
"Hey, sudah bicara sama bapak?" tanya Nur penasaran.
"Sudah," jawab Radit.
"Apa bapak mengerti keputusan kita?" tanya Nur tak sabar menunggu jawaban.
"Tentu saja. Bapakmu cukup pengertian," ucap Radit.
"Wah kamu bener-bener hebat. Jika aku yang menjelaskan bapak pasti ngotot. Terimakasih ya." Nur terlihat senang.
"Sama-sama," jawab Radit.
"Ngomong-ngomong, barang-barang ini mahal-mahal harganya. Beneran, kamu gak sayang ngeluarin uang sebanyak ini untukku?" tanya Nur seraya menatap Radit.
Radit tersenyum lucu. "Justru ini bentuk kasih sayangku padamu. Uang sebanyak apapun akan aku keluarkan untukmu. Apa kado ini masih kurang?" tanya Radit dengan menggerakan kepalanya.
"Tidak, ini cukup. Terimakasih," ucap Nur tidak enak. Kemudian mengukir senyum kakunya.
'Kasih sayang. Apa Radit menyayangiku? Kenapa tiba-tiba aku bahagia' batin Nur.
"Hey," Radit melambaykan tangan di wajah Nur, menyadarkan Nur dari lamunannya.
"Kapan kamu akan mendaptarkan gugatan ceraimu?" tanya Radit.
"Besok saja, lebih cepat lebih baik bukan," jawab Nur dengan cepat.
"Baiklah, besok kita daftarkan," jawab Radit mencoba bersikap santai.
Nur menganggukan kepalanya.
Radit merebahkan diri kembali di atas ranjang, dia menatap langit-langit seraya berkata, "Nur, kamu tahu tidak? Seperti Rama cinta pertamamu. Laila juga cinta pertamaku. Tak mudah melepasnya begitu saja. Namun, saat melihat Laila terluka, aku tak sanggup melihatnya, hatiku terasa sakit seakan merasakan sakit yang dia derita. ketika melihatnya bahagia aku pun ikut bahagia, seakan aku yang tengah berbahagia. Percayalah merelakan dia bahagia bersama Rama sungguh membuatku tenang, dan ikut merasa bahagia." Radit menghela napas menghentikan sejenak ucapannya.
Nur tampak mendengarkan.
"Aku juga ingin kamu bahagia. Jika tanpaku kamu akan bahagia, maka aku rela melepasmu, tanpa maksud mempermainkan pernikahan. Aku sudah cukup melindungi aibmu selama ini, aku bertanggung jawab atas kondisimu, dan aku sudah melakukan kewajibku. Semoga kamu bisa bahagia, dengan keputusan ini, Nur. Jujur, aku bukan tipe pemaksa kehendak, jika saja kamu ingin bertahan, aku akan mempertahankanmu," ucap Radit dengan lemah.
Nur hanya menunduk mendengarkan semua ucapan Radit.
***
Sementara Aditama membawa Rama dan Laila ke perusahaannya. Memperkenalkan Rama sebagai pemilik perusahaan yang baru. Satu persatu karyawan yang akan menjadi rekan kerjanya menyapa Rama dengan Ramah, termasuk Sandi orang kepercayaan pak Adi dan Wini sekertaris pak Adi. Wini menyapa dengan hangat, pakain seksi yang menunjukan belahan dadanya dan rok mini yang hampir memperlihatkan miliknya, membuat Rama tak nyaman. Seketika Rama menoleh sang istri yang mengeratkan genggaman tangan di jemari indahnya.
"Perkenalkan, Nama saya Wini, Pak." Sekertaris itu mengulurkan tangannya pada Rama.
"Senang berkenalan denganmu, Wini," ucap Rama seraya menyambut uluran tangan Wini.
"Ini Istri saya, Laila." Rama memperkenalkan Laila dengan bangga.
"Saya sudah tahu. Bu Laila putri pak Adi 'kan? Ibu pernah kesini bersama Bu Nesa," ucap Wini dengan ramah.
Laila mengangguk dengan ukiran senyum indah dibibirnya.
"Rama juga putra saya, dia satu-satunya pewaris perusahaan ini," sambung pak Adi dengan bangga.
Semua karyawan mengerutkan keningnya. Jika Laila putri pak Adi dan Rama putra pak Adi, bagaimana mereka jadi suami istri? Semua karyawan tertegun menunjukan wajah bingung mereka.
Melihat para karyawan yang tengah kebingungan pak Adi tersenyum mengerti. "Kalian tidak perlu memikirkan hal itu, itu urasan saya," ucap pak Adi menyadarkan mereka semua.
"Maaf, Pak," ucap mereka serempak.
"Baiklah, kalian kembali bekerja!" titah pak Adi dengan tegas.
"Baik, Pak." Semua karyawan mengangguk patuh pada perintah Aditama.
