sangat bahagia.
Bersambung.....
Siapa ya sosok Ferdi, kok dia bisa mengenal Laila dan Rama?
Tetep ikuti kisahnya ya reader❤❤❤ terima kasih sudah setia mebaca karya Author.