Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Tak Kunjung Pulang.



Rama segera memindahkan Wilona ke sofa. Segera ia mengambil minyak kayu putih di kotak P3K, di oleskannya di hidung dan kaki Wilona, berharap Wilona segera sadarkan diri.


"Wil, Wil! Sadar Wil." Rama menggoyangkan tubuh Wilona perlahan. Namun, Wilona tak juga bangun.


"Laila! Aku harus meminta bantuannya," gumam Rama kemudian.


Belum sempat menekan tombol bergambar telepon, Wilona sadarkan diri. Rama pun mengurungkan diri untuk menelepon istrinya.


"Alhamdulilah Wil, akhirnya kamu sadar," ucap Rama penuh syukur.


"Eu, saya kenapa ya pak?" tanya Wilona.


"Kamu pingsan, sepertinya kamu kelelahan. Sebaiknya kita pulang. Mari kuantar," ucap Rama.


"Tidak perlu Pak, ini sudah jam sepuluh malam. Istri bapak pasti sudah menunggu Bapak," ucap Wilona.


"Tidak apa-apa, saya harus bertanggung jawab padamu. Kamu kelelahan karena saya mengajakmu lembur sampai selarut ini," ucap Rama.


Wilona mencoba bagkit dari tempat duduknya, namun ia tak bisa berjalan dengan baik, ia sempoyongan, karena merasa pusing.


"Wil, kamu gak apa-apa?" Rama mencoba memapahnya. "Maaf," ucap Rama saat memegang bahu Wilona.


"Kamu bisa naik motor? Jika tidak, aku akan pesan taksi saja," ucap Rama.


"Tidak perlu pak, saya bisa," ucap Wilona.


Rama segera mengambil motor dan menyalakannya. "Kamu bisa naik kan?" tanya Rama seraya menggunakan helmnya.


"Iya Pak, saya bisa," ucap Wilona.


Rama segera melajukan motornya perlahan. Di pertengahan jalan tiba-tiba Wilona hampir terjengkang ke belakang. Rama menghentikan lajunya.


"Wil, kamu gak apa-apa?" tanya Rama.


"Aku pusing. Maaf Pak, boleh saya pegangan ke pinggang Bapak?" tanya Wilona.


Rama terhenyak dengan pertanyaan itu, dia terpaku tak menjawabnya.


"Tidak, apa-apa, Pak. Jika bapak keberatan, saya bisa pegangan ke besi belakang," ucap Wilona yang melihat Rama keberatan.


"Eu, Wilona. Jika kamu mau pegangan ke pinggang saya tidak apa-apa. Saya paham kamu sedang sakit," ucap Rama.


"Teima kasih pak," ucap Wilona.


Dengan berah hati Rama mengijinkan Wilona, ia khawatir terjadi sesuatu padanya. Sebagai bosnya dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Wilona.


Wilona menyimpan tangannya di pinggang Rama perlahan dengan ragu. Hingga tiba-tiba ada motor menyerempetnya, membuat tangan Wilona lolos melingkar di perut Rama karena terkejut.


"Maaf, Pak," ucap Wilona.


Rama terkejut, ia tak nyaman dengan keadaan ini, ingin sekali cepat sampai kerumah Wilona, dan terbebas dari rasa bersalah ini.


Sesampainya di rumah kontrakan Wilona. Wilona jatuh pingsan kembali. Rama semakin bingung dengan apa yang terjadi padanya. Ia mengangkat Wilona ke atas tempat tidurnya dan segera merogoh saku celananya mengambil handphone.


Entah kemana larinya handphone itu, Rama tak bisa menemukannya.


"Sial, dimana handphone-nya," kata Rama dengan wajah yang cemas.


"Wil, bangun, Wil." Rama terus berusaha membangunkan Wilona. Dilihatnya jam tangan pemberian Laila yang sejak dulu tak pernah lepasa dari tangannya, sudah menunjukan pukul sebelas malam.


"Ya Allah. Laila pasti menungguku," gumam Rama dengan cemas.


Waktu terus berlalu tiga puluh menit Rama lalui hanya dengan menunggu Wilona sadar, ia sudah melakukan berbagai hal, sayangnya Wilona masih belum sadarkan diri.


"Ya Allah, aku harus minta bantuan siapa, ini sudah larut," gumam Rama seraya melihat ke luar berharap ada orang lewat yang bisa dimintai pertolongan. Namun sayangnyabtak satu pun orang melintas disana selarut ini.


Rama yang putus asa pun menjatuhkan diri di kursi kecil samping pintu keluar, berharap ada yang datang molongnya.


Tiba-tiba terpikir dibenak Rama untuk mencari handphone Wilona. Ia mencari di dalam tas Wilona namun tak menemukan benda itu.


"Sial. Tidak mungkin aku merogohnya disitu," ucap Rama dengan prustasi.


