
Selama 3 jam pembicaraan pikiran Justin tak tenang, banyak sekali curiga yang ia pikirkan.
"Kita akan mulai jam berapa?" Tanya Justin.
"Mulai jam 8." Justin melihat jam tangannya dengan cepat, ia tersenyum kecil.
"Masih ada waktu 3 jam lagi." Gumam Justin.
"Kalau begitu aku pergi dulu. 3 jam lagi aku akan menjemputmu." Sara sedikit mengerutkan keningnya, ada beberapa yang ingin ia tanyakan, namun Sara hanya bisa mengangguk.
"Langsung saja bertemu di lokasi. Aku akan diantar Devan." Devan menoleh kearah Sara. Ini belum mereka obrolkan, lagi pula ia juga memiliki tugas lain. Namun kode mata Sara membuat Devan akhirnya mengangguk.
"Tidak perlu terburu-buru, biar aku yang mengantarkan Sara nantinya... Kau ada urusan penting?" Tanya Devan.
Justin menggelengkan kepalanya, sedikit mengangkat bahunya.
"Aku hanya akan menghubungkan ponsel seseorang dengan ponsel ku. Mungkin hanya butuh waktu sejam."
"Kekasih mu yang tadi?" Tanya Sara.
"Tidak. Dia bukan kekasih ku. Tapi dia lucu." Jawab Justin. Ia bangun dari duduknya.
"Aku pergi." Pamit Justin.
"Ya. Hati-hati."
°°°
Justin mengetuk pintu depan mobil, membuat supir yang sedang asik bermain ponsel langsung menoleh dan membuka kunci pintu belakang.
"Antar aku ke rumah Jessy." Ujar Justin saat sudah duduk dikursi belakang. Ia mengeluarkan ponselnya kembali dan menelfon Jessy beberapa kali.
"Oh ya. Bisakah nanti kau pulang sendiri? Aku butuh mobil ini untuk bersama teman-teman ku." Justin melihat dari kaca, tatapan supir itu kebingungan.
"Aku akan memberimu ongkos dan uang bonus."
"Bukan masalah itu tuan. Tapi bagaimana jika tuan besar menanyai anda?" Mendengar itu Justin langsung berdecak.
"Katakan saja aku akan mengantarkan Jessy ke restoran, dan bilang juga aku akan menginap beberapa hari dirumah Jessy."
Sang supir hanya mencuri-curi pandang melihat Justin. Ia bingung, jika ia mengikuti Justin pasti akan kena marah dari Alex, tapi jika tidak mengikuti kemauan Justin, sudah pasti ia akan kena marah saat ini juga dari Justin.
"Kita pulang saja ya tuan. Jangan membuat tuan besar bertambah marah."
"Oh ayolah. Katakan saja yang aku bilang tadi, orang tua itu tau kehidupan anak muda jaman sekarang. Lagi pula, aku yakin orang tua itu tidak akan pulang kerumah."
"Tapi.."
"Tidak! Aku tidak mendengar kata tapi atau penolakan, jika kau tidak ingin turun sekarang juga!"
°°°
Jessy memejamkan matanya sambil bersandar. Merasakan sensasi dingin dari masker yang ia kenakan.
"Jadi kau mendapatkan seorang pria Itali?" Tanya Jessy.
"Yup. Dan minggu ini aku akan bertemu lagi dengannya di club. Kau harus melihatnya, ia sangat tampan dan baik." Jawab Larissa.
"Bagaimana bisa kau tau dia baik? Padahal kau baru sekali bertemu dengannya."
"Ya.. seperti kau." Jessy membuka matanya. Ia menatap bingung kearah Larissa yang baru selesai menempelkan maskernya. Melihat Jessy yang tampak tak mengerti membuat Larissa tersenyum.
"Bukankah aku juga baru bertemu dengan mu sekali? Tapi aku sudah bisa mengetahui bahwa kau baik."
"Tapi dia pria, Larissa."
"Ya ya ya. Aku hanya minta kau berhati-hati dan jangan terlalu percaya pada pria." Gumam Jessy.
Suara bunyi bell begitu mengganggu, membuat Jessy kembali membuka matanya.
"Kau tunggu disini." Larissa hanya mengangguk dan memasangkan headset pada kedua telinganya.
