
Perlahan Rama membuka matanya, saat terdengar lantunan adzan subuh berkumandang. Dilihatnya sang istri yang masih tertidur lelap, dengan lembut ia pandangi wajah cantik sang istri yang menenangkan hatinya, di usap wajah indahnya dan di kecupnya kening sang istri dengan lembut.
Laila pun membuka matanya saat merasakan kecupan sang suami mendarat di keningnya.
"Rama!" Laila tersenyum saat melihat wajah sang suami tepat berada dihadapan wajahnya.
Namun, Rama mengertutkan keningnya, ia cemberut mendengar pangilan Laila terhadapnya.
Laila segera bangun dan heran melihat sang suami yang seperti itu.
"Kenapa cemberut seperti itu, apa aku mengecewakanmu?" tanya Laila tidak mengerti.
"Iya, aku kecewa padamu," ucap Rama dengan dingin.
"Apa? Apa yang membuatmu kecewa6 padaku? Apa aku tidak perawan?" Laila cemas dan menyingkap selimutnya. Dilihatnya noda merah berceceran di atas ranjang. Ia mengusap dadanya lega.
Tiba-tiba Rama terseyum lucu. "Apa kamu pernah melakukannya dengan orang lain hingga kamu khawatir kamu tidak perawan?" tanya Rama kemudian.
"Demi Allah, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun, percayalah!" Laila khawatir pada Rama, ia langsung meraih tangan Rama, dan di kecupnya berkali-kali.
Rama pun memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang. "Aku percaya dan yakin padamu. Hanya saja, aku tidak suka panggilanmu padaku. Aku sudah merubah pangilanku padamu. Kenapa kamu masih menyebut namaku?" ucap Rama dengan cemberut kembali.
"Jadi, kamu kecewa gara-gara aku panggil Rama?" Laila mengurai pelukan.
Rama menganggukan kepalanya.
"Iiih, dasar lebay, aku pikir kamu kenapa? Aku sudah khawatir." Laila mencubit perut Rama.
"Awww, sayang kenapa kamu cubit aku sih?" Rama merasa kesakitan.
"Biarin, lebay." Laila menyimpan kedua tangannya di perut.
"Kok, jadi kamu yang marah sih. Emang gak bisa manggil aku sayang gitu? Katanya cinta gak bisa hidup tanpa aku, manggil sayang aja susah. Aku bahkan manggil kamu sayang jauh sebeum kita nikah, meskipun saat itu kubilang adikku sayang, tapi sesunggunya aku memanggilmu karna cinta," ucap Rama lembut dan menatap indah sang istri.
"Aku tau itu. Aku bisa merasakannya," ucap Laila lalu memeluk suaminya kembali.
"Baiklah akan kupanggil kamu sayang. Terimakasih sayang, atas cintamu padaku, aku sangat bahagia," kata Laila dengan lembut.
Rama tersenyum lucu, melihat istrinya yang menggemaskan.
"Ayo kita mandi!" ajak Rama.
Laila mengangguk dan tersenyum.
***
Radit terlelap tidur, dengan posisi menyamping memeluk Nur. Nur merasakan berat di tubuhnya serasa tertindih sesuatu, betapa terkejutnya Nur saat melihat Radit yang tengah memeluknya. Dengan segera ia menyingkirkan tangan Radit dari tubuhnya.
"Dasar pencuri kesempatan dalam kesempitan, bisa-bisanya dia memelukku, tapi kalau di lihat-lihat dia imut juga. ikh amit-amit, kenapa aku jadi muji dia," gerutu Nur lalu pergi ke kamar mandi.
"Rumah ini besar, mewah indah, siapa coba yang tak mau, tidak akan ada yang menolaknya, sayang sekali disini tidak ada cinta," gerutu Nur saat mandi.
Radit terbangun diliriknya jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima pagi. Ia pun mendengar guyuran air shower di kamar mandi, menandakan Nur ada di dalamnya.
"Nur, jangan lama-lama. Aku belum shalat subuh," kata Radit sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, sabar. Tak ada kamar mandi lain apa, di rumah sebesar ini, aku mandinya lama," teriak Nur di kamar mandi.
"Ada sih, tapi aku malas keliuar," kata Radit.
"Baiklah, kalau begitu tunggu saja aku sampai jam enam," kata Nur.
"Apa?! Kamu gak shalat?" Radit terkejut dengan perkataan Nur.
"Ya, shalatlah, gini-gini aku gak akan ninggalin shalat," ucap Nur saat membuka pintu kamar mandi.
"Habis tadi kamu bilang sampai jam enam," kata Radit.
"Sekali-kali ngerjain kamu gak apa-apa kan?" ucap Nur dingin sambil melangkah melewati Radit.
Radit menggelengkan kepala dan masuk ke kamar mandi seraya berkata, "Tunggu aku! Kita shalat berjamaah."
Nur hanya menoleh tanpa menjawab.
***
Di kediaman Aditama. Nesa tengah merencanakan pengobatan Aditama keluar Negri. Mereka akan pergi pagi ini juga. Nesa terlihat lebih bahagia melihat putrinya bersatu dengan laki-laki yang ia cintai.
"Ira aku titip mereka, ya. Jangan sampai mereka bolos kuliah gara-gara terlalu asik dikamar," goda Nesa pada Rama dan Laila.
"Apaan sih, Bun." Laila terlihat malu, begitu pun Rama yang tersenyum malu.
Bi Ira dan Nesa tertawa lucu melihat wajah Laila dan Rama yang memerah.
"Aku pamit, ya. Do'akan mas Adi cepet sebuh," kata Nesa pada bi Ira.
"Laila! Rama! Ingat jangan bolos kuliah, ya!" kata Nesa.
"Iya, Bunda. Laila tau kok," kata Laila. Sedangkan Rama hanya tersenyum.
