SHOW ME

SHOW ME
THE Perfect Match



Biar gak bertanya-tanya kenapa mereka bisa berantem✌️. Oh iya, aku gak maksa buat cara ya. Bagi yang mau dan suka aja 🥰.


---


Kenrich semakin memperhatikan Valerie, ia benar-benar tumbuh menjadi wanita yang cantik. Rambut panjang, garis wajah indah, dan yang paling berubah adalah tubuhnya. 10 tahun yang lalu, Valerie hanya memiliki tubuh yang rata, layaknya seorang anak berumur 14 tahun. Kini, diusia menginjak 24 tahun, tubuh Valerie menjadi tubuh yang paling diimpikan para wanita, tubuh yang menjadi idaman para pria. Lekukan tubuh itu begitu pas, padat berisi ditempat yang pas dan lemak berlebih yang tak terlihat ada dipinggang ramping itu. Kaki jenjang dengan warna kulit yang cenah menciptakan sensasi sendiri untuk Kenrich.


Ingin rasanya Kenrich melemparkan gelas yang ada ditangannya, memaki halus Valerie yang pergi begitu saja bersama Carl. Bagaimana pun, Kenrich akan mendapatkan Valerie, membuat wanita itu menjadi miliknya dan menghempaskan nya hingga Carl merasakan sakit yang dialami Ken. Roda sudah berputar, inilah saatnya ia menuntaskan dendamnya. Apakah ia jahat pada Valerie? Ya, namun tak sepenuhnya benar, wanita itu sama hal-nya, ia terlibat dalam masalah ini.


Kenrich mengepalkan tangannya pelan, mengabaikan pembicaraan seputaran bisnis yang memuakkan dimeja itu. Pikirannya kembali teringat akan kejadian kelam 3 tahun yang lalu, semuanya berubah, hatinya mati untuk wanita dan segala rasa iba sudah tak ia indahkan.


Amber, wanita cantik asal Brazil yang 4 tahun lebih muda dari Kenrich. Wanita itu begitu lembut dan manis, membuat Kenrich terpaku saat pertemuan pertama mereka. Semua berawal saat Carl membawa Amber kedalam rumah, mereka mengerjakan tugas kuliah bersama saat itu. Namun seakan mendapatkan jalan, Kenrich membantu tugas mereka, semenjak itu hubungan Ken dan Amber semakin dekat, mereka memutuskan menjalin status yang serius. Menjadi sepasang kekasih. Kenrich tak pernah berani menyentuh Amber, ia membiarkan Amber menyelesaikan kuliahnya. Ken membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan hal seperti itu, ia akan menjaga Amber hingga mereka menikah nanti.


Tapi ingatlah kata-kata ini. Jangan membuat ekspetasi berlebihan terhadap manusia. Satu tahun berlalu, Amber sudah menyelesaikan kuliahnya, Ken sudah memutuskan untuk melamar Amber disebuah restoran mewah, naas-nya saat diperjalanan menuju restoran, ia mendengar kabar sang Nenek dibawa kerumah sakit, Sophia kritis dan itu membuat Ken benar-benar terpukul. Tanpa memberitahu Amber terlebih dahulu, Ken memutar arah mobilnya menuju rumah sakit.


Lebih satu jam Ken berusaha menenangkan ibu-nya, Alicia menangis kencang, Sophia menghembuskan nafasnya pada malam itu. Semuanya terpukul, rasa pilu yang benar-benar menyesakkan.


Tiba-tiba Ken melihat wajah ayahnya pucat, Richard mengangkat tubuh Alicia yang tak sadarkan diri.


"Panggil Carl dan beritahu adik mu untuk kemari." Ujar Agatha panik, satu-satunya nenek yang saat ini ia punya. Ibu dari Richard.


Dengan cepat Kenrich mengeluarkan ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab dari Amber tertera, namun ia abaikan sejenak, ia fokus pada Carl terlebih dahulu. Adiknya sudah mulai sibuk dengan dunia entertainment, menjadi aktor hingga membuat dirinya jarang pulang karena jadwal shooting yang padat.


Panggilan Ken satupun tak Carl angkat, hingga ia memutuskan untuk bergegas mencari Carl diapartemen dekat lokasi shootingnya. Carl pernah mengajak Ken sekali kesana, dan dengan penuh harap semoga Carl berada disana, mengingat hari yang sudah menjelang tengah malam.


Di pertengahan jalan, Ken memekik keras saat lampu merah menghalangi jalannya. Ia berusaha tenang dan menstabilkan emosinya. Sekilas ia mengingat Amber, ia mencoba menghubungi Amber agar wanita itu tidak marah. Rasa bersalah seketika menyelimuti hati Ken, Amber tak mengangkat satu pun panggilan dari Ken. Ia yakin jika Amber akan kecewa karena tak menemukan Ken direstoran.


Pikiran itu teralihkan saat lampu lalu lintas berwarna hijau. Ken kembali fokus pada Carl. Adiknya pasti akan terpukul mendengar ini, mereka berdua dibesarkan oleh kasih sayang Sophia, nenek yang selalu sabar dan membelanya saat Agatha bertingkah cerewat pada mereka.


