
"Tidak." Justin menggelengkan kepalanya.
"Aku akan membayar ganti ruginya saja. Minggu ini aku menikah, aku tidak ingin Jessy menaruh curiga pada ku."
"Ayolah Justin. Aku memilih mu karena kau gesit dan cerdas. Aku yakin kau memiliki cara agar Jessy-mu itu tidak curiga." Justin tau, ada nada mengejek diucapan Devan.
"Tidak. Aku tidak akan mengambil resiko apapun."
"Kau payah. Mana profesional mu?" Justin berdecak. Ia tidak suka jika seseorang meragukannya, tapi ini adalah pilihan yang sulit.
"Apa dia mengekang mu?"
"Tidak. Dia selalu menanyakan pekerjaan ku."
"Kau harus menyembunyikan nya. Ingat itu."
"Ya! Aku selalu menyembunyikan nya dan dia terus mencurigai ku yang tidak-tidak." Emosi Justin mulai meningkat.
"Setidaknya biarkan aku tenang sampai hari pernikahan ku." Lanjut Justin pelan.
Devan terdiam sesaat, ia melirik Sara sekilas lalu menganggukan kepalanya.
"Baiklah, anggap saja aku memberikan mu cuti pernikahan. Aku akan membujuk kepala CIA kita agar tidak marah." Justin mengangguk. Ia percaya pada Devan.
"Setelah selesai pernikahan ku, aku akan menghubungi mu."
"Tidak perlu di hubungi. Aku akan menjemput paksa mu untuk ikut ke markas."
Justin tertawa hambar. Ia melirik Sara yang sedari tadi memainkan ponselnya.
"Sara. Good luck!"
Sara hanya melirik Justin sekilas.
"Yeah." Lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Kalau begitu aku akan ke markas. Selamat menjadi pengantin baru." Goda Devan.
"Oh ya. Apakah aku dan Sara diundang?"
"Semuanya aku undang. Lusa aku akan mengirimkan undangan digital."
___
Jessy menunggu Justin tak tenang didalam rumah. Saat pintu terbuka, barulah perasaan Jessy menjadi tenang.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Mereka melarang ku keluar dari pekerjaan ku."
Raut wajah Justin sedikit menghangat, ia tertawa kecil dan menghampiri Jessy.
"Hei hei hei. Jaga cemburu mu sayang. Dia hanya rekan kerja ku. Satu-satunya wanita ditempat kerja ku."
"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka." Elak Jessy.
"Itu sama artinya kau cemburu. Sudah, mari kita tidur. Aku benar-benar akan libur sampai hari pernikahan kita."
Terdengar helaan nafas Jessy.
"Tidak bisa kah kau keluar saja? Itu pekerjaan yang tidak jelas. Lebih baik kau bekerja di perusahaan mu sendiri."
"Perusahaan ayah ku."
"Ya! Itu sama saja milik mu bodoh."
"Ah, mendengar ucapan terakhir mu membuat ku ingin menutup mulut mu dengan mulut ku." Jessy spontan menutup mulutnya, ia menggelengkan kepalanya cepat.
Justin tertawa pelan. Menaruh telapak tangannya pada kepala Jessy.
"Jika tidak ingin, berhentilah memaki ku sayang, aku sebentar lagi akan menjadi suami mu." Ujar Justin lembut.
"Ayo kita tidur." Justin mulai menarik lengan Jessy pelan. Walau hatinya tak tenang, ia berharap agar pembunuh itu tak mengingat Jessy. Justin harus benar-benar menjaga Jessy beberapa hari ini.
Saat sampai dilantai atas. Justin hendak membuka kamar Jessy.
"Kau tidur dikamar ku lagi?" Tanya Jessy bingung.
"Kau ingin aku tidur di kamar lain dan mengendap keluar dimalam hari?"
"Tidak. Tapi..." Justin tak ingin berdebat. Ia menarik Jessy masuk kedalam kamarnya.
"Kita seharus belum satu rumah apalagi satu kamar, Justin." Peringat Jessy.
"Kata siapa? Bahkan Richard pun membuat anak dulu sebelum mereka menikah." Jessy memukul lengan Justin kencang, pria ini memang keterlaluan.
"Jangan mulai menggosipkan orang lain." Pekik Jessy.
"Aku hanya memberikan mu contoh." Justin tertawa diakhir kalimat.
___
Thank you
DHEA
Instagram: Dheanvta