Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Bagai Pemangsa Yang Buas



***


Kebersamaan kini membersamai keluarga mereka, tidak ada lagi kesalah pahaman yang menyesakan dada. Meski tak hidup satu atap Aditama ingin menjamin kehidupan Rama. Meski Rama menolak, tapi Aditama memaksa sebagai bentuk penebus kesalahannya selama ini yang tak bisa membersamai Fauziah merawatnya. Dengan persetujuan Nesa Aditama memberikan satu perusahaannya pada Rama untuk dia kelola.


Rama tampak ragu-ragu, ia melirik sang ibu meminta pendapatnya. Meski bagaimana pun Rama berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang ayahnya. Fauziah mengangguk pelan dan mengedipkan mata memberinya kode untuk menerimanya. Mereka sepakat setelah lulus kuliah Rama akan mulai menjalankan perusahaannya.


Setelah kepergian Aditama dari rumahnya. Fauziah memberi nasihat pada sang putra.


"Dengarkan Ibu, Ram! Kamu memang berhak atas apa yang diberikan ayahmu, tapi Ibu berpesan padamu, jangan sampai kamu gelap mata. Harta tidak selalu membuat kita bahagia, tetaplah kamu jaga keharmonisan rumah tanggamu bersama Laila. Perlu kamu tau, dunia perusahaan tidak seperti dunia kita. Sebagai pemilik perusahaan, kamu akan dihadapkan dengan berbagai persoalan. Jika perlu, jadikanlah istrimu sebagai Sekertarismu juga Asistenmu. Ibu tidak ingin ada perempuan lain yang bisa menggodamu."


Rama tersenyum mendengar semua ucapan sang ibu. "Kenapa jadi Ibu yang over protektif sih? Laila saja tidak bicara apa-apa. Lagian Laila ini calon dokter bedah propesional, mana mungkin jadi sekretaris Rama. Laila punya karirnya sendiri," ucap Rama pada sang ibu.


"Iya, Bu. Rama bener. Laila tidak mungkin jadi sekretaris Rama. Sejak kecil, Laila bercita-cita ingin jadi dokter spesialis bedah. Ibu tidak perlu khawatir, Laila sangat percaya sama Rama," ucap Laila dengan tersenyum.


"Tentunya, Rama juga sangat percaya pada Laila. Meski mungkin akan banyak dokter muda yang menggodanya," tutur Rama disertai canda.


Seketika Laila mencubit pinggang sang suami. Sehingga membuat Rama mengeluh. "Awww."


"Kok di cubit, sih. Memang benerkan," ucap Rama.


Fauzih hanya tersenyum, kemudian menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, mendengar ucapan anak dan menantunya ini. "Kalian tidak akan pernah bisa memahami kekhawatiran Ibu. Ibu hanya ingin kalian selalu bahagia."


Rama dan Laila saling lirik dan mengukir senyum indah mereka. Dengan serempak mereka memeluk sang ibu penuh cinta. Mereka menyimpan dagu mereka dibahu sang ibu disisi masing-masing.


"Terimakasih, Ibu sudah mengkhawatirkan kami. Dari apa yang pernah Ibu alami kami akan mengambil hikmahnya. Semoga semua itu tidak pernah terjadi pada kami," ungkap Rama yang disusul anggukan Laila.


Ibu mengusap kepala anak dan menantunya dengan sebelah tangan yang berada di samping masing-masing.


"Ibu akan selalu berdo'a, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan, dan selalu bersama hingga maut memisahkan. Aamiin."


"Aamiin," sahut Rama dan Laila bersamaan.


Rama dan Laila mengurai pelukannya, dan duduk di hadapan Fauziah.


"Sebelumnya Rama sudah bicara pada Laila. Rama akan memberi nafkah dengan hasil jerih payah Rama sendiri. Meski sekarang ayah memberikan perusahaannya pada Rama, tapi sedikit demi sesikit Rama juga akan membangun perusahaan Rama sendiri dari nol, agar Rama bisa merasakan jerih payah Ayah membangun perusahaannya seperti apa, sehingga Rama tidak akan menyia-nyiakan hal itu," tutur Rama penuh keyakinan.


"Ibu hanya memberi saran, semua tetap kalian yang menjalankan, yang pasti kalian jangan pernah mengambil keputusan saat masih dikuasai emosi, seperti apa yang pernah Ibu lakukan dulu." Fauziah mencoba mengukir senyumnya, meski berat. Entah kenapa Fauziah begitu mengkhawatirkan Putranya.


