Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Tunangan



Dengan mencoba menguatkan hati, Rama pun keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin mengecewakan sang ibu, yang kembali datang memohon padanya, dengan tetesan air mata yang membuat Rama tak kuasa melihatnya.


Nur yang gelisah akhirnya merasa lega, saat melihat rombongan Rama datang. Terukir senyum indah di bibirnya. Ia langsung berlari menghampiri pak Hadi yang tengah duduk dengan khawatir di kamarnya.


"Bapak! Rama datang, Pak!" Nur tertawa bahagia.


"Dia datang?" pak Hadi terperanjat dari duduknya.


Nur mengangguk dengan penuh semangat


"Ayo! Kita sambut mereka," ajak pak Hadi.


Nur dan pak Hadi pun bergegas pergi kedepan saat mendengar ucapan salam dari bu Fauziah beserta yang lainnya.


Acara hanya dihadiri beberapa orang tetangga terdekat bu Fauzih.


Saat Rama hendak menyematkan cincin di jari manis Nur tiba-tiba Laila muncul di depan pintu dengan wajahnya yang masih sembab. Semua melihat kearahnya. Akan tetapi, Laila hanya fokus menatap jari manis Nur yang hendak disematkan cincin yang tengah di pegang Rama. Laila terenyuh sedih. Ia berusaha menguatkan hati, hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri pertunangan laki-laki yang ia cintai. Namun, pada kenyataanya hati malah semakin teriris pedih. Laila tak mampu membendung air mata dihadapan semua orang.


"Laila! Seru Rama dan bi Ira bersahutan.


Bi Ira langsung berdiri menghampirinya. Namun, Laila segera pergi seraya mengusap air matanya.


"Maaf!" ucap bi Ira yang langsung pergi mengejar Laila.


Rama hendak berdiri, ingin ikut mengejar Laila. Namun, ibu menarik tangannya. Tatapan sang ibu yang diiringi gelengan kepalanya membuat Rama tak bisa berbuat apa-apa.


Akhirnya, acara pertunangan pun dilanjutkan kembali, dan berjalan dengan lancar.


Laila terus menangis di dalam dekapan sang bibi. Bi Ira tak henti menguatkannya.


"Begini rasanya sakit hati, Bi. Ini pertama kalinya Laila jatuh cinta, cinta pada pandangan pertama. Laila belum utarakan isi hati Laila pada Rama, tapi rasanya sesakit ini. Bagaimana jika Laila mengutarakannya?"


"Sabar, Laila. Jika Rama jodohmu, dia tidak akan bisa lari kemana pun. Percayalah! Sekalipun dia bertuangan dengan Nur, belum tentu mereka berjodoh," ucap bi Ira dengan mengusap lembut kepala Laila.


"Terimakasih, bibi selalu menguatkan Laila. Sepertinya, Laila memang harus mengiklaskan Rama," ucap Laila berbesar hati.


"Kamu benar, sayang. Iklaskanlah, karena jodoh akan memilih jalannya sendiri," jelas bi Ira.


Laila mengangguk perlahan dan mencoba menghentikan tangisnya.


***


Saat Laila berbelanja, ia berpapasan dengan Rama. Laila tersentak saat Rama berada tepat dihadapannya. Laila terlihat canggung ia tak mampu menatap Rama setelah kejadian kemarin, karena mereka yang melihatnya akan tau jika dirinya jatuh cinta pada Rama. Laila terus menunduk dan segera pergi menghindari Rama.


Namun, saat Laila melangkah, Rama menghalanginya.


"Maaf! Aku terburu-buru, minggirlah!" pinta Laila yang gelisah.


"Bisa kamu jelaskan sesuatu padaku!" pinta Rama tiba-tiba.


"Apa yang harus kujelaskan?" tanya Laila.


"Kenapa kemarin kamu menangis?" tanya Rama yang berusaha menatap Laila yang terus terdunduk.


Deg!


Seketika Laila menjadi gugup.


"A--aku, aku hanya kelilipan," jawab Laila terus menunduk


"Kamu yakin?" tanya Rama meneliksik.


"Ya-yakin." Laila masih saja gugup.


"Bisa kamu lihat aku sebentar!" pinta Rama penuh harap.


"Maaf, aku harus pergi." Laila melangkah mencoba menghindari Rama lagi.


Namun, dengan sigap Rama menggenggam pergelangan tangan Laila. Sehingga membuat Laila tersentak dan spontan mereka saling tatap, terlihat binar cinta di kedua bola mata mereka. Rama tampak lebih berani menatap Laila, membuat Laila semakin gugup. Jantungnya semakin berdegup kencang. Dengan segera Laila menundukan pandangannya tak terasa air mata menetes begitu saja.


Laila berusaha melepaskan genggaman tangan Rama. Namun, Rama tak mau melepaskan.


"Aku mohon lepaskan, aku!" keluh Laila.


Melihat Laila yang semakin merasa tak nyaman Rama pun melepaskan genggamannya.


Rama menatap kepergian Laila dengan tersenyum. 'Aku mengerti sinar yang terpancar di bola matamu itu. Tunggulah! Akan kuperjuangkan perasaanku ini' batin Rama.


Bisik-bisik tetangga mulai terdengar di mana-mana. Hingga sampailah di telinga Nur.


Nur tampak geram, ia lebih kesal kepada Laila, yang ia anggap mengancam hubungannya dengan Rama.


Sepulang tarawih, Nur menarik Laila ke tempat yang sepi, agar tidak terlihat oleh Rama dan yang lainnya.


"Laila, kamu tau 'kan kalau sekarang Rama adalah tunanganku! Aku harap kamu menjauh dari Rama!" kata Nur menatap tajam Laila.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?"


"Aku tau apa yang terjadi padamu dan Rama tadi pagi. Aku harap kamu mengerti perasaanku," jelas Nur lalu pergi begitu saja.


Laila hanya diam.


Tampaknya kabar itu pun sampai di telinga bu Fauziah.


"Rama! Katakanlah! Apa yang kamu lakukan bersama Laila tadi pagi?" tanya ibu.


"Apa yang harus Rama katakan, Bu. Tidak terjadi apa-apa? Rama hanya berpapasan dengan Laila, apa itu salah?"


"Kamu menggenggam tangannya dan saling tatap layaknya sepasang kekasih," jelas ibu.


"Seharusnya ibu tidak perlu mendengar gosip di luar sana. Sekalipun itu benar, Ibu tau kalau Rama mencintai Laila," jelas Rama.


"Rama!" bentak Ibu.


"Kamu sudah bertunangan dengan Nur, jagalah perasaannya, jika semua ini sampai di telinga Nur, dia pasti terluka," lanjut ibu.


"Jelas Nur pun tau, jika Rama mencintai Laila," ucap Rama.


"Apa maksudmu? Ibu tidak mengerti."


"Sebelum pertunangan ini, Rama sudah bilang pada Nur jika Rama menolak perjodohan ini, karena Rama mencintai Laila. Rama melakukan ini hanya demi ibu. Kita Lihat, sampai mana wanita pilihan ibu bisa membuat Rama jatuh cinta padanya," jelas Rama.


"Jadi, Nur tau. Baguslah. Itu artinya dia perempuan yang hebat, dia memperjuangkan cintaya padamu, ibu yakin dia tidak akan melepaskanmu begitu saja," jelas ibu.


"Terima kasih atas keegoisan ibu dan Nur. Ibu dan Nur memang cocok. Semoga kalian bisa bahagia diatas deritaku dan Laila."


"Rama!"


"Kenapa, Bu? Rama benarkan? Kalian begitu bahagia setelah memaksalan kehendak kalian pada Rama," jelas Rama.


"Rama! Ibu kecewa padamu, sejak kamu mengenal Laila kamu berani melawan ibu," jelas ibu.


"Kapan Rama melawan ibu? Hal yang paling penting dalam hidup Rama saja Rama serahlan pada ibu, Apa itu belum cukup?"


"Rama, Laila belum tentu mencintaimu, mungkin saja di kota dia punya kekasih," kilah ibu.


Rama tersenyum getir.


"Semua orang yang menyaksikannya kemarin, akan tau jika Laila menaruh hati pada Rama. Kenapa ibu berpura-pura tidak tahu," jelas Rama.


"Ram, Ibu--"


Rama mengangkat tangannya menghentikan ibu bicara.


"Cukup, Bu! Tolong maafkan sikap Rama ini. Rama bukan anak yang baik bagi ibu," ucap Rama dengan kecewa.


"Ram, Ibu--"


Ibu menghentikan ucapannya karena Rama langsung pergi kekamarnya.


Perdebatan ini pertama kalinya terjdi di rumah bu Fauziah. Kehangatan di antara keduanya kini mulai terbentengi oleh keegoisan sang ibu yang muncul karena kekhawatiran yang berlebihan.


Rama pun tampak prustasi.


bersambung ....


jangan lupa tekan Like, fav, komen dan rate-nya, ya. terima kasih.❤❤❤