Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Surat Panggilan Pengadilan



****


Esok hari pun tiba, di mana lima calon sekretaris Rama akan datang kerumah Fauziah yang sederhana jauh dari kemewahan. Mereka sempat bertanya-tanya benarkah ini rumah seorang CEO? Bahkan mereka sempat berpikir jika mereka salah rumah dan berbalik arah. Namun, saat Fauziah kelur, dia melihat kelima perempuan itu, dan segera memanggilnya.


"Hay, Kalian siapa?" tanya Fauziah.


Mereka berlima serempak menghentikan langkahnya dan menoleh lalu membalikan badan.


"Maaf Bu. Kami mau bertemu Pak Rama, tapi sepertinya kami salah rumah," kata salah satu dari mereka.


Fauziah tersenyum lucu. "Kalian tidak salah, ini memang rumah Pak Rama," tutur Fauziah mengejutkan mereka berlima, sesaat mereka mengerutkan keningnya. Namun, kemudian mereka terpaku dengan mata yang membulat saat melihat Rama dan Laila keluar dari dalam rumahnya.


Pasangan yang serasi itu menampakan senyum melengkung indah di bibir mereka. Rama yang gagah dan rupawan, juga Laila yang cantik penuh pesona, membuat mereka tak mengedipkan mata.


"Pak Rama?" tanya salah satu calon sekretaris itu.


"Ya, saya Pak Rama. Kalian dikirim Pak Aditama kemari?" Rama balik bertanya.


"Iya, Pak. Pak Aditama yang mengirim kami kemari," ucap salah satunya, yang di seratai anggukan dari mereka semua.


"Baiklah, mari masuk!" Rama mengajak mereka semua masuk.


Di dalam ruang tamu, para calon sekretaris tampak mengedarkan pandangan pada pemandangan rumah yang tak menampakan kewewahan, hanya ada beberapa foto keluarga dan jam dinding yang terpampang di tembok sebelah kanan.


"Baiklah, silakan tunjukan berkas kalian, dan perkenalkan diri masing-masing. Mulai dari Anda." Tunjuk Rama pada wanita yang duduk di pojok kiri.


Satu persatu Laila dan Rama mempelajari CV mereka. Seorang perempuan lugu berpakaian sederhana dengan hijab melengkung rapi, riasan wajah yang tak mencolok dan tutur kata yang lembut menarik perhatian Laila.


"Wilona. Saya memilihmu untuk menjadi sekretaris suamiku," ucap Laila setelah melihat CV-nya.


"Saya, Bu. Alhamdulilah terimakasih, Bu." Wilona bersyukur seraya mengusap wajahnya.


"Yang lain tidak perlu kecewa, masih banyak kesempatan lain diluar sana, dan semoga kalian beruntung," ucap Laila di akhiri senyum indah.


Setelah pertemuan selesai. Rama mengantar Laila ke rumah sakit. Sedangkan Wilona disuruh pergi ke kantor terlebih dahulu.


****


Di rumah pak Hadi Nur semakin dekat dengan Radit, tidak terasa mereka terus menjalani hari bersama dengan penuh tawa. Nur yang membuka hati sebagai teman Radit, tampaknya menjadi nyaman berada di sampinynya.


Di depan pintu kamarnya, Pak Hadi tersenyum lega melihat kedekatan mereka. Nur dan Radit tampak tertawa terbahak-bahak dengan canda gurau yang mereka lontarkan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang menghentikan tawa mereka. Nur segera membuka pintu, dilihatnya seorang kurir mengantarkan surat dari pengadilan.


Tiba-tiba Nur tersadar dirinya telah melupakan sesuatu. Tangannya sedikit bergetar saat menerima surat itu. Detak jantung seolah terhenti saat dirinya menatap nanar surat panggilan pengadilan itu. Matanya pun seketika berkaca-kaca.


"Siapa, Nur?" tanya Radit.


Nur tak menyahut sama sekali. Membuat Radit yang penasaran bangkit dari duduknya.


Radit membalikan badan Nur yang tengah menghadap keluar dengan terpaku.


Seketika Radit mendapati buliran bening yang melintas lembut di pipi Nur. Dilihatnya secarik kertas yang membuat Nur meneteakan air mata. Tampak terlihat jelas apa yang tertulis di dalam surat itu.


