
"Kamu di mana, Rama?" gumam Laila lirih.
Ibu mengusap punggung Laila, mencoba menenangkannya, meski dirinya sendiri kini sama gelisahnya dengan Laila.
"Kita sholat dulu, setelah itu kita cari Rama bareng-bareng ya," ucap Fauziah.
Laila menganggukan kepalanya dan pergi ke kamar mandi segera mengambil air wudu. Dilaksanakannya shalat subuh dan tak lupa memanjatkan do'a.
Setelah selesai shalat, kedua wanita ini segera bersiap untuk mencari laki-laki yang mereka sayangi.
Laila yang sudah di depan menunggu ibu, terhenyak saat terdengan deru mesin motor berhenti di depan rumahnya. Segera ia gerakan kepalanya menoleh arah suara motor yang tak di kenalnya. Ternyata itu motor gojek yang dipesan Rama.
"Rama!" seru Laila seraya melanglah menghampiri sang suami dan langsung memeluknya. "Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Laila penuh rasa syukur.
"Ibu. Rama pulang, Bu!" panggil Laila pada ibu yang masih ada di kamarnya. Dengan segera sang ibu melangkahkan kakinya keluar menghampiri putranya.
"Rama! Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Fauziah seraya memeluk putranya. "Ayo masuk, ceritakan apa yang terjadi sampai kamu tak pulang kerumah." Fauziah menarik sang putra masuk kedalam tak sabar ingin mendengar alasan dibalik ketidak pulangannya.
Laila mengikuti mereka di belakang, tiba-tiba sesak terasa di dada, saat netranya menangkap sebuah lukisan indah berbentuk bibir berwarna merah di bagian punggung baju yang dikenakan suaminya.
Satu tetes air mata, lolos melintas di pipinya. Kecurigaan hadir setelah kekhawatiran hilang dari benaknya. Ia mencoba menahan diri, dan menghapus air matanya, tak ingin berprasangka buruk sebelum mendengarkan penjelasan dari suaminya.
Laila duduk disamping sang suami yang berhadapan dengan sang ibu mertua. Ia membiarkan ibu yang mewakili setiap pertanyaan di benaknya.
"Katakan pada Ibu! Kenapa kamu baru pulang?" tanya ibu penuh intimidasi.
"Rama di rumah Wilona, Bu," jawab Rama dengan jujur seraya melirik sang ibu dan sang istri bergantian.
"Di rumah Wilona!" kedua wanita ini serempak dengan terkejut.
"Tolong jangan salah paham dulu!" pinta Rama seraya memegang tangan sang istri, khawatir dia berpikir yang tidak-tidak.
"Apa yang kamu lakulan dengan perempuan itu, Rama?" Tiba-tiba ibu meradang.
"Tidak ada, Bu. Tolong Ibu tenang!" pinta Rama.
Laila tiba-tiba berkaca-kaca. Apa lagi yang dipikirkan perempuan jika suaminya semalaman bersama perempuan lain hanya berdua saja, hingga meninggalkan lukisan bibir di baju suaminya. Seketika Laila melepas tangan Rama yang tengah menggenggamnya.
"Laila! Wilona sakit," celetuk Rama seraya meraih tangan sang istri kembali.
Spontan Laila mengararahkan pandangannya pada netra sang suami. Mencari kejujuran dari ucapnnya itu.
"Tolong jangan berprasangka buruk padaku!" ucap Rama dengan sungguh-sungguh seraya membalas tatapan sang istri dengan penuh harap.
Tatapan mata itu masih terlihat jujur, tapi bekas lipstik itu menanamkan keraguan dihatinya.
"Wilona sakit apa?" tanya Laila dengan menahan sesak.
Rama menceritakan saat Wilona pingsan hingga membuat dirinya harus mengantarnya pulang, dan saat dirinya tak bisa pulang karena ban motor yang kempes.
Fauziah mengenal benar seperti apa putranya, ia percaya dengan apa yang dikatakan Rama. Namun Laila masih menyimpan keraguan di benaknya.
"Ya sudah kamu istirahat. Ke kantornya siang saja. Kamu pasti tidak nyenyak tidur di rumah orang," ucap Fauzih. "Laila. Siapkan dulu keperluan suamimu sebelum berangkat ke rumah sakit ya," ucap Ibu.
"Iya, Bu." Laila mengangguk seraya berusaha mengukir senyum.
Ibu pergi ke kamarnya, begitupun Laila dan Rama. Laila membantu Rama mengganti pakaiannya dengan bayang-bayang yang buruk di benaknya.
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Laila setelah membuka kemeja sang suami.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Rama seraya membalikan badannya.
"Apa kamu tidak menutupi sesuatu dariku?" tanya Laila yang mulai berkaca-kaca kembali.
"Apa maksudmu?" tanya Rama yang terkejut dengan pertanyaan Laila.
"Aku ingin kejujuranmu," ucap Laila dengan tatapan yang menusuk tajam di benak Rama.
"Jadi, kamu tidak percaya padaku?" tanya Rama dengan manatap Laila.
"Jelaskan ini padaku!" pinta Laila seraya menunjukan bekas lipstik yang menempel di kemeja suaminya.
Rama terkejut luar biasa, matanya mebulat sempurna saat meraih baju itu dan ada lukisan bibir merah yang ia sendiri tak sadari. "Lipstik," ucapnya tak percaya.
Jelas saja Laila tidak mempercayainya. Perempuan mana yang tak curiga melihat ini semua. Saking khawatirnya Rama segera memeluk sang istri.
Sontak air mata Laila mengalir begiti saja.
"Percayalah padaku. Aku sendiri tidak tau kenapa lipstik itu ada di bajuku. Aku mohon jangan curigai aku seperti ini. Kamu tahu aku begitu sangat mencintaimu, sayang. Percayalah padaku," ucap Rama dengan sungguh-sungguh.
"Aku ingin percaya padamu, tapi hati ini begitu sesak saat membayangkan lipstrik itu mendarat di bajumu, entah bagaimana caranya," ucap Laila terisak.
"Tidak. Jangan pernah mebayangkan apapun, itu ketidak sengajaan, aku sendiri tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi," ucap Rama meyakinkan Laila seraya menghapus setiap air mata yang melintas di pipi sang istri.
"Manamungkin bisa, kamu tak menyadarinya?"
Bersambuang ....