
Sepanjang jalan Radit terus berpikir, ia mencoba mengambil keputusan terbaiknya. Meski sulit dan pedih, ia harus melakukan sesuatu.
Keluarga Radit datang kerumah sakit menjenguk Laila, mereka melihat sendiri kekuatan cinta yang dimiliki calon menantunya dan dan Rama. Mereka yakin Radit pasti sangat kecewa melihat ini, tapi pandangan yang mereka edarkan diruangan ini tidak bisa menangkap keberadaan putranya.
"Dimana Radit?" tanya Mira pada Nesa yang tengah mengelus lembut kepala putrinya dengan cemas.
"Maaf Bu Mira, saya tidak tau, tadi dia pergi begitu saja. Saya pikir dia pulang kerumah, Bu Mira," jawab Nesa Lirih.
Mira termenung. 'Radit pasti sangat terluka melihat pemandangan ini' batin Mira.
Bu Mira menatap kecewa pada Nesa, karena dia telah menyembunyikan kebenaran tentang Laila padanya. Andai Mira tau Laila bukan Putri Aditama, mereka tidak akan pernah melanjutkan pertunangan kala itu, setelah mereka tau Laila memiliki kekasih.
Mira dan Toni melanjutkan pertunangan karena berpikir Laki-laki yang di cintai Laila tidak akan bisa mengganggu hubungan Radit dengan Laila karena mereka memiliki ikatan darah. Namun, pada kenyataannya Laila dan Rama tidak memiliki ikatan darah. Kini putranyalah yang terluka dan kecewa karena terlanjur mencintai Laila, sementara Laila terus menyimpan Rama dalam hatinya meski tidak mengetahui kenyataannya.
Mira hanya bisa menahan kekesalannya, melihat kondisi Nesa yang tengah bersedih memikirkan Laila, ia mencoba mengukir senyum kaku untuk menutupinya. Ia pun pamit ke luar mencoba mencari putranya.
Setelah tak menemukan putranya. Mira mengajak suaminya untuk pulang.
Setelah kepulangan kedua orang tua Radit Nesa menghampiri bu Fauziah yang tengah duduk menangis di sebelah putranya.
"Bu Fuziah. Tolong maafkan saya." Nesa tiba-tiba minta maaf.
Bu Fauziah menoleh pada Nesa. "Kenapa tiba-tiba minta maaf padaku," tanya bu Fauziah.
"Saya telah mengambil kebahagiaan anak-anak kita. Seharusnya cinta mereka membuat mereka bahagia, bukan seperti ini," lirih Nesa dengan sedih.
Namun, bu Fauziah telah salah memahami ucapan Nesa. Ia tiba-tiba emosi mengingat kejadian dua puluh tahun lalu.
"Ya, setelah kamu ambil kebahagiaanku, sekarang putrimu mengambil kebahagiaan putraku, dia begitu menderita dan terluka karna cintanya terhadap Laila. Bagaimana caranya mengatasi cinta yang tak mungkin bersatu, entah sampai kapan putraku membatin seperti ini," ucap bu Fauziah sedikit emosi.
Deg!
Nesa merasa tak nyaman.
"Saya memang telah mengambil kebahagiaan putra putri kita dengan menyembunyikan fakta, tapi aku tidak pernah mengambil kebahagiaan Ibu," jawab Nesa dengan jujur.
"Ya, faktanya Anda telah mengambil kebahagiaanku dengan mengambil suamiku dariku, Nyonya Nesa," ucap bu Fauzih penuh penekanan.
"Tidak, Ibu salah paham. Bukan itu pakta yang kusembunyikan, mereka tau benar kisah Ibu dan Aditama seperti apa, tapi bukan aku yang merebut suami Ibu dari Ibu," jawab Nesa dengan lirih.
Bu Fauziah hanya tersenyum menyeringai. Menganggap Nesa mengelak dari kenyataan.
Deg!
Seketika bu Fauziah menghunuskan tatapan tajam pada Nesa. Lagi-lagi Bu Fauziah salah memahami arah tujuan pembicaraan Nesa, yang ingin membicarakan Rama dan Laila. Bu Fauziah malah merembet ke masalalunya yang teramat mengecewakan dirinya.
"Apa Anda yakin bisa mengembalikan kebahagiaanku kembali, Nyonya? Apa Anda bisa memutar waktu kembali kemasa itu disaat Nyonya bersedia menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. Apa Anda bisa membayar kehancuranku?" Bu Fauziah berkaca-kaca mengingat kejadian itu.
"Bu Fauziah, Ibu salah paham, Bu. Aku tidak ingin membicarakan masa lalu ibu dan Aditama, aku hanya ingin membicarakan Rama dan Laila. Aku juga menikah dengan Aditama selepas perceraian ibu dengannya," tutur Nesa mencoba menjelaskan.
"Tentu saja, karena saat itu aku terpaksa harus menandatangani surat cerai di hari pernikahan kalian. Aditama, telah menghianantiku." lirih Fauziah dengan terisak.
Nesa bisa merasakan kekecewaan bu Fauziah.
"Perlu ibu tau, Aditama sangat mencintai Ibu, dia tak bisa hidup tanpa Ibu, dia meninggalkan pernikahan keduanya disaat akad akan dimulai, dan dia rela tidak kembali kerumah orang tuanya demi mencari Ibu, percayalah padaku dia tidak seburuk yang ibu pikirkan, saya rasa kesalah pahaman ini harus segera di selesikan," ucap Nesa terisak.
"Apa maksud, Nyonya?"
"Panggil saya Nesa saja. Aditama lari dari pernikahan itu. Saya bukan perempuan yang akan dinikahinya saat dia masih berstatus suami Ibu. saya bertemu Aditama disaat dia telah mendapati Ibu menikah dengan Hendra. Dia sangat prustasi, disaat itulah dia bertemu denganku. Dia menyelamatkan aku dari keterpurukan," jelas Nesa.
"Jadi Aditama tidak jadi menikah." Bu Fauziah terkejut mendengar penuturan Nesa.
Nesa mengangguk. "Iya, Bu. Dia sangat mencimtai Ibu, dia tidak mau kehilangan ibu," tutur Nesa.
"Sebenarnya Laila--" belum selesai Nesa bicara dokter masuk memeriksa keadaan Laila dan Rama.
'Jadi, waktu itu kamu membatalkan pernikahan itu, Mas' batin Bu Fauziah berkecamuk pedih. Ia meneteskan air matanya. Ia menyesali semua tindakannya.
***
Laila dan Rama akhirnya tersadar, setelah mengikuti saran dokter, untuk menautkan tangan keduanya. Bak di setrum, mereka langsung membuka matanya.
Semua orang tampak bahagia dengan kepulihan mereka. Rama dan Laila terkejut ketika melihat keadaan mereka yang sama.
"Kak Rama apa yang terjadi pada kita? Kenapa kita bisa ada disini secara bersamaan?" tanya Laila dengan heran.
Bersambung....
Jangan lupa tekan Like, komen, rate, favorite, dan hadiahnya ya.🤗❤
Terimakasih atas dukungannya.❤❤❤