"Ayo, Ayah," jawab Laila dan Rama yang hanya menganggukan kepalanya.
Mereka berjalan beriringan. Laila tidak melepaskan gandengan tangannya dari Rama. Pak Adi tampak menunjukan arah ke setiap divisi satu persatu, menjelaskan semua tentang kinerja perusahaan, dari awal produksi sampai pemasaran.
Rama terlihat menganguk-anggukan kepalanya mengerti dengan semua yang dijelaskan Aditama.
Satu jam telah berlalu, mengelilingi perusahan yang kini menjadi milik Rama. Saat ini Rama masih menyerahkan pengelolaan pada Aditama dan orang kepercayaan ayahnya, sebelum dia menyelesaikan kuliahnya.
Setelah sampai dirumah Laila dan Rama berbincang di kamarnya. Laila tampak menyandarkan kepalanya dibahu sang suami yang tengah sama-sama berbaring setengah badan di atas tempat tidur.
"Sayang, kamu lihat tadi sekertaris ayah?" tanya Rama pada Laila.
"Iya, sayang. Kasihan dia, mungkin dia pakai baju anaknya atau adiknya yang masih usia lima tahun," jawab Laila asal.
Sontak Rama tertawa mendengar ucapan Laila yang asal bicara.
"Iya 'kan." Laila mengangkat kepalanya. "Kamu lihat sendiri bukan, roknya itu cuman satu jengkal dari pinggang, dan pakaiannya ...." Laila menggelengkan kepala dan berdecak miris, tak berani melanjutkan ucapannya.
"Kamu benar sayang. Aku jadi khawarir," ucap Rama.
"Khawatir?" Laila mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu yang khawatir, harusnya aku yang khawatir. Kamu akan berlama-lama dengannya, memandang tubuh seksinya, dan kalian hanya berdua diruangan itu." Tiba-tiba Laila menunjukan wajah cemberut.
"Ini yang aku khawatirkan. Istriku cemburu padanya," ucap Rama seraya memegang dagu lancip Laila.
"Akan tetapi, kamu tidak usah khawatir. Aku akan memintanya berpakaian tertutup. Jika dia tidak mau, aku akan cari sekertaris baru, dan kamu yang memilihnya untukku, sekertaris yang tidak akan membuatmu cemburu padaku," ucap Rama seraya menyimpan kepala Laila di dadanya.
Laila tersenyum kembali. "Terimakasih. I love you," ucap Laila dengan memandang Rama penuh cinta.
"I love you to." Tatapan indah Rama pun menembus mata indah Laila dengan segenap cinta dan kasih sayang tulusnya.
Pandangan mereka menenggelamkan mereka pada lautan harsat yang menggebu, tak berlama-lama, keduanya saling melabuhkan kecupan lembut yang membuay mereka pada keinginan yang lebih, hingga permaian sampai ke intinya.
***
Radit dan Nur pergi mendaftarkan perceraian mereka, tinggal menunggu surat panggilan pengadilan. Di perjalanan pulang Radit mengajak Nur ke restoran favoritnya.
Pesanan Radit, dengan cepat dihidangkan oleh para pelayan restoran itu. Nur membulatkan mata saat pelayan menyajikan makanan yang begitu banyak untuknya.
"Dit, mereka gak salah kasih pesanankan?" Nur mengedarkan pandangan, mencari meja yang banyak orangnya, dia tak melihat satu pun. Setiap meja hanya berisi dua atau tiga orang saja.
Radit tersenyum, melihat tingkah Nur.
"Ini pesananku, tak ada yang salah dengan pesanan ini," ucap Radit tanpa melepas senyumannya.
"Apa? Ini semua pesananmu? Ka-kamu mau makan semauanya?" Mata Nur semakin membulat.
"Kita! Kita berdua akan menghabiskan makanan ini," ucap Radit seraya mencicipi makanannya.
"Emm, lezat sekali. Cobalah!" anjur Radit.
Nur hanya diam, tak percaya dia harus menghabiskan makanan sebangyak ini bersama laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Melihat Nur yang masih terdian Radit mengambil makanan dan hendak disupkannya pada Nur. "Bukalah mulutmu, jangan diam saja. Setelah kamu mencoba rasanya, aku yakin makanan segini masih kurang buatmu," ucap Radit yang masih menyimpan tangannya di depan mulut Nur.
Nur penasaran dengan ucapan Radit, lalu membuka mulutnya menerima suapan Radit, benar saja makanannya sangat lezat. Nur tampak lebih terbuka dan menerima Radit setelah mendaptarkan perceraiaannya. Namun, ada rasa yang aneh mengganjal perasaan Nur, entah apa itu.
bersambung ....
Tetap stay disini ya reder, terimakasih sudah setia membaca karya otor🙏❤❤❤
Salam Sayang Author untuk kalian semua. Love you All❤❤❤