Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Jadwal Dadakan



"Sungguh aku tak menyadarinya, sayang. Entah kapan lipstik itu menempel di kemejaku. Percayalah padaku." Rama memohon pada Laila.


"Aku coba percaya padamu. Aku harus belajar dari masa lalu orang tua kita. Apa mungkin Wilona sengaja melakukan itu?" duga Laila.


"Tidak mungkin. Wilona itu gadis yang baik, tidak mungkin dia sengaja melakukannya. Dia juga tidak mungkin macam-macam padaku, dia lugu dan selalu menjaga dirinya. kamu sendiri yang memilihnya untukku," bela Rama.


Laila termenung. Wilona memang gadis yang baik menurutnya, tapi kita tidak pernah tahu di balik keluguannya. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terbakar saat Rama membelanya.


Namun, Laila memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dan memilih untuk mengesampingkan kecurigaannya.


"Aku sudah terlambat, kamu istirahat saja," ucap Laila seraya melangkah keluar.


Merasakan Laila yang masih meragukannya. Rama memeluk Laila lagi, menghentikan langkah sang istri.


"Tunggu sebentar!" pinta Rama saat memeluk Laila.


"Rasakanlah sayang. Rasakan cintaku yang begitu besar, yang takan pernah kupalingkan pada siapapun selain hanya untukmu." Rama memejamkan matanya, menumpahkan segala rasa yang ada di benaknya.


Laila mencoba memejamkan mata, menyelami rasa yang ada, semua masih terasa sama tak ada yang berbeda. Laila pun membalas pelukan sang suami dan menumpahkan segala gundah yang ia rasa.


"Aku hanya takut kehilanganmu, tolong pahami perasaanku. Aku tak mau rumah tangga kita hancur gara-gara orang ketiga," ungkap Laila.


"Tanamkan kepercayaanmu padaku. Jangan sampai salah paham menghancurkan semua."


Laila mengurai pelukan dan mengangguk mengerti. "Aku harus pergi, ini sudah terlambat," ucap Laila.


"Aku antar," ucap Rama.


"Motormu kan tidak ada, percuma bila mengantar naik gojek. Sudah kamu istirahat saja," ucap Laila. Seraya meninggalkan Rama di kamarnya.


Rama bergegas meraih baju di lemarinya dan mengejar Laila seraya masih mengancingkan bajunya. "Aku akan tetap mengantarmu," ucap Rama seraya merapikan pakaiannya.


"Sayang kamu ini kenapa? Kamu harus istirahat. Lebih baik kamu mandi dan tidur. Aku tidak apa-apa," ucap Laila.


"Mengertilah perasaanku yang mengkhawatirkanmu, aku tidak ingin kehilangan kepercayaanmu. Aku tidak mau kamu kehilangan perhatianku gara-gara aku memperhatikan orang lain semalam. Lelahku ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dirimu, aku harus tetap mengantarmu," ungkap Rama dengan serius.


Laila tersenyum bahagia, ia merasa tersanjung dengan apa yang suaminya katakan.


"Terima kasih sudah berusaha memperhatikanku dengan baik, tapi aku bukan anak kecil yang harus selalu kamu antar kemanapun, aku bisa sendiri," ucap Laila.


"Diam. Jangan bicara lagi!" Rama menarik Laila ke arah Lain.


"Sayang kita mau kemana, aku baru mau pesan gojeknya," ucap Laila dengan heran.


"Tidak perlu pesan gojek," ucap Rama.


Laila mengerutkan keningnya tak mengerti. Rama terus berjalan menuju garasi mobil khusus. Laila semakin mengerutkan keningnya saat Rama mengeluarkan kunci mobil dan membukakan pintu mobil untuknya.


"Rama, ini mobil siapa?" tanya Laila seraya memperhatikan setiap sudut di mobil itu.


"Mobil kita. Masuklah!" jawab Rama seraya mendudukan sang istri di depan. Rama menutup pintu perlahan dan segera memutar badan berjalan menuju kursi setir, ia menyalakan mesin mobil, lalu menjalankannya dengan laju yang hati-hati.


"Sayang ini beneran mobil kita?" tanya Laila heran.


"Iya, mobil kita," jawab Rama singkat.


"Kamu tidak bercanda kan?" tanya Laila searaya menatap sang suami.


"Tidak. Ini kejutan untukmu. Seharusnya kejutan ini kamu dapatkan kemaren. Sayang nya aku sibuk, dan semalam ...." Rama tak melanjutkan ucapannya tak ingin membahas hal itu lagi. Kemudian memegang tangan Laila yang tengah tertunduk.


