Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Pulang Ke Rumah Aditama



Selang beberapa jam Laila sadarkan diri. Ia memegang kepalanya yang terasa berat sekali. Dia mencari Ferdi sang pemilik rumah yang entah di mana keberadaannya saat ni.


Laila turun dari ranjang memutuskan untuk mencarinya karena dia ingin sekali pulang.


Perlahan langkah kakinya keluar dari kamar itu menyusuri lorong yang luas dengan lampu penerangan yang temaram, hingga kakinya sampai di sebuah kamar yang tampak terang sekali. Terdengar canda tawa beberapa orang, salah satunya adalah suara Ferdi, terdengar pula suara tawa dua perempuan yang berbeda. Satu suara terdengar tua dan satu suara tedengar masih muda.


"Kalian berdua hebat sekali, Ibu bangga pada kalian. Hahaha ...." Terdengar wanita tua bicara di akhiri tawa.


"Tenang saja Bu, kita berdua tidak akan mengecewakan Ibu." Kini suara Ferdi terdengar jelas.


"Wil--"


Prang!


ucapan perempuan satunya lagi terpotong oleh Laila yang menjatuhkan nampan yang ada di meja entah sejak kapan.


Dengan langkah yang cepat Ferdi menghampiri arah suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat Laila ada di depan pintu kamarnya. Wajahnya terlihat cemas karena khawatir Laila mendengar semua pembicaraannya.


"La-Laila, sejak kapan kamu disini?" tanyanya sedikit gugup.


"Baru saja Ferdi, saya hanya ingin pamit pulang, terima kasih sudah menolong saya," ucap Laila.


"Laila, tapi azan magrib baru saja berlalu, sebaiknya kamu shalat dulu disini, habis itu kita makan bareng dulu supaya badan kamu Fit lagi, habis itu baru kuantar pulang." Ferdi berusaha mencegah Laila untuk pergi.


Laila mengukir senyumnya. "Tidak pelu Ferdi, aku sudah membaik, kok. Kebetulan aku juga lagi halangan shalat. Kalau kamu belum shalat, shalat saja dulu, gak perlu repot antar aku pulang, aku bisa naik taksi," ucap Laila.


Terdengar suara ketukan langkah kaki seseorang yang makai high heels mendekati mereka dari dalam kamar. "Ada apa sayang?" tanya perempuan itu.


Laila dan Ferdi menoleh kearah suara. Tampak wanita cantik melangkah dengan anggun dengan mini deres ketat berwarna hitam yang seksi memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah, meski usianya tak lagi muda tapi ia terlihat sangat cantik mempesona.


"Ibu, perkenalkan ini Laila, temen kerja Ferdi." Ferdi langsung memperkenalkan Laila pada sang ibu.


Laila menganggukan kepalnya dengan melengkungkan senyuman indah di bibirnya, menyapa ibu Ferdi.


"Miranti." Ibu Ferdi meperkenalkan diri dan mengulurlan tangannya.


Laila menyambut uluran tangan Miranti dengan ramah, masih terukir senyum indah di bibirnya.


"Maaf Tante, saya tidak sengaja menjatuhkan nampan itu," ucap Laila.


Miranti tersenyum. "Oh tidak apa-apa. Jadi ini perempuan yang kamu tolong tadi. Cantik sekali, sayangnya nasibmu malang, tega sekali suamimu melakulan itu padamu." Miranti mengusap kepala Laila dengan lembut menunjukan simpatinya. Laila hanya menunduk.


"Ferdi sudah cerita kejadian tadi sore pada ibu. Kamu jangan tersinggung ya, anak ibu satu ini memang selalu terbuka sama ibu, tak pernah ia menutupi apa pun," ucap Miranti.


"Tidak apa-apa Tante, maaf saya jadi merepotkan kalian," ucap Laila.


"Tidak merepotkan dong sayang, justru Tante seneng. Sudah lama loh Ferdi tidak mau berteman dengan perempuan, Tante sampai khawatir, sekarang bawa temen perempuan kesini itu artinya anak Tante masih normal. Hahaha ...," ucap Miranti diakhiri tawa kecil.


Laila hanya tersenyum menanggapi celotehan Miranti yang tak lucu baginya, malah justru membuat Laila merasa aneh.


"Ibu!" Seru Ferdi.


"Iya sayang, ibu bercanda," ucapnya, " Ya sudah, kita maoan dulu yuk, Nak Laila!" Ajak Miranti.