"Et, panggil Bunda dan Ayah. Jangan lagi panggil pak Adi, karena dia adalah ayahmu." Nesa mengusap lembut kepala Rama.
Rama mengangguk dan tersenyum.
Ira pun tersenyum bahagia.
Setelah Nesa berangkat Rama dan Laila pun pergi ke rumah bu Fauziah, di antar oleh pak Hasan.
"Sayang, aku ingat ibu, kamu mau gak tinggal dirumah ibu. Kasihan ibu sendiri," kata Rama.
Laila tersenyum. "Tentu saja aku mau. Kenapa tidak. Dimana pun aku akan tinggal selama bersamamu, aku tidak keberatan," jawab Laila.
"Sungguh! Tapi, kamu taukan keadaan rumahku seperti apa? Jauh dari kemewahan seperti rumah yang kamu tinggali," kata Rama.
Laila mengngguk kemudian menggenggam erat tangan Rama dengan yakin seraya mengukir senyum indahnya.
"Kamu tau, rasanya aku malu. Rumah mewah yang selama ini aku nikmati, seharusnya kamu yang menikatinya. Rasanya tidak adil jika aku tidak mau tinggal bersamamu di rumah sederhana, karna jika ayah Adi tidak menolong ibu, mungkin kami adalah gelandangan," ucap Laila dengan lembut.
Suutttt!
Rama menyimpan telunjuknya di mulut Laila.
"Jangan katakan itu, itu tidak baik. Semua sudah menjadi takdir-NYA, apa yang sudah berlalu biarlah berlalu, jangn pernah berandai andai mengubah keadaan. Aku cukup bahagia bersama ibuku, sampai Allah menakdirkan aku bertemu deganmu, kamu adalah pelengkap kebahagiaanku," ucap Rama dengan tersenyum.
Laila pun tersenyum dan memeluk Rama.
"Pak Hasan, tolong antar kami ke rumah," pinta Rama.
Sesampainya dirumah bu Fauziah. Rama mendapati sang ibu yang tengah termenung sendiri di balik jendela kamar yang terbuka.
"Assalamualaikum, Bu." Rama langsung masuk ke kamar karena sang ibu tidak mengunci pintu dan tidak menyahut dari tadi.
Bu Fauziah terperanjat kaget mendengar suara putranya.
"Waalaikum salam. Rama!" Bu Fauziah langsung memeluknya, dan berderai air mata.
"Baru sehari tanpamu, ibu sangat kesepian Rama. Ibu kangen sekali sama kamu." Bu Fauziah semakin mengeratkan pelukannya, seolah telah lama tak berjumpa demgan Rama.
"Ibu, tubuh Rama sakit sekali, ibu terlalu kencang memeluk Rama," keluh Rama.
Bu Fauziah tersenyum saat mengurai pelukannya.
"Maaf. Ibu sangat merindukanmu," kata bu Fauziah.
"Ibu tidak usah khawatir. Kami berdua sepakat untuk tinggal disini sama ibu," kata Rama.
"Benarkah?" Bu Fauziah melirik Laila.
Laila mengangguk seraya mengukir senyum indahnya.
"Kemari, Laila!" Bu Fauziah pun memeluk Erat Laila.
"Terimakasih, sayang. Tolong maafkan ibu yang telah bersikap buruk padamu!" kata bu Fauziah.
"Tidak apa-apa, Bu. Laila sangat memahami perasaan ibu," ucap Laila dengan lembut.
"Terimakasih, sayang. Ayo kita makan bersama, ibu akan masak makanan yang enak buat kalian. Hari ini ibu bahagia sekali," ucap bu Fauziah.
"Laila bantu masaknya, ya, Bu," tawar Laila dengan tersenyum.
"Tentu saja. Ayo! Pasti menyenangkan masak bareng menantu," ucap bu Fauziah penuh semangat.
Rama pun sangat bahagia melihat ibu dan Laila bisa seakrab seperti dulu.
'Terimakasih, Ya Allah, Atas semua anugrahmu' batin Rama penuh syukur.
Setelah mereka masak dan makan bersama Laila dan Rama pun pamit kembali ke rumah Aditama.
"Ibu, Rama dan Laila belum memberitahu bi Ira dan bunda Nesa, jika kami mau tinggal disini. Kami harus pulang dulu. Besok kami kembali," ucap Rama.
"Iya, Ram. Ibu akan menunggu kalian. Hati-hati di jalan ya."
"Iya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Bu Fuziah begitu bahagia, hari ini ia belanja banyak di warung untuk menyambut kedatangan Laila dan Rama besok. Tanpa sengaja bertemu pak Hadi, bu Fauziah langsung memberitahu pak Hadi perihal rencana Rama yang akan tinggal bersamanya.
Pak Hadi ikut bahagia. Namun, tiba-tiba wajahnya muram mengingat dirinya pun kini tinggal sendiri. Tak dapat di pungkiri ia pun berharap Nur dan Radit tinggal dirumahnya.
Saat Nur menghubungi pak Hadi, pak Hadi memberi tahu kabar Rama dan Laila yang akan tinggal dirumah bu Fauziah. Nur pun meminta Radit untuk tinggal di rumah bapaknya dengan alasan menemani bapaknya.
Namun, Radit memiliki perasan tak enak, saat melihat gelagat Nur yang berbeda. Radit justru khawatir Nur memiliki niat tak baik pada rumah tangga Rama dan Laila.
Radit berpikir cukup lama. Bahkan Radit menawari Nur membawa pak Hadi tinggal bersama dirumahnya. Namun, Nur menolak dengan alasan pak Hadi tidak akan meras nyaman. Akhirnya dengan terpaksa, Radit pun mengikuti kemauan Nur.
Bersambung ....