Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Perdebatan



Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku tidak menyangka kamu adiknya Aditama. Andai dulu kita sempat bertemu, ini semua pasti tidak akan terjadi, tidak akan kubiarkan Rama jatuh cinta pada Laila," kata bu Fauziah.


"Itu yang ingin saya bicarakan, perihal Rama dan Laila. Bolehkah saya masuk sebentar?" tanya bi Ira.


"Baiklah, silahkan masuk," kata bu Fauziah.


Bi ira pun masuk kedalam.


"Laila sangat mencintai Rama, tolong jangan pisahkan mereka," kata bi Ira.


"Bagaimana bisa bu Ira berkata seperti itu? Laila dan Rama adik kakak, tentu saja mereka harus dipisahkan," kata bu Fauziah.


"Jadi, Laila dan Rama benar-benar bersaudara!" kata bi Ira.


"Apa bu Ira juga berpikir Rama anak hasil selingkuhan!" Bu Fauziah tersudut emosi.


"Maaf, saya tidak bermaksud, bu Fauziah. Saya hanya ingin memastikan. Laila begitu mencintai Rama ia berharap jika mereka tidak bersaudara. Kak Adi tetap kekeh jika Rama anak hasil perselingkuhan bu Fauziah dan Hendra, itu membuat Laila terus berharap bisa bersatu dengan Rama. Saya percaya sama semua perkataan bu Fauziah, saya akan mencoba memberi pengertian pada, Laila," jelas bi Ira.


Bu Fauziah tersenyum sinis.


"Sebaiknya memang begitu, tapi apa bu Ira yakin Laila sangat mencintai Rama?" tanya bu Fauziah.


"Tentu saja," jawab Bi Ira.


"Lalu kenapa dia menerima lamaran lain selain Rama? Orang kaya memang senang mempermainkan perasaan orang miskin. Aku senang Laila dan Rama bersaudara, itu artinya mereka tidak bisa bersatu. Jika tidak, Ramaku akan diinjak harga dirinya oleh Laila," bu Fauzia Emosi kembali.


"Bu, Fauzih! Kenapa Ibu bicara seperti itu? Laila perempuan yang baik, dia tidak mungkin menginjak harga diri Rama," bela bi Ira.


"Pemepuan baik tidak akan menerima dua laki-laki sekaligus!" tutur bu Fauziah dengan menekan suaranya.


"Ini semua salah paham, Bu Fauziah," kata bi Ira.


"Aku tidak mau tau semua itu. Aku hanya percaya dengan apa yang aku saksikan saat itu," ucap bu Fauziah.


"Apa yang Ibu saksikan belum tentu yang sebenarnya," kata bi Ira.


"Itu kenyataannya, bu Ira! Apa yang aku khawatirkan terhadap Rama, akhirnya terjadi," kata bu Fauziah.


"Itu tidak benar, Bu Fauziah!" Bi Ira menekan suaranya, tak terima jika Laila dihina oleh bu Fauziah.


"Lebih baik bu Ira pergi dari rumahku! Aku tidak ingin berdebat dengan bu Ira!" usir bu Fauziah.


"Bu Fauziah, aku harap kita bisa bicara tanpa emosi, kita bukan anak kecil lagi," kata bi Ira.


"Maafkan saya bu Ira, saya tidak bisa bicarakan ini lagi. Saya harap Laila dan Rama tidak bertemu lagi, meskipun mereka saudara. Aku ingin melupakan kenangan pahit masa laluku," tutur bu Fauziah.


Rama mendengarkan semua perdebatan bu Ira dan ibunya dikamar, ia menangis tak kuasa menerima kenyatan hidupnya. Mengetahui perempuan yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Seketika ia harus menghempaskan harapannya hidup bersama Laila.


Bi Ira kembali dengan kenyataan yang pahit. Laila harus menerima kenyaan jika Rama adalah saudaranya.


Laila menangis dipelukan sang bibi, melepaskan semua harapannya untuk bisa bersatu dengan Rama.


"Bagaimana caranya Laila melupakan Rama, bi. Laila sangat mencintai Rama," jelas Laila.


"Kamu harus bisa Laila, dia kakakmu. Takdir tidak mengijinkan kalian untuk bersatu.Terimalah pertunanganmu dan Radit dia akan membantumu melupakan Rama," kata bi Ira.


"Akan tetapi, ayah bilang--"


"Jangan berpikiran seperti ayahmu, bu Fauziah perempuan yang baik, ayahmu hanya salah paham padanya," jelas bi Ira.


Laila semakin menangis histeris.


Nesa yang mendengar percakapan bibi dan keponakannya itu pun menitikan air mata.


'Laila, maafkan ibu, ibu tidak bisa menentang ayahmu. Semoga Radit bisa memberi kebahagiaan padamu'


***


Nesa masih penasaran dengan sosok perempuan yang datang kerumahnya itu, yang belum sempat ia tanyakan pada sang suami. Kini Nesa meluapkan semua rasa penasarannya pada Aditama.


