
"Baiklah, Bu. Ibu memang harus tau yang sebenarnya," ucap Nur seraya menyeka air mata buatan di pipinya.
"Ini Bu. Ibu lihat saja sendiri. Nanti Nur jelasin semuanya," tutur Nur dengan menyerahkan sebuah amplop coklat pada Fauziah.
Dengan penasaran Fauziah membuka amplop coklat itu perlahan-lahan, ingin segera tahu apa yang membuat Nur terlihat begitu kecewa.
Nur menunjukan wajah kecewanya kembali, bersiap-siap menyambut keterkejutan Fauziah yang akan membuatnya harus menunjukan ekting selanjutnya.
Namun, di luar dugaan Nur. Fauziah bukannya menunjukan ekpresi keterkejutannya, tapi malah manampakan wajah iba pada Nur.
Malah Nur Sendiri yang dibuat terkejut dengan expresi Fauziah yang di luar ekpektasinya.
"Jadi, ini yang membuatmu kecewa, Nur. Ibu mengerti perasaanmu. Mungkin memang kamu dan Rama tak berjodoh. Lebih baik sekarang kamu buka hati untuk suamimu6 Radit. Dia juga laki-laki yang baik." Fauziah memgelus lebut kepala Nur dengan iba, yang berpikir sedih karena melihat foto pernikahan Rama dan Laila.
Nur semakin tak mengerti dengan apa yag di ucapkan Fauziah. Ia malah penasaran sendiri dengan apa yg di lihat Fauziah.
Nur berpura-pura mengerti dengan ucapan Fauziah. "Iya Bu. Nur sedih banget melihat foto ini," ucap Nur seraya mengambil foto daro tangan Fauziah.
Seketika dia membulatkan matanya saat melihat foto yang berbeda. 'Kenapa jadi foto pernikahan Laila dan Rama? Harusnya 'kan foto Laila dan Radit yang tadi ku edit saat Radit menempelkan jarinya di bibir Laila. Akh sial harusnya momen ini jadi momen yang seru. Kenapa jadi gini sih' Nur membatin kesal.
"Nur!" Fauziah menyadarkan Nur dari lamunannya.
"I-iya, Bu," sahutnya gugup.
Fauziah mengukir senyum, menenangkan Nur dengan mengusap pundaknya. Ibu dengan iba menceritakan kisahnya bersama Hendra yang berawal menjalani hidup pernikahannya tanpa cinta, tapi tetap bahagia.
Radit yang mengintip di luar tersenyum lega, rencananya menggagalkan siasat Nur berhasil. Ia pun segera pergi sebelum Nur menyadari keberadaannya.
Radit duduk santai di teras rumah, ia asyik dengan telpon genggamnya. Radit tetsenyum sendiri saat menatap layar handphone. Membuat Nur yang datang dari arah luar geram melihatnya.
Dengan kesal Nur merebut handphone Radit secara kasar.
Radit terhenyak. Namun. Ia sudah menduga ini, ia pun tetap bersikap santai menghadapi sikap Nur.
"Pasti kamu yang menukar fotonya 'kan?" Nur menghunuskan tatapan tajamnya pada Radit.
"Astagfirullah, Nur. Bicaralah dengan sopan pada suamimu. Dan sejukanlah pandanganmu itu," ucap Radit dengan lembut.
Nur tak mau menghiraukan perkataan Radit. Ia segera memeriksa semua foto yang ada di handphone suaminya itu.
"Apa yang kamu cari di handphone-ku?" tanya Radit pura-pura tak tau.
Radit hanya tersenyum menanggapi ocehan Nur. Nur tidak tau saja, jika Radit punya dua handphone.
"Nur!" Radit mengejar Nur.
"Nur apa yang sebenarnya kamu cari? Jelaskan padaku, aku tidak mengerti maksud perkataanmu." Sengaja Radit membahas ini agar Nur tak terus mencurigainya.
Nur terus melangkah masuk ke kamarnya tanpa mau menjelaskan apa pun pada Radit.
Radit menarik tangan Nur dengan cepat, hingga membuat Nur terjerembab ke dadanya.
Radit sigap menangkapnya, kedua bola mata mereka saling pandang cukup lama. Nur yang tersadar duluan segera melepaskan diri dari Radit dan menunjukan wajah kesalnya.
"Apa-apaan sih, Dit? Pake narik tanganku segala," protes Nur seraya menyapu badannya menggunakan tangan.
"Kamu sih ditanya gak nyahut. Katakan foto apa yang kamu maksud?" tanya Radit.
Nur mengerutlan keningnya. 'Apa benar Radit tidak mengetahui apa-apa? Atau aku yang salah kirim foto ke tukang cetak itu' Nur merasa bingung. 'Akh, sudahlah, lain kali aku harus lebih hati-hati lagi' lanjut Nur membatin.
"Hey, ditanya malah bengong," kata Radit seraya menggerakan tangannya di depan mata Nur.
Nur tersadar. "Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Maaf sudah menuduhmu," ucap Nur merendahkan suaranya. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Radit merasa lega, akhirnya Nur berhenti mencurigaianya.
***
Rama telah kembali dari mengantar Laila.Ia membawa bubur kacang kesukaan sang ibu. Di suapinya sang ibu dengan penuh perhatian.
"Laila akan cemburu pada ibu, kalau melihat kamu memperlakukan ibu seperti ini. Sini ibu bisa makan sendiri!" pinta Fauziah.
"Ibu 'kan sakit. Wajarkan kalau Rama nyuapin ibu," tutur Rama.
"Akan tetapi, yang sakit itu kaki ibu. Bukan tangan ibu," tutur Fauziah.
"Apa pun itu. Rama harus menjaga Ibu. Rama gak mau terjadi sesuatu lagi sama Ibu," tutur Rama lembut.
Fauziah merasa gembira, ia mengusap lembut kepala putranya.
bersambung .....