Jessy menuruni anak tangga dengan cepat.
"Sebentar." Teriak Jessy. Sesampainya didepan pintu ia langsung membuka sebelah pintunya.
"Astaga! Apa yang kau lakukan pada wajah mu!" Pekik Justin. Jessy kini memakai masker animals, masker wajah yang memiliki gambar panda.
"Kau sudah melihatnya bukan? Ini masker." Tanya Jessy kesal. Reaksi Justin begitu berlebihan, ia seperti melihat hantu.
"Kau tambah menyeramkan menggunakan itu. Mana teman mu?" Justin langsung masuk kedalam rumah. Melihat sekitar tidak ada siapapun.
"Dikamar ku. Bisakah kau melepas sepatu mu terlebih dahulu? Aku baru membersihkan lantai ini!" Pekik Jessy. Seminggu lebih ia meninggalkan rumahnya, dan membuat debu sudah sedikit menebal menurutnya.
"Kau membawa pria lain kedalam kamar?!"
"Aku tidak pernah mengatakan itu pria!"
"Jessy!" Pekik Larissa kencang dari atas. Ia panik mendengar suara keributan dari bawah.
"Larissa, tunggu saja didalam." Justin melihat wanita diatas sana, sama halnya tengah memakai topeng menyeramkan diwajahnya. Namun itu membuat hatinya sedikit tenang, Jessy tidak melakukan hal gila dibelakangnya.
"Berteriak lah jika pria itu kurang ajar pada mu." Justin melirik tajam pada wanita diatas sana, wajah tampan dan menggemaskan seperti ini bagaimana bisa berbuat kurang ajar.
"Ya. Masuk lah kedalam kamar ku Larissa." Teriak Jessy.
"Kau lihat?" Tanya Jessy. Coba saja jika posisi ini berbalik, ia tak akan bisa langsung menerobos masuk kedalam rumah Justin.
"Baiklah aku percaya. Mana ponsel mu?" Jessy langsung memeluk ponselnya dengan erat. Untuk apa menanyakan ponselnya?.
"Ada urusan apa kau dengan ponsel ku? Jangan mengganggu privasi orang lain!" Justin menarik nafasnya panjang. Apa alasan yang tepat agar Jessy bisa memberikan ponselnya pada Justin.
"Aku ingin mengganti nada panggilan khusus dari ku, agar telinga mu sakit jika tidak mengangkat nya."
"Apa?! Bersikaplah yang sopan Justin!" Jessy mundur perlahan saat Justin semakin mendekat dan mengincar ponselnya.
"Jika kau tidak memberikannya aku tidak akan menikahi mu." Ancam Justin.
"Kau mengancam ku?" Justin menyisir rambutnya kebelakang dan menghela nafasnya pelan.
"Aku tidak mengancam mu. Cepat kemarikan saja, aku juga ingin mengubah nama kontak ku di ponsel mu." Justin mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan nya pada Jessy.
"Aku sudah mengganti nama mu diponsel ku. Periksa saja jika tidak percaya." Jessy terdiam saat Justin membuka ponselnya dengan fingerprint, nama apa yang Justin pakai pada nomornya?.
"Kau penasaran bukan?" Tanya Justin dengan senyum kecil dan alis yang dinaik turunkan.
"Tidak, aku tidak penasaran." Pekik Jessy, ia membuang pandangannya kearah lain.
"Benarkah? Kau juga bisa mengecek ponsel ku jika kau mau, kau tidak penasaran aku chat dengan siapa saja?" Ujar Justin kembali bernegosiasi. Jessy terdiam dan berfikir.
"Jangan bawa kabur ponsel ku!" Gumam Jessy sambil menarik ponsel Justin dan memberikan ponselnya pada Justin. Ia juga penasaran dengan isi ponsel Justin, ia harus mengecek berapa banyak kontak wanita diponsel Justin.
Jessy duduk disofa, ia mulai fokus pada ponsel Justin, tidak boleh ada yang disembunyikan pria itu!.
Sedangkan Justin tersenyum miring. Ia duduk di sofa hadapan Jessy.
'Tom memang bodoh, mudah sekali masuk perangkap.' gumam Justin merasa menang. Ia langsung menginstal aplikasi penyadap dan menghubungkannya dengan email milik Justin.