
Saat bi Ira telah pergi bekerja, Laila mulai kebingungan. Memutuskan untuk berbuka bersama di rumah bu Fauziah adalah kesalahan besar baginya, karena akan terus melihat Rama. Akhirnya, Laila putuskan untuk berbuka sendiri saja di rumah.
Di meja makan bu Fauziah mulai kepikiran Laila, yang tidak datang kerumahnya seperti biasa. Sebenarnya, sejak sore ibu gelisah memikirkannya.
Ibu berdiri hendak melangkah keluar.
"Mau kemana, Bu?" tanya Rama.
"Ibu mau manggil, Laila. Kasihan dia sendiri di rumah bu Ira," jelas ibu dengan khawatir.
"Tidak perlu, Bu! Bukankah ini keinginan ibu. Laila menjauh dari Rama. Biarkan dia di rumahnya sendiri, dia sudah dewasa. Untuk apa ibu mengkhawatirkannya?"
Deg!
Ibu merasa tersindir.
Jelas, meski apa pun yang Rama ucapkan pada ibu, Ia mengkhawatirkan Laila lebih dari ibu.
Ibu termenung, entah kenapa ia merasa kehilangan Laila.
"Ibu tidak mau kamu mencintai Laila, bukan berarti ibu tidak menyayanginya, ibu menganggapnya seperti putri ibu sendiri. Ibu harus menemuai Laila," kekeh ibu Lalu melangkah.
"Untuk apa, Bu? Untuk menyakiti perasaannya?" Pertanyaan Rama ini menghentikan langkah ibu.
Ibu terdiam kemudian membalikan badannya.
"Cukup, Bu! Biarkan Laila sendiri!" jelas Rama menatap sang ibu.
Ibu mengerti dengan apa yang di ucapkan Rama. Ibu sadar semua ini hanya akan melukai hatinya.
"Kamu benar, Ram. Ini hanya akan menyakiti perasaan Laila. Tolong maafkan keegoisan ibu ini!" Tiba-tiba ibu meneteskan air mata.
"Ibu!" Rama tak kuasa melihatnya. Ia menghela napas dan membuangnya.
"Tolong maafkan Rama, Bu. Rama tidak bermaksud berdebat dengan ibu. Rama hanya ingin mengutarakan isi hati Rama. Jujur, Rama--"
"Ibu memahami perasaamu," ucap ibu memotong ucapan Rama.
"Ayo! Kita lanjutkan berbuka," ucap ibu lalu duduk kembali.
Suasana hangat di meja makan kini tergantikan dengan kebisuan, keduanya diam dengan pemikiran masing-masing.
Malam semakin mencekam, gumpalan awan hitam melukiskan keadaan hati Rama dan Laila. Ditemani rembulan malam keduanya mengadu pada sang pemilik Lagit dan bumi.
Do'a yang ikhlas keluar dari mulut keduanya, sama-sama berserah diri pada takdir yang Allah tentukan.
Suatu hari Laila memberanikan diri ikut acara remaja mesjid. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi begitu saja.
Marbut mesjid yang tengah memeriksa kotak amal mesjid, dibuat kaget dengan keadaan kotak amal yang sudah rusak dan kosong tanpa ada isinya satu rupiah pun. Padahal, bulan lalu saat diperiksa sudah hampir terkumpul satu juta rupiah, bila di satukan dengan bulan ini maka jumlahnya akan lebih dari itu, dan marbut itu pun sudah memasukan kembali uang itu kedalam kotak bersama para saksi.
Ini kejadian pertamakalinya kehilangan uang kotak amal di mesjid.
"Kita periksa saja setiap remaja yang membawa tas disini. Mohon maaf, saya tidak bermaksud mencurigai," kata Nur sebagai ketua remaja masjid disana.
Akhirnya, semua tas remaja yang hadir hari itu pun diperiksa satu-persatu. Hal yang mengejutkan hampir membuat Laila tak bisa bernapas. Semua mata tertuju padanya saat uang berjumlah satu juta lebih yang sudah di ikat sera di tulisi oleh marbut itu (Rp.1 juta), juga uang recehan, dan banyak uang lembar kertas lainnya yang dilipat berada di dalam tas Laila.
Laila terpaku, matanya membulat sempurna. Ia benar-benar shock, spontan air mata berlinang di pipinya. "Apa ini?" ucapnya tak percaya.
"Laila! Kamu!" panggil Nur lebih terdengar sebagai tuduhan.
"Tidak, ini tidak mungkin," ucap Laila tidak percaya.
"Jadi, keponakan bu Ira pelakunya. Pertama kali hadir malah mencuri," tuduh salah satu remaja yang hadir disana.