Sesampainya di apartemen, Ken berlari kencang masuk kedalam lift, menekan lantai kamar Carl. Merancang kata-kata penenang untuk Carl.


Ken keluar dari Lift, menekan pin pintu kamar Carl, keahlian Ken memang dapat mengingat dengan cepat. Saat itu ia melihat Carl memasukan pin kamarnya, dan kode yang mudah diingat itu langsung tersimpan di otak Ken.


Kening Ken berkerut, keadaan apartemen Carl begitu sepi. Hingga sayup-sayup terdengar suara d e s a h a n membuat Ken terkejut. Carl hidup dengan beberapa teman yang bebas, harusnya ia tak terlalu terkejut mengetahui Carl melakukan hal panas bersama teman wanitanya. Namun keadaan sekarang membuat Ken harus menahan nafasnya, ia harus membawa Carl kerumah sakit.


"Oh Amber, aku tidak menyangka kau senikmat ini. Dua kali tak akan cukup." Siapa? Amber? Jantung Ken terhenti seketika, namun ia menghempas pikiran itu jauh-jauh, nama Amber bukan hanya kekasihnya saja.


"Ah, Carl, aku sudah tidak kuat, ah terus..." Hati Ken seakan dibuat hancur sehancur-hancurnya. Pengkhianatan macam apa ini?!. Dengan nafas yang memburu dan otak yang sudah buntu, Ken membuka pintu dengan murka, menciptakan suara gebrakan yang begitu keras.


Pandangan menjijikan terpampang nyata dihadapan Ken, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penyatuan mereka, seorang kekasih yang selalu ia jaga kesuciannya dan seorang adik yang selalu ia sayang, Ken yang tak pernah mengeluh saat harus mengalah pada Carl. Ia selalu memberikan pelajaran pada siapapun yang berani mengejek kecengengan Carl saat dulu. Namun kini, apa balasan dari mereka? Pengkhianatan menjijikan seperti ini?.


Keduanya tampak syok yang Carl yang terlebih memisahkan penyatuan mereka. Memohoh pada Ken jika ini semua salah paham, Carl mengatakan dengan berulang kali agar Ken mendengar penjelasannya.


Ken murka, ia muak dan jijik pada dua makhluk dihadapannya. Ia menarik Amber yang tengah sibuk menutup dirinya dengan selimut. Menatap tajam Amber dan memaksa wanita itu agar berdiri disampingnya.


"Tatap aku Amber!" Untuk pertama kalinya ia membentak Amber. Tubuh wanita itu pun terkesiap dibalik selimut. Ken benar-benar murka. Ken melihat mata Amber yang berkaca-kaca menatap Ken.


"Pakai baju mu dan pulang. Renungkan apa yang sudah kau perbuat." Walau sesak. Ken mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan tadi. Memberikannya dengan kasar pada Amber.


"Selamat hari jadi kita yang setahun, dan selamat tinggal!" Ucapan itu benar-benar dingin. Raut wajah Ken benar-benar mengeras dan menahan emosi.


"Sayang. Aku... Aku... Aku benar-benar menyesal." Amber tak bisa menahan tangisnya. Ia menangis dengan air mata yang mengalir deras dari mata indah itu.


"Kak. Aku akan menjelaskannya." Mendengar suara Carl, membuat Ken langsung berbalik dan memberikan pukulan keras diwajah Carl. Mengabaikan teriakan Amber dan Ken memberikan tambahan untuk Carl, sebuah tamparan yang begitu panas dipipinya. Ken masih waras, bagaimana pun Carl adalah adiknya, ia tak mungkin menghajar Carl secara membabi-buta dan membiarkan Carl mati ditangannya. Tidak, Ken tidak seperti itu.


"Pakai baju mu bodoh! Grandma Sophia meninggal! Kau benar-benar mengecewakan ku!" Ken merasa muak didalam kamar ini, ia berjalan terlebih dahulu keluar kamar. Mengabaikan wajah syok Carl dan pastinya Amber pun melakukan hal yang sama. Syok dengan ucapan Ken.


Semenjak itu, sosok Ken berubah, ia menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ia tak tersentuh dan selalu meluapkan amarahnya pada apapun. Tangannya terbuka pada setiap wanita yang menghampirinya, melakukan One Night Stand dengan siapapun yang menarik bagi Ken. Namun diri Ken belum puas sepenuhnya, ia tertarik pada satu kejadian besar lainnya.


Amber dikabarkan hamil, namun Carl  menolak untuk bertanggung jawab, ia menegaskan bahwa saat itu Carl mengenakan pengaman. Bukannya mencari jalan keluar, Carl memutuskan untuk pergi ke Kanada, menyusul cinta sejatinya. Valerie. Membuat Amber yang tengah hamil muda itu pergi kembali ke Brazil, tanah kelahirannya.


Ken cukup puas dengan karma yang mereka dapatkan. Namun ia butuh lebih.


---


Jangan lupa mampir ya jika berkenan🤗 buat yang udah baca semoga kalian ga pusing ya wkwk. baca disini belum lahir, eh disana udah gede anak Justin 😂