"Tolong maafkan aku, membuat hatimu gelisah. Motor butut itu akan kuabadikan agar tidak menghambat pertemuanku dengan istriku lagi," ucap Ram dengan mengukir senyum.


Laila mencoba tersenyum. "Terima kasih," ucap Laila.


"Hari ini aku gak mau lembur lagi. Pulang kerja kita makan di luar, ya," ucap Rama.


Laila mengerutkan keningnya. 'Bukannya Rama masih banyak pekerjaan yang belum selesai untuk mengurus perusahaan barunya' pikirnya Laila termenung.


"Sayang!" panggil Rama lembut menyadarkan Laila dari lamunannya.


"Eu, iya sayang, tapi, bukankah kamu masih banyak pekerjaan yang harus diurus ya." Laila menatap wajah sang suami.


"Aku ingin mengganti waktu malam tadi yang tak bisa kulalui tanpa dirimu. Pekerjaan masih bisa dikerjakan nanri, tapi istriku ini tak bisa terganti. Tolong maafkan aku." Lagi-lagi Rama meminta maaf dengan penuh rasa bersalah.


'Rama terus meminta maaf padaku, dia pasti sangat merasa bersalah. Aku harus percaya padanya, aku yakin dia suami yang setia' batin Laila.


"Iya sayang. Kamu tidak perlu terus menerus minta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu," ucap Laila lembut seraya menunjukan senyum indahnya.


Rama mengusap kepala sang istri. "Terimakasih sayang," ucap Rama.


Setelah sampai di rumah sakit Laila langsung disibukan dengan pekerjaannya, bahkan jadwal operasi padat sampai sore hari, terlihat sekali wajah Laila yang tampak kelelahan. Ketika Laila hendak pulang Dokter Ferdi menghampirinya.


"Dokter Laila! Dokter Lina tidak masuk hari ini, ada kerabatnya yang meninggal dunia. Bisa kamu gantikan posisinya," kata Dokter Ferdi.


"Apa tidak ada dokter lain yang lebih berpengalaman di banding saya, Dok?" tanya Laila.


"Saya percaya padamu Dokter Laila, saya harap kamu tidak menolak tugas ini," ucap Dokter Ferdi seraya menatap Laila menunggu jawaban.


Laila termenung. 'Bagaimana ini? Rama sudah meluangkan waktunya untuk makan bersamaku dan mengesampingkan pekerjaannya. Akan tetapi, aku juga tidak mungkim mengabaikan keselamatan pasien' Laila membatin.


"Bagaimana Dokter Laila?" Dokter Ferdi mengulangi pertanyaannya.


"Eu, baik, Dok," jawab Laila pada akhirnya.


"Oke, sekarang kamu istirahat. Satu jam lagi kita ada jadwal oprasi," ucap Dokter Ferdi.


"Kita?" Laila mengerutkan keningnya.


"Ya, saya akan membantumu. Kita akan berjuang bersama." Dokter Ferdi mengulas senyumnya lalu beranjak meninggalkan Laila.


Laila mengangguk kecil seraya berusaha mengukir senyum. 'Itu artinya Dokter Ferdi senggang, kenapa tidak dia sendiri saja, dari pada menyuruhku. Tau gitu kutolak saja tadi' batin Laila kesal.


Handphone di genggaman Laila berdering, rupannya sang suami sudah memanggil. Rama sudah menunggunya di parkiran. Laila turun menuju kesana menghampiri sang suami.


"Sayang!" panggil Laila.


Rama menoleh. "Hey sayang. Kok kamu belum ganti pakaian?" tanya Rama heran.


"Maaf, sayang. Sepertinya kita tidak bisa pergi sekarang. Aku ada jadwal oprasi lagi," ucap Laila.


Rama terlihat lesu. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" ucap Rama.


"Maaf, ini dadakan," ucap Laila dengan penuh penyesalan.


"Terus kamu pulang jam berapa?" tanya Rama.


Laila menggelengkan kepala, "Aku tidak tau," jawab Laila.


"Kalau begitu aku tunggu saja disini," ucap Rama.


"Tidak. Nanti kamu kesal. Sepertinya akan sampai malam, karena aku harus menggantikan jadwal dokter lain yang tak bisa hadir karena sedang ada berita duka. Lebih baik kamu pulang saja," ucap Laila.


bersambung....