"Siapa sebenarnya perempuan itu?" tanya Nesa dengan penassaran.


"Jadi, dia perempuan yang kamu ceritakan padaku waktu itu?" tanya Nesa kembali.


Aditama menganggukan kepalanya.


"Saat itu aku lihat kamu begitu mencintainya, kenapa sekarang kamu seolah membencinya?"


"Karena aku pikir, anak dalam kandungannya adalah anak Hendra bukan anakku," kata Aditama.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, mungkin saja dia benar anakmu," kata Nesa.


"Jika dia anakku, kenapa dia lari meminta perlindungan Hendra bahkan sampai mereka menikah. Hendra juga tidak mungkin mau menikahinya jika anak itu bukan anaknya." jelas Aditama.


"Kamu juga bukan ayah Laila, tpi kamu mau menikahiku. Hendra pun bisa melakukan itu karena dia mencintai Fauziah," jelas Nesa.


"Kita jelas beda, kita tidak saling mengenal, dan aku merasa iba padamu, tetapi Hendra sangat mencintai Fauziah, aku curiga mereka memiliki hubungan di belakangku," jelas Aditama.


"Adi kenapa pikiranmu dan aku berbanding terbalik, jika kamu saja yang tidak mengenalku rela berkorban menikahiku, apalagi Hendra yang mencintai Fauziah," jelas Nesa.


"Sudahlah Nesa. Aku terlanjur membancinya," kata Aditama.


"Terlanjur membencinya karena kamu sangat mencintainnya Adi!" tegas Nesa.


Deg!


"Apa maksudmu?"


"Lukamu teramat dalam, begitu pun Fauziah. Masih ada rasa di hati kalian. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubur luka. Namun luka itu masih saja menyiksa kalian," kata Nesa.


"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Aditama.


"Selama itu harusnya kalian bisa saling mengikhlaskan, tapi kalian masih menyimpan beban, itu artinya kalian masih saling menaruh rasa," ujar Nesa.


"Kalian sudah tua, kalian bisa membuang ego demi anak kalian. Tampaknya Laila dan Rama saling mencintai, tapi kamu tetap melanjutkan perjodohannya dengan Radit. Kenapa tidak membiarkan Rama dan Laila bersatu. Mau Rama anakmu atau pun Hendra, Laila tetap bukan darah dagingmu," lanjut Nesa bicara.


"Jangan katakan apa pun pada Laila, biarkan mereka berpikir mereka adalah saudara, aku tidak mau mereka bersatu. Laila akan tetap bertunangan dengan Radit," kata Aditama.


Nesa terkejut mendengarnya.


"Adi, kenapa kamu egois, kamu lihat Laila begitu terluka," kata Nesa.


"Apa kamu tidak menyayangi Laila, atau karena kamu masih ingin bersatu dengan Fauziah." Tiba-tiba muncul rasa cemburu di hati Nesa.


Deg!


"Kamu cemburu padanya?" tanya Aditama.


"Tidak, aku hanya menduga-duga, untuk apa aku cemburu," Elaknya. "Aku tau kamu tidak pernah mencintaiku, kamu hanya merasa iba padaku. Mungkin sekarang aku harus bersiap jika kamu kembali padanya," lanjut Nesa.


"Nesa, itu dua puluh tahun yang lalu, sekarang aku mencintaimu," tutur Aditama.


"Jika kamu mencintaiku, biarkan Laila dan Rama bersatu. Kamu tau rasanya terpisah dari orang yang kita cintai, jadikanlah pengalaman kita itu sebuah pelajaran. Buanglah keegoisanmu," ucap Nesa.


"Sudahlah, ini hari yang Firti. Aku tidak mau berdebat. Ingat jangan katakan apapun pada Laila juga Ira. Ira sangat menyayangi Laila, dia akan memperjuangkan cinta mereka jika tau Laila dan Rama bukan saudara. Tugasmu meyakinkan mereka jika mereka adalah saudara," Kekeh Aditama mengingatkan Nesa.


"Akan tetapi, aku juga ibunya, aku ingin putriku bahagia bersama laki-laki yang mencintainya," ujar Nesa.


"Dulu aku mencintai Fauziah, apa itu menjamin kebahagiannya. Aku bahkan menikahimu tanpa cinta, apa kamu tidak bahagia hidup bersamaku," ujar Aditama.


"Akan tetapi--"


Aditama mengangkat tangannya, memotong Nesa agar berhenti bicara.


"Aku tidak mau ada pertengkaran diantara kita, hidup kita cukup damai selama ini, jangan sampai kehadiran Rama dan Fauzih mengusik rumah tangga kita," ujar Aditama lalu pergi meninggalkan Nesa.


bersambung ...


Sudah membaca, jangan lupa Like, komen, serta favorit dan rate-nya ya. beri Author semangat dengan Apresiasimu.❤❤❤


Terimakasih sudah membaca karya saya🙏❤