
Semua keluarga tampak cemas, mereka tak bisa duduk dengan tenang sebelum mengetahui keadaan Laila.
"Kakak, bagaimana keadaan Laila?" tanya Ira yang sudah sampai disana.
"Kita belum tahu bagaimana kondisinya, dia masih di ruang IGD," jawab Aditama seraya memeluk sang adik. Nesa pun ikut memeluk adik iparnya itu yang begitu menyayangi Laila, dan bahkan lebih dekat dengannya.
Manik Mata Ira tiba-tiba menangkap keberadaan Rama di sana. Ira melepas pelukan dari kedua kakaknya, dan menghampiri suami keponakannya itu.
"Ini semua pasti karenamu, kamu sudah melukai hati Laila, kamu sudah menghianati kepercayaannya. Kenapa kamu tega menyakiti Laila?" Ira tiba-tiba marah pada Rama membuat semua orang yang melintas di sana memperhatikan mereka.
Rama hanya menunduk diam, tak menimpali tuduhan bi Ira.
"Ira, tenangkan dirimu!" Aditama menghampiri Ira dan merengkuhnya kembali dalam pelukannya.
"Dia sudah melukai hati keponakanku, kak!" ungkapnya dengan menangis. Ira belum tahu apa pun tentang wanita di masalalu Aditama yang ingin menghancurkan rumah tangga keponakannya itu.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, tenangkan dirimu, semua pasti baik baik saja." Aditama berusaha menenangkan adiknya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Laila sedang terluka," ungkap Ira.
"Percayalah semua akan baik-baik saja." Aditama menenangkan sang Adik kembali.
"Ira, kemarilah! Duduk bersamaku!" Nesa membimbing Ira duduk bersamanya.
"Kamu tidak perlu khawatir Anak kita perempuan yang kuat, dia pasti baik-baik saja," lanjut Nesa.
Sudah hampir satu jam setelah diperiksa dokter, Laila masih tak sadarkan diri. Hanya satu orang yang di perbolehkan menunggu di dalam ruangan. Rama mengelus lembut kepala sang istri netranya menatap nanar wajah perempuan yang sangat dia cintai itu.
"Aku tidak tau apa yang sedang terjadi pada kita, sayang. Aku marah sekali padamu, tapi hati ini sakit sekali melihatmu seperti ini, aku tak mau kehilanganmu. Bukalah matamu! Aku mohon! Maafkan aku sudah terpengaruh oleh mereka, mereka sudah merasuki pikiranku, seharusnya aku tanyakan padamu dan jelaskan semuanya." Rama menangis dihadapan sang istri yang masih terkulai lemah.
Disela ia mengutarakan isi hatinya, ia mengingat dua suster itu, dan apa yang dikatakan sang ayah tentang masa lalunya. Rama segera bangkit melangkah membuka pintu kamar pasien itu hendak mencari kedua perempuan yang sudah mengatakan hal-hal buruk tentang Laila dan Ferdi.
Rama mencari keluarganya, Namun tak satu pun tampak di depan ruangan Laila.Ia berniat menyuruh salah seorang menggantikannya dulu menunggu Laila di dalam.
"Hey, suster tunggu sebentar!" panggil Rama pada suster tersebut.
Suster itu sempat berpura-pura tak mendengar dan terus mempercepat langkahnya menghindari Kejaran Rama.
Rama tak kalah cepat melangkah demi menyusul sang suster, hingga berhasil mendahuluinya. Suster itu pun terlihat sedikit gugup saat Rama menatapnya. Mungkin dia menyadari kesalahannya saat tadi menyebut Rama sebagai suami Dokter Laila.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu," ungkapnya mencoba menutupi kegugupan yang sebenarnya sudah terlihat jelas oleh Rama.
"Bisa kita bicara sebentar!" pinta Rama.
"Maaf pak saya sedang sibuk, ada pasien yang harus saya tangani," bohongnya menghindari Rama.
"Hanya lima menit saja," paksa Rama.
"Maaf Pak, saya tidak bisa." Suster itu langsung melangkah pergi meninggalkan Rama.
"Anda tidak sedang menghindari saya 'kan suster?" tanya Rama seraya membalikan badannya.
Suster itu tersentak kaget dan menghentikan langkahnya sejenak. Saat Rama mencoba menghampirinya kembali ia berusaha untuk lari. Namun, Rama berhasil menarik tangannya.
"Kenapa menghindariku?" tanya Rama dengan kening yang mengerut.
"Saya tidak menghindari bapak, saya benar-benar harus merawat pasien saat ini," bohong suster itu lagi.
"Katakan padaku, dari mana kamu tahu kalau saya suami Dokter Laila?" tanya Rama dengan tatapan yang tajam.
Seketika mata suster itu membulat, tak menduga laki-laki di hadapannya akan menanyakan hal itu. Dengan segera ia menutupi ke gugupannya kembali agar tak semakin nampak.
Bersambung.....