***


"Bukannya ini sudah satu bulan pernikahan kita? Ditambah dengan jarak waktu kejadian itu sampai hari pernikahan, itu sudah lebih." Nur berpikir dengan wajah seriusnya.


"Tak ada satu pun tanda-tanda kehamilan padaku, itu Artinya aku tidak hamil!" Nur melompat kegirangan, kemudian memeluk Radit yang ada disebelahnya sekilas, tanpa sadar.


Deg!


Tiba-tiba jantung Radit berdegup kencang, tidak seperti biasnya dia merasakan hal ini. Selain itu, ini pelukan pertama Nur padanya.


Nur masih tidak menyadari perbuatannya, setelah mengurai pelukannya pada Radit, dia menari-nari kegirangan.


"Ya, Allah terimakasih. Aku senang sekali," ucap Nur dengan bahagia.


Radit justru menundukan kepala dengan menunjukan wajah lesunya, ia pun menepikan diri kearah jendela.


Seketika Nur menghentikan perbuatannya, ia menghampiri Radit, dan melempar pandangannya ke arah langit.


"Maafkan aku Radit. Aku tau kamu sangat baik, tapi aku ingin bercerai denganmu," ungkap Nur dengan jujur.


Radit mencoba menenangkan dirinya. "Nur, ini pernikahan, bukan permainan. Tidakkah kamu mau mencoba bertahan denganku," ucap Radit dengan lemah.


Nur mengerutkan keningnya, dan membalikan badan Radit agar menghadapnya.


"Radit, aku sudah bilang padamu, aku akan berpisah denganmu, jika aku tidak hamil. Kenapa kamu memintaku mencoba bertahan. Kamu tau betul jika aku--"


"Mencintai Rama." Radit memotong ucapan Nur.


Nur mengalihkan pandangan, kembali menatap langit. "Ya, tak perlu terus kuulangi."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Mengejar cinta Rama, menghancurkan kebahagiaannya dengan Laila? Cinta macam apa ini Nur?" Radit sedikit menekan suaranya.


"Cintaku ini cinta sejati, tidak akan mudah mati. Tidak seperti cintamu pada Laila, yang mati begitu saja," ungkap Nur seraya menghunuskan tatapan tajamnya pada Radit.


"Apa tidak sebaiknya merajut cinta baru, dari pada mempertahankan cinta yang akan membuat hatimu semakin terluka. Apa kamu pikir kamu akan bahagia dengan Rama, begitupun sebaliknya."


"Tentu saja, akan kubuat Rama bahagia, akan kubuat Dia mencintaiku," ungkap Nur penuh percaya diri.


"Kamu memaksakan kehendakmu, Nur." Radit kembali menekan suaranya.


"Aku tidak peduli," balas Nur dengan suara sama tinggi.


"Kalau begitu aku pun tidak peduli. Jika kamu ingin memaksakan diri pada Rama. Maka aku juga akan memaksamu bertahan bersamaku!" tegas Radit dengan kesal.


Deg!


"Radit!" Nur tekejut.


"Diam, Nur! Kamu harus tahu bagaimana Rasanya jika cinta dipaksakan!" Radit memegang kedua bahu Nur kemudian menggendongnya dengan paksa.


"Lepaskan, Radit! Apa yang kamu lakukan?" keluh Nur seraya memberontak.


Radit tak menghiraukan, ia terus melangkah dan menjatuhkan Nur diatas Ranjang.


Radit menatap Nur bagai pemangsa yang buas, seolah ingin menerkamnya. Ia membuka kancing bajunya, dan mendekati Nur.


"Radit!" Nur berseru dengan ketakutan. Ia mundur hingga mentok diujung Ranjang.


Bersambung .....


❤❤❤


Terima kasih reader tercinta, atas kesetiaan kalian membaca karya Aothor. Tanpa kalian Author bukan apa-apa. Siap-siap di akhir cerita Novel ini, Author akan menghubungi pembaca teraktif yang beruntung, untuk mendapatkan apresiasi dari Author. So jangan jadi pembaca ghaib, ya. tekan like dan komennya, jadikan Favorit dan jangan lupa hadiahnya.


Salam Sayang Author❤❤❤ Semoga kita semua selalu sehat dan ada dalam lindungan-Nya. Aamiin.❤❤❤