
Nur tidak menyadari pak Hadi mendengar semua rencananya. Tanpa banyak bicara pak Hadi langsung mencari kedua pria tadi.
Setelah berkeliling mencari mereka, pak Hadi menyaksikan perbuatan keji yang akan dilakukan kedua laki-laki itu pada Laila. Laila tampak ketakutan berderai air mata dengan bajunya yang sudah dirobek oleh kedua pria suruhan Nur.
Pak Hadi yang kecewa pada putrinya, menghajar dua pria itu dengan membabi buta.
Pak Hadi yang hanya seorang diri hampir saja terkena pukulan salah satu dari mereka. Laila yang melihatnya segera mengambil batu yang ada di sebelahnya lalu dilemparnya pada pria itu tepat dikepala, membuat pria itu kesakitan.
Pak Hadi membalikan badannya dan Langsung memukul satu pria itu, keduanya lari terbirit-birit ketakutan menghadapi pak Hadi yang penuh amarah, melampiaskan kemarahannya pada sang putri.
Pak Hadi teriris pesih melihat keadaan Laila. Ia memakaikan jaket yang di kenakannya untuk menutupi baju Laila yang sudah robek.
"Tolong maafkan putri saya," ucap pak Hadi dengan lemas.
"A-apa maksud, Bapak?" tanya Laila yang masih terlihat ketakutan.
"Semua ini perbuatannya, fitnah itu pun perbuatannya, bapak kecewa padanya, dia dibutakan oleh cintanya terhadap Rama. Dia cemburu padamu. Tolong maafkan dia?" ucap pak Hadi penuh penyesalan.
"Bapak, sudah gagal mendidiknya. Bapak pasrah jika kamu mau melaporkannya kepada polisi, bapak sendiri yang akan menjadi saksinya," lanjut pak Hadi yang tak berhenti berderai air mata.
Laila shock, tak percaya ini semua perbuatan Nur. Matanya seketika mengalirkan buliran bening. Ingin sekali dia marah pada Nur. Namun, melihat pak Hadi yang tulus, berderai air mata, Laila merasa tak tega.
"Terimakasih. Bapak sudah melindungi saya. Pak Hadi adalah orang tua yang baik, jarang sekali orang tua seperti Anda. Banyak diantara mereka yang mendukung kejahatan anaknya demi membuat anaknya bahagia. Jujur saya kecewa pada Nur, tapi demi bapak saya tidak akan melaporkannya kepolisi," ucap Laila lalu mengusap air mata di pipinya.
"Masya Allah, Nak Laila. Terimakasih. Semoga Allah selalu melindungimu."
Pak Hadi pun mengantarkan Laila pulang.
Bi Ira shock melihat keadaan Laila yang berantakan. Bi Ira pun langsung memeluk Laila dengan khawatir. Saat bi Ira tau ini semua perbuatan Nur, bi Ira langsung mencarinya.
Laila berusaha mencegahnya. Namun, tidak bisa.
"Pak Hadi, cepat susul bibi! Laila takut bibi melakukan hal yang tidak di duga,"
"Biarlah bibimu melakukan apa yang dia mau, bapak sendiri begitu marah pada, Nur."
"Bapak, Laila mohon! Laila khawatir terjadi sesuatu pada, Nur,"
"Kamu menghawatirkan anak bapak, yang baru saja akan mencelakaimu. Bapak tidak percaya ini, Laila." Pak Hadi meneteskan air matanya kembali. Ia sungguh menyesali perbuatan putrinya.
"Semua manusia bisa khilaf , Pak, termasuk Nur yang begitu mencintai Rama. Saya pun khawatir bibi saya khilaf karena cintanya terhadap saya. Pergilah,Pak! Saya akan berganti pakaian, nanti saya menyusul. Tolong jangan lakukan apapun pada, Nur!" pinta Laila.
Pak Hadi pun segera menyusul bi Ira yang entah mencari Nur kemana. Nur tampaknya tak ada dirumah. Setelah berkeliling ternya Nur tengah berada di rumah bu Fauziah membantunya menyiapkan dagangan untuk sore ini.
Bi Ira yang kalap menampar Nur, dengan keras. Membuat bu Fauziah terkejut dan beristigfar.
Nur menjerit dan memegang pipinya yang terasa sakit.
Mendengar itu Rama pun keluar dari kamarnya.
"Ada apa ini?" tanya Rama dengan cemas.
"Perempuan pilihan ibumu ini, sungguh berhati iblis," ucap Bi Ira dengan menjambak kerudung yang dipakai Nur hingga terbuka.
"Astagfirullah Bu Ira, lepaskan!" bu Fauziah berusaha melerai dengan membantu Nur lepas dari bu Ira.
Bu Fauziah yang belum tau apapun memeluk Nur penuh rasa kasihan.