"Akan tetapi, jika aku tidak melakukannya. Laila akan cemas padaku. Aku harus menghubunginya," ucap Rama.


Dengan hati yang semakin gelisah, Rama memberanikan diri mengambil handphone Wilona. Saat Rama baru akan meletakan tangannya di bagian belakang tubuh Wanita itu, ia terperanjat bangun sadarkan diri.


"Pak Rama, apa yang mau Bapak lakulan padaku?" Wilona meringkukan kaki melindungi dirinya.


"Wil, syukurlah kamu bangun. Maafkan saya saya tidak bermaksud apa-apa. Saya mau pinjem handphon kamu untuk menghubungi istri saya."Rama mencoba menjelaskan keadaannya.


Wilona menyadari handphonnya yang ada di saku celana belakangnya dan mempercayai semua omongan Rama.


"Maafkan saya Pak, pasti bapak mencemaskan istri bapak. Ini teleponlah," ucap Wilona seraya menyerahkan handphonnya pada Rama.


"Syukurlah kamu tidak salah paham padaku," ucap Rama sambil mengambil handphone milik Wilona.


"Kamu punya nomor telepon istriku?" tanya Rama.


"Tidak, Pak," jawab Wilona sambil menggelengkan kepalnya.


"Akh, lalu bagaimana aku bisa menghubunginya. Sial." Rama tampak prustasi.


"Eu, maafkan saya, Pak. Gara-gara saya Bapak jadi seperti ini," ucap Wilona seraya menunduk menyesal.


"Tidak, apa-apa Wil, tapi sekarang kamu sudah baikan 'kan?" tanya Rama sambil melihat wajah Wilona.


"Iya, Pak, sekarang saya sudah membaik. Lebih baik bapak segera pulang. Terimakasih sudah menolong saya, mudah-mudahan istri bapak tidak marah," ucap Wilona dengan lembut.


"Semoga saja istri saya mengerti. Saya pulang dulu ya Wil. Kamu istirahat saja, besok kamu boleh ambil cuti, pulihkan dulu badanmu, jangan samapai kamu pingsan lagi," ucap Rama.


"Iya Pak, terimakasih," ucap Wilona.


Rama segera beranjak dari sana. Wilona mengantarkannya hingga kedepan pintu. Lagi-lagi kesialan menimpa Rama. Ban motornya terlihat kempes.


"Sial!" Rama semakin prustasi seraya memukul motornya.


"Kenapa pak?" tanya Wilona.


"Ban motornya kempes," jawab Rama.


"Kempes? Gimana dong pak? Ini sudah jam dua belas malam. Di sini tidak ada kendaraan umum di jam jam segini," ucap Wilona.


Rama hanya menunduk tak bisa mengatakan apapun lagi.


Di sebuah kamar kecil, Laila tampak gundah menunggu kepulangan sang suami, berkali-kali menghubungi hanphone-nya hanya mendapatkan jawaban dari operator.


Satpam kantor yang di hubungi Laila mengatakan jika suaminya sudah pulang bersama Wilona sejak jam sepuluh tadi. Berbagai pertanyaan berkumpul di benak Laila.


Kemana, dimana, sedang apa, apa yang terjadi. Semua itu terus menggelayuti pikirannya.


"Kemana suamiku? Semoga dia baik-baik saja? Apa dia mengantar Wilona kerumahnya? Tapi kenapa jam segini belum pulang? Apa jangan-jangan mereka ... Oh tidak Ya Allah jangan biarkan aku berpikiran buruk pada mereka. Astagfirullah haladzim, jauhkan pikiran burukku ini ya Allah." Laila mondar-mandir di kamarnya dadanya mulai terasa sesak, kekhawatiran tanda tanya dan rasa curiga bercampur menjadi satu.


Laila pergi ke kamar bu Fauziah, yang tampaknya sama tengah menunggu kepulangan sang putra.


"Ibu, Rama belum pulang juga." Laila menghampiri sang ibu mertua.


"Beberapa hari ini Rama sering pulang malam. Ini malam terlarut dia pulang, sudah jam satu dini hari dia tak juga datang, ibu khawatir terjadi sesuatu padanya," ucap Fauziah.


"Kita harus tenang, Bu. Rama pasti baik-baik saja," ucap Laila menenangkan Fauziah.


Laila dan Fauziah memutuskan untuk menunggu Rama bersama di ruang tamu. Tak terasa mata mereka terpejam di tempat itu. Hingga terdengar lantunan Adzan subuh, keduanya pun terbangun menggisik mata.


"Rama! Apa dia belum pulang juga?" tanya Fauziah yang masih menggisik matanya.


Laila menggelengkan kepanya, lalu mencoba melihatnya kekamar, kamar pun masih kosong tidak ada siapa-siapa.


Bersambung ....