Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Mencoba Menghapus air Mata Laila



"Bapak yang mengantarnya sudah pasti bapak suaminya bukan?" kilah suster itu.


"Bisa saja aku sodaranya," ungkap Rama.


"Akan tetapi bapak benar suaminya 'kan?" Dengan berpura-pura suster itu membalikan pertanyaan.


"Katakan--"


"Rama! Laila ...." Tiba-tiba Nesa datang memotong pembicaraan, hendak menggabari keadaan Laila.


"Laila!" Rama meninggalkan suster itu dan meghampiri Nesa, begitu mendengar nama Laila disebut.


Suster itu merasa lega karena sudah lepas dari semua pertanyaan Rama. "Kali ini aku lolos entahlah besok, aku harus punya banyak alasan, agar laki-laki itu tidak tau yang sebenarnya." Suster itu melangkah pergi dengan sedikit lega.


"Ayo cepat!" pinta Nesa dan kembali berjalan menuju ruangan Laila.


"Apa yang terjadi padanya, Bu?" tanya Rama saat berjalan.


"Ibu tidak tau, Laila sudah terlihat sulit bernafas saat ibu melihatnya di jendela, ibu pikir kamu ada disana," ungkap Nesa.


"Ini salahku aku meninggalkannya sendiri." Rama menyesali perbuatannya.


"Kenapa tidak mencari ibu jika mau pergi," ucap Nesa.


"Aku sudah melakukan itu, tak ada seorang pun di luar," ucap Rama.


"Ibu, bi Ira dan ayahmu berada di mushola, kami sedang mendoakan Laila," ungkap Nesa.


"Semoga Laila baik-baik saja," ucap Rama.


"Ayo cepatlah! Mudah-mudahan Laila sudah membaik, ibu mencarimu dari tadi," lanjut Nesa seraya mempercepat langkahnya.


Di balik kekhawatiran Rama, ia terus mendoakan sang istri, agar tidak terjadi hal yang tak di inginkan. Kini dia berlari mempercepat langkahnya. Sesampainya di depan pintu, Rama langsung masuk ke dalam ruangan Laila yang sudah ada Aditama dan Ira di sana.


"Sayang! Apa yang terjadi?" tanyanya penuh ke khawatiran.


Laila yang sudah terlihat membaik melirik kearah sang suami dengan mata yang berkaca, dan menetes perlahan.


Rama segera mendekat dengan langkah yang cepat diraihnya tangan sang istri kemudian dikecupnya. Melihat tetesan air mata di pipi Laila, Rama pun hendak mengusapnya. Namun, Laila menepis tangan sang suami dengan kasar, membuat semua yang berada disana terkejut.


"Sayang!" Nesa menggelengkan kepala memberi kode agar Laila tidak seperti itu pada sang suami.


"Maaf, saat ini Laila ingin sendiri, tolong tinggalkan Laila sendiri," pintanya.


"Sayang! Kita semua di sini karena meng khawatirkan kamu," kata Nesa dengan lembut.


Laila hanya diam, berharap semua orang mengerti keinginannya.


Terdengar bunyi sebuah pesan masuk di handphone Aditama, yang segera di bukanya.


Laila melirik dengan kesal. "Termasuk kamu, tolong tinggalkan aku," ucap Laila.


"Aku ingin menemanimu," ucap Rama.


"Akan tetapi, aku ingin sendiri," ucap Laila.


"Sayang! Apa yang terjadi? Aku mengkhawatirkanmu." Rama kembali menggenggam tangan Laila, yang lagi-lagi di lepas paksa oleh wanita itu.


"Aku baik-baik saja, aku mohon tinggalkan aku sendiri!" Laila mengangkat kedua tangan dan menyimpannya di dada.


Rama menghela nafas panjang, ia mengalah pada permohonan istrinya, dan membalikan badan lalu melangkah perlahan menuju pintu keluar. Saat hendak membuka pintu Rama menengok ke arah belakang berharap sang istri berubah pikiran. Namun, Laila tak menghiraukan dan memalingkan wajahnya dari sang suami.


'Apa Laila masih marah pada ku' Rama membatin, dengan langlah yang lemah ia keluar dari ruangan sang istri dan menutup pintu perlahan.


"Perempuan itu hampir membuat Laila kehilangan nyawanya, entah apa yang dikatakannya pada Laila tadi," ungkap Aditama saat melihat Rama keluar.


"Perempuan itu!" Rama mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang ayah penuh tanda tanya.


"Iya, perempuan itu masuk saat kamu meninggalkan Laila sendirian di kamar." Aditama duduk di kursi seraya menghela napas panjang dan membuangnya kasar.


"Bagaimana ayah tahu?" tanya Rama, sedangkan Nesa dan Ira yang tak paham apa pun ikut mengerutkan keningnya.


"Jack. Dia yang memberi tahu ayah, dia ada di sini sekarang, karena perempuan itu juga ada di sini. Jack dan timnya akan mengikuti perempuan itu kemapun. Dia detektif yang handal," ungkap Aditama.


"Apa dia perempuan di masa lalu ayah itu?" tanya Rama.


"Putrinya, dia melibatkan putra dan putrinya dalam dendamnya," ungkap Aditama.


"Ayah harus segera menyelesaikan semua ini sebelum masalahmu dan Laila semakin berlarut-larut," ucap Aditama.


"Siapa perempuan itu sebenarnya ayah?" tanya Rama penasran.


"Wilona," jawab Aditama


"Wilona!" Rama merasa tak percaya. "Apa aku tak salah dengar? Wilona gadis yang baik," ungkap Rama.


"Ayah tau kamu tak akan percaya semua ini, setelah Laila pulang ayah akan perlihatkan semuanya. Ayah harus segera mengambil tindakan," ucap Aditama.


Di dalam ruangannya Laila terlihat sedang menangis, ia tak dapat menahan kekecewaannya pada sang suami, ia terus mengingat ucapan Wilona.


"Benarkah apa yang di ucapkan Wilona tadi, benarkah dia telah mengandung anaknya Rama, benarkah tespek tadi miliknya," gumam Laila dengan linangan air mata di pipinya.


"Apa yang harus aku lakukan, inikah akhir kisah pernikahanku." Laila semakin menitikan air mata.


Bersambung....