Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Rasa Yang Takan Pernah Sirna



***


"Kamu mau makan apa, adikku sayang?" tanya Rama dengan tersenyum, kemudian melihat-lihat daptar menu.


Rasa bahagia menyelimut hati Laila, tat kala mendengar kata 'adikku sayang' dari mulut Rama, kata sayang yang di ucapkan Rama padanya terasa bukan panggilan sayang seorang kakak pada adiknya, malah lebih terasa sebagai panggilan sayang dari seorang kekasih terhadap kekasihnya. Hati Laila semakin melambung tinggi.


"Sayang! Kamu panggil aku, sayang?" tanya Laila tak percaya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka? Bukankah seorang kakak harus menyayangi adiknya?" kata Rama dengan menatap lembut Laila.


"Tentu saja aku sangat suka," jawab Laila dengan membalas tatapan lembut Rama.


Keduanya saling lempar senyum. Rama mengusap lembut tangan Laila.


"Terima kasih kakakku, sa-yang," ucap Laila sedikit malu-malu.


Ramam tersenyum bahagia, mereka berdua terus saling lempar senyum dengan tatapan yang cukup lama. Rama mengusap lembut kepala Laila. "Pesanlah apa pun yang kamu mau?" ucap Rama.


"Aku mau nasi goreng sederhana saja, yang lebih murah, tapi enak," ucap Laila.


"Tidak ingin yang spesial?" tanya Rama.


Laila menggelengkan kepalanya. "Kak Rama sudah sangat sepesial buat Laila. Laila tidak butuh yang spesial Lagi," ucap Laila seraya mengukir senyum indahnya.


Rama semakin bahagia, ia mengusap lembut pipi Laila dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Laila memejamkan mata merasakan indahnya belayan tangan Rama di pipinya.


Tak terasa mereka semakin tenggelam dalam rasa. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Spontan Rama mengungkap rasanya kembali.


Deg!


Laila membuka matanya, terenyuh sedih dan meneteskan air mata. "Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu."


keduanya kembali terenyuh sedih. Mereka saling mengusap air mata di pipi keduanya yang mengalir begitu saja, dada mereka bergetar menahan sesak yang semakain menyeruk, menusuk hati, membelenggu jiwa.


"Aku mencintaimu," keduanya serempak mengungkap rasa cinta.


"Cinta ini akan tetap utuh, meski kita takan pernah bersatu, rasa ini takan pernah hilang, sekalipun kita berjauhan. Aku tidak akan pernah bisa membuang rasa ini Laila," lirih Rama dengan sedih.


Laila mengecup tangan Rama bertubi-tubi. "Aku pun begitu, aku takan pernah bisa melepas rasa ini, aku sangat mencintaimu, cinta ini takan pernah sirna meski takdir tak ingin kita bersatu," isak Laila dengan sedih.


Keduanya saling menggenggam erat kedua tangan mereka, Berusaha saling menguatkan.


Seharian keduanya bersama, hingga mereka lupa waktu, hari semakin sore, malam akan segera tiba, Laila dan Rama masih berada di luar untuk menghabiskan waktu seharian.


Radit langsung pulang kerumah setelah di kabari Laila yang akan pulang bersama Rama. Sempat kecewa. Namun, apalah daya.


Rama mengantar Laila pulang. Nesa yang tengah memandang suasana luar di jendela kamarnya, melihat kedatangan mereka.


Ia sempat tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Laila tampak berbeda, Laila terlihat lebih ceria dan bahagia.


"Kak Rama tidak masuk dulu? Masuklah dulu, lihatlah kondisi ayah," ajak Laila seraya menarik tangan Rama dengan lembut.


"Aku ingin sekali melihat ayah, tapi tanpa permintaan darinya aku tidak berani menemuinya. Aku yakin, ayah pasti baik-baik saja di tangan kalian yang sangat mencintainya," ucap Rama dengan lembut, seraya mengusap kepala Laila dengan tangan satunya. Senyum tak henti terus terukir di bibir keduanya.


Laila dan Rama terlihat semakin dekat. Justru setelah pertemuan hari ini hati mereka semakin terikat kuat. Nesa bisa melihat kebahagiaan di wajah keduanya saat mereka bersama. Nesa mulai merasa sedih, perasaan bersalah semakin menghantuinya.


"Apa salahnya jika mereka menikah. Apa kali ini aku harus melawan keinginan mas Adi, kasihan Laila dan Rama, aku tidak bisa membiarkan ini, tapi bagaimana dengan Radit, dia juga sangat mencintai Laila, dia sudah mempersiapkan semuanya." Nesa gelisah di dalam kamarnya ia terus mondar-mandir memikirkan bagaimana cara mengatasi dilemanya.


