Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Kecelakaan Aditama.



***


"Kamu mau pesan apa?" tanya Radit saat melihat menu di restauran favoritnya.


Laila tengah menepati janjinya untuk makan siang bersama Radit, di restauran favorite Radit.


"Terserah kamu, kamu 'kan lebih tau, makanan andalan restauran ini," kata Laila.


"Yakin, kamu bakal suka sama pesananku?" tanya Radit.


"Ya, siapa tau selera kita sama," kata Laila yang sebenarnya malas memesan makanan.


"Baiklah," ucap Radit.


Radit pun memesan makanan favoritnya, entah apa yang dia bisikan pada pelayan di hadapannya.


"Kenapa bisik-bisik? Awas ya kalau kamu ngapa-ngapain aku," kata Laila.


"Ya Allah, calon istri pikirannya gitu amat, tapi, emang benersih aku mau ngapa-ngapain kamu," kata Radit.


"Tuhkan, kalau begitu aku pulang." Laila berdiri untuk pergi.


"Tungu, mau kemana?" Radit meraih tanagan Laila dan menyuruhnya duduk lembali.


"Masa ia mau macem-macemin kamu bilang sih." Radit terkekeh.


"Bisa saja kan," ucap Laila dengan cemberut.


"Masya Allah cemberut aja cantiknya bikin jantungku mau copot, apa lagi jika senyum," goda Radit.


Tak sedikitpun Laila terpengaruh dengan godaan Radit tersebut. Dia masih cemberut dengan pemikirannya.


Tak lama pelayan datang dengan membawa sepiring besar makanan yang di hias berbentuk love, terlihat cantik dan indah. Ia meletakkannya di meja.


"Nih, yang aku bisikin sama pelayan," kata Radit sambil menggerakan matanya memunjuk piring.


"Ini, indah sekali. Tetapai, kenapa cuman satu?" tanya Laila.


"Itu dua porsi kujadikan satu, aku ingin makan sepiring berdua denganmu. Kamu tidak keberatan 'kan?" tanya Radit.


"Eu ... tapi ... kenapa sendoknya satu juga?" tanya Laila sedikit ragu.


Radit tersenyum seraya mengambil sendok tersebut. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya.


Disendoknya nasi berbentuk hati tersebut, dan mengarahkannya ke mulut Laila.


"Sengaja sendoknya satu, agar aku bisa menyuapimu, akan kulayani permaisuriku dengan segenap cinta dan kasihku," ucap Radit dengan menatap mesra Laila.


Laila menunduk malu dan gugup.


"_Please,_buka mulutmu, makanan ini gak ada racunnya, apa mau kamu dulu yang menyuapi aku makan?" tanya Radit.


Deg!


Seketika Laila mengangkat kepalanya.


"A--aku, aku menyuapi kamu?" Laila semakin dibuat gugup.


"Ya, kanapa tidak. Nih, ambillah!" Radit berusaha memberikan sendoknya pada Laila. Namun, Laila tetap diam dalam kegugupannya. Radit pun berdiri menghampiri Laila ia menyimpan sendok itu di tangan Laila, dan menggenggamnya dengan erat.


"Eu-- tolong lepaskan genggamannya, aku tak nyaman, aku bisa memegangnya sediri," pinta Laila dengan gugup.


"Gitu dong, tapi makasih, aku jadi punya kesempatan untuk menggenggam tangan indahmu itu," ucap Radit dengan tersenyum.


"Apaan sih, kamu jangan bikin aku malu terus dong," ucap Laila.


"Makanya cepet suapin aku, aku udah laper," ucap Radit.


Walau ragu-ragu akhirnya Laila pun menyuapi Radit, mereka bergantian saling menyuapi, suasana makan paling romantis yang membuat Radit bahagia saat ini. Perempuan mana pun akan meleleh diperlakukan seperti itu, lain halnya dengan Laila, entah sebeku apa hatinya ketika berpisah dengan Rama, suasana romantis seperti ini tak juga mencairkan hatinya.


Bu Fauziah mendapati Rama di kamarnya tengah berbaring menatap langit-langit kamar sambil tersenyum-senum sendiri. mengingat Laila yang menyapu bibirnya, dan kekonyolannya tadi yang hampir menyuapi Laila berbarengan dengan Radit. Spontanitas cinta memang tida bisa di duga.


'Meski itu salah, tetapi begitu indah. Entahlah, apa aku sanggup jika tidak bertemu denganmu. Jika Radit berhasil mencari alasan, maka aku harus bersiap untuk tidak melihat cintamu' batin Rama.


Takdir tidak pernah ada yang tau, cinta terus bersemi meski status saudara menghalangi. Memungkiri keduanya hanya akan menyiksa hati. Namun, menjalaninya akan ada hati yang tersakiti.


Satu hari Laila tak bertemu dengan Rama, itu karena Rama tak ada jadwal kuliah hari ini, ia tak mungkin menemui Rama di rumahnya, menahan Rindu sehari bagaikan rindu seabad, benarkah ini saudara? Apa kabar dengan Radit nantinya jika dia tau kenyataan tentang mereka yang sebenarnya tak ada hubungan darah. Akankah ia mempertahankan cintanya atau merelakan Laila bersama Rama.


Esok hari Laila tampak sedih, ketika Radit berbohong padanya, jika Rama tak ada jadwal kuliah lagi. padahal Rama tengah asyik duduk ditaman kampus dengan santai.


Rama yang melarang Radit membawa Laila ke hadapnnya. Namun, ia sendiri yang merindukannya, sudah hampir tak terhitung berapa kali Rama menengok kearah jalan, mengharapkan kemunculan Laila dengan lambayan tangan dan senyumnya yang indah.


"Hey, kenapa cemberut, kakakmu itu hari ini memang tidak ada jadwal kuliah," bohong Radit.


"Kamu ada nomornya? Aku mau menghubungiya pakai hanphone-mu, entah kenapa Rama belum membuka blokiran nomorku," kata Laila.


"Tunggu saja dia pasti membuka blokirannya, nanti aku chat dia aja ya, biar nanti dia langsung menghubungimu," kata Radit.


"Makasih ya, Dit."


"Sama-sama," ucap Radit.


Sepanjang perjalanan Laila tampak memejamkan matanya. Radit memperhatikan wajah cantik Laila yang indah di pandang mata, ingin sekali ia mengusap wajah Laila dengan lembut. Ketika hendak mengangkat tangan Laila membuka matanya.


Seketika Radit salah tingkah.


"Ada apa?" tanya Laila yang melihat Radit hampir mendekatkan tangan ke wajahnya.


"I--itu, ada sesuatu di keningmu. biar ku ambil," bohong Radit.


Saat tangan Radit mendarat di kening Laila Radit merasakan kening Laila yang demam.


"Laila, kamu demam?" tanya Radit dengan terkejut.


"Cuma sedikit aja kok," jawab Laila dengan santai.


"Hey, demammu ini tinggi sekali, ayo kita ke dokter!" ajak Radit.


"Tidak perlu Radit, aku baik-baik saja, sebentar lagi juga mereda, mungkin karena aku kurang tidur," kata Laila.


"Tidak bisa, ayo, kita ke dokter." Radit memutar arah mobilnya, dan Langsung membawa Laila ke dokter.


"Radit, aku baik-baik saja," ungKap Laila.


Radit tidak mempedulikan ucapan Laila, ia tetep membawa Laila ke dokter.


'Kenapa kamu begitu baik Radit, aku takut sekali memgecewakanmu. Rama, Rama, Rama. Sampai detik ini hanya ada nama itu di hatiku, aku tak bisa melepasnya' batin Laila.


Dering Ponsel tak berhenti dari tadi, Laila yang sedang melamun tidak menghiraukan bunyi gawianya itu.


"Laila!" Radit memanggil seraya menepuk bahu Laila perlahan.


Seketika Laila tersadar dari lamunannya.


"Maaf!" ucapnya.


"Hanphone-mu berdering dari tadi kenapa di biarin?" kata Radit.


"Rama!" Spontan ingatannya hanya pada pria yang tengah ia pikirkan dari tadi.


dengan segera ia memeriksa layar ponselnya.


"Bunda! Tidak biasanya bunda melakukan panggilan sebanyak ini, ada apa ya?" pikirnya.


"Angkatlah, mungkin penting," ucap Radit.


Dengan segera Laila mengangkat teleponnya. Namun tiba-tiba Laila menjatuhkan ponselnya dengan berderai air mata. Sesak terasa di dada mendengar sang ayah yang mengalami kecelakaan saat menuju pulang ke Indonesia. Beruntung Nesa tidak berada di mobil yang sama. Beliau dalam keadaan kritis di rumah sakit besar kota. Aditama mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan donor dengan cepat, satu kantong labu darah sudah masuk ketubuh Aditama. Namun, ia tetap tak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?" tanya Nesa dengan penuh kecemasan.


"Kita butuh satu kantong labu darah lagi, agar Pak Aditama bisa melewati masa kritisnya. Sebaiknya Anda cari dari pihak keluarga terdekat agar lebih cepat, karena stok di rumah sakit ini sedang habis dan pesanan baru akan tiba dua hari lagi, pak Adi tidak bisa menunggu selama itu, hanya ada waktu satu malam agar pak Aditama tetap hidup," Kata Dokter.


Bersambung ....


Siapa kira-kira yang akan mendonorkan darah pada Aditama?


Terimakasih sudah setia membaca. jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVOROTE dan RATE-NYA❤❤❤❤