Laila menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Tante. Saya langsung pulang saja," tolak Laila.


"Kok pulang sih, nanti Ferdi yang anter. Biarkan Ferdi shalat dulu," ucap Miranti.


"Terima kasih Tante, tapi saya harus segera pulang, takut terlalu malam. Saya pesan taksi saja. Mari, assalamualaikum." Laila pamit pergi tanpa mendengar mereka yang berusaha mencegahnya. Kemudian memesan taksi.


"Bagaimana ini?" bisik Miranti.


"Laila, kamu yakin mau pergi sekarang?" tanya Ferdi yang menyusulnya.


"Iya Fer, ini sudah malam," ucap Laila tanpa menghentikan langkahnya.


"Iya Nak Laila, Tante khawatir kamu pingsan lagi," sambung Miranti.


"Tante tak perlu khawatir, saya kuat kok," ucap Laila.


Tak lama sampai di depan rumah, taksi yang dipesan Laila datang. Membuat mereka tak bisa lagi mencegah Laila pergi dari rumahnya.


'Sial, ini perempuan susah banget disuruh nunggu bentar, padahal sudah kusiapkan lagi obat agar dia pingsan dan tak pulang sampai pagi' batin Ferdi.


Laila segera masuk kedalam taksi dan berlalu dari rumah Ferdi, tak lupa sebelumnya dia berpamitan, dan mengucap salam pada mereka berdua.


"Maju, Pak!" pinta Laila.


"Baik, Non," ucap supir taksi itu.


"Ke alamat ini." Laila menunjukan kartu namanya yang masih beralamat di kediaman Aditama.


Supir taksi itu tampak mengerti dan tahu arah jalan alamat yang dituju, dia langsung menyerahkan kembali kartu nama itu pada Laila.


"Cepat sedikit ya, Pak," pinta Laila.


"Baik, Non," ucap Supir taksi itu.


Sementara Rama yang berpikir Laila kembali ke rumah sakit, tengah menunggu sang istri di parkiran, ia tak peduli berapa lama dirinya menunggu, dilihatnya jam tangan yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul delapan malam.


'Laila pulang jam berapa sih? Tak biasanya dia belum pulang jam segini, handphone-nya juga tidak aktif' Rama membatin.


Tanpa terasa Laila sampai ke kediaman Aditama. Laila berusaha menahan air matanya, agar kedua orang tuanya tidak shock melihat dirinya. Namun, wajah sembab Laila yang sepanjang perjalanan menangis tak bisa disembunyikan. Saat itu Aditama, Nesa juga bi Ira tengah berkumpul di ruang tamu, mereka dikagetkan dengan kedatangan Laila yang tanpa ditemani Rama.


"Assalamualaikum," sapa Laila Lembut.


"Waalaikum salam," jawab semua menatap Laila dengan wajah yang heran. Sejenak mereka semua terdiam, selain karena melihat wajah sembabnya, Laila pun tampak ragu melangkah mendekati mereka.


"Laila, Sayang!" seru Nesa kemudian, seraya menghampiri putrinya dan memeluk dengan erat seraya mengusap punggungnya, seolah merasakan kesedihan sang putri.


Saat itulah air mata yang di tahannya tak bisa terbendung lagi, tetes demi tetes berjatuhan membashi ppipi, membuat Bi Ira dan Aditama yang melihatnya semakin terkejut.


Nesa merasakan ada tetesan di bahunya, ia mengurai pelukan dan melihat wajah sang putri. Saat itu Laila mencoba menyembunyikannya kembali.


"Laila, ada apa sayang?" tanya Nesa dengan khawatir.


Laila tak lantas menjawab pertanyaan sang ibu, ia tampak ragu untuk mengatakan semuanya. Bi Ira dan Aditama segera menghampiri dan membawanya duduk di sofa.


"Ceritakan apa yang terjadi, sayang?" tanya bi Ira yang diikuti anggukan Nesa seraya mengusap kepala sang putri dengan lembut.


Meski sedikit ragu akhirnya Laila menceritakan semua yang terjadi. Nesa dan Ira terkejut kembali, berbeda dengan Aditama yang tampak memikirkan semua perkataan Laila. Ia langsung keluar menelpon seseorang.


Bersambung ....


Mohon maaf ya Reader Author upnya lama banget. kondisi otor bener-bener lemah🙏