***


Radit memesan gedung termewah untuk pernikahannya bersama Laila. Ia pun memesan lantai dua bangunan itu untuk pernikahan Nur dan Ramadhan, sesuai dengan janjinya ia yang akan membiyayai pernikahan Nur dan Rama. Meski rencana Nur di luar dugaan, tanpa sengaja membuat Rama mau menikahi Nur.


"Disini akan kulapalkan akad sehidup semati bersamamu. Aku janji Laila, akan kuberikan seluruh kebahagiaan di dunia ini untukmu," lanjut Radit bergumam.


Radit merasa bahagia, tak ada lagi kecemasan dalam hatinya tentang Rama dan Laila, ia membauang napas lega membayangkan pernikahannya bersama Laila.


***


"Terima kasih Radit, kamu sudah menepati janjimu. Kecelakaan ini telah membawa anugrah untukku, dengan ini Rama mau menikahiku, aku tak peduli meski dia hanya merasa kasihan padaku, yang terpenting aku bisa hidup bersamanya, karena aku sangat mencintainya," ungkap Nur pada Radit di telepon.


"Aku hanya menepati janjiku Nur, jangan lupa hadiri akadku dengan Laila, Karena aku berencana melangsungkan akad satu jam lebih awal darimu," kata Radit di telepon.


"Tentu saja, aku dan Rama akan menyaksikan akadmu dan Laila. Semoga acaranya lancar ya, Dit," kata Nur.


"Aamiin," jawab Radit.


Mereka pun memutus sambungan teleponnya.


Esok hari kedua pasangan itu, mendaftarkan berkas ke KUA. Kebetulan mereka bertemu disana. Hati Laila teriris pedih melihat Rama beriringan bersama Nur. Terlebih saat melihat Laila meliriknya, Nur sengaja menggandeng Rama dengan mesra.


Laila segera membuang muka melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya. 'Kenapa masih sesakit ini melihat Rama bersama Nur' batin Laila.


Radit bisa merasakan kecemburuan Laila yang begitu dalam melihat Rama bersama Nur.


Rama yang sudah terbiasa menahan cemburunya, terlihat biasa saja. Namun, saat melihat Radit menyerahkan berkas ke petugas KUA, hatinya mulai teriris kembali.


'Inikah akhir kisah cintaku, terbelenggu takdir kedua orang tuaku. Harus terpaksa melepas orang yang kucintai dengan ikhlas, meski hati begitu ingin meraihnya' Rama membatin sedih.


Esok hari setelah pertemuan di KUA. Laila terlihat murung, entah kenapa bayangan Nur yang menggandeng Rama terus menghantuinya, seolah dirinya tak rela.


Laila terus termenung di dalam kamarnya, air mata tak henti mengalir begitu saja.


Seharian Laila tak menampakkan batang hidungnya pada Nesa. Nesa segera memeriksa ke kamarnya. Laila tampak meringkuk di atas ranjang di balut selimut tebal. Dilihatnya nasi yang di kirim bibi tadi pagi tampak utuh tak disentuh sama sekali.


Nesa yang khawatir, segera menempelkan punggung tangannya di kening Laila. Nesa terkejut saat mendapati Laila yang demam tinggi.


"Astagdirullah, Laila, kamu demam sayang," ucap Nesa dengan terkejut.


Bi Ira yang baru masuk pun terkejut, mendengar ucapan Nesa.


"Apa yang terjadi pada Laila, Kak?" tanya Bi Ira dengan khawatir.


"Laila demam, Ira. Kita harus segera memanggil dokter," kata Nesa dengan cemas.


Bi Ira pun mencoba menempelkan tangannya di kening Laila, demam Laila memang begitu tinggi. "Demamnya tinggi sekali, aku akan hubungi dokter," kata Bi Ira. Lalu bi Ira pun pergi ke kamarnya mengambil handphone untuk menghubungi dokter.


"Rama!" gumam Laila tiba-tiba.


Deg!


Nesa yang tengah cemas di buat terkejut oleh gumaman Laila.


"Rama! Jadi Laila memikirkan Rama sampai seperti ini," gumam Nesa terenyuh sedih. "Ya Allah, aku ibu yang sangat kejam, kenapa aku mebiarkan putriku menderita menahan rasa cintanya, memaksa dia melepaskan cinta yang harusnya membuat dia bahagaia," gumam Nesa kembali.


'Bagaimana aku membatalkan pernikahan ini, waktunya hanya tinggal satu minggu lagi' Nesa membatin sedih.


Bersambung ....


Terimakasih reader tercintaku, atas semua dukungan kalian yang membuat Author semakin semangat, jangan lupakan like Komen, favorit dan ratenya, tambah hadiahnya biar Author semakin semangat.❤❤❤


Salam Sayang Author untuk kalian semua, semoga selalu bahagaia❤❤❤