"Tak sangka ya," ucap orang-orang yang berada di sana bersahutan.
Marbut mesjid terlihat tidak percaya, karena ia tau betul keponakan bu Ira ini bukan gadis yang kekurangan uang, bahkan sering sekali bu Ira memberikan sumbangan kepada mesjid dengan jumlah yang besar dari ayahnya Laila, bahkan dari Laila sendiri yang rajin menabung uang jajannya.
Laila tak kuasa, ia terus menangis mendapatkan tuduhan seperti ini, semua orang tengah membicarakan dirinya dengan kata-kata yang terdengar buruk.
"Tak kusangka, cantik-cantik, pencuri kotak amal." Kata-kata itu terdengar begitu menusuk hati Laila.
Laila masih terpaku, shock dengan apa yang terjadi.
"Tenang-tenang!" ucap marbut itu menenangkan.
Laila melirik dengan menyeka air matanya.
"Maaf, saya tidak mengerti kenapa kamu melakukan ini?" ucap marbut itu dengan berhati-hati.
Deg!
"Saya, tidak melakukannya, Pak. Saya tidak tau kenapa uang itu ada di tas saya," ucap Laila menjelaskan.
"Bohong ....! Huhhh ...!" cemooh orang-orang bersahutan.
"Muka aja cantik, sayang sekali tidak berakhlak," celetuk seseorang menghina Laila.
Laila menunduk sedih, tuduhan ini begitu menyakitkan.Entah siapa yang mencoba memfitnahnya seperti ini.
"Sudah, Pak. Jangan ijinkan dia datang kemesjid lagi, meresahkan," ucap seseorang.
"Benar, Pak. Benar!" sahut yang lainnya.
"Laila, Aku tidak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi, jujur aku tidak menyangka ini," tuduh Nur yang dari tadi hanya diam saja.
"Nur, aku tidak melakukannya, Nur. Percayalah!"
Tak ada seorang pun yang mempercayai Laila saat itu. Hanya marbut mesjid yang ragu jika Laila melakukan ini. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun, karena bukti saat ini yang berada tepat di hadapannya telah di saksikan oleh seluruh remaja mesjid yang hadir disana.
Laila tak kuasa dengan semua ini, ia langsung lari keluar mesjid tanpa membawa tasnya yang tergeletak disana.
Dengan perasaan yang hancur Laila lari sekencang-kencangnyanya. Rama yang tengah berjalan mengantar pesanan ke tetangga lain, saat membantu sang ibu berjualan, ditabrak Laila yang tidak bisa mengontrol dirinya.
Brukkkk!
"Awww!" pekik keduanya.
"Laila!"
Laila yang masih shock pun tak memperdulikan Rama, ia melanjutkan lari sampai lupa mengucapkan maaf pada Rama.
Rama dibuat kaget melihat wajah Laila yang sembab, berderai air mata.
"Laila! Apa yang terjadi padamu?" tanya Rama dengan berteriak, karena Laila telah berlari jauh.
Tak ada jawaban dari Laila.
"Dia tertangkap basah mencuri kotak amal mesjid," ucap Nur yang tiba-tiba datang.
"Apa!?" Rama terkejut luar bisa.
"Kamu bicara apa, Nur?" tanya Rama tak percaya.
"Semua orang sama terkejutnya sepertimu, bahkan aku sendiri tidak percaya. Akan tetapi, pada kenyataannya dia memang mencuri," jelas Nur.
"Ini pasti salah paham," kata Rama.
"Semua bukti ada di tasnya Rama. Apanya yang salah paham?" jelas Nur.
"Laila bukan orang yang kekurangan. Untuk apa dia mencuri kotak amal mesjid!" tegas Rama Pada Nur.
Mendengar pembelaan Rama pada Laila, Nur menjadi kesal.
"Semua orang menyaksikan ini, Rama. Kenapa kamu tidak percaya?"
Tiba-tiba Marbut mesjid pun datang bersamaan dengan kedatangan bi Ira yang sudah di telepon oleh marbut itu tadi.
"Apa yang terjadi pada keponakan saya, Pak?" tanya bi Ira dengan khawatir.
"Lebih baik kita bicara di rumah bu Ira, karena Laila pun sudah pulang tadi," jelas marbut itu.
"Baik, Pak," kata bu Ira.
Beberapa remaja mesjid yang menyaksikan kejadian tadi diminta untuk ikut kerumah bu Ira termasuk Nur. Rama yang penasaaran pun ikut ke rumah bu Ira.
Ibu yang melihat serombongan orang beramai-ramai berjalan menuju rumah bu Ira pun tertarik memperhatikan. Terlebih, ia melihat Rama putranya ikut serta berjalan menuju rumah bu Ira.
Bersambung ....