Radit mendapatkan sebuah jawaban dari air mata Nur. Namun, dirinya tak yakin dengan apa yang dia rasaka, dia mencoba mencari jawaban dengan cara lain.


"Selamat, Nur. Akhirnya apa yang kamu inginkan tiba. Kita akan segera berpisah," ucap Radit dengan mengukir senyumnya.


'Apa yang terjadi padaku?' Nur tak memahami perasaannya.


Pak Hadi yang sedari tadi tak beranjak dari pintu kamarnya, kembali bersedih melihat putrinya mendapat surat panggilan pengadilan itu, dengan langkah yang lelah dia masuk kedalam kamar seraya menutup pintunya perlahan.


'Ya Allah, jangan Engkau hancurkan kebahagiaanku yang baru saja kulihat. Semoga putriku mengurungkan niatnya' Pak Hadi membatin sedih.


Tak ingin memperlihatkan rasa yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri, Nur pun mencoba menyembunyikan perasaan itu.


"Akhirnya, surat ini datang juga. Aku sangat bahagia sekali." Nur mencoba mengungkapkan sebuah kebahagiaan. Namun, sepertinya rasa itu tak hadir dalam hatinya. Rasanya untuk mengukir senyum pun begitu berat.


"Ya, tentu saja, air mata kebahagiaanmu sudah terlihat dari tadi," ucap Radit menyindir Nur, karena sesungguhnya Radit melihat kesedihan Nur.


"Baiklah kita istirahat sekarang. Besok kita harus menghadiri surat panggilan itu bukan," ucap Radit seraya melangkah menuju kamar.


Nur berjalan mengikuti Radit, disimpannya kertas itu di atas meja. Radit membaringkan diri menghadap Nur, ia memejamkan matanya terlebih dahulu.


Nur menyusul Radit membaringkan dirinya,


Dilihatnya wajah teduh yang mengisi harinya selama ini. Perlahan Nur mengangkat tangannya, ingin mengusap wajah yang tengah ia pandang. Namun, ia pun mengurungkan niatnya.


'Apa aku telah jatuh cinta padanya? Mengapa tiba-tiba hati ini terasa sedih, harusnya surat ini membawa kebahagiaan untukku, entah kenapa aku menjadi gelisah. Besok aku harus menemui Rama' batin Nur dengan gundah.


Malam semakin larut semilir angin menembus celah, menyapu wajah Nur dengan lembut, membuainya ke alam mimpi yang indah.


Pagi-pagi sekali mereka bersiap untuk pergi kepengadilan. Radit dan pak Hadi menunggu Nur di depan pintu, terlihat jelas wajah pak Hadi yang cemas dan sedih. Ia menoleh pada Radit yang tampak terlihat lebih tenang darinya.


"Radit, Bapak cemas sekali," ucap pak Hadi dengan pelan.


Radit memegang pundak sang ayah mertua seraya berkata, "Kita serahkan semua pada-NYA. Yakinlah Pak, apapun yang terjadi adalah yang terbaik," ucap Radit mencoba menenangkan pak Hadi.


Nur yang sudah selesai bersiap keluar menyusul Radit. "Ayo Dit, kita berangkat," ajak Nur.


Radit dan Nur berpamitan pada pak Hadi yang sedari tadi menemani Radit di depan.


Sebelum memasuki mobil Radit. Nur menghentikan langkahnya. "Dit, antar aku kerumah bu Fauziah sebentar," pinta Nur seraya menarik tangan Radit.


"Hey, untuk apa Nur?" tanya Radit seraya mengikuti langkah Nur.


Pak Hadi terheran, dan mengikiti merwka menuju rumah bu Fauziah.


Setelah Sampai di halaman rumah bu Fauziah sosok Rama dan Laila yang hendak berangkat bekerja muncul dari dalam rumah. Terlihat bu Fauziah mengantarkan mereka di belakangnya.


"Hati-hati dijalan," ucap Fauziah pada Rama dan Laila.


"Baik, Bu," ucap keduanya serempak.


Baru satu langkah Rama dan Laila melihat Nur yang sudah berdiri dihadapannya.


"Nur." Rama dan Laila terkejut.


Nur berderai air mata. Tanpa aba-aba dirinya langsung memeluk Rama dihadapan semua orang. Nur mencoba menyelami Rasanya.


Bersambung .....