SHOW ME

SHOW ME
Memulai perdebatan



Taxi sudah berhenti di depan rumah nya. Ia menjadi bingung seketika.


"Apa benar ini alamat anda nona?" Tanya supir tersebut, ternyata sedari tadi sang supir mengintipnya melalui kaca kecil diatas.


"Benar." Ujar Jessy ramah. Sambil menarik nafas panjang Jessy memberanikan diri untuk membuka pintu mobil. Mau tak mau ia harus menemui kedua orangtuanya. Menyampaikan maksud kedatangan sekaligus pulangnya Jessy ke Kanada. Ia tidak bisa pergi begitu saja dan membiarkan acara pernikahan yang digantung tanpa keputusan apa-apa.


___


Justin masuk kedalam mobil. Wajahnya benar-benar ketus, bahkan ini pertama kalinya Sam melihat tatapan yang kosong dari pria tengil itu.


"Jessy berangkat ke Kanada bertepatan saat kau menyuruh ku mencarinya." Ujar Sam mencoba mencairkan suasana.


"Tidak adakah pembicaraan lain? Aku sudah mendengarnya." Celetuk Justin. Ia mendengus dan menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. Belum juga masalahnya selesai, sekarang masalah baru sudah datang. Alex, memanggilnya kembali ke rumah, Justin yakin ayahnya itu sudah mendapatkan kabar perginya Jessy yang baru 5 jam.


"Siapa yang memberitahu ayah ku?" Tanya Justin tiba-tiba. Mobil mulai melaju pelan dan Sam terdengar berdehem kecil.


"Untuk masalah itu aku benar-benar tidak tahu. Saat sedang dikantor, Mr.Franz menyuruh ku untuk menjemput mu. Dia juga mengatakan..."


"Apa? Katakan saja. Aku sudah biasa mendengar hinaan nya." Sahut Justin malas.


"Dia mengatakan, kali ini apa lagi yang kau lakukan hingga membuat keluarga Jessy membatalkan pernikahan." Mata Justin seketika membola, di menatap tajam Sam melalui cermin di depan.


"Jadi maksud mu keluarga Jessy yang memberitahu Ayah ku!" Sam mengangguk ragu. Justin memejamkan matanya, bahkan keluarga Jessy sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.


Sesampainya dihalaman rumah yang luas itu, Justin menghembuskan nafas nya dengan kasar, ia membuka pintu mobil dan berjalan tanpa ragu kedalam rumah, wajahnya benar-benar tak bersahabat, mengabaikan para pelayan yang memberikan salam atau hanya sekedar menyapanya.


Justin diam sesaat, tangannya sudah menggapai handle pintu ruangan kerja Alex. Dengan mempertahankan wajah dinginnya ia membuka pintu itu perlahan. Alex duduk santai dengan sebuah majalah bisnis dipangkuannya.


"Sekarang apalagi yang kau perbuat?" Pertanyaan itu masih terasa hangat. Alex menatap majalah, mengabaikan Justin yang sudah duduk dikursi hadapannya. Mereka hanya terhalang sebuah meja ditengah.


"Jessy salah paham kepada ku." Hanya itu yang ingin Justin katakan. Ia malas berbincang apalagi sampai berdebat dengan pria dihadapannya.


Wajah Alex mulai terangkat. Ia menaruh majalah tersebut diatas meja. Memperhatikan wajah anak semata wayangnya yang tampak berantakan.


"Tidak bisakah kau tidak berbuat ulah?" Pertanyaan itu mulai terasa dingin. Aura kemarahan mulai tergambar diwajah Alex.


"Ini hanya salah paham." Jawab Justin datar.


"Kau tahu sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk acara pernikahan mu? Ini dadakan dan aku ingin yang sempurna. Tapi apa? Inikah balasan mu? Mengacaukannya dan menghamburkan uang ku?" Kerutan diwajah pria itu semakin terlihat, umurnya sudah tidak muda lagi, emosi yang diluapkan kini benar-benar terlihat. Wajah itu memerah.


"Aku tidak pernah menyuruh mu mengeluarkan uang untuk acara pernikahan ku."


"Kau!" Pekik Alex. Ia menahan amarahnya, menarik nafas dalam dan berusaha tenang.


"Sepertinya aku salah mendidik mu. Kau tumbuh menjadi anak kurang ajar yang tidak berguna. Hidup mu selalu menyusahkan ku." Desis Alex. Justin tersenyum dan mengangguk pelan, membenarkan ucapan Alex.