Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Radit Menemui Nur



***


"Apa? Itu artinya, Laila dan Rama bukan saudara?" kening Radit mengerut seketika.


Melihat kedatangan bi Ira yang menghampiri Nesa, Radit bersembunyi di balik dinding.


"Kak Nesa sedang apa? Kakak terlihat gelisah?" tanya Ira.


"I--Ira. Tidak, aku baik-baik saja, aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya agar Mas Adi segera pulih," bohong Nesa.


"Kak Adi harus segera di terapai, lebih baik besok kita panggil terapisnya ke rumah, biar ahli yang mendampingi, agar kak Adi segera membaik," ujar Ira.


"Kamu benar Ira, lebih cepat lebih baik. Besok akan kupanggil terapinyasnya kerumah," kata Nesa.


"Oh, ya. Dimana Laila dan yang lainnya?" tanya Ira.


"Mereka menemani mas Adi di atas," kata Nesa.


Bi Ira menghampiri mereka di kamar Aditama. Mengajak semua untuk makan bersama, karena bi Ira pikir mereka semua pasti belum makan sepulang kuliah.


Radit yang bersembunyi segera melanjutkan langkahnya ke tujuan semula, pergi ke toilet.


'Ini tidak mungin, bagaimana bisa Laila dan Rama bukan muhrim. Bukankah mereka satu ayah. Sepertinya bu Nesa menyembunyikan sesuatu, aku harus cari tau' batin Radit, saat di toilet.


Rama dan Laila beriringan berjalan menuju ruang makan. Laila semakin berani menggandeng tangan Rama sebagai kakaknya. Awalnya Rama tak ingin menerima. Namun, ada kenyamanan tersendiri yang tak bisa ia tolak saat Laila menggandengnya.


Api cemburu Radit kian membara sempurna, mencoba memahami sudah tak bisa ia lakukan, kewaspadaan kini tersirat di benaknya, rasa takut kehilangan Laila semakin besar.


Radit langsung membelah posisi keduanya, berjalan di tengah-tengah antara Rama dan Laila, melepas gandengan mereka.


"Katanya mau jauh-jauhan, tapi makin deket aja, ada yang cemburu nih," ungkap Radit dengan melirik Rama dan Laila bergantian.


Seketika Rama dan Laila menjadi salah tingkah, merasa tak enak dengan perkataan Radit. Raut wajah Rama dan Laila menegang.


"Eu ... kami ...." Laila tampak ragu mengatakan sesuatu.


"Dit, kita ...." Rama pun bingung harus mengatakan apa.


Tiba-tiba Radit tertawa.


"Ayolah, kenapa pada tegang gini, aku hanya bercanda," ucap Radit memecah ketegangan di wajah Laila dan Rama.


Mendengar ucapan Radit, wajah menegang sedikit mereda, Rama dan Laila berusaha mengukir senyum kaku.


"Kamu, senang sekali bercanda Dit. Aku pikir kamu benar-benar cemburu," ungkap Laila.


"Kalau begitu jangan buat aku cemburu, menjauhlah dari kakakmu ini, jangan biarkan calon kakak ipar dan adik ipar ini terlibat perselisihan karena cemburu," ucap Radit dengan bercanda.


Deg!


Seketika Rama dan Laila saling tatap, lalu melihat ke arah Radit berbarengan, mencari kebenaran dari mimik wajah yang di tunjukan Radit. Candaan ini terasa nyata bagi Laila dan Rama.


"Kalian menganggapku serius lagi. Ha-ha-ha ... sepertinya aku memang tidak pandai bercanda," ucap Radit di sela tawanya


"Enggak kok Dit, aku tau kalau kamu bercanda. Mana mungkin kamu serius cemburu pada kak Rama," ungkap Laial seraya tersenyum.


Radit melirik Laila.


'Tentu saja mungkin, aku benar-benar cemburu pada Rama, apa lagi setelah tau kalian bukan muhrim' Radit membatin.


***


Di rumah bu Fauziah tampak cemas menantikan kepulangan putranya. Selama ini Rama tak pernah sekalipun terlambat pulang ke rumah sehabis pulang kuliah.


Hanphone-nya pun tak bisa dihubungi.


"Kemana Rama, tumben sekali tak ada kabar darinya? Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya," gumam bu Fauziah.


Selang satu jam Rama kembali dari rumah Laila. Radit langsung mengantarnya kerumah karena jalanan macet. Motor bebek Rama di titipkan pada satpan kampus.


"Sorry ya, Ram. Besok pagi aku jemput kamu," ucap Radit yang tak bisa mengantar Rama mengambil motornya di kampus.


"Gak apa-apa Dit, makasih sudah nganterin,' ucap Rama.


"Oke." Rama melambaikan tangannya.


Ibu yang sudah cemas menanti kepulangan putranya langsung menghampiri Rama yang masih berada di lhalaman. Di tatapnya belakang mobil Radit yang sudah melaju agak jauh.


"Kamu dari mana saja? Kenapa tidak mengabari Ibu? Kamu baik-baik saja kan? Siapa dia? Dimana motormu?" Ibu celingukan mencari motor Rama yang tak ada.


"Assalamualaikum, Bu." Rama memberi salam terlebih dahulu sebelum menjawab serentetan pertanyaan ibunya.


"Waalaikum salam," jawab ibu.


"Kita ngobrol di dalam aja, biar enak." Rama meraih pundak sang ibu dan membimbingnya masuk kedalam.


"Cepat katakan, Rama! Kamu baik-baik saja kan?" Ibu tak sabar mendengar apa yang ingin Rama katakan.


"Ibu, bisa lihat kalau Rama baik-baik saja, Rama ada dihadapan ibu dengan utuh. Tenanglah." Rama mendudukan sang ibu di kursi di ikuti dirinya di sebalah sang ibu.


"Motor Rama aman, dititip pak di satpam. Rama juga baik-baik saja. Rama minta maaf gak sempet kabari ibu, karena handphone Rama lowbet gak sempet cas tadi di rumah Laila," ucap Rama.


"Apa? Jadi kamu dari rumah, Laila!? Yang tadi itu, Laila? Ngapain kamu kerumah, Laila?" tanya ibu penasaran.


"Yang tadi itu Radit, Bu. Tunangannya Laila. Ibu gah perlu panik. Insya Allah Rama dan Laila saling menerima taqdir ini, Bu. Rama kesana untuk ketemu pak Adi," jelas Rama.


"Aditama. kamu ketemu dia?" tanya ibu untuk meyakinkan.


Rama menganggukan kepalanya.


"Apa dia bersikap baik padamu?" tanya ibu lagi.


Rama menghela napas dan membuangnya perlahan.


"Rama tidak bisa menyimpulkan apa pun, Bu. Pak Adi terkena stoke." Rama menjelaskana.


"Innalillahi, Ya Allah." Bu Fauziah terkejut.


Rama menjelaskan keadaan Aditama yang tak bisa berbuat apapun, yang hanya bisa mengedipkan mata dan meneteskan air mata.


Seketika bu Fauziah meneteskan air mata merasa iba padanya, walau bagaimanapun sosok Adaitama pernah mengisi hatinya, meski tak berujung bahagia.


"Ibu, Rama sedih melihatnya. Rama ingin sekali memeluknya, tapi Rama tak berani, Bu. Rama ingin dia memelluk Rama dengan cinta dan kasih sayangnya, Rama tidak mau memaksakan kehendak sendiri," ucap Rama sedih.


"Sabar, Nak. Kita pasrahkan semua pada Allah. Mulai sekarang, ibu tidak akan melarangmu lagi, kamu sudah dewasa, kamu berhak mengambil keputusanmu sendiri. Ibu akan selalu berdo'a yang terbaiak utukmu," ucap ibu sendu.


"Terimakasih, Bu." Rama merasa lega.


***


"Permisi! Assalamualaikum." Terdengar seseorang mengcap salam di depan rumah pak Hadi.


Pak Hadi yang tengah berada di kamarnya segera berjalan menghampiri.


"Siapa pak? malam-malam begini?" tanya Nur yang juga keluar dari kamarnya karena mendengar suara ketukan pintu.


"Bapak tidak tau, ayo kita lihat!" Ajak pak Hadi.


Pak Hadi membuka pintu perlahan, ia terkejut melihat pria tampan dan gagah yang tak ia kenali, berdiri di depan pintu rumahnya.


Nur lebih terkejut lagi melihat pria yang tak jauh tampan dari Rama, yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah pria yang tadi bersama Laila. Dengan pakaian mewah yang bermerek terkenal Radit lebih terlihat tampan dan gagah di banding Rama yang berpenampilan sederhana.


Tampaknya Radit sengaja mengantar Rama kerumahnya bukan kekampus, demi untuk bisa mencari rumah Nur. Jalanan yang macet dijadikan alasan tepat yang mudah di mengerti Rama dan tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Entah dimana Radit memarkirkan mobilnya. yang jelas tersembuyi dari Rama.


Bersambung ....


Apa yang ingin dibicarakan Radit bersama Nur, ya?


Nantikan kelanjutannya ya readers❤❤❤


Terimakasih sudah setia membaca karya Author, setiap dukungan kalian adalah hal yang berharga bagi Author. tanpa kalian Author bukanlah apa-apa.


Salam sayang Author❤❤❤