Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Pecah Emosi



Dengan perlahan Rama membuka pintu kamar Laila yang tidak terkunci, di balik hati yang terluka dan penuh tanda tanya ia tetap berusaha tenang menemui sang istri, tak ingin membahas masalah dalam keadaan emosi.


Diucapkannya salam seraya melangkah perlahan dan mengedarkan pandangan mencari kebaradaan sang istri.


Wanita itu tengah menatap rembulan malam di balik jendela kamar dengan linangan air mata di pipinya. Disekanya air mata yang sudah membasahi pipi itu, ia menjawab salam seraya menoleh ke arah suara yang ia kenali betul, suara yang bisa membuatnya bahagia dan juga menangis.


Sejenak keduanya terdiam, dengan tatapan dan pikiran mereka masing-masing. Kemudian Rama meminta izin untuk masuk.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Rama dengan lembut.


Laila menjawab dengan anggukan kecil, dan melangkah duduk di tepi ranjang.


Perlahan tapi pasti Rama menghampiri sang istri dan duduk di sebelah wanita itu. Rasanya sulit memulai percakapan setelah apa yang terjadi. Bayangannya kini teringat kembali pada dua perempuan yang membicarakan keburukan istrinya sendiri. Namun, ia tak ingin menghakimi sebelum ada kejelasan.


"Aku menunggumu di rumah sakit ternyata kamu disini." Rama memulai pembicaraan dengan tenang.


"Maafkan aku, aku rindu ayah dan bunda." Laila pun berusaha menjawab dengan tenang, meski bayangannya pada kejadian di restauran itu dan semua kata-kata perempuan yang mengaku memiliki hubungan dengan suaminya.


"Seharusnya kamu bilang padaku, aku pasti mengantarmu," ucap Rama lembut.


"Aku pikir kamu sibuk dengan sekertarismu itu, dan akan menginap lagi dirumahnya." Laila mulai tak mampu menahan emosi dari bayang-bayang wanita itu yang terus berputar di kepalanya, dan ingin meluapkan semua kekesalannya pada sang suami.


Deg!


Rama terkejut dengan ucapan sang istri spontan ia melirik sang istri yang duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa kamu pikir aku akan menginap lagi di rumahnya?" tanya Rama sedikit di tekan.


"Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu menginap di rumahnya?" Laila menghunuskan tatapan keragunnya pada sang suami.


"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu Laila," jawab Rama yang mulai tak mengerti dengan pemikiran istrinya. Rama beranjak dari tempat duduknya dan memilih mengarahkan pandangan pada langit malam lewat jendela kaca kamarnya, ia memejamkan mata dan menghela napas, mencoba mengontrol emosi kembali, ia tak habis pikir dengan apa yang dikatakan sang istri.


"Bohong. Semua penjelasanmu adalah kebohongan," tutur Laila dengan kesal, ia menyusul suaminya berdiri dan melangkah mengikutinya.


"Kebohongan. Apa maksudmu?" Rama merasa heran dan membalikan badan menghadap sang istri.


Kini keduanya saling tatap dengan tatapan yang memangsa, selain Laila, Rama pun ingin meluapkan banyak pertanyaan pada sang istri.


"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, apa kamu tidak percaya pada penjelasanku?" Emosi yang berusaha di tahan Rama kini mulai terpancing.


"Aku percaya dengan apa yang kulihat dan kusaksikan tadi, kenapa kamu sematkan cincin di jarinya?" tanya Laila penuh keraguan.


"Jadi itu masalahnya. Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Sebenarnya cincin itu untukmu, Wilona hanya mencobanya saja."


"Hanya mencoba!" Laila memotong pembicaran Rama, dan melepas pandangannya. Ia pun berjalan ke sembarang arah menghindari tatapan sang suami yang mulai membuatnya muak.


"Lalu kenapa tidak kamu lepas kembali? Kenapa dia terus memakainya? Mana cincinnya? Pakaikan di jariku!" pinta Laila seakan memaksa seraya memberikan jarinya pada sang suami.


"Sayang, dia tidak bisa membukanya, cincinnya kekecilan di jarinya," jelas Rama seraya memegang kedua pundak sang istri.


Laila menyunggingkan senyum tak percaya, dan menghempasn kedua tangan sang suami.


"Kamu yakin tidak sedang membohongiku. Lalu bagaimana dengan janjimu padanya? Kamu akan menikahinya setelah tidur semalaman bersamanya?" tuduh Laila. Lalu duduk di tepi ranjang.


"Laila! Apa maksudmu!?" bentak Rama tersudut Emosi. "Kamu jangan mengada-ada," lanjutnya dengan marah dan menyusul istrinya duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak mengada ada. Perempuan itu sudah mengatakan semuanya," ujar Laila dengan yakin dan menatap sang suami penuh intimidasi.


"Apa yang dikatakan Wilona?" tanya Rama penasaran dengan membalas tatapan sang istri mencari kebenaran dari ucapannya.


"Semua," jawab Laila.


"Wilona tidak mungkin mengarang cerita yang tidak-tidak," ucap Rama berpikir baik pada sang sekretaris.


"Itu artinya semua yang dikatakannya benar," tutur Laila dengan mata yang semakin membulat.


"Tidak seperti itu Laila. Apa semua ini hanya alasanmu, apa kamu yang mengada ada agar kamu bisa leluasa dengan laki-laki itu." Balik Rama menuduh Laila.


"Leluasa dengan laki-laki itu, Apa maksudmu?" Laila terkejut dengan apa yang dikatakan sang suami.


bersambung....