Nur begitu shock tiba-tiba di amuk bu Ira.
"Jelaskan pada kami, Bu Ira. Apa yang terjadi?" tanya Rama kembali.
"Tanya pada perempuan ini, apa yang dia lakukan pada, Laila?" tunjuk bi Ira pada Nur.
Mersa tak puas bi Ira ingin menampar Nur kembali. Namun Rama menghalangi.
"Jangan kamu halangi bu Ira, Rama," kata Pak Hadi yang tiba-tiba datang.
"Bapak!" Nur terkejut, bukannya melindunginya pak Hadi malah mendukung perbuatan bu Ira.
"Apa maksud, Bapak?" tanya Rama tak mengerti. Bu Fauziah pun ikut mengerutkan keningnya.
Jika saat ini bapak tidak melakukan apapun padamu Nur, itu atas permintaan Laila. Sejujurnya bapak pun ingin sekali menamparmu," jelas pak Hadi.
"Bapak, apa yang bapak katakan? Apa yang Nur lakukan pada Laila? Nur tidak melakukan apa pun pada Laila," dustanya.
"Jangan berbohong, Nur!" bentak pak Hadi.
"Nur tidak berbohong, Pak," akunya.
"Laila pasti memfitnah, Nur. Apa yang dikatakan Laila pada, Bapak? Kenapa bapak lebih mempercayai dia dari pada, Nur. Demi Allah Nur tidak melakukan apapun pada Laila," lanjut Nur bicara.
PLAKK!
Tamparan hebat pak Hadi mendarat di pipi Nur. Seketika Nur menjerit kesakitan.
Bu Ira dan bu Fauziah ikut menjerit. Rama pun tak kalah terkejutnya.
Penuturan nur membuat amarah pak Hadi kembali memanas seketika.
"Susah payah bapak menahan amarah ini, Nur. Kamu berani bersumpah atas nama Allah sementara kamu berdusta. Astagfirullah. Sepertinya, bapak telah salah mendidikmu. Bapak kecewa padamu, Nur," ucap Pak Hadi dengan kecewa.
"Ada yang bisa jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya bu Fauziah yang diikuti anggukan Rama.
Pak Hadi menghela napas panjang, dan membuangnya perlahan.
"Hari ini juga, saya minta maaf pada bu Fauziah dan kamu Rama. Dengan berat hati saya sendiri yang memutus pertunangan Nur dan Rama."
"Bapak!" Teriak Nur dengan kecewa.
Pak Hadi mengangkat tangannya. Memberi kode agar Nur diam.
Rama dan bu Ira semakin Heran.
"Saya malu, atas apa yang anak saya lakukan terhadap Laila, dia menyuruh dua pemuda menodai, Laila," jelas pak Hadi dengan menahan malu.
"Apa?!" bu Fauziah dan Rama terkejut.
Seketika Rama langsung merasa khawatir.
"La-Laila!" Rama langsung lari ke rumah bu Ira menghampiri Laila tanpa mendengar apa pun lagi.
'Bagaimana bapak tau ini' batin Nur.
Sementara bu Fauziah shock tak percaya.
"Bukan cuma itu, bu Fauziah. Dia juga yang sudah memfitnah Laila mengambil uang kotak amal mesjid," lanjut pak Hadi menjelaskan.
"Apa?" bu Faiziah melihat Nur tak percaya.
"Tidak, Bu, tidak. Bapak berbohong, bapak pasti dipengaruhi Laila, entah apa yang Laila katakan pada, Bapak," elak Nur.
"Nur!" bentak pak Hadi lagi.
Nur langsung memutar badan dan lari pulang kerumahnya, ia tak percaya bapaknya lebih membela Laila dari apada dirinya.
"Maafkan saya, Bu Fauziah." Pak Hadi pun pergi menyusul Nur.
Sedangkan bu Ira pergi meninggalkan bu Fauziah yang masih shock, karena khawatir terjadi fitnah lagi pada Laila sebab Rama yang mencari Laila kerumahnya saat tidak ada siapa-siapa.
Rama langsung memegang kedua pundak Laila dengan cemas.
"Ka-kamu baik-baik saja!" ucapnya dengan tatapan kekhawatiran.
Laila terkejut dan canggung, ini pertama kali pundaknya disentuh seorang pria. Namun, tatapan itu memberi Laila kenyamanan, hingga Laila yang ingin melepaskan tangan Rama dari pundaknya pun terlarut dalam tatapan indah Rama.
bersambung ...
reders tercintaku jangang sungkan tekan like dan komen juga fav dan rate-nya. biar Author tau siapa yang setia membaca karya sederhana otor ini. suatu saat otor ingin kasih give away buat pembaca setia yang beruntung. jangan lupa follow ya❤❤❤💪💪💪