Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Menuju Nesa Mengungkap Fakta



"Aku juga tidak tau." Rama menoleh ke arah Laila dan menggelengkan kepalanya.


Lalu keduanya mengalihkan pandangan pada ibu mereka masing-masing.


"Laila kenapa, Bun?" tanya Laila pada sang ibu.


"Kamu tidak apa-apa sayang, kamu hanya demam," jawab Nesa.


Begitu pun Rama yang bertanya pada sang ibu, mendapatkan jawaban yang sama.


"BI Ira mana, Bun?" tanya Laila.


"Bi Ira pulang dulu sayang, ada apa?" tanya Nesa balik.


"Tidak apa-apa, Bun," jawab Laila dengan lemas.


'Apa yang ingin Laila bicarakan pada bi Ira? Kenapa tidak ia ceritakan padaku' Batin Nesa.


Nesa duduk disamping sang putri mengusap kepalanya dan mengecup keningnya.


"Apa ada yang ingin kamu bicaraka pada bi Ira? Kenapa tidak bicara saja pada bunda?" tanya Nesa dengan lembut.


"Tidak ada, Bun. Beneran." kata Laila.


Tiba-tiba Laila melirik bu Fauziah yang tengah duduk di sebalah Rama. Nesa pun mengikuti lirikan Laila.


"Assalamualaikum, Bu Fauziah" sapa Laila dengan ramah. Sejak kejadian di hari idul Fitri itu, ini adalah pertama kalinya Laila bertemu kembali dengan bu Fauziah.


"Waalaikum salam, alhamdulilah ibu baik," jawab bu Fauziah dingin. ia masih tak terima saat Laila menerima Radit disaat dirinya akan dilamar Rama. Ya, meski kenyataan yang ia ketahui sekarang Laila adalah adiknya Rama. Bu Fauziah sangat sensitif dengan yang namanya penghianatan.


Melihat sikap ibu yang dingin padanya jelas Laila merasa kecewa, jangankan balik bertanya bu Fauziah malah memalingkan wajahnya dari Laila.


Nesa bisa merasakan kekecewaan putrinya, ia mengusap punggung Laila seranya tersenyum memberi kekuatan.


bu Fauziah dan Nesa di panggil ke ruangan dokter bersamaan. Selama mereka di ruang dokter Rama dan Laila saling menggenggam erat tangan mereka dalam posisi berbaring di ranjang masing-masing.


"Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Rama penuh perhatian, tanpa melepasskan genggaman tangan mereka.


"Kak Rama sendiri kenapa bisa sampai sakit seperti ini?" tanya balik Laila.


Rama malah tersenyum. "Kamu bukannya jawab, malah balik nanya," kata Rama.


"Karena aku yakin jawaban kita pasti sama," kata Laila dengan tersenyum.


"Kalau begitu aku tidak perlu jawab, karena kamu sudah tau jawabannya," kata Rama tanpa mengurangi senyuman.


"Ikh, kak Rama gitu. Jawab dong. Aku ingin dengar dari mulut kak Rama sendiri," kata Laila.


"Aku memikirkanmu bersama Radit. Rasanya masih saja begitu menyakitkan. Ternyata ikhlas itu tidak mudah, semakin aku berusaha melepasmu, merelakanmu sebagai adikku, menerimamu bersama orang lain, hatiku malah semakin terluka, kamu malah semakin membayangiku. Semakin dekatnya pernikahan kita masing-masing yang akan semakin membatasi kita, yang mungkin akan semakin menjauhkan kita, membuatku ingin mati saja," jelas Rama dengan menitikan air mata.


Laila pun menangis sedih. "Sudah kubilang jawaban kita pasti sama," isak Laila sendu. Genggaman tangan mereka semakin erat, di dalam tangis keduanya berusaha mengukir senyum meski begitu berat.


Bu Fauziah dan Nesa yang sudah selesai bicara pada dokter sempat mendengar pembicaraan mereka.


"Tidak, mereka tidak boleh seperti ini, mereka harus bisa menerima kenyataan," ujar bu Fauziah lalu melangkah hendak menghampiri mereka. Namun, Nesa segera menarik bu Fauziah dan memeluknya.


"Biarkan mereka seperti itu, itu akan sedikit meringankan beban mereka," ucap Nesa saat memeluk bu Fauziah.


"Apa maksud Bu Nesa. Ini tidak benar. Mereka akan semakin sulit dipisahkan. Bu Nesa dengar apa yang mereka katakan tadi, aku tidak mau anakku terus menangisi cintanya yang tak bisa di persatukaan, kita harus tegas pada mereka." Bu Fauziah melepas pelukan Nesa, seraya melangkah kembali. Nesa menariknya kembali.


"Kita tidak perlu melakukan itu, kita hanya perlu mempersatuknan cinta mereka," ujar Nesa.


Bu Fauziah terkejut luar biasa, mendengar apa yang baru saja di ucapkan Nesa.


"Bu Nesa tidak waras! Bu Nesa ingin mereka melakukan kesalahan besar!" Bu Fauziah menekan suaranya.


"Tidak, aku hanya ingin mereka bahagia, aku tak sanggup lagi melihat mereka menderita. Bu Fauziah harus tau jika Laila--"


"Assalamualaikum," Radit datang memotong ucapan Nesa.


Nesa menoleh ke arah suara, seketika Nesa menjadi gugup. "Ra-Radit!"


"Bagaimana keadan Laila dan Rama," tanya Radit dengan sopan.


"Alhamdulilhah mereka sudah sadar, mereka bisa langsung pulang sekarang juga," jawab Nesa dengan lembut.


Bu Fauziah hanya menganggukan kepalanya perlahan.


"Syukurlah, Tante, aku sangat senang," kata Radit.


"Mari, ayo kita masuk!" ajak Nesa.


Nesa melengkah membukakan pintu untuk Radit, "Kamu duluan," kata Nesa pada Radit. Radit pun masuk.


"Kita bicara lagi nanti bu Fauziah, ada hal yang perlu ibu ketahui." Nesa melangkah masuk menyusul Radit.


Bu Fauziah masih terdiam di luar memikirkan ucapan Nesa. 'Apa yang tidak aku ketahui. Kenapa Bu Nesa bicara seperti itu?' batin bu Fauziah.


Rama dan Laila pun telah dibawa pulang kerumah masing-masing.


Beberapa hari telah berlalu, esok tiba hari pernikahan mereka.


Perias tengah mendandani Laila, begitu pun Nur di rumahnya masing-masing. Radit dan Rama pun tengah bersiap. Satu jam lagi akad akan segera dimulai. Kini semua orang tengah menuju gedung pernikahan yang telah di pesan Radit.


Rama dan Nur menghadiri akad pernikahan Laila dan Rama terlebih dahulu, karena mereka sudah terdaftar lebih awal.


Rama dan Radit menatap Laila kagum, dengan riasan yang sederhana dan gaun pengantin yang indah, Laila bak permaisuri putri Raja.


Nur yang melihat Rama menatap Laila inten merasa cempuru, dia yang berada tepat di samping Rama segera menggandeng tangan calon suaminya itu dengan mesra. Seketika Rama tersadar.


"Ayo Rama, kita duduk disebelah sana!" ajak Nur seraya membawa Rama menuju kursi yang sudah di sediakan khusus untuk keluarga dalam acara akad.


Radit pun membawa Laila duduk di tempat akad.


Sebuah kejutan luar biasa membuat seluruh keluarga membulatkan mata, terkejut bukan main. Saat penghulu memanggil pasangan Laila dan Rama.


Nesa, Bu Fauziah dan Nur seketika berdiri bersamaan. Bahkan Laila dan Rama serempak bangkit dari duduk mereka.


"Maaf, Pak. Bapak salah panggil pasangan." Dengan cepat Nur menyanggah pak penghulu.


Dengan segera Pak Penghulu melihat kembali catatannya. "Ya, sudah benar. Laila binti Aditama dan Rama bin Aditama,' ucap penghulu sedikit ragu karena membaca bin mereka yang sama, bukan karena nama mereka.


"Hentikan, Pak! Bapak salah, orang tua mereka sama manamungkin mereka menikah," ucap Nur dengan yakin. "Bapak salah mencatatnya, Pak," lanjut Nur.


"Calon menantuku ini benar, Pak. Bapak salah mencatat, Putra saya Rama dan Laila satu ayah, tidak mungkin mereka menikah," sambung bu Fauziah.


Nesa justru malah merasa bahagia dengan semua ini. Justru Nesa meminta Penghulu melanjutkan acaranya tanpa merubah nama mereka.


"Lanjutkan saja, Pak!" tutur Nesa tak diduga.


"Bu Nesa! Apa-apaan ini!" Bu Fauziah kesal pada Nesa.


"Sudah kubilang bu Fauziah, aku hanya ingin mereka bahagia," ucap Nesa dengan berderai air mata.


"Bunda, tapi--" Laila angkat bicara. Namun Nesa memotongnya dengan menyimpan telunjuk di mulut Laila.


Rama terlihat bingung.


"Ini saatnya aku memberanikan diri mengungkap kebenaran. Sepertinya Yang Maha Kuasa pun ingin Laila dan Rama bersatu, hingga membuat pak Penghulu salah mencatat pasangan," tutur Nesa dengan berani.


Semua orang tampak mendengarkan apa yang ingin dikatakan Nesa.


Nur terlihat gelisah, ia menoleh kearah Radit, yang tampak terlihat tenang. Nur memberi kode dengan mengangkat bahu dan tangannya, seolah bertanya 'Bagaimana ini?'


Radit hanya diam melihat reaksi Nur.


Bersambung ....


Jangan lupa tekan like dan Kawan-kawannya, ya, reader tercintah❤❤❤


Tetap ikuti kisahnya. Terima